
Dini sudah di rias dengan cantik oleh MUA profesional. Acara akan segera di mulai. Wulan, Nita dan Imel pun sudah bersiap dengan pakaian seragam yang mereka beli. Tak lupa mereka menghias wajah mereka dengan sedikit makeup.
"Masya Allah... Ini calon pengantin juga cantiknya." Puji Mama Dini pada Wulan.
"Makasih Tante. Nanti Tante jangan lupa datang ya pas Wulan nikah." Wulan.
"Iya sayang. Nanti Tante sama Om kosongkan jadwal." Ucap Mama Dini yang seorang guru sekolah dasar.
Papa Dini seorang pegawai negeri di pemerintahan dan Mamanya guru sekolah dasar. Dini anak pertama dan adik Dini laki-laki memilih tinggal di pesantren. Jadilah di rumah Mama dan Papa Dini hanya berdua.
Rombongna Dodit sudah berada di rumah Dini. Imel belum juga menemui Bima. Karena Imel tak ingin kehilangan momen bersama ketiga sahabatnya, Bima pun memahaminya.
"Deg... Degan ga Din?" Nita.
"Banget g***. Liat aja tangan gw ampe tremor gini." Tunjuk Dini pada tangannya.
"Ya ampun Din. Lu ga lupa kan pas gw mau acara lamaran kemarin lu yang nenangin gw sekarang kerasa kan kalo gugupnya ga ada lawan." Wulan.
"Kena omongan sendiri Lu Din." Imel.
"Kalo belum ngerasain sih bisa gw ngomong. Nah sekarang kan gw yang di lamar." Dini.
"Ya udah lu tarik nafas panjang aja terus buang pelan-pelan. Bismillah aja semua lancar." Imel.
Dini pun diminta keluar karena acara akan segera di mulai. Dini keluar di ampit oleh ketuga sahabatnya. Wulan berada di samping kanan Dini dan Nita di samping kiri. Sementara Imel di samping Nita.
Imel bertugas mengantarkan Dini hingga ke kursi yang telah di sediakan. Setelah itu barulah Imel kembali ke tempat duduk yang telah di sediakan. Imel sedikit gugup bertatapan dengan orang tua Dodit yang notabene Kakak dari Bima.
Imel pun merasa jika kedua orang tua Bima tengah memperhatikannya. Imel tak berani menatap ke arah keluarga Wulan. Tatapannya terus tertuju pada Dini. Bima yang sejak tadi melihat Imel dapat membaca kegugupan pada Imel.
Bukannya kesal Bima malah semakin di buat gemas. Andai saja tak banyak orang mungkin Bima akan langsung mendekati Imel dan mencubit pipinya yang begitu menggemaskan bagi Bima.
"Mel, liat noh si Om liatin Lu terus." Bisik Nita.
"Berisik Nit. Lu ga liat dari tadi gw juga gugup." Imel.
"Hahaha... Lu bisa gugup juga ternyata." Nita.
"Gw manusia biasa ya Nita." Ime.
Bisik-bisik mereka pun terdengar oleh Wulan yang berada di sisi kanan Imel.
"Ssstt... Berisik deh kalian." Wulan.
"Nita nih Lan." Imel.
m
"Ceh, gw lagi yang di salahin." Nita.
"Ssttt... Udah diem." Wulan.
__ADS_1
Mereka berdua pun terdiam. Acara demi acara pun berlangsung dengan lancar. Hingga diputuskan mereka akan menikah tiga bulan yang akan datang. Berarti satu bulan setelah Wulan.
Saat acara makan Imel tak dapat menghindar lagi. Keluarga Bima mendekatinya terutama Maminya Wulan yang sudah tidak sabar ingin menanyakan kebenarannya. Karena Mami Wulan bahagia Bima sang adik bisa kembali membuka hatinya.
"Mel," Panggil Saras.
"Eh, iya Tante? Ada yang bisa Imel bantu?" Tanya Imel berusaha bersikap biasa.
"Bisa bicara sebentar?" Saras.
"Hah! Eh, bisa dong Tante." Jawab Imel.
"Aduuh... Pasti Mami Wulan negor gw nih gara-gara gw deket sama adiknya. Duuuh... gimana dong ini." Batin Imel.
"Mel, kok bengong?" Tegur Saras.
"Eh, iya Tan. Ngga kok." Imel.
"Mel, bener ya Imel deket sama Bima?" Saras.
"Hm... Maaf Tante." Imel.
"Kenapa minta maaf?" Saras.
"Karena Imel deket sama Om Bima." Imel.
"Om?" Saras.
"Hah! Eh, aduh. Imel belum kefikir sampe situ Tan." Imel.
"Di fikirin dari sekarang yah. Terus jangan panggil Tante panggil Kakak seperti Bima." Saras.
Blush...
Wajah Imel yang menggunakan Blush-on pun semakin memerah di buatnya. Saras mengerti bagaimana perasaan Imel. Saras pun kembali mengajak Imel bergabung dengan yang lainnya. Imel tampak sedikit menunduk malu.
Bima melihat Imel dan Saras yang baru saja keluar dari rumah Dini. Bima merasa ada yang aneh dengan sikap Imel. Bima curiga Kakaknya telah mengatakan sesuatu yang akan membuat Imel menjauhinya.
"Kak, Mel." Panggil Bima.
"Hm,, baru di pinjem sebentar aja di cariin. Nih, Kakak balikin ya. Makasih." Goda Saras.
"Eh, Tante mau kemana?" Imel.
"Kok Tante?" Saras.
Imel memperlihatkan deretan gigi putihnya menanggapi pertanyaan Saras. Sementara Bima di buat bingung.
"Di biasakan pelan-pelan ya. Udah Kakak mau cari suami Kakak. Nanti nyariin lagi kaya hm.." Tunjuk Saras menggunakan kode lirikan mata.
"Eh, i iya K kak." Jawab Imel Menunduk.
__ADS_1
Bima terkejut dengan panggilan Imel dan Saras. Dirinya merasa tak percaya. Dengan begitu bukannya Kakak tertuanya setuju Bima berhubungan dengan Imel. Bima pun menatap dalam Imel seolah bertanya ada apa di antara dia dan Kakaknya.
"Kenapa liatnya gitu?" Tanya Imel malu-malu.
"Cantik." Puji Bima.
"Iih... Gombal." Imel.
"Bukan gombal. Sebenarnya. Ngapain tadi sama Kak Saras?" Bima.
"Ngobrol aja. Mas udah makan?" Tanya Imel mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Kan belum ada yang ngajakin." Bima.
"Eh, kok gitu. Ya udah ayo makan. Mas mau makan apa? Nanti Mas sakit lagi kalo ga makan. Dari tadi pagi pasti Mas belum makan kan?" Omel Imel tanpa terasa tangannya menggandeng tangan Bima.
Sontak saja membuat semua melihat pada mereka. Bima hanya tersenyum melihat aksi Imel yang mencemaskan dirinya. Bima pun senang ternyata Imel begitu perhatian padanya.
"Hem... Pepet terus..." Ucap Nita saat berpapasan dengan Imel dan Bima.
Imel masih belum sadar dengan ucapan Nita. Dirinya masih sibuk menggandeng Bima menuju tempat makan yang sudah di sediakan oleh keluarga Dini.
Dengan telaten Imel menyiapkan makanan untuk Bima. Kemudian Imel menyerahkannya pada Bima dan mengajak Bima untuk duduk. Saat duduk dirinya baru mengetahui jika dirinya sejak tadi menjadi pusat perhatian.
"Maas..." Ucap Imel menunduk dan bersembunyi di balik badan Bima.
"Kenapa?" Bima.
"Kenapa Mas ga bilang kalo kita banyak yang liat. Aduh, Imel malu sama Opa dan Oma." Bisik Imel di balik punggung Bima.
Bima hanya tersenyum kemudian membawa Imel ke hadapannya.
"Kenapa? Karena jalan sama Om-om?" Bima.
"Bukan itu." Imel.
"Kenapa? Ayo angkat dagunya dan senyum." Bima.
"Mas... Jangan goda aku." Imel.
"Ngga menggoda sayang." Bima.
"Udah Mas makan aja." Pinta Imel.
"Iya Mas makan. Kamu juga ya." Bima.
"Tapi, Imel belum ambil makanan." Imel.
"Kita makan satu piring berdua." Bima.
🌹🌹🌹
__ADS_1