
Setelah berbincang bersama Mama Yuni Bima menyusul Imel di kamar. Saat sampai kamar Bima mendengar dering ponselnya Bima melihat id yang tertera di layar ponselnya kemudian Bima mengangkat panggilannya dengan sedikit menekan emosinya.
"Ya..."
"Maaf, Pak mengganggu. Hari ini ada pertemuan dengan Tn. X jam sembilan." Ira.
"Saya sudah meminta Steve untuk pergi." Bima.
"Maaf Pak. Tapi Tn.X meminta Bapak yang hadir." Ira.
"Kau tidak dengar apa yang saya katakan. Tanyakan pada Steve saya sudah memintanya menggantikan saya. Jangan ganggu saya dan jangan hubungi saya. Jika ada kepentingan dengan saya kamu bisa hubungi Steve." Kesal Bima.
Dan saat bersamaan dengan Bima marah Imel keluar dari kamar mandi dan tanpa sengaja mendengar semua percakapan Bima dan orang di balik telfon. Imel mematung ketika mendengar Bima membentak si penelfon. Imel pun bertanya-tanya dalam hati apakah si penelfon masih sama seperti apa yang dia lihat tadi sebelum mandi.
Bima memutus panggilannya dan mematikan ponselnya. Saat Bima membalikkan badannya di lihatnya Imel tengah mematung di depan pintu kamar mandi. Bima mengatur emosinya dan mendekati Imel.
"Sayang, sudah selesai mandinya?" Tanya Bima menghampiri.
Imel hanya mengangguk kemudian berjalan menuju lemari untuk menggunakan pakaiannya. Bima mengikuti langkahnya menuju lemari. Setelah Imel selesai menggunakan pakaiannya Bima memeluknya dari belakang.
"Maafkan Mas sayang. Mas bersumpah tidak terjadi apa-apa antara Mas dan Ira. Mas benar-benar profesional bekerja dengannya. Mas tau kamu melihat kami di salah satu kafe mall kan? Mas benar-benar tidak melakukan apapun dengannya sayang." Jelas Bima.
Kesedihan Imel pun tak dapat terbendung lagi. Imel menangis sejadi-jadinya setelah Bima menjelaskan apa yang terjadi padanya dan Ira. Bima membalik badan Imel berhadapan dengannya. Walaupun sedikit kesulitan karena terhalang perut Imel yang menonjol Bima berusaha menenangkan Imel. Bima mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Imel.
"Sayang, percayalah. Mas tidak akan berpaling. Kamu yang terbaik, teristimewa dalam hidup Mas." Ucap Bima lagi.
"Imel takut Mas takut..." Ucap Imel dalam tangisnya.
"Tidak ada yang perlu kamu tangisi sayang. Kamu yang terbaik." Ucap Bima.
Bima memapah Imel untuk duduk di sofa. Kemudian Bima duduk di hadapan Imel seraya menggenggam erat tangannya.
"Jauh sebelum Imel kenal Mas Ira pernah bercerita jika dirinya menyukai atasannya. Bahkan dia mati-matian bekerja agar terlihat sempurna di mata atasannya. Imel dan Ira memang tidak sedekat Imel dan Nita. Tapi kami selalu berkomunikasi di dalam chat grup. Dan sebelum kita menikah Imel bertemu dengan dia Mas. Dia mengatakan akan menghadiri acara pernikahan atasannya yang dia sukai dan ternyata itu kamu Mas. Kamu yang dia sukai sajak lama." Jelas Imel dengan isak tangis menyertai.
__ADS_1
"Dan Mas tau. Dia begitu terobsesi dengan atasannya itu dan dia mengatakan dia rela melakukan apapun demi atasannya itu. Dan sekarang Imel tau siapa atasan dia. Imel harus apa Mas? Kenapa orang selalu menginginkan apa yang Imel miliki. Bahkan Raka dulu rela meninggalkan Imel demi Anggi teman sekolah Imel. Dan sama halnya dengan Ira. Anggi terang-terangan mengatakan jika dia menyukai Raka." Jelas Imel lagi.
"Sssttt... Jangan samakan Mas dengan dia sayang. Mas tak akan rela melepaskan kamu demi siapapun. Kamu berharga dalam hidup Mas. Jika kamu pergi maka Mas tidak akan bisa melanjutkan hidup Mas sayang. Kedepannya Mas tidak akan berhubungan dengan Ira lagi. Biar Steve yang akan mengatur semuanya." Jelas Bima.
Imel menatap sendu Bima. Tak ada kebohongan dalam sorot matanya semuanya begitu tulus. Kemudian Bima berdiri di atas lututnya mensejajarkan tingginya dengan Imel. Mereka saling berpandangan kemudian Bima membawa Imel kedalam pelukannya.
"Maafkan Mas sayang. Mas berniat ingin segera menyesuaikan pekerjaan Mas tapi Mas malah menyakiti hati kesayangan Mas. Mas minta maaf sayang. Mas tidak akan melakukannya lagi." Bima.
"Imel juga minta maaf Mas. Bukannya Imel langsung menanyakannya pada Mas Imel hanya bisa diam. Imel sadar Imel bukan siapa-siapa." Imel.
"No sayang. Kamu jangan berkata seperti itu. Kamu istri Mas dan kamu berhak atas apapun yang Mas miliki." Bima.
Bima melepaskan pelukannya kemudian menghapus sisa lelehan air mata di pipi Imel. Imel menyunggingan senyumannya.
"Jangan nangis lagi ya. Mas begitu menyayangi kamu." Bima.
Kemudian Bima pun mendaratkan kecupan hangat di kening Imel dengan begitu dalam dan lama. Imel memejamkan matanya meresapi perasaannya yang begitu bahagia karena Bima benar-benar menempatkan Imel di posisi yang paling istimewa.
"Mas mandi dulu ya. setelah itu kita sarapan bersama. Kasian Mama pasti sudah menunggu kita." Bima.
"Masya Allah... Cantik banget sih istri Mas. Mau kemana hem?" Tanya Bima.
"Mau pergi sama Mama." Imel.
"Loh, mau kemana?" Bima.
"Mau ke toko yang kemarin belum sempat di datangi. Karena kemarin kita langsung pulang." Imel.
"Ya sudah Mas antar kalian kalo begitu." Bima.
"Loh, Mas ga kerja?" Imel.
"Ngga sayang. Karena itu kemarin Mas full kan jadwal agar weekend ini kita bisa bersama." Bima.
__ADS_1
"Owh! Ya sudah. Kalo begit Mas cepet pake bajunya." Imel.
"Loh, bukannya kamu seneng kalo Mas ga pake baju." Goda Bima.
"Iissh... Ayo cepetan ih.." Imel.
"Tempur?" Bima.
"Mas Bima Ih... Mesum pagi-pagi." Imel.
"Olah raga pagi sehat loh sayang." Bima.
"Ngga! Capek." Imel.
"Capek tapi enak dong.." Bima.
"Ngga ih,,, cepet sana kasian Mama nungguin kita loh." Imel.
"Iya... iya." Jawab Bima kemudian Bima mengganti pakaiannya begitu saja di hadapan Imel dan Imel pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkat absurb suaminya.
Setelah sama-sama rapih mereka pun turun bersama untuk sarapan. Di meja makan Mama Yuni sudah menunggu mereka dengan ponsel di tangannya.
"Pagi Ma.." Imel Bima.
"Pagi sayang... Papa kasih kabar kalo Papa sudah di kota J. Besok Papa akan bertemu dengan Juna." Mama Yuni.
"Wah, cepet juga ya Papa." Bima.
"Iya setelah urusannya dengan Juna selesai Papa akan secepatnya kembali ke sini. Papa harap semuanya selesai sebelum cucunya lahir." Mama Yuni.
"Kenapa begitu Mah?" Imel.
"Ya karena Papa ingin melihat cucunya launching." Mama Yuni.
__ADS_1
"Mana bisa. Bima yang akan menemaninya."Bima.
"Hus ngaco kamu. Ya iyalah. Papa sih cuma nemenin Mama di luar. Mana ada yang lahiran di tunggui rame-rame yang ada bayinya ga jadi keluar." Mama Yuni.