
Imel memaksa ingin ikut menjemput Mama dan Papa mertuanya di bandara. Bima tak dapat berbuat apapun dirinya harus menghadiri rapat penting. Akhirnya Bima pun mengijinkan Imel pergi bersama Pak Dimin dan Bi Imah untuk menjemput Mama dan Papa nya. Dengan pengawalan yang tak di ketahui Imel tentunya.
"Mas pergi ya sayang. Nanti hati-hati saat menjemput Mama dan Papa." Bima.
"Iya Mas sayang." Imel.
"Selalu bersama Bi Imah kemanapun termasuk ke dalam toilet." Pesan Bima.
"Iya sayang." Imel.
"Hubungi Mas klo saat akan pergi dan setelah sudah bertemu dengan Mama dan Papa ya." Bima.
"Oke kesayangnnya Imel." Imel.
Bima pun pergi bersama dengan Steve. Setelah Bima pergi barulah Imel bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Karena memerlukan waktu yang cukup panjang menuju bandara Imel pun harus segera pergi karena pesawat yang di tumpangi Mama dan Papa mertuanya akan segera tiba.
"Bi, apa sudah siap?" Imel.
"Sudah Nyonya mari." Bi Imah.
Imel dan Bi Imah pun segera pergi menuju bandara bersama Pak Dimin setelah memastikan jika seluruh pintu rumah terkunci. Mama dan Papa Bima memang sengaja datang ke negara dimana Bima dan Imel menetap untuk menemani Imel berbelanja keperluan bayi Imel dan Bima karena kehamilan Imel sudah memasuki tujuh bulan.
Sementara di tanah air Nita tengah menanti kelahiran bayinya. Imel terus berkirim pesan dengannya untuk menanyakan perkembangannya. Saat sudah sampai Bandara Mama dan Papa Bima sudah mendarat. Akan tetapi Mama Yuni memberi pesan agar tidak terburu-buru saat Imel berjalan karena kehamilannya.
"Mama,, Papa." Teriak Imel saat melihat kedua mertuanya di salah satu kafe untuk menunggu kehadirannya.
"Sayang,,, Stop!" Perintah Mama Yuni saat melihat Imel berjalan sedikit cepat.
Grep...
"Miss You Mom." Imel.
"Miss You too sayang." Mama Yuni.
Imel mencium punggung tangan Mama Yuni dan Papa Bambang bergantian. Tak lupa Imel pun mencium pipi kanan dan kiri Mama Yuni. Mama Yuni pun menyapa Bi Imah yang dengan setia menemani Imel selama di negara orang.
"Apa kabar Mah?" Tanya Mama Yuni.
"Alhamdulillah baik Nyonya. Saya rasa Nyonya juga baik-baik saja bahkan jauh lebih baik setelah bertemu dengan menantu kesayangannya." Bi Imah.
"Kamu selalu tau Imah." Mama Yuni.
"Dimana Dimin Mah?" Papa Bambang.
"Di depan Tuan. Sebentar saya hubungi." Bi Imah.
__ADS_1
"Baiklah." Papa Bambang.
Setelah menghubungi Pak Dimin mereka pun segera menuju dimana Pak Dimin berada. Sepanjang perjalanan Imel terus bergelayut manja pada Mama Yuni. Rasa rindunya begitu melimpah.
"Bagaimana kabar Anya Mel?" Tanya Mama Yuni setelah mereka di dalam mobil.
"Alhamdulillah Mah sekarang sedang proses pemulihan. Mungkin dua atau tiga bulan lagi Ibu dan Kakak akan pulang." Imel.
"Syukurlah. Semoga semua segera berlalu ya Nak." Mama Yuni.
"Aamiin." Imel.
"Juna masih terbang kan Mel?" Papa Bambang.
"Masih Yah. Dia belum mau pensiun." Imel.
"Papa akan hubungi dia. Jika dia mau pensiun Papa ingin dia mengurus perusahaan yang di kota J." Papa Bambang.
"Iya Pah. Kemarin Mas sudah cerita dan Imel rasa sebaiknya Papa yang langsung menghubungi Bang Juna." Imel.
"Iya Bima sudah menghubungi Papa. Dan Papa sudah menghubunginya akan tetapi belum mendapat jawaban Papa rasa dia sedang terbang." Papa Bambang.
"Iya Yah. Nanti pasti Abang langsung menghubungi Papa jika sudah turun." Imel.
"Semoga saja Juna mau ya sayang." Mama Yuni.
"Papa mau pensiun katanya." Mama Yuni.
"Iya. Imel juga kasian liat Papa masih kerja." Imel.
Sampai di rumah Imel langsung meminta Mama dan Papa mertuanya untuk beristirahat terlebih dahulu. Begitu juga dengan Imel. Imel cepat kelelahan setelah kehamilannya semakin membesar. Hanya Bi Imah dan Pak Dimin yang sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka semua.
"Nyonya sudah minum susunya Bu?" Pak Dimin.
"Sudah Pak. Tadi Ibu bawa saat menjemput Tuan dan Nyonya ke bandara." Bi Imah.
"Syukurlah. Ibu sudah mengabari Tuan Bima?" Pak Dimin.
"Sudah. Nyonya juga sudah memberitahu Tuan." Bi Imah.
Setelah makanan tersaji di meja makan barulah Bi Imah memanggil Imel juga Papa Bambang dan Mama Yuni. Imel dan kedua mertuanya pun menikmati sajian makan siang yang di sajikan Bi Imah.
"Imah, ayo ajak Dimin makan sekalian." Ajak Papa Bambang.
"Iya Tuan. Saya dan Pak Dimin makan disini saja." Tolak halus Bi Imah.
__ADS_1
"Bibi selalu menolak klo Imel ajak makan bersama Pah." Adu Imel.
"Wealah Imah. Ngga apa-apa loh. Sini makan bersama." Ajak Mama Yuni.
"Iya Nyonya terima kasih. Kami terbiasa makan disini." Tolak halus Bi Imah lagi.
Setelah saling tawar menawar akhirnya mereka pun memakan makanan masing-masing di tempat yang berbeda. Bi Imah dan Pak Dimin memang tak ingin terlalu melunjak dengan memakan makanan yang sama pada satu meja dengan Tuan dan Nyonya mereka walaupun Imel dan Bima juga Papa Bambang dan Mama Yuni tak pernah membedakan pekerjanya.
"Apa sudah melakukan pemeriksaan kehamilan lagi sayang?" Tanya Mama Yuni setelah menyelesaikan makannya.
"Sudah Mah. Alhamdulillah sehat." Imel.
"Nita kemarin sudah ada mules-mules tapi belum sering." Mama Yuni.
"Iya Ma. Barusan Imel sudah chat dia katanya masih anteng-anteng." Imel.
"Kita do'akan saja lancar." Papa Bambang.
"Aamiin."
"Apa Mama dan Papanya sudah ada di kota Y Mah?" Imel.
"Belum. Katanya nanti saja jika sudah melahirkan. Sekarang Mamanya Heru yang masih pulang pergi ke rumah mereka." Mama Yuni.
"Syukurlah. Mama Mas Heru dekat dengannya." Imel.
"Iya. Sementara kalian memilih menjauh dari kami Nak." Papa Bambang.
"Maafkan kami Pah. Jika Mas Bima telah selesai menjalankan tugasnya Kami akan kembali ke tanah air dan berkumpul bersama kalian." Imel.
"Iya sayang tidak apa-apa. Jika sudah ada jawaban dari Juna maka Papa akan kembali ke tanah air terlebih dulu untuk menyerahkan pekerjaan Papa. Dan Mama akan tetap disini menemani kalian." Papa Bambang.
"Iya sayang. Mama akan di sini sampai cucu Mama lahir." Mama Yuni.
"Terima kasih Ma, Pa." Imel.
"Tidak perlu berterima kasih sayang. Wulan kemarin juga ingin sekali ikut bersama kami hanya saja kasian G masih terlalu kecil. Kasian juga Nita sedang memantikan kelahiran bayinya." Mama Yuni.
"Iya Mah. Wulan sering bilang juga sama Imel. Imel juga selalu bilang sama dia agar bersabar." Imel.
"Kalian sangat dekat sekali ya?" Papa Bambang.
"Iya Pah. Awalnya hanya Imel dan Nita kemudian bertemu Dini dan Wulan." Imel.
"Pertemanan kalian begitu tulus sayang." Mama Yuni.
__ADS_1
"Kami tidak akan percaya omongan dari luar sebelum kami mendengarnya langsung dari yang bersangkutan." Imel.
🌹🌹🌹