Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Drama Kecil


__ADS_3

Pagi sekali Imel sudah bersiap pergi ke rumah Nita bersama Dini dan Dodit. Imel belum mengetahui jika Bima, Wulan dan Juan sudah berada di rumahnya. Semalam mereka datang Dodit dan Anya menyambut mereka.


Imel merias wajahnya dengan riasan tipis namun tetap glow. Dini sengaja mengundur waktu memberi waktu pada Wulan, Juan dan Bima untuk bersiap karena mereka baru saja tiba tengah malam.


"Dini udah belum sih?" Imel.


"Udah Mel. Kita ga sarapan di rumah aja dulu Mel?" Dini.


"Hm... Boleh kita makan aja dulu. Kayanya Teh Leli udah masak deh soalnya udah kecium bau masakan." Imel.


"Ya udah yuk sarapan. Eh, tapi ga apa-apa kita sarapan duluan ga bareng Ibu sama Kak Anya?" Dini.


"Ga apa-apa santai." Imel.


Mereka berdua pun turun menuju meja makan dan betapa terkejutnya Imel melihat Bima, Wulan dan Juan sudah berada di meja makan juga. Imel menghentikan langkahnya melihat keberadaan mereka.


Imel masih terhanyut dengan fikirannya kemarin jika Bima berselingkuh karena tidak bisa di hubungi. Fikirannya masih terpengaruh dengan cerita hidup Teh Leli. Dini mengerti dirinya lansung berjalan menuju meja makan dan memberi kode pada Om Bima.


"Tanggung jawab tuh Om." Dini.


Bima yang sejak tadi melihat Imel bangkit dari duduknya tanpa mengalihkan pandangannya Bima berjalan mendekati Imel dengan senyum yang terus terukir di bibirnya. Begitu Bima berdiri di dekat Imel Bima merentangkan kedua tangannya meminta Imel masuk kedalam pelukannya.


Tanpa Bima duga air mata Imel meluncur begitu saja. Bima tak menyangka jika Imel begitu tersakiti karena sikapnya kemarin. Bukan sengaja membiarkan Imel tapi kemarin Bima benar-benar menyibukkan dirinya dengan pekerjaan demi untuk datang ke kota C.


Melihat air mata Imel yang mengalir cukup deras Bima pun segera membawa Imel kedalam pelukannya dan tangis Imel pun pecah mengahncurkan riasannya. Bima mengusap lembut punggung Bima. Pasalnya Bima telah mengetahui cerita Imel dari Anya semalam.


"Maafin Mas ya sayang. Mas salah kemarin mengabaikan kamu. Mas benar-benar sibuk demi bisa pergi ke sini tadi malam." Ucap Bima.


"Jahat!"


Satu kata terlontar dari mulut Imel membuat Bima menggelengkan kepalanya. Bima melerai pelukannya mengusap sisa air mata di pipi Imel.


"Maaf ya. Jangan nangis lagi cantiknya jadi hilang." Bima.


"Biar. Biar ga cantik biar Mas ga suka Imel lagi." Imel.


"Emang Mas suka kamu karena kamu cantik? Ngga tuh." Bima.


"Berarti Imel ga cantik? Jahat! Dasar om-om jelek." Kesal Imel.


"Eh, emang iya jelek? Jelek tapi ngangenin ya..." Goda Bima.

__ADS_1


"Ngga." Imel.


"Ga salah maksudnya ya." Goda Bima lagi.


"Iiih,,, ga mau deket-deket Om-om." Imel.


"Masa sih sayang. Om-om gini kan juga bikin kamu klepek-klepek." Ucap Bima terus menggoda Imel.


"Nyebeliiiin... Sana..." Imel.


"Tapi, Mas ga mau. Mas maunya nempel kamu terus." Ucap Bima memeluk pinggang Imel.


"Nyebelin Mas nyebelin." Rengek Imel.


"Iya sayang iya. Mas nyebelin sekaligus bikin kangen ya?" Bima.


"Mas selingkuh pasti." Imel.


"Kamu marah Mas sibuk kerja apalagi tambah Mas punya selingkuhan bisa mati berdiri." Bima.


"Kenapa? Bukannya enak kalo aku marah Mas bisa pergi ke selingkuhan Mas." Imel.


"Mas aja ga bisa jauh-jauh sama kamu gimana caranya Mas selingkuh sayang." Bima.


"Hei... Jadi kapan mau pergi ke rumah Nita kali kalian masih berdebat di situ. Ayo cepet sarapan." Anya.


Imel dan Bima pun berjalan menuju meja makan dengan wajah Imel yang masih di tekuk. Bahkan Imel tak menyambut kedatangan Wulan dan Juan atau bahkan Imel tak menyadarinya.


Imel makan dengan sembarang karena mood nya hancur begitu saja. Ibu Maryam hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak bungsunya. Imel tak malu menunjukkan sikap manjanya pada Bima. Sangat berbeda saat dirinya dekat dengan Raka. Itu yang bisa di rasakan oleh Wulan dan Dini.


Dulu Imel lebih menjaga image di hadapan Raka. Semuanya harus tampil sempurna tapi di hadapan Bima bahan Imel menunjukan siapa dirinya dan bersikap manja tanpa malu. Bima pun begitu memanjakannya.


Arman dan Johan sangat salut melihat perubahan Bima setelah berhubungan dengan Imel bakhan Steve yang baru saja tiba di tanah air merasa tak percaya. Pasalnya Bima begitu dingin dan tertutup.


Steve benar-benar membuktikannya sendiri setelah dirinya tiba di tanah air. Bima begitu lembut memperlakukan Imel bahkan rela meninggalkan pekerjaannya hanya demi Imel. Padahal yang Steve tau Bima begitu profesional dalam hal pekerjaan.


Imel, Dini, Wulan, Bima, Juan dan Dodit pun bersiap pergi ke rumah Nita kemudian berpamitan pada Ibu Maryam dan Anya. Ibu Maryam dan Anya pun akan menyusul mereka nanti.


Sepanjang jalan menuju rumah Nita Imel tak mau lepas dari Bima begitupun Bima yang terus menggenggam jemari Imel. Wulan dan Dini saling pandang keduanya bahagia melihat kebahagiaan sahabat meraka.


"Gw seneng banget Imel bisa deket sama om Bima." Wulan.

__ADS_1


"Gw juga seneng Lan. Kenapa ga dari dulu ya kita deketin Imel sama Om Bima?" Dini.


"Karena mereka punya cerita sendiri Din." Wulan.


"Ya, Lu bener." Dini.


Mereka tiba di rumah Nita. Rumah sudah tampak ramai. Imel, Dini dan Wulan di persilahkan untuk masuk ke dalam menemui Nita. Sementara para pria menunggu di dalam. Dengan sedikit drama kecil terlebih dahulu antara Imel dan Bima.


"Mas ikut saja masuk." Rengek Imel.


"Mel, jangan ngaco deh Lu. Ayo biar Om Bima sama Mas Juan. Ada Dodit juga ga mungkin Om macem-macem." Bujuk Wulan.


"Maaas..." Rengek Imel dengan mata berkaca-kaca.


"Masuklah sayang. Mas di sini ga akan kemana-mana." Bima.


"Yakin?" Imel.


"Iya sayang." Bima.


Imel pun akhirnya mau masuk bersama Dini dan Wulan. Dini mengusap punggung Imel menenangkannya. Dini tau bagaimana Imel terpukul dengan fikirannya sendiri karena mendengar cerita Teh Leli.


Wulan pun merasa kasian melihat keadaan Imel yang seperti itu. Imel selalu berfikiran yang berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Dan setelah kehilangan Ayah nya Imel memang tak ingin kehilangan Bima.


Imel melabuhkan segalanya pada Bima dan Bima tau itu. Sebenarnya Bima pun tak tega kemarin mendiamkannya. Tapi semua demi memberikan kejutan padanya namun apa yang terjadi ternyata Imel begitu terpuruk.


"Mel, senyum dong. Ga enak sama Nita." Wulan.


"Hm.." Imel.


"Udah... Ayo masuk. Kasian Nita sudah menunggu kita." Dini.


"Nitaaa..." Teriak Wulan begitu masuk ke dalam kamar Nita.


"Iiih,,,, kalian kenapa baru dateng." Nita.


"Ini nih,, Si Bucin lama banget." Wulan.


"Sudah-sudah yang penting kita udah ada di sini sekarang. Kita minta maaf ya Nita." Ucap Dini melerai.


Imel hanya diam tak menjawab. Sekali saja Imel mengeluarkan kata-katanya maka akan meluncur deras air matanya. Dini memberi kode kedipan mata pada Nita dan Nita pun tak membahasnya lagi.

__ADS_1


Nita dan Dini memang lebih saling mengerti satu sama lain karena mereka lebih lama bersama sedang Wulan hanya sesekali saja karena Wulan tinggal di rumah sendiri.


🌹🌹🌹


__ADS_2