Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Melepas Rindu


__ADS_3

"Loh, Kok Bapak ada disini?" Wulan.


"Iya Nyonya." Jawab Pak Dimin.


"Jangan bilang kalo Imel juga ada di sini?" Nita.


Kali ini Pak Dimin tak menjawab. Pak Dimin hanya tersenyum kemudian berlalu. Saat mendengar suara langkah menuruni anak tangga mereka pun segera memutar kepala melihat siapa yang turun dan ternyata itu Saras dan Toni di susul Melati dan Pram.


"Selamat malam semuanya... Maaf ya menunggu lama." Sapa Saras.


"Malam Mi." Wulan.


"Kalian kenapa?" Melati.


"Kita fikir Imel ada di sini." Dini.


"Imel?! Kenapa kamu berfikir begitu?" Melati.


"Soalnya tadi ada Pak Dimin masa iya dia pulang sendiri." Dini.


"Lah, emang ga boleh Pak Dimin pulang sendiri?" Tanya seseorang dengan suara yang familiar di telinga mereka.


"Imelllll...."


Semua berhambur memeluk sahabat yang mereka rindukan. Wulan dan Dini melupakan kerewelan pada kehamilannya sejenak. Bahkan Wulan bisa langsung berdiri dan menghambur kedalam pelukan Imel. Melihat Maminya di serbu Tante-tante Athar menangis histeris takut-takut terjadi sesuatu pada Maminya.


"Hua... huaa.... Mami....." Teriak Athar dengan derai air mata.


"Eh, iya sayang. Mami disini." Ucap Imel melerai pelukan ketiga sahabatnya dan mengambil Athar dari gendongan Papa Bambang.


"Kalian sih, jadi kaget kan Cucu Oma." Mama Yuni.


"Abis Oma sih pulang ga ngasih kabar." Wulan.


"Kan namanya juga surprise Wu. Mana ada surprise bilang-bilang." Mama Yuni.


"Ya udah. Ayo kita makan." Ajak Papa Bambang.


Setelah melepas kerinduan yang belum terpuaskan mereka pun kemudian menikmati makan malam mereka dengan konsep yang berbeda. Yang biasanya duduk manis di meja makan kali ini tidak, semua bebas memilih menu apa saja yang ingin mereka santap.


Semua begitu menikmati hidangan yang di suguhkan oleh restoran Xx. Bahkan ketiga bumil pun makan tanpa kendali. Hormon bahagia mereka mengalahkan rasa mual munt*h yang sedang mereka alami. Imel pun menikmati kerinduannya kepada makanan tanah air.


"Sayang, Gendis sepertinya mengantuk." Ucap Bima seraya memberikan Gendis pada Imel.


"Ya udah sini biar Imel boboin dulu." Imel.

__ADS_1


Imel pun berpamitan untuk menidurkan Gendis terlebih dahulu di susul Bi Imah yang kemudian akan menjaga Gendis. Penjagaan Athar di alihkan pada Bima. Mereka terbiasa seperti itu.


"Apa Om tidak menggunakan jasa baby sitter?" Dodit.


"Tidak. Tante kalian yang meminta untuk tudak menggunakan jasa mereka. Cukup Bi Imah saja." Bima.


"Wow! Apa Tante Mel tak kesulitan?" Dini.


"Tidak. Bahkan dirinya begitu menikmati perannya. Beberapa kali Om meminta persetujuannya untuk menggunakan jasa baby sitter tapi tetap Imel menolak. Bahkan ketika hamil besar pun Imel lebih memilih mengsuh Athar sendiri dengan alasan agar proses persalainanny nanti lancar." Jelas Bima bangga terhadap sang istri.


"Imel memang mandiri walaupun dirinya akan bersikap manja di hadapan keluarganya." Nita.


"Aku banyak belajar darinya." Dini.


"Bukan hanya kamu tapi kita semua." Wulan.


Setelah Gendis tertidur Imel pun kembali bergabung bersama yang lain. Ke empat sahabat itu pun saling mengobati rasa rindu mereka dengan saling bertukar cerita. Tak ada mual, munt*h dan lemas di rasakan oleh Dini dan Wulan keduanya tampak bahagia bertemu dengan Imel.


Nita tal henti-henti mengusap lelehan air matanya yang selalu mengalir di pipinya karena bahagia bisa berkumpul kembali bersama sahabat tercintanya. Maklumlah Imel dan Nita selalu bersama sejak kecil wajar saja jika Nita begitu kehilangan yang dalam saat Imel harus tinggal terpisah.


"Terus cafe siapa yang pegang?" Imel.


"Lili asisten gw." Wulan.


"Lancara tapi?" Imel.


"Kalo yang kemarin itu amarah jadi we ga bertahan lama." Nita.


"Mungkin terlahir di tanah sengketa." Dini.


"Hus... kalian ini." Imel.


Keceriaan mereka pun harus terhenti karena Saras meminta mereka untuk beristirahat karena malam semakin larut. Saras pun merasa kasian pada Imel setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan.


"Hei, kalian! Ayo bawa istri-istri kalian pulang. Kasian Imel butuh istirahat yang pastinya besok-besok akan di repotkan oleh keponakan-keponakan nya itu." Panggil Saras pada pria-pria yang tengah berdiskusi mengenai bisnis.


"Iya. Kasian juga anak-anak kalian nih butuh istirahat." Ucap Melati sambil menyerahkan Aidan pada Dodit.


"Ayo sayang kita pulang. Anak kita sudha di kembalikan." Ajak Dodit.


"Heh! Anak kurang garam. Awas ya anak kedua kalian lahir Mami masa bodoh." Ancam Melati.


"Mami,,, jangan gitu. Biarin aja Mas Dodit. Tapi, Dini sayang Mami.." Rengek Dini.


"Elah,, mantu lu. Udah sana cepet pulang Tante kalian butuh istirahat. Masih banyak waktu buat kalian main bersama lagi." Saras.

__ADS_1


"Siap Bude." Dini.


"Kita pamit juga semuanya." Pamit Heru pada semuanya


Akhirnya ketiga pasangan itu pulang dengan berjalan kaki karena memang jarak rumah mereka saling berdekatan. Mereka memilih pulang pun karena rumah mereka saling berdekatan.


Imel segera memasuki kamar Athar kemudian ke kamar Gendis kamar keduanya memang sengaja di pisahkan oleh Bima dan Imel. Dan mereka pun telah menyiapkannya jauh hari sebelum mereka pindah. Gendis masih di temani Bi Imah karena memang usianya belum genap dua bulan sedang Athar sudah tidur sendiri.


Kamar mereka sudah di lengkapi kamera yang terhubung langsung ke kamar Bima dan juga ke kamar Papa Bambang karena Papa Bambang pun ikut khawatir dengan kedua cucunya itu. Pasalnya sudah sangat lama Papa Bambang dan Mama Yuni tidak memiliki anak kecil.


"Athar sama Gendis udah pules sayang?" Tanya Bima saat Imel baru saja masuk ke dalam kamar mereka.


"Sudah Mas. Tadi Imel sempet mengasihi Gendis terlebih dahulu." Imel.


"Kamu ga punya stok ASI sayang?" Tanya Bima karena memang Imel selalu pumping.


"Ada. Semua sudah di dalam lemari pendingin." Imel.


"Syukurlah. Sudah sini kita tidur." Ajak Bima.


"Imel ganti baju dulu Mas sebentar." Imel.


Sambil menunggu Imel berganti pakaian Bima menyempatkan diri mengecek email yang masuk tanpa berniat membalasnya. Karena Bima fikir masih ada hari esok untuk pekerjaannya. Setelah Imel selesai dan menyusulnya ke tempat tidur Bima pun segera mematikan tabnya dan mengimpannya di atas nakas.


"Maafin Mas ya sayang." Bima.


"Maaf untuk apa?" Imel.


"Maaf karena sempat memisahkan kamu dan ke tiga sahabat kamu." Bima.


"Mas, semua sudah kehendak Tuhan. Imel juga ikhlas kok menemani Mas selama tugas kemarin. Walaupun Mas juga kasih tugas yang begitu besar sama Imel." Imel.


"Tugas apa? Mas rasa Mas tidak memberi tugas apapun." Bima.


"Yakin? Bahkan dua tugas sekigus Mas kasih ke Imel." Rengek Imel menyelusup ke dada bidang Bima.


"Ah, sayang. Jangan mancing dong. Katanya masoh beberapa hari lagi." Bima.


"Eh, siapa yang mancing orang mau bobo." Imel.


"Terus tadi tugas apa yang Mas kasih? Kayanya ngga ada." Bima masih berusaha berfikir tentang tugas yang Imel katakan.


"Tuh, Athar sama Gendis." Tunjuk Imel pada layar dimana terlihat Athar dan Gendis tertidur begitu pulas.


"Astaga! Satu lagi Yang gimana?" Goda Bima.

__ADS_1


"Bisa di potong anu mu Mas sama Papa." Imel.


🌹🌹🌹


__ADS_2