
Betrand bergegas pergi mengemas baju untuk menyusul Bella, saat Betrand membuka pintu kamar hatinya makin tercabik-cabik lagi, setelah mendapatkan satu kotak kado diatas ranjang dan membukanya,
Airmata tak terbendung lagi saat sebuah jaket bomber kegemarannya terlipat rapi sebagai hadiah keberhasilannya
Betrand sedikit menepis, segera dia berkemas lalu berangkat dengan menggunakan jaket pemberian Bella .
******
Sementara itu
Bella terdiam menahan rasa sakit hatinya didepan rumahnya.
Ya memang benar, Bella membawa segudang kesedihan ke rumah orangtuanya, karena tempat ini tempat ternyaman baginya
Tok... Tok.. Tok
Bella perlahan mengetuk pintu
"Ya tunggu sebentar. " Terdengar dari dalam rumah suara Bu Tina
Pintu pun dibuka, Bella yang langsung menatap Bu Tina, airmata pun pecah tak terbendung
" Sayang ada apa? " tanya Bu Tina khawatir
" ....Sama siapa kesini, mana Betrand? " lanjut Bi Tina merapikan rambut Bella yang ikut basah terkena airmata
Bella tak menjawab hanya bisa menangis keras
" Papah... Papah! " teriak Bu Tina ke arah dalam sambil menuntun Kearah Bella masuk
" Ada apa? " tanya Pak Indra yang baru saja keluar dari kamar mandi
" Bella ada apa dengan kamu, mana Betrand? "tanya Pak Indra memandang khawatir
" Papah... Mamah, Bella dan Betrand udah putus Hiks... Hiks.. " jawab Bella disela tangisannya
" Kenapa? " tanya Pak Indra
Mulailah Bella menceritakan semuanya
Pak Indra langsung terlihat lebih murka dengan perlakuan calon menantu, matanya menatap tajam tangan mengepal keras.
Sedangkan Bu Tina memeluk erat Bella memberi kekuatan dan kesabaran.
" Sayang kamu istirahat dulu, nanti masalah ini biar Papah dan Mamah yang urus." ucap Bu Tina memapah Bella masuk ke dalam kamar
" Bella makan dulu. " ajak lembut Bu Tina mengetuk pintu kamar.
Bella yang masih bersedih keluar kamar, dengan mata yang bengkak menandakan seharian dia menangis.
Malam harinya Betrand pun datang menyusul Bella
__ADS_1
Tok... Tok.. Tok..
" Ya... Sebentar. " ucap Bu Tina dari dalam
" Malam Mah... " sapa Betrand dengan tatapan kosong
Bu Tina tak mengeluarkan sepatah kata pun hanya menatap geram tepat di wajah Betrand
" Siapa Mah? " tanya Pak Indra dari dalam rumah
" Betrand.!" ucap lantang Bu Tina dari pintu depan
Mendengar itu Bella yang sedang duduk di ruang makan beralih pindah ke dalam kamar
menutupi dirinya, dia enggan bertemu laki-laki yang menurutnya sangat bre****k.
Pak Indra yang sedang menemani Bella datang dengan murkanya
" Mau apa kamu kesini! " ucap lantang pak Indra
" Pah... Bella ada saya ingin ngobrol sama Bella. " tunduk Betrand dengan rasa bersalah
" Mau apa kamu ketemu dia.! Aku sudah percayakan anak gadis kesayanganku kepada mu tapi apa hasilnya.! " bentak Pak Indra kesal
" Maaf... Pah.. "
" Maaf.. Enak benar kamu bilang maaf, kami memang keluarga miskin tapi kami punya harga diri ,seenaknya aja kamu injak-injak, sekarang kamu pergi dari sini dan lupakan Bella. " ucap Pak Indra
" Pah... Jangan usir saya, biarkan saya menyelesaikan masalah ini dengan Bella. " lirih Betrand memohon
" Bella... Bella... Turun aku disini...! " teriak Betrand menggaduhkan seisi rumah.
" Kamu ini engga bisa dibilangin, pergi... cepat pergi! " Pak Indra mulai mengeraskan rahangnya menunjuk keluar rumah
" Bella.. Bella sayang turun aku disini !" Betrand yang kekeh memaksa untuk masuk.
Ciko yang berada di dalam kamar pun kesal dengan ulah gaduh Betrand, dengan menggebrak meja belajar Ciko menghampiri Betrand dan melayangkan pukulan tepat di pipi Betrand
" Kamu engga bisa dikasih tau.! " ucap Ciko pembuluh darahnya tampak tegang dilehernya
Tapi Betrand tetap bersi kukuh ingin bertemu Bella
" Bella lihat adikmu memukulku,! " ucap Betrand menerima pukulan Ciko
Betrand menatap dinding kamar Bella seakan tinggi dan terlihat angkuh hingga panggilannya tak satu pun di hiraukannya.
Bu Tina dengan cepat melerai perkelahian di antara mereka
" Ciko... Ciko sudah! " bentak Bu Tina menahan Ciko yang masih kesal lalu mendorong Betrand yang sudah tergeletak di tanah
" Nak Betrand, sebaiknya kamu pulang dulu, sekarang suasananya kurang baik, nanti setelah tenang kita akan bicarakan lagi ya.. " ucap Bu Tina menenangkan Betrand
__ADS_1
" Mah... Saya engga berselingkuh ... Mah saya cinta sama Bella " lirih Betrand memohon
" Iya.. Mamah tau. " ucap Bu Tina menenangkan kembali
" Mah... Tolong bilang sama Bella jangan bilang putus, kita akan menikah...Saya udah siapkan semuanya... Mah. " ucap Betrand teringsak-ingsak
" Iya.. Iya.. Sekarang kamu pulang dulu ya... Nanti kalau semuanya tenang kita selesaikan. " ucap Bu Tina, lalu dia berdiri dan meninggalkan Betrand sendiri tersungkur di halaman rumah.
Hatinya engga meninggalkan Bella, wajah nya yang mengosong entah mau kemana dirinya akan pergi , dia hanya bisa menatap angkuhnya dinding putih menghalangi wajah sang kekasih.
Dari balik jaketnya terdengar beberapa kali dering telpon
" Halo.. " ucap lemah Betrand
" Dek... Kamu dimana? " panggil Kak Derry
" Dirumah Bella, Ada apa?" tanya Betrand dengan lirih
" Kamu menangis? " Kak Derry menanyakan kembali kali ini suara Kak Derry pun pelan ikut merasa kesedihan adiknya.
" Ada apa?"
" Dek, kamu pulang ke inggris sekarang...Ayah terlihat marah besar. " ucap Kak Derry
( Bilang sama anak kurang ajar itu pulang sekarang, jika tidak pulang.... Dia akan Ayah hapuskan dari ahli waris.) terdengar jelas suara Pak Arya yang mengeras membentak dan mengancam
" Dek... Kamu pulang sekarang kita tunggu dirumah. " ucap Kak Derry mengakhiri panggilan
Ratapan Betrand terasa perih saat dia melangkah keluar dari rumah Bella, hatinya telah pasrah untuk menghadapi kedua orangtuanya kali ini dia sudah tak perduli.
Sementara itu
Tok... Tok... Tok..
" Nak boleh Mamah masuk? " ucap Bu Tina dari balik pintu
Pintu pun Bu Tina Buka, Bella terus menangis diatas ranjang sambil memegang kedua lututnya, menutup wajahnya berusaha keras untuk tak perduli dengan suara lantang Betrand dari luar.
" Sayang kamu baik-baik aja? " Bu Tina Mengusap lembut punggung Bella menenangkannya
" Mah.... " Bella menangis memeluk Bu Tina melepaskan semua rasa sakit hatinya.
Setelah satu jam Bu Tina pun keluar dari kamar Bella
" Gimana Bella, Mah?" tanya Pak Indra
" Dia udah tidur. " jawab Bu Tina menutup pelan pintu kamar dan Bella.
Keesokan harinya
Bella enggan untuk ke luar kamar ,mata terlalu kering untuk menangis lagi, akibat rasa sakit pengkhianatan Betrand yang sangat berbekas sangat dalam
__ADS_1
" Bella... Sayang makan dulu dari kemarin kamu belum makan. " ucap Bu Tina dari balik pintu kamar, Bu Tina tak berani membuka pintu dan mengganggunya yang sedang bersedih.
Bella hanya terdiam sepanjang hari itu, dia benar-benar tak ingin satu kata pun terucap dari mulutnya, pikirannya hanya terus membayangkan saat Betrand terlelap tidur di ranjang hina itu