Dady Danzel

Dady Danzel
Bab 104


__ADS_3

🍀 Wanita itu ? 🍀


Keesokan harinya, Arumi memakaikan Dasi dengan sempurna. Gilang mengecup manis bibir sang istri seperti biasanya.


"Honey, aku sudah berdandan?"


"Tugasmu selalu cantik setiap pagi, dan tugasku sebagai suami sempurna menghapusnya, keberatan sayang,?"


Eeeuum..., Arumi tersenyum menunduk dan berfikir. ia merasa malu karna setiap pagi suaminya selalu membuat kejutan romantis yang tak pernah ia bayangkan. sebelum berangkat ke kantor ketika ia mengantarnya, sudah pasti gilang melunturkan Aroma wangi tubuh atau sekedar menghapus warna bibir yang sudah terlihat indah.


"Kenapa senyum, bukankah aku bebas melakukannya?"


"Ya honey, lakukanlah. anggap saja bonus sarapan semangatmu sebelum ke kantor."


"Good, istri pintar!"


Beberapa jam kemudian, Arumi bersandar dan bersantai. tubuhnya serasa remuk, pusing dan sedikit mual yang ia rasakan. Lalu ia pun memesan Jahe dan menghubungi nomor bantuan yang tertera di secarik kertas lembar buku kecil. Lalu ia menyalakan tv sambil menunggu pesanan tiba agar tidak sepi, ia pun memencet tombol dan mengklik nama Clara pada layar ponselnya. Entah mengapa ia amat rindu pada putranya Danzel.


...........


"Hubby, sudahlah berangkat saja. aku tidak apa apa!"

__ADS_1


"Aku tau apa yang kamu pikirkan saat ini,!" Erico menatap sang istri.


Erico memberi arahan lembut pada sang istri, karna ia tau apa yang terkumpul dalam benak pertanyaan, dan mood yang tak baik sehingga sang istri cemas selalu berfikir buruk. "Sayang, meski ka Trist berkelakuan buruk, dan Papa mempunyai dua istri. bukan berarti aku akan seperti mereka, aku hanya cukup dengan istri sempurna seperti mu,!" bisik Erico.


Bisnis launching baru ini bukan ideku, ini semua ide ka Tristan dan papa Stevanus sehingga aku harus terlibat, entah mengapa semenjak ada ditanganku semakin pesat dan berkembang. Atau mungkin ketampanan dan kepintaran dalam bisnis ka Tristan berkurang atau berpindah padaku.


Mendengar kata sang suami yang pede membuat Keiiyra memutar mata, kesal menahan cemburu berlebih. "Hubby, jelas aku kesal karna ada Shera yang selalu ditunjuk Kak' Trist, apa dia sengaja membuat aku selalu perang dingin, terlebih wanita itu tak putus mencari celah mendekati Erico." batinnya.


"Sudahlah hubby, aku lelah berdebat. aku percaya padamu!"


"Baiklah, jangan lagi berdiri memutar jauh. Jika tidak akan aku daftarkan dirimu sebagai atlet lari marathon!"


"Lakukan saja, mungkin istrimu akan kembali terkenal hubby,!"


"Hubby, kamu sudah terlambat!" Aku akan berangkat setelah melakukan ritual pagi ini selesai sayang. balas suami idaman.


Tapi kamu sudah rapih hubby,...heuump kesulitan nafas membuatnya lemah tak berdaya. aksi mereka pun di mulai dari pelan, halus dan lembut melakukan pergulatan romantis. Yang mereka lakukan adalah...,?


"Readers You know lah, hihii...."


Aku bebas, pemilik perusahaan tidak sama dengan karyawan yang datang selalu pagi sayang. itulah kata yang terngiang di telinga sang istri, ketika Erico berbisik.

__ADS_1


.


.


.


Di siang hari.


Dengan balutan serba hitam dan selendang menutupi rambut. Tak lupa kacamata hitam agar menutupi sinar matahari cahaya terik. Arumi telah sampai di pemakaman chemetery seorang diri. ia melangkah dan menaruh dua bucket tepat di kiri makam sang papa, serta makam bibi Yani di sebelah kanan. Arumi berdoa dan Rindu akan kebersamaan semasa hidup.


"Papa, Arumi datang. andai benar mama dan adik sepupu ada menyatu berdekatan pada tempat peristirahatan kalian, di alam sana saat ini pasti Mii bahagia."


Arumi terdiam, ia meneteskan bulir air mata. ia mengingat beberapa tahun silam. Kebakaran pabrik papa yang membuat keluarganya hancur, kehilangan sosok sang mama lebih awal. dan anak dari bibi Yani kala itu. Meski jasad sang mama tak dapat di kenali, namun cincin berlian yang melingkar pada jari manis mama terlihat jelas kala itu meski seluruh tubuhnya gosong dan hancur. Namun beberapa tahun kemudian makam itu dibongkar, di autopsi ketika sebuah keluaraga menyatakan jasad itu bukanlah..., dan benar saja itu bukan sang mama.


"Jika papa bertemu dan tau keberadaan Mama, sampaikan Rindu Mii pah!"


Tak lama, Gilang memberi pesan ia telah sampai dimana? Arumi pun membalas pesan Gilang. Jika ia telah sampai dan sebentar akan kembali menemui suami tercinta menyusulnya ke kantor.


Arumi yang berdiri melangkah, pandangannya sedikit kabur dan pusing.


ia tertatih dan sedikit bersandar di pohon besar yang rindang,berusaha agar ia tetap bisa melanjutkan berjalan dan menemui taxsi. Namun ketika itupun, ia tak dapat menahan tubuhnya seperti tak bertulang ingin jatuh.Seseorang menggapai tubuhnya dan menyangga Arumi agar tidak jatuh.

__ADS_1


----bersambung---


🌹 Happy Reading 🌹


__ADS_2