
🍀 Rencana 🍀
Oma Seiyen berbaring di kamar, ia mengambil surat perjanjian kontrak bersama Ratna, seseorang yang melahirkan Arumi. ia membencinya sangat dalam, sehingga begitu tau Gilang akan menikahi Arumi. ia menjadi semakin memuncak untuk menyikapi. ia mencoba menghubunginya. tapi nomor ponsel sulit sekali tersambung.
"Aaakh, Ratna kesibukanmu menjengkelkan, disaat seperti ini kaulah yang pantas disamping Arumi, aku hanya bisa suport. karna aku mengasihi anakmu!"
Sadiya di ruang dapur, ia ingin sekali menghampiri rumah sebelah, menunggu Gilang berada dikamarnya. "Kasian, kamu pasti kesepian Gil?" Sadiya, masih melamun dengan khayalan harapan dibenaknya. dengan menempelkan jentik jari tangannya ke arah dagu. Seolah sedang memikirkan rencana.
Braaaauugh.. sebuah berkas diletakkan di meja dapur, Clara mengambil minum dan meneguknya duduk disamping Sadiya.
"Cla, udah pulang. mengagetkan aja. dari mana terus gimana keadaan istri Gilang?"
Gleuuuuk... mmmmh Clara mengkerinyitkan alis, ia memasang wajah kesal. ingin sekali menampar wanita ular kepala belut, untuk tidak berpura pura tak tau, karna pasti ia sudah menanyakan pada Oma. belum lagi wajah terlihat senang bukan ikut prihatin dengan tulus. tak menjawab, ia malah menyapa Fandi.
"Bagaimana Danzel, apa dia udah lebih baik?" Fandi pun menjawab, jika Danzel sudah di kamar Oma, dan ditenangkan oleh Oma Seiyen.karna sejak tadi Danzel menangis dan ingin berada dirumah sakit. Tapi mengingat ia masih kecil, Gilang meminta sang anak pulang dan tidur bersama Oma atau Auntynya.
"Cla, kamu belum jawab pertanyaan aku loh tadi?"
Clara yang baru saja berdiri, ia menoleh kearah Sadiya. lalu Fandi ikut terkejut akan dua wanita yang bertatap wajah seperti lelembu yang tak kasat mata. sangat tak enak dipandang.
"Ka, aku tau pasti kaka senang kan, kalau istri ka Gilang seperti ini. ga perlu basa basi jika hal ka Sadiya udah lebih tau. mending pikirin gimana besok Papa kaka datang menjemput, Clara harap ka Sadiya pulang kerumah dan ga usah balik lagi kesini!"
Clara mengambil tas, berkas.lalu ia berjalan dengan menginjak hentak bumi, melewati ke arah tangga dengan amarah yang kesal.
"Aaiiyo.. bocah ingusan itu, selalu tak pernah menyukaiku, Apa dia iri padaku?"
Eheeeum... perkataan Clara memang benar, dan dia sudah remaja, cantik dan jujur apa adanya! tambah Fandi. Sadiya melirik kearah pria yang selalu ia anggap kacung sang suaminya dahulu, ia memang tak jauh beda dengan Cla yang tak menyukai hingga kini.
__ADS_1
"Kalian berdua memang ditakdirkan jodoh, sama sama membenciku. sama sama membuat aku kesal." tutur Sadiya
Fandi terdiam, ia yang mengaduk teh sedikit diam, bukankah perkataan nya memang benar. Lalu dimana letak salahnya, "Haaaaah.. dasar wanita Saiko!" ketus Fandi.
.
.
.
Sayang, apa yang harus aku lakukan. ayo sadarlah. aku akan membawamu berobat ketempat yang jauh lebih canggih. Bahkan kehilangan aset. aku tak masalah, asalkan dirimu tetap hidup bersamaku, Danzel dan aku membutuhkanmu. "Ku mohon, bangunlah!"
Gilang masih tak percaya, ia meminta Fandi mengurus segala hal di kantor. ia akan menemani sang istri hingga sembuh, Fandi pun mendengus nafas panjang. akan ada masalah besar jika ia menghandle sendiri, sehingga ia memutar pikiran dan menuju kamar Clara.
"Cla.. buka pintunya. aku tunggu di teras depan ya!"
Beberapa jam kemudian, Cla menghampiri dan ikut duduk. "Ada apa sih, udah malem juga. skripsiku belum selesai ni Fan, gimana dong?"
Fandi menoleh kearah wanita yang ia anggap keluarga, bahkan seperti adiknya. "Hei, dengar ya bocah. kaka meminta kamu kesini. untuk bicara soal bisnis dikantor. bukan keluhanmu dikampus!"
"Ciiieh.. pria jahat, kenapa harus aku sih?"
Fandi menahan tangan Clara, saat ia berdiri ingin meninggalkannya. "Cla, perusahaan tanggung jawab kamu dan Gilang. aku hanya karyawan setia bukan. ku mohon pelajari temui meeting penting!"
Clara pun duduk kembali, dan membicarakan hal serius. Meski mereka tak melihat seseorang wanita yang menguping akan pembicaraannya. "Apa yang benar saja?"
Fandi membelikan sebuah baju kantor, Jika Gilang absen tak akan ke kantor, perusahaan akan menurun drastis. ada baiknya Clara yang memang pewaris harus ikut terjun.
__ADS_1
"Aku ga janji ya Ka, gimana nanti aku bertemu klien. skripsi ku aja belum kelar ditolak terus, huaaa.. Huaaah matilah aku." Tenang, ada ka Fandi yang akan mendampingi. kau hanya perlu hadir dan belajar perlahan oke!
.......
"Bagaimana kelanjutan, kondisi Arumi dok?"
Dokter Faiyus meminta Gilang ke ruangannya, ia diberikan hasil scan dan beberapa perihal yang harus dilakukan. Terlebih Arumi yang masih kritis tak sadarkan diri.
Melewati anak tangga, taburan mawar putih dan tirai serta dinding yang menjulang tinggi amat putih. Awan yang mendung tak secerah awan dipagi hari. Arumi berjalan melangkah tapi kakinya terasa berat tak bisa digerakan melewati pintu.
"Aku dimana, Danzel tolong mama. Honey kamu dimana. kenapa kamu tak ada disini. aku dingin dan sunyi!" Arumi duduk dan menatap satu cahaya kecil dan membesar menghadapnya. Sehingga cahaya itu amat terang dan menyilaukan kedua mata indahnya.
ia pun perlahan menutup dengan tangan dibawah pelipis. Anda siapa? Aku dimana?
"Tidak mungkin, itu tidak benar. Arumi pasti masih hidup. ia pasti bisa melewati masa kritis dan menjalani operasi awal kan. Ku mohon aku bisa membayar apapun yang kalian inginkan. aku mohon. Selamatkan istriku!"
Dokter Faiyus terdiam. ia tak bisa menahan rasa sedih. ia menyatakan Arumi kemungkinan tak bisa melewati masa kritis dan dinyatakan tak bisa selamat, tapi Gilang tak mempercayainya. ia keluar, berlari dari ruangan dokter menuju ruangan kamar sang istri.
"Sayang, kamu dengarkan. aku disini berusaha agar kamu sembuh. Aku mohon bangunlah demi Aku dan danzel!"
Gilang menutup wajah, membelai cium tangan Arumi. ia berharap ada keajaiban agar Arumi sadar. meski ia menatap wajah Arumi yang pucat kuning, bibir yang putih ia berharap semuanya berakhir. "Sayang, dimasa sulitmu dalam keadaan apapun. aku tidak akan mengkhianati. aku tidak akan meninggalkanmu sedetik pun. ku mohon bangunlah. apapun yang terjadi kamu hanya bidadari hidupku!" Tuhan beri aku kesempatan menjadi suami sempurna. batin Gilang.
"Apa kau bisa bertahan Gil, aku akan merusaknya. Arumi pasti akan mati!" lirih Sadiya dibalik pintu. menatap Gilang yang rapuh bersedih.
.........
Sampai sini, ada kah yang bisa menebak. Author usahakan happy ending ya.
__ADS_1
🌹**Happy Reading** 🌹