Dady Danzel

Dady Danzel
Bab 121


__ADS_3

🍀 kepanikan 🍀


Dua puluh menit, lift terbuka. Erico terkejut akan pandangan yang tak di inginkan. ia segera meraih sang istri yang pingsan, "Biar aku tangani sepenuhnya, tolong handle meeting!"


"Baiklah, cepat kerumah sakit. jangan berpikir buruk saat aku di lift tadi!" bisik Owzie. bagaimanapun Erico tak tahan, melihat sang istri menutup mata, ia takut gelap dan lift berhenti adalah sangat sulit ia bernafas, ia tidak tau dari kapan sang istri takut gelap dan ruangan tertutup,"Honey, sejak kapan kamu seperti ini!" lirih Erico menuju rumah sakit dengan cemas dan panik.


Pelukan hangat Gilang, ia menyentuh kening sang istri, ia tidak tega menatap sang istri begitu lemas."Sayang, kamu terlihat sehat. tapi jika aku tidak tau, akan terpukul menyesalnya aku tidak tau kesehatan dirimu."


Gilang menghubungi seseorang, ia meminta untuk mencarikan pendonor dan membuat jadwal khusus, ia pun meminta Fandi untuk mengurus segala hal dikantor, disaatnya tak ada.


"Apa, penang. siapa yang sakit?" Fandi terdiam. ia mencerna obat yang diberikan Gilang. Tidak, Tidak mungkin Arumi yang sakit! lirih Fandi. ia segera menghubungi Clara.


Sesampai dirumah, Arumi terbaring dan istirahat. Gilang full menemani keadaan nya yang semakin pucat. "Aku minta maaf honey!"


Sudahlah, kamu pasti sembuh sayang!


Gilang pun memberi pesan, Jika Erico terbang bersama Keiy tanpa bertemu denganmu. ia sedang tidak sehat! Arumi terdiam, apa Keiy kambuh akan traumanya honey? Apa maksudmu sayang. ada apa dengan kalian. tanya kembali Gilang. Arumi terdiam, perkataan tadi spontan begitu saja.


 


........


Clara menjenguk Arumi bersama Danzel.


ia tak bisa menahan rasa sedih, ketika semua hal kebenaran tau dari Fandi. "Hei, kenapa menangis. masa anak gadis cengeng sih?" tanya Arumi. Apa benar semua itu kak? Tenang itu hanya hal kecil, kaka pasti sembuh dan ga serius kok. Arumi menatap Danzel yang memeluk Dady Gilang. ia tersenyum dan meraih pelukan sang putra semata wayang.


"Kelak aku titip Danzel ya, terutama kamu Clara!"


"Kaka bicara apa sih, Oma harus tau."


Arumi menggapai, membuat Clara terdiam, tangannya terkunci. mimik wajah Arumi menggeleng, berusaha agar Oma tak perlu tau kali ini. "Cukup kamu, Ka Gilang dan Fandi yang tau. tolong rahasiakan sementara!"


"Tapi ka..?" Gilang pun membuat kode mata, agar Clara menurut. ia tak ingin sang istri menambah beban pikiran terasa berat kelak.

__ADS_1


Malam itu Danzel dan Gilang memeluk Arumi yang tidur diposisi tengah, Gilang memeluk erat seolah takut akan kebersamaan hilang dalam waktu dekat. Arumi menatap kedua pangeran hidupnya yang telah tidur, ia hanya bisa menyapu air mata yang menetes begitu saja. Tapi entah mengapa ia merasa rindu, rindu akan papa. Momen di saat seperti inilah ia mengharapkan sang Mama datang. tapi ia berada di malaysia menjalani kehidupan bersama mama le'un. mama mertua yang pernah ada dan mengisi kehidupannya dulu.


Gilang mendongkan wajahnya, ia masih jelas menatap sang istri menahan tangisan. ia pun bangkit, duduk dan bersandar, Arumi terkejut akan suami yang belum pulas.


"Honey, belum tidur?"


"Sayang, cuuup.. cukup jangan menangis. aku tak bisa kehilanganmu, kamu pasti sembuh. Ku mohon berjuanglah demi Aku, demi Danzel!"


"Pasti, Honey aku akan berusaha sekuat mungkin untuk sembuh."


Gilang dan Arumi saling memeluk, ia pun membelai tubuh Arumi, memiringkan posisi tidur saling memeluk. Sementara Arumi menatap wajah Danzel yang semakin besar dan tumbuh tampan.


"Apa aku bisa melihatmu tumbuh dewasa Nak?"benak Arumi.


 


Pagi hari, seperti biasa keluarga semakin erat sarapan bersama, Tapi oma Seiyen menatap aneh. mengapa kursi Gilang dan Arumi tidak terisi. hanya Danzel dan Clara yang meramaikan suasana dengan adem sepi jika dua bangku kosong terlihat aneh.


"Oma, berhentilah. ka Arumi sedang tidak enak badan. jadi tidak perlu ribut!"


Clara hanya menggelengkan kepala, setelah selesai ia pamit. ditemani Fandi. kali ini Danzel pergi kesekolah diantar oleh Fandi dan Clara. sudah pasti babysister ikut. Sementara Danzel menaiki anak tangga untuk pamit pada mama dan Dady. ia segera memeluk sang mama dan menciumnya.


"Mama, cepat sembuh. Danzel berangkat ya?"


"Cccup.. pangeran. mama pasti sembuh. mama hanya masuk angin, Danzel yang semangat ya!"


Heuuumph.. baiklah Mama juga ya! Gilang pun mencium dan mengantar sang anak ketepi depan rumah. Kali ini Gilang tak ke kantor. ia meminta Fandi menghandle dan mengurus berkas penting kerumah. ia bekerja di dalam rumah dan masih ingin memantau Arumi yang masih terlihat lemas akibat kemo kemarin.


"Honey, sudahlah ke kantor saja. jangan biarkan Oma bercuit seisi rumah menjadi berisik."


"Sayang, istrihatlah. soal Oma aku akan tangani oke!"


Sadiya di pelataran rumah, ia ikut menyiram tanaman bunga. Sebuah ponsel berdering dari sang papa untuk ia pulang segera mungkin.

__ADS_1


Oma, ada apa dengan Arumi. dia sakit apa sih? Entahlah. Oma tidak peduli, sudah jangan bahas. sekarang gimana coba kamu cerita, soal perjodohan kamu sama pria bule pilihan papamu itu? Sadiya menggeleng kepala, ia masih mengharap Gilang dan berterus terang meminta Oma membantunya.


Oma Seiyen menarik nafas. ia tak berjanji penuh karna soal hati, Gilang sulit ditebak Sadiya. keras kepala jika itu sudah keinginan!


"Please Oma, tolong bantu Sadiya ya!" berfikir panjang Oma memutuskan.


"Baiklah, akan oma lakukan ya.sudahlah sekarang kamu pulang, temui papamu. jangan biarkan dia datang membawa kegaduhan dirumah ini!"


Sadiya menurut, ada rasa hati ia melihat jendela kamar utama di lantai dua. ia berharap Gilang melihatnya dan mencegahnya untuk pergi saat ini. "Gilang, aku masih mencintaimu." lirih Sadiya. ketika taxsi datang dan mengangkut koper miliknya.


Arumi semakin pucat, ia memuntahkan segala makanan yang terisi. kepalanya semakin sakit dan berat. "Honey, aku.. Aaaaaaaaaakh."


Arumi memegang kepala yang terasa sakit, seperti rasanya ingin pecah dan terbelah. matanya semakin berat dan berkunang, Sehingga ia jatuh menahan rasa sakit yang luar biasa.


Teriakan Arumi membuat Gilang menjatuhkan ponsel dan berkasnya, ia meraih tubuh Arumi. segera ia membopong Arumi dan berlari kencang keluar, Menatap Taxsi yang membuka pintu ia segera meraihnya.


"Sadiya, minggir !" Teriakan Gilang membuatnya terkejut. termasuk Oma Seiyen terkejut akan kepanikan wajah di mata dan bibir gugup Gilang yang bergetar. "Oma, Arumi sakit apa?"


Oma Seiyen tak menjawab, ia melepas teko kembang dan membiarkannya terjatuh. ia meninggalkan Sadiya dan mencoba untuk mengikuti mobil langkah Gilang dan melupakan keberadaan Sadiya saat ini.


"Antarkan kerumah sakit cepat pak!"


.


.


.


Akankah Arumi selamat ayo tebak ya!


makasih atas suport Reader setia semua. terutama Ka tor yang selalu saling mendukung.😉


Mampir dan beri love, ke judul karya Author yang lain.

__ADS_1


♡ Wanita seperti dia. & Salah Jodoh.♡


🌹 Happy Reading 🌹


__ADS_2