
"Hon- Honey. aku se nang. aku ba ha gia bisa menge nal di ri mu. Aku amat ba hagia bisa di cintai dan men cintai pria hebat, Dady hebat se pertimu bagi anak kita. Aku minta Maa aaf!" Arumi menyapa Gilang dengan suara terpatah dan mengecil. Love you honeyku. Arumi tersenyum dan berdoa lalu menutup matanya.
Tliiith...tliiith...,, suara monitor terpampang garis lurus.
Gilang semakin deras, ia berteriak seisi dalam ruangan menjadi bergema. Fandi yang baru tiba di tepi kamar langsung terkejut. ia masuk ke kamar ruangan Arumi.
Clara yang tak kalah kaget menutup mulutnya, lalu menatap ka Gilang yang histeris langsung cekatan memanggil Dokter. "Kaka.. apa ini semua?" Cepat panggil dokter Cla.
CLARA... CLARAAA. CEPAT PANGGIL DOKTER !!
ARUMI... ARUMI..,, Ayo Bangun. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Sayang Ayo Bangun. Ku mohon Bangun !!
Huuuhuuhuu.. Nada deras mengalir dipelupuk Gilang. ia tak pernah menangis sebelumnya.
Tapi kini ia benar benar baru saja mengalir deras dan tertusuk amat sakit dihatinya.
........
"Kaka.. Ayo bangun. ka Gilang kenapa?" tanya Clara.
"Heuuumph.. Ya. ada apa Cla?"
Gilang termenung bingung, tiba saja ia mengelap sebuah pipi yang banjir. Lalu tersadar beberapa detik dan menatap ruangan sang istri. "Cla, Arumi didalam kenapa, ada masalah. Apa drop atau..?"
"Eiiiikh.. apaan sih. Ka Arumi baik baik saja. Tapi demi pemulihan ga boleh masuk selama dua jam kedepan. Ka gilang kenapa, dari tadi teriak teriak Clara, teriak teriak Arumi. bikin sakit telinga tau. Tau enggak tadi tuh Clara baru terpejam eekh kaget gara gara ka Gilang."
Clara mendengus nafas kesal, ia menyandarkan kembali di tembok samping sang kakak.
"Benarkah, tadi seperti itu Cla, ka Gilang udah dua kali mimpi ga baik. Apa besok akan terjadi yang ... kalau. Gimana kalau kaka batalin Operasi ka Arumi?"
Clara menohok, ia menayakan apa yang terjadi. Gilang sang kakak menjelaskan amat detail. selama tiga puluh menit perdebatan akhirnya Fandi datang melerai.
"Ada apa ini, kalian bising sekali ini rumah sakit bukan hutan." Clara melirik Fandi dengan sorot mata tajam.
"Haah.. lagi dan lagi, aku sebal jika mengurus para pria. bebal sekali percaya dengan mitos. Ka Fandi, Clara mau cari udara segar. Cari minuman hangat biar fresh. Tolong perhatikan dan nasehati kakak ku ya!"
Fandi menaikan alis. Lalu menelan saliva saat Gilang masih menutup wajah seperti wajah orang yang frustasi.
"Gil, ayo kita ke taman belakang. ceritalah apa kamu gelisah. sekaligus ada hal penting, Aku butuh pendapatmu!"
Fandi yang saling bercerita akan gerik perlakuan bukti Sadiya. Gilang yang tak konsen hanya memikirkan Arumi. Apakah mimpinya pertanda agar operasi tak dilakukan. ia tak sanggup akan kemungkinan seperti mimpinya.
"Gilang, kesehatan Arumi akan lebih baik jika di Operasi. please jangan bersikap.ke kanak kanakan!"
"Fan, lo ga tau apa yang gw rasain. karna elo belum tau rasanya menikah dan mencintai seseorang kan?"
__ADS_1
Fandi terdiam. ia sebenarnya sakit saat Gilang berbicara seperti itu. Fandi karna lo sobat gw, gw ga akan tersinggung akan hal yang gw dan lo ucap tadi..gw amat minta maaf. Sekarang lo tenangin diri dulu, gw bakal beliin kopi buat elo ya !!
Seketika Gilang meninju tangannya ke dinding pohon. perasaan kalutnya menjadi bicara elo gw dengan gaya kasar dan ngegas karna takut kehilangan sang istri. ia lupa akan nasib Fandi yang benar mencintai tunanganya yang pergi bersama ibunya tak kembali. masih ia harap dan pencarian tapi tak kunjung.
"Sory sob, gw kalut hingga gw juga nyakitin perasaan lo." Lirih Gilang. masih menatap punggung Fandi yang berjalan kini tak terlihat.
Fandi duduk termenung, di depan Cafe ia termenung mengingat sesuatu. Clara yang minum dan memakan sandwich dan coklat hangat tak jauh mendekati.
Lalu ia menyodorkan coklat hangat ke Fandi. tapi Fandi yang tak menyadari dengan arah mata dan pikiran yang bercabang langsung berdiri dan memesan coffe. setelah itu ia berlalu dan meninggalkan keberadaan Clara yang berdiri terkaget akan sikap Fandi.
"Jiiiah.. tadi ka Gilang. sekarang pria yang selalu ga peka, pria yang selalu ninggalin gitu aja. beban ka Fandi apa terlalu banyak ya mengurus kantor?" benak Clara.
.
.
.
Esok Hari tiba.
Oma Seiyen, Mama Retna memahami perasaan khawatir Gilang. tapi mereka juga meyakinkan agar Gilang tak egois. "Gil, Kita sama sama berdoa ke surau berjamaah gimana. agar Operasi Arumi berjalan dengan baik?"
"Gilang akan bertemu Arumi sebentar Oma!"
Suara monitor dan selang masih tersambung pada sang istri. bau rumah sakit yang pekat ia menatap sang istri yang masih terbaring. Gilang selalu mengelap tubuh sang istri dengan tangannya. ia merawat meski kepalanya masih dalam perban, tapi ia akan amat sakit jika Arumi benar benar pergi seperti mimpinya.
Gilang duduk dan menggenggam tangan sang istri. "Sayang, aku tak sanggup jika kehilanganmu. Apa yang harus aku tukar agar kamu sembuh!"
Tak terasa Arumi bangun. ia sudah lama ingin menyapa sang suami, tapi ia tak sanggup melihat wajah kecemasan sang suami yang benar benar kalut. Arumi memikirkan hal terburuk tapi ia berusaha kuat ingin sembuh demi Danzel dan Gilang. dua pria hebat hadir dalam hidupnya.
Tuhan, beri aku kesempatan untuk kedua pria hebat disampingku. ijinkan aku menjadi ibu dan istri lebih baik dan taat untuk mereka. Jika tidak maka kirimkanlah bidadari penggantiku untuk suami dan anakku. Aku ikhlas asal mereka bahagia.
Dan berikan mereka sebuah ingatan lupa untuk melupakan hal menyakitkan yang membekas. dari aku yang membuat insanmu juga sedih berkepanjangan. Batin Arumi. ia mengeluarkan bulir airmata, sehingga Gilang menyadari dan mengelapnya.
"Sayang. apapun yang terjadi berjuanglah. aku menunggu Operasi berjalan dengan baik!"
"Ho. honey. aku pasti baik baik saja. titip Danzel Ya. suami Handsome ku. tersenyumlah!"
Arumi membuka mata, ia berbicara pada Gilang dengan suara terpatah halus dan kecil. Gilang tersenyum dan mencium jemari Arumi berkali kali. mencium seluruh wajah Arumi hingga Arumi membelai wajah sang suami. ia meraba pipi dan pelupuk Gilang.
"Kamu, pria hebat. Suami idaman wanita manapun yang akan tergoda imannya. kamu tampan pasti mudah mencari bidadari lain?"
"Tapi aku hanya mau Arumi Tjin Saksono. jangan bertingkah seolah pergi selamanya. Aku harap dan Aku mau kamu kembali kerumah. kita bersama sama. apapun yang terjadi hanya kamu sayang!"
Arumi tersenyum dan memandang Gilang. mereka saling tertawa kecil seolah ada rasa lucu. Tak lama dokter Amir dan dokter Erland serta beberapa suster masuk. mereka berkata jika Operasi akan segera dilakukan satu jam dan Nyonya Arumi segera di pindahkan ke ruang Operasi.
__ADS_1
"Jangan menangis. peluk Danzel cium Danzel dariku Ya. aku akan kembali Honey!"
Gilang mengangguk. ia ikut mendorong ranjang rumah sakit hingga menepi diujung ruangan rumah sakit.
Clara, Oma Seiyen dan Mama Retna tersentuh akan sikap Gilang. ia sudah jelas paham rasa cinta ketulusan amat mendalam.
Terlihat Gilang yang tak berhenti menatap dan mengedip saat mendorong ranjang rumah sakit ke tepi ruang Operasi.
Beberapa jam kemudian. Gilang berdiri dan duduk kembali. Sudah empat jam ia masih berdebar akan hal yang tak bisa ia hentikan.
"Dady, peluk aku. bisakah Dady tenang. agar Danzel tak bersedih!"
Gilang lupa dan tersadar, ia akhirnya duduk dan memeluk Danzel dan menciuminya.
Sementara Oma Seiyen dan Mama retna saling berpegangan tangan. saling menguatkan sambil menunggu. Tak kalah jauh Clara dan Fandi ikut duduk saling menatap khawatir.
"Ka Fandi lihat deh. Seneng ya di cintai pria seperti kaka aku, Ka Arumi beruntung banget. Clara jadi teringat kisah dongeng deh."
"Cla, ini bukan saatnya bercanda. ini hal serius disaat orang lain cemas, kamu memulai pembicraan bodoh!" Fandi menoyor halus kening Clara.
Hiiiks.. kan aku bilang andai Ka, kenapa..? Sssst.. diam ka Fandi bilang. Ka Fandi harus pergi banyak urusan kantor terbengkalai. ga ada waktu ngurusin ocehan dongeng kamu Cla.
"Dasar pria ga peka, gimana nasibnya kalau Oma setelah ini masih jodohin Clara dengan Fandi. ga ada manis manisnya amat. Si Frans juga kemana sih, udah berapa minggu ga ngabarin lagi. dia seneng banget bikin hubungan ngengantung?" lirih Clara. masih mengepal kedua tangannya yang kesal oleh sikap Fandi.
Fandi menghubungi seseorang, ia tak perduli akan sikap Gilang nanti. yang jelas sebuah insiden kemarin adalah kejahatan yang sengaja. Lalu ia mengecek nomor ponsel yang tak asing, ia menekan dan membesarkan nomor dan nama yang terpampang jelas. ia masih meyakinkan jika tunangannya benar benar menghubunginya, segera mungkin ia meminta seseorang untuk melacak keberadaanya.
"Elvira, apa kamu di penang. jika ia aku akan menemukanmu dan mengetahui jejak bunda dengan cepat yang pergi bersamamu. ada apa, sudah selama ini mengapa kamu baru menghubungiku?" lirih Fandi.
------
"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?"
Dokter Amir, Dokter Erland keluar dengan beberapa suster. tak kalah khawatir mereka seperti keluarga pasein.
Oma Seiyen, Clara, Mama Retna ikut berdiri. mereka ingin mendengar secara langsung akan hasilnya. "Semoga terbaik, semoga baik." lirih Oma dan Mama Retna.
"Kami mohon maaf."
----bersambung---
Jangan tegang ya. Masih ada satu bab lagi dan bonus karya New kelanjutannya.
Stay terus. jangan Un favorite. jangan hilangkan tombol love jadi putih. Stay tombol Love jadi biru selalu ya !!
🌹Happy Reading 🌹
__ADS_1