
๐Pemakaman๐
"Gilang, Sadiya hanya berkunjung. lagi pula dia akan menginap di rumah Oma, kecuali jika kamu ingin..." tutur Oma.
"Cukup Oma, Gilang tak ingin diganggu!"
Gilang meninggalkan ruangan latihan, ia beranjak menuju kolam dan berendam disana.Beberapa saat ia menyelupkan tubuhnya berkali kali, hingga ia terkejut ditepi sisi menatap wanita dengan bikini didepan nya.
"Kau sedang apa?"
Gilang menghindar, bagaimanapun ia pria normal. Terlebih wanita di hadapannya pernah ada dalam kehidupannya dahulu. ia segera naik dan melilit tubuh bawahnya dengan handuk, sementara membiarkan atas tubuhnya terlihat.
Kenapa menghindar, aku tak sengaja bertemu Oma. dan soal cabutan gugatan itu, aku berterimakasih, aku minta maaf soal masa lalu. aku tak sengaja, dan memang benar kecelakaan tak ada campur tanganku kan?
Sadiya menghampiri Gilang, ia masih mencoba untuk merayu Agar Gilang mau kembali, masih berkata,"Terlebih soal pengkhianatan itu tak seperti yang kau pikirkan Gil."
"Cukup, aku tidak butuh penjelasan!" Gilang duduk menatap langit dan bintang. ia masih memutar segelas air soda dan meminumnya. tak berselang lama, Sadiya mendekat dan meraba punggung dan berkata.
"Apa kau lelah, aku bantu?"
Gilang menepis tangan Sadiya, ingat aku sudah beristri. Kamu hanyalah sampah masa lalu yang sudah ternoda!
"Tunggu Gilang, bukankah dulu sebelum kita menikah dan sudah. kau masih menuntaskan hobimu dengan wanita cantik di luar sana, apa salah jika aku khilaf dan semua itu tak sengaja, tidakah kau memaafkanku?"
Gilang menyunggingkan bibirnya, ia menepuk dadanya yang tersentuh oleh Sadiya. lalu ia naik ke atas tangga menuju kamar bersiap. Hingga beberapa saat, ia telah rapih dengan gaya setelan jas hitam, kaos putih. Tak lupa kacamata dan topi hitam yang begitu terlihat tampan membuat wanita melihatnya. Euuum....,, sudah pasti air liur mengeces begitu saja, karna ketampanan itu tiada tara begitu awet muda jika diamati.
.........
.......
Pagi hari, pemakaman ternama di sudut ibu kota, Arumi mendampingi Mama leun. ia menatap anak Dani bersama Bella yaitu Laliana
"laliana, kamu putri cantik. sudah sebesar ini bagaimana bisa kamu semalang ini sayang?"lirih Arumi.
Selama tiga jam perjalanan dan proses pemakaman selesai, Arumi dalam balutan hitam menggandeng Danzel pun memeluk mama le'un.
"Dady?" ucap Danzel. ia tak sengaja berlari kearahnya. Arumi pun menatap mama le'un. sementara sang mama menggendong iana yang sudah berusia dua tahun.
__ADS_1
Mama le'un mengucapkan terimakasih pada Arumi. tiba saja Gilang menghampiri dan menyambut sopan pada mama dari almarhum Dani. ia pun tak banyak bicara, dan memendam segala amarah di prosesi kediaman keluarga yang sedang berduka.
Sesampainya di kediaman mama Le'un. ia menatap nanar, ketika Gilang merengkuh tubuh Arumi dari belakang. Sementara yang lain sudah turun dari mobil masuk kedalam rumah.
"Sayang, maafkan aku terlalu marah padamu."
"Aku yang minta maaf padamu, aku yang salah honey." Arumi membalikkan tubuhnya dan mengecup kedua tangan sang suami. Maafkan aku yang tak jujur, aku menginginkan ridhomu disetiap langkahku. Tapi aku bingung mulai dari mana bicara padamu tentang sakitku. batinnya.
"Lain kali, tunggulah aku. maafkan aku yang mengabaikan tak memberimu kabar." Arumi terdiam, baginya cepat atau lambat Gilang akan mengetahuinya. baginya cepat atau lambat ia akan bernasib seperti Dani. ia hanya perlu waktu sebaik mungkin untuk membuat bahagia Gilang dan Danzel selagi ia masih bernafas.
Heiiy...,, kenapa melamun? tanya Gilang. Arumi pun menjawab,"Aku hanya rindu, pelukanmu honey. kelak lindungi jaga Danzel!"
Gilang terdiam, ia tak konek akan bicara sang istri. meski dalam hatinya masih berkecamuk tentang kedekatannya dengan dokter Faiy. ia pun menatap ponsel dan menyelidiki siapa dok Faiy, yang bisa sampai sedekat itu pada sang istri.
Beberapa menit, Danzel mengetuk kaca mobil. ia masuk dan menatap kedua orangtuanya sedang memeluk erat. "Dady, mama?"
"Heii..Sayang mama, maaf aku melupakanmu sayang." Arumi meraih tangan mungil Danzel dan menciuminya kembali.
Stop.. mom !!
Dady, mama sudah mencium ribuan kali pipi dan kedua tanganku. aku lelah, mama aneh? Heuumph...,, kedua mata Arumi dan Gilang saling bertatap dan memeluk manja. ia tak segan menggoda sang putra dengan menciuminya di sebelah pipi kiri dan kanan bergantian. Sehingga Danzel hanya memanyunkan bibirnya menatap kedua orangtuanya yang selalu menciumnya bagai bayi.
..........
Sementara Gilang terkejut akan ibu yang pernah menolong istrinya. tapi Arumi ingin menjelaskan jika ia adalah sang mama, namun ditepis jika ia tak sengaja kebetulan kerabat dari mama Le'un.
Lagi - lagi Arumi dibuat diam, ia pun bermalam di kediaman mantan suami dari sang istri. Sulit bagi Gilang menerima, seakan aneh dan begidik akan kenangan sang istri. Tapi ia tak bisa berbuat apapun selain menghargai keluarga yang sedang berduka dan membantu acara segala halnya.
Menjelang malam,seperti biasa acara tahlilan selesai dengan berjalan lancar. Namun ketika semua bubar. Arumi yang membawa nampan, terkejut akan tamu yang datang dari ruang tamu.
"Hei bung, kau ..., baguslah aku tak sendiri!" lirih Gilang.
Mama le'un menyambut tamu, yang seperti anak sendiri. ia memiliki anak tunggal namun berakhir sedih karna nasib penyakit yang mengerogotinya, sehingga ia harus sendiri.
"Keiiyra,...kamu datang?"
Arumi menaruh nampan, sementara Keiiy berlari dan memeluk Arumi."Kau ini, aku selalu anggap kau adik. tapi kenapa sedih tak bicara?"bisiknya.
__ADS_1
Arumi terdiam, menatap semua mata pria dengan sorot tajam tak mengerti. Tapi Erico mengajak Gilang keluar dan berbicara panjang akan pertemuannya kali ini.
Aku datang, karna Dani sahabatku, terlebih dia dulu orang kepercayaanku dan mama. Jika umur tak bisa di tebak, satu hal hanya ingin ku lakukan, yaitu membuat istriku bahagia dan memberinya yang terbaik. bukan begitu bung? tanya Erico. menatap Gilang. Mereka pun berbicara panjang dan tersenyum lebar akan pembicaraan yang tak berhenti.
Upppppss...--Apa yang dibicarakan Erico dan Gilang, Author ga tau karna ga denger...,, Coba readers tanyakan langsung ya! ๐ค๐ senyum dikit biar ga tegang bacanya.
Sementara para wanita didalam mengobrol dan menenangkan Mama le'un. Danzel yang hadir merangkul tangan Kaico. umur yang lebih tua lima tahun darinya, sehingga Kaico sangat mengayomi pada Danzel dan laliana gadis kecil yang masih balita itu.
..........
"Bukankah hidup ini penuh teka teki Keiiy?"
"Mii, jangan lagi sembunyi dariku. aku tau, aku akan dukung disampingmu untuk sembuh!"
"Lalu apa yang kamu sembunyikan dariku kakak." Arumi tersenyum dan mereka saling memeluk menangis haru. Karna persahabatan mereka melebihi saudara kandung.
Tak lama, kedua suami mereka datang terkejut."Ada apa dengan kalian?" tatapan Erico dan Gilang tajam. karna ia mendengar sedikit pembicaraan yang sembunyi.
"Honey...,,Sayang..,, apa yang kalian sembunyikan dari kami?" teriak Erico dan Gilang bersamaan.
Arumi dan Keiiy saling menatap."Suami kita kenapa?" Keiiy menggelengkan kepala. Entah Mii. sudahlah kita masuk, abaikan saja dua pria yang sebentar lagi expired. bisik Keiiy hingga membuat Arumi melongo tak percaya,Mengejar langkah Keiiy, Arumi pun berkata.
"Keiiy, jangan seperti itu. kata seperti adalah doa loh!"
"Mii, kau ni memang meracau kemana saat aku bicara. expired kegagahan mereka akan sirna, lihat saja itu pasti." bisik ketusnya.
"Kenapa seperti itu?"
"Karna aku mewakili para istri yang teraniaya batinnya, hahaaaa...uuuppps." Keiiy terdiam, ia tertawa lepas menatap sang suami telah ada di hadapannya. Sementara Arumi tersenyum rapat ingin berbalik arah, tapi sudah ada Gilang merengkuhnya.
Haaaah..., apa kedua para suami kita bersekongkol Keiiy?. Yuuups, sepertinya mereka tak jauh beda dengan pria yang mudah bersandiwara jika dihadapan publik atau rekan bisnis!
"Honey...,,?" Sayang? bersamaan Erico dan Gilang memanggil sang istri.
------bersambung-----
Author berterimakasih atas support like, vote dan jejak coment kalian.
__ADS_1
๐น Happy Reading ๐น