Dady Danzel

Dady Danzel
Bab 124


__ADS_3

🍀 Sembunyi 🍀


Gilang menghapus air mata yang berada dibawah pelupuk mata. ia sesenggukan akan ketakutan kehilangan orang yang ia cintai. "Maafkan aku, aku suami yang tidak peka. aku suami yang tak bisa memahami. Jika kamu berkata baik, seharusnya aku berfikir kebalikannya. Sayang buka matamu!"


Clara berjalan menuju kamar Ka Arumi, ia membawa Danzel dan ditemani Fandi pastinya.


saat menunggu di loby utama, menunggu Fandi memarkir. ia menunduk agar Danzel tak bersedih. "Ada Aunty, jadi jangan sedih ya!"


Tak lama Fandi tiba, ia berusaha ingin menggandeng tangan Danzel, menyodorkan tangan kokohnya. "Handsome, ayo pegang tangan uncle!" tiba saja, Clara tersenyum dan berdiri. Namun suster tiba saja melewatinya dan berkata.


"Anaknya ganteng, cocok sama papa dan mama ya ganteng." suster itu tersenyum dan melambaikan pada Danzel.


Apa...? Haaah. mana sudi aku punya suami ga normal dan peka kaya Fandi! lirih Clara. Eeeiits.. mana sudi saya menikah sama cewe manja yang ga lulus lulus skripsi, bawel , lola !! balas Fandi. Ccccthh.. Clara sebal dan berjalan lebih dulu, Fandi pun mengekor dengan menggendong Danzel yang lebih banyak diam.


Beberapa saat, Clara menatap punggung wanita yang berdiri didepan pintu. masuk perlahan seperti penyusup. "Haaah.. apa dia wanita ular, ngapain dia disini. harusnya kan sudah get out?"


Ada apa Cla? Fandi menatap kaca bening tembus kedalam ruangan. ia menatap Sadiya yang mendekat ke bahu Gilang yang sangat bersedih.


"Gil, aku turut prihatin ya. kamu yang tabah, harus ikhlas!"


Gilang menoleh dan menatap wanita yang pernah ia nikahi," Pergilah. disini bukan tempat untuk mencari muka. aku tidak butuh prihatin belasmu diya!"


Clara tertawa, ingin sekali ia tertawa besar saat Gilang menolaknya. namun mulutnya dibekap untuk tidak berisik, dan membiarkan Danzel masuk. "Dady, aku datang. apa Mama belum bangun?"

__ADS_1


Gilang segera merapihkan rambut yang hampir panjang, meski rambut Danzel sudah rapih. "Sayang, Dady yakin Mama akan sembuh. sebentar lagi pasti Mama bangun."


Sadiya merasa kesal, ia pun menoleh dan menatap Clara yang tiba saja masuk di ikuti Fandi. "Aaakh.. si kacung dan si bocah ingusan itu ada juga. Aku harus mendapatkan Gilang kembali. lihat saja kalian berdua akan aku depak keluar dari hadapanku. jika Gilang benar bisa kembali!"


"Ka, ga usah menatap seisi ruangan. diluar ada papa Kaka, cepatlah keluar temui, dan pergi pulang dengan baik. kalau perlu ke irak agar liburan kaka lama!"


Sadiya mendengus kesal, ia menatap Clara. dan pamit, berkata lembut di hadapan Gilang."Baiklah, makasih ya Clara. aku pamit,"


Byee..byee . Haaah wanita itu, biasanya selalu membalas ketus. Owh ya, pasti dia sedang caper dengan ka Gilang. hahaa belum move on dia. "Sssst.. Cla. diam!" Fandi berbisik. agar Clara menurunkan intonasi suaranya.


Clara pun berusaha diam, tapi tiba saja langkah tatapan Gilang amat lesu, ia tiba saja tertatih dan Fandi menolongnya. Sementara Clara memanggil suster dan dokter untuk menolongnya.


"Dady, jangan tinggalin Danzel. bagun ayo bangun!"


.......


Arumi menatap cahaya, di sebuah pintu ia terkejut akan seorang pria yang ingin mendekat tapi sulit. "Sayang, pulanglah!"


"Honey, aku ingin ikut bersamamu tapi mulut ku terasa keras. sulit untuk aku balas, ada apa denganku?"


Honey,... jangan tinggalkan aku !!


Arumi duduk terdiam, ia menatap cahaya silau sedikit redup. ia mencari sebuah suara yang memanggilnya. ia pun melangkah ke arah pintu dan berharap menemukan titik dimana ia telah menyasar dan berjalan jauh tapi masih dititik kembali berada ditempat sunyi seperti salah jalan.

__ADS_1


"Danzel, apa itu suara kamu nak. dimana kamu sayang?"


........


Clara menemani Danzel di sofa bed. tak lama Oma seiyen menjemput dengan supir. ia membujuk Danzel untuk pulang. meski awalnya tidak mau, tapi oma berhasil menenangkan.


"Mama, besok Danzel kembali ya. mama cepat buka mata. Danzel rindu mama!" lirihnya.


Clara yang sudah mengantuk, ia diselimutkan oleh Fandi. ia memindahkan Clara untuk tidur di sofa panjang, karna ia kasihan jika tidur di kursi dan menyandar ke dinding pinggir kasur. Lalu Fandi ikut tidur berjaga diluar.


Semakin larut, Sadiya masih berjalan kecil, ia perlahan lahan melangkah. lalu segera mungkin ia membuka pintu kamar vip itu, terdiri dua sofa Clara sedang tidur. ia menatap ranjang Gilang. Lalu bersandar menunggunya dan duduk dengan membelai tangan wajah pria yang masih jelas ia cintai.


Arumi perlahan menggerakan jarinya, ia bergerak seolah tubuh yang kaku kembali bernyawa. perlahan membuka mata dan menatap seisi ruangan. "Honey.." lirih Arumi nada amat kecil. Kepalanya berhasil ia gerakan dan melirik seisi ruangan.


Namun ia terperanjat menatap seseorang yang berada disampingnya.


..........


Hayoo Akankah Arumi sadar menatap Gilang yang ikut terbaring, namun ada Sadiya disampingnya.


"Honey.. apa benar yang aku lihat kini nyata?"


🌹 Happy Reading 🌹

__ADS_1


__ADS_2