Dady Danzel

Dady Danzel
Bonchap 8


__ADS_3

Sampai di satu ruangan, Sadiya memakai alas baju dan masker biru dan penutup kepala biru itu. ia perlahan mendekati Arumi. sementara Arumi samar tak jelas ketika melihat seseorang berusaha mendekatinya.


Arumi yang tersentak bangun, karna salivanya terasa kering. "Aaakh.. sudah berapa lama aku tertidur terus. Honey kamu dimana, apa hari ini kamu absen tak menemaniku." Lirihnya.


Arumi meraih sebuah gelas, namun karna lemas dan mata yang samar tak jelas. ia sedikit sakit dan memegang kepala.


"Bagaimana bisa, jika aku berhasil Operasi. aku tak bisa melihat dengan sempurna."


Praaaaakh... Arumi tersentak kaget. ia menjatuhkan gelas padahal ia sangat membutuhkannya.


Traaak.. Traaaak.


Suara langkah bergema.


Arumi menoleh ke arah suara tersebut, ia mencoba senyum dan berkata.


"Honey apa itu kamu?"


Arumi terdiam ketika samar seseorang sudah ada di hadapannya. ia meraba dan jelas bukan tubuh Gilang. "Cla, kamu kah itu sayang?"


"Bodoh. kau istri penyakitan lebih baik cepat pergi. bahkan kini kamu tak bisa mengenalinya kan?"


"Sadiya. kamu disini juga, Apa yang kamu lakukan di sini?"


Hei.. Arumi. kamu benar benar bodoh Ya. mana mungkin aku kesini untuk menjenguk. aku kesini ingin menyampaikan pesan. lebih baik kamu cepat mati !! Gilang sekarang diruang UGD. karna insiden kecelakaan, You know Arumi? Semua pasti karna kamu. selalu dengan adanya kamu. Kamu penyebab Gilang kelelahan sehingga terjadi kecelakaaan.


"Apa.., ga mungkin. Suamiku sekarang dimana. Sadiya aku mohon antarkan aku keruangan gilang. kali ini bantu aku!"


Baaaas... Sadiya mengibas tangannya tersentuh tangan Arumi. ia tertawa senyum meracau pikiran jahat. Hahaaa... kamu pikir aku mau menolongmu?


"Maksud kamu apa Sadiya?"


Sadiya berbisik pada Arumi.


Tangannya mencoba mengeliar kearah selang. Pluuugh..,,"Aaauuuw.. sakit. apa yang kamu lakukan Sadiya. Jangan aku mohon apa yang kamu mau, aku akan turuti. bantu aku bertemu Gilang!"


Sadiya melepas infus cairan yang tersambung di lengan Arumi. cairan itu adalah agar imun Arumi tidak mudah drop. Tapi dengan mudah Sadiya melepaskannya. lalu ia membubuhkan sebuah bubuk agar nafas Arumi tersenggal tak bernafas.


Aaakhw.. aku sesak sekali. Sadiya tolong aku !! kenapa ber'asap. Uhuuuuk.. Uhuuuuk...,, Arumi sulit bernafas.


"Apa karna selang yang kamu copot?"lirih Arumi.


Sadiya tertawa dan keluar dari ruangan Arumi. Lalu meninggalkan Arumi yang sedang meraba sesuatu hingga ia terjatuh dari ranjang rumah sakit.


Hahaaa.. Aku berharap kamu cepat pergi. sudah larut dan jam besuk habis. Sudah pasti kamu tidak akan selamat. setidaknya Operasi tidak akan berhasil saat imun kamu drop Arumi. "Byee.. byeee." Sadiya melambai dan menutup pintu ruangan Arumi sambil tertawa puas.


Sadiya tersenyum dan mengibas tepukan kedua tangan. ia berlalu dan pergi dengan memakai kacamatanya. ia tersenyum puas apa yang dilakukannya kali ini. Sehingga ia akan tenang dan tak sabar mendapat kabar baik apa yang akan sampai ditelinganya.

__ADS_1


"Syukurlah ka Gilang sudah membaik. ka Gilang bener ga apa- apa?" tanya Cla.


"Hanya luka sedikit, tak akan terjadi apapun pada kaka Cla, jangan khawatir ya!"


Fandi mengucapkan selamat, dan memintanya ia segera sembuh. "Fandi, kau paling hebat. jika kau tak tepat waktu. mungkin aku.." Sudahlah kau pasti akan sehat dan Arumi sudah membaik ia sudah bisa di operasi Esok.


"Benarkah, bagaimana bisa?"


Clara menjelaskan secara detail. tak lama Gilang ingin turun dari ranjang rumah sakit. ia menginginkan untuk melihat Arumi.


"Ka, besok aja. kakak masih lemah. Ka Arumi sudah diberi infus agar ia cukup untuk istirahat. jadi kakak bersabar ya!"


Enggak bisa Cla, Ka Gilang harus kesana meski sebentar. Ka Gilang khawatir dan Arumi pasti mencari ka Gilang. Apalagi kalau dia haus tiba saja bangun pasti mencari ka Gilang.


Perdebatan selama sepuluh menit. Akhirnya Gilang di dorong oleh kursi roda. dengan melingkar perban di kepalanya. membuat Gilang sedikit sakit dan melelahkan menjadi pasein di rumah sakit. Sehingga Gilang merasa iba dan berfikir akan Arumi, yang selalu seperti ini. sudah beberapa bulan istriku terbaring tapi tak mengeluh.


Tepat dalam ruangan Flowers 2V. Gilang menatap ruangan sang istri telah banyak suster silih berganti. Clara dan Fandi saling menatap. terlihat Gilang yang menahan kursi roda dan ingin berdiri.


"Dokter apa yang terjadi?"


"Tenanglah pak, Dokter sedang menanganinya di dalam. mohon bapak menunggu di luar!"


"Tapi saya ini suaminya sus, ijinkan saya masuk!"


"Mohoh maaf pak!" Suster menutup pintu ruangan. sementara Gilang berteriak meminta untuk masuk menemani sang istri.


"Ka, ka Gilang udah stop. hentikan nanti pasein yang lain terganggu. Ka Arumi pasti baik baik aja. dokter pasti memeriksa dengan baik!" Clara menenangkan.


"Ka Fandi mau kemana?"


"Sssst.. ada seseorang yang aneh. ka Fandi akan mengeceknya!" bisiknya.


Apa yang terjadi apa ada kaitannya dengan seseorang. batin Fandi.


Clara menaikan alis, ia memutar mata dengan tingkah sikap Fandi yang super aneh itu dan berkata,"No Fun. selalu kaya gitu pria menyebalkan. selalu meninggalkan disaat kritis dia kabur." lirih Clara.


Fandi mengikuti langkah seseorang yang berpakaian dan topi kacamata hitam. Lalu ia mengejarnya. hingga di sebuah blok FG parkiran. Lalu ia mendengar di balik celah apa yang terjadi dan cekatan merekamnya.


"Kau yang sialan, aku sudah melihat semuanya. Arumi selamat. jadi tamatlah dirimu jika dia sampai siuman!" Seseorang berbicara melalui ponsel.


"Dia, bicara dengan siapa. kenapa ada kata Arumi?" lirih Fandi. dibalik tiang besar.


Saat seseorang yang dicurigai Fandi. ia segera membengkuk dan menutup pintu mobil ketika seseorang berusaha masuk.


"Hei, kau siapa. kenapa menahan tanganku seperti ini?"


"Katakan, jika tidak aku akan membawamu ke pihak berwajib!"

__ADS_1


Fandi membuka topi wanita itu, rambutnya terlepas dan terurai. "Sadiya, kau kenapa tadi bicara soal Arumi?"


"Dasar kacung, untuk apa aku bilang Arumi. memang dia seleb, pejabat orang yang penting Haaah...,, pergi dari hadapanku atau aku akan teriak!"


Fandi melepas Sadiya. lalu ia menatap Sadiya yang berlalu dengan sebuah mobil. Fandi pun segera bergegas ke ruang security. ia meminta bagian cctv untuk mencari bukti lebih.


"Dasar wanita aneh, jika kecurigaanku benar. lihat saja nanti kau akan dapat murka dari semua orang!"


.


.


.


"Bagaimana dok, apa istri saya baik baik saja?"tutur Gilang.


"Silahkan kedalam, meski kondisi sedikit tak membaik dan menurun. Saya berusaha memberikan suntikan yang terbaik, semoga dalam dua jam Arumi bisa lebih baik." tutur Dokter Amir.


Gilang merengkuh tubuh Arumi. ia memeluk hingga menetes air mata tak terasa jatuh ke pipi Arumi. "Sayang, bangunlah. apa yang sakit?"


"Hon- Honey. aku se nang. aku ba ha gia bisa menge nal di ri mu. Aku amat ba hagia bisa dicintai dan men cin tai pria hebat, Dady hebat se pertimu bagi anak kita. Aku minta Maa aaf!" Arumi menyapa Gilang dengan suara terpatah dan mengecil.


Tliiith...tliiith...,, suara monitor terpampang garis lurus.


Gilang semakin deras, ia berteriak seisi dalam ruangan menjadi bergema. Fandi yang baru tiba ditepi kamar langsung terkejut dan masuk ke kamar ruangan. Clara yang tak kalah kaget menutup mulutnya, lalu menatap ka Gilang yang histeris langsung cekatan memanggil Dokter.


 


Kisah nya Dady Danzel berakhir, Akankah Arumi selamat. Yuuks terus ikutin bab kelanjutannya !!


Jangan di Unfavorite supaya terus ikutin kelanjutannya di Season 2.


.


.


.


--- Suami diatas Kertas ---


On proses.


Happy Reading All.


Mampir Juga Ya !!


Udah End Berjudul

__ADS_1



Wanita Seperti Dia.


__ADS_2