Dady Danzel

Dady Danzel
Bonchap 7


__ADS_3

Striiith... sebuah cahaya. Gilang segera membelok dan menerobos palang pintu pabrik. ia terhenti di satu titik dan tak sadarkan diri.


Bruuuugh... Asap pun mulai berhembus. sebuah Asap putih melekat pada sebuah mobil Gilang. di hari dan waktu tak banyak orang yang sadar dengan kondisi yang amat sepi.


"Erland. aku ingin bicara padamu. bisa sebentar kita mengobrol!" Sadiya menunggu di rumah sakit ketika papa memintanya. ia menatap rumah sakit yang besar tak biasa, lalu tak lama Erland pun datang.


"Sudah lama. ini minumlah, ada yang ingin kamu katakan. hingga menyusulku ke sini?"


Erland, aku lelah sekali dan aku dengar Arumi berada dirumah sakit ini juga ya? tanya Sadiya. ia melemparkan tas kemeja dengan perasaan kesal. tapi Erland tersenyum tak percaya akan wanita ini datang ke penang hanya,,.


Sudah berapa kali, aku ga sangka kamu dendam pada teman kecilku. Saat kamu menghubungiku berkali kali. Aku ragu, aku yakin itu bukan Arumi yang aku maksud. tapi kini aku paham apa yang kamu mau Sadiya. untuk apa kamu melakukan hal seperti ini?


"Karna aku masih mencintai Gilang. pahamkan kamu Erland. aku mau kamu lakukan untuk membuat Arumi gagal dalam operasi dan berhenti untuk menangani pasein bernama Arumi!"


"Maaf. hal apa yang harus aku turuti. kamu bukan siapa siapa saya Sadiya. itu adalah sebuah kejahatan. hentikan ulah liarmu atau rekaman ini sampai ditangan yang berwajib!"


Erland berdiri dan meninggalkan Sadiya. ia juga terkejut akan sikap Erland. lalu dokter itu kembali mendekat ke arah Sadiya yang berdiri kaku dan pucat. Sadiya tak menyangka pria pilihan papanya setajam ini sikapnya.


Ingat, menjauhlah dari kehidupan Arumi. move on Sadiya. satu lagi, aku tak bersedia menjadi suamimu. katakan pada papamu. Aku masih mencintai istriku meski masih terbaring di rumah sakit. ia sama sedang berjuang dan putriku masih menunggu, berharap bundanya sembuh. "Satu hal lagi, jika aku akan menikah itu pasti bukan wanita sepertimu Sadiya!"


Erland meninggalkan dan berlalu. Lalu Sadiya duduk lemas, ia kesal akan ancaman pria yang tak bisa ia kendalikan."Saat itu hanya Gilang yang bisa ia kendalikan, ia bodoh karna waktu Gilang yang jarang dirumah. sehingga ia kesepian dan berkhianat.


Andai saat itu aku menyadari Gilang jatuh hati padaku dan berusaha mencintai. tapi aku malah mengecewakannya saat itu.


"Aku harus apa, jika aku melakukan tindakan bodoh. Erland pasti akan menjebloskanku." lirih Sadiya.


.......


Fandi yang telah menghubungi Gilang berkali kali. ia langsung pamit ketika Oma Seiyen dan Clara sampai rumah. ia bertemu Danzel sang cucu serta Mama Retna ibunda Arumi.


........


"Nak Fandi. tak istirahat saja?"


"Tidak bu, masih ada urusan terimakasih. kalau gitu Fandi pamit. Oma Fandi pamit!"


Oma Seiyen mengangguk dan masuk kedalam rumah. ia di tuntun oleh Clara. Fandi pun memutar Taxsi menuju rumah sakit. lima belas menit ia menatap pabrik dan melewatinya.


"Pak, putar balik. ketempat pabrik tua tadi!"


"Lho, ga salah Pak. sudah larut apa kita harus kesana?"


CEPAT PAK !! Teriak Fandi. hingga supir menurutinya.


Fandi Turun, ia menatap jelas. benar saja mobil Gilang. ia hafal dengan plat dan warna yang sama. ia mencari Gilang dan membopongnya.Lalu menekan denyut Gilang.


"Astaga, maaf aku hampir terlambat Gil. Pak.. bantu saya menggotong. cepat antar saya kerumah sakit sekarang!"


Fandi menolong Gilang, ia membawanya karna kondisi Gilang dengan kepala yang berdarah dan pingsan. sementara setelah Taxsi melaju ia segera sampai dirumah sakit. Fandi antusias meminta perawat untuk menanganinya dengan cepat. tapi ia menatap di ujung tiang ia melihat Sadiya yang berdiri dengan sebuah ponsel dan menempelkan ke keningnya.


"Kenapa wanita itu, apa dia sedang frustasi?"

__ADS_1


"Fandi, kenapa disini. Apa Arumi..?" Sadiya menoleh saat Fandi berlari. ia mengekor dan mendapati Gilang dengan sebuah luka.


"Apa yang terjadi pada Gilang. Fandi katakan!" tapi Fandi saat itu tak membalas pertanyaan Sadiya. ia tak bergeming sepatah katapun.Fandi tak banyak bicara, ia menghubungi Clara agar sampai di rumah sakit seorang diri.


"Apa... berita ini apa ka Fandi benar mengatakan ini semua?"


"Kenapa Cla?" tanya Oma. dan Mama Retna yang baru saja menuangkan minuman hangat. Namun melihat expresi Clara yang aneh.


Nanti aja ceritanya, Cla udah pesen taxsi. Oma dan Mama Retna dirumah aja jagain Danzel. Cla ada urusan dengan Fandi.


"Cla, ini sudah malam. jangan pergi!"


"Tidak Oma. hanya sebentar ka Fandi menunggu, ini urgent."


Seperginya Clara. Oma merasa sesak dan pusing. ia akhirnya ikut beristirahat setelah perjalanan panjang.


.


.


.


Arumi menggerakan jarinya. perlahan ia membuka mata dan melirik kearah samping. Terlihat suster sedang menyuntikan sesuatu, ia juga menatap seorang pria yang sedang membantu suster dan berbicara istilah kedokteran.


"Kenapa mataku tak bisa melihat jelas. siapa anda?"


Erland mendekati Arumi. ia berbicara dengan nada pelan dan menampikan senyuman. hanya suara saja, Arumi bisa mengenali siapa pria disampingnya itu.


"Erland. kau kah itu, aku tidak melupakanmu. hanya saja aku menjaga hati suamiku. Maaf tapi kenapa dengan mataku Erland?"


Berusahalah agar tidak Drop. suamimu pasti senang menunggumu. Aku juga sama seperti suamimu mengharapkan sang istri tercinta sembuh. Putriku Elrisa sangat mirip dengan ibunya yang masih berusia tiga tahun. sudah pasti sangat membutuhkannya. Tapi kini dia telah tiada. aku harus mencabut selang yang tersambung keseluruh tubuhnya, aku berharap dia masih bernyawa. Tapi aku akan titipkan sesuatu darinya padamu.


"Apa maksudmu Erland?"


"Berjuanglah agar sembuh dan setelah itu aku harap kamu tetap sembuh dan sehat untuk putra dan Suamimu. Arumi!"


Dokter Erland mengecek keseluruhan Arumi. kondisi imun yang baik, sehingga proses operasi akan bisa dilakukan esok. penyakit Arumi membuat matanya tak bisa melihat lalu operasi pun akan dilakukan agar kesehatan Arumi kembali pulih.


"Aku beharap kamu masih bisa berjuang untuk hidup Arumi!" batin Erland.


Arumi meneteskan airmata. ia berjanji akan berusaha untuk membaik, "Erland aku minta tolong boleh?"


Tak sengaja Arumi mencari suatu tangan, dan itu tepat tangan Erland. sehingga Suster pun keluar lebih dulu. "Jika aku tak selamat, aku mohon. adakah organku yang masih berfungsi. tolong donorkan saja. berjanjilah!"


Erland menahan untuk menangis, ia terharu karna ucapan Arumi membuatnya mengingat Hermila sang istri yang berjuang melawan sakit leukimia. "Ya, aku berjanji padamu Mii."


 


Jadi apa yang harus Cla lakukan ka Fandi. kondisi ka Gilang gimana sekarang?


Fandi menenangkan, tak sadar Cla memeluk pada Fandi. membuat ia tertegun diam pelu. ingin rasanya ia menolak karna ini ruangan rumah sakit. Tapi ia paham jika Clara amat ketakutan akan Gilang terjadi sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


"Ciiieh.. ini rumah sakit. apa tidak ada dari kalian ingin ikut kontes film?"


"Tutup mulut mu Sadiya. tidakah kamu mempunyai empati. lagi pula kenapa anda terkesan menguntit, Gilang akan baik baik saja. dia masih mempunyai keluarga di sini!" Fandi.


Ka, bisa tidak sedetik saja ka Sadiya ini tak pernah muncul di kehidupan keluarga kami. kenapa selalu bersikap wajah dua? ketus Clara.Lalu Sadiya tersenyum miring.


"Aku menguntitmu... hahaaaha." jangan salah. Aku kesini karna satu hal, dan melihat Gilang terluka akan lebih bagus aku ada disampingnya bukan Cla?


"Jangan Mimpi!" Clara berusaha mendorong Sadiya. saat itu ia hampir terjatuh dan terkena dokter Erland yang menyangga.


Ada apa ini ribut sekali, ini rumah sakit apa kalian masih ingin berdebat?


Clara menatap dokter yang amat tampan rupawan, tapi menyangga wanita ular ia jadi ilfill.


"Apa kalian keluarga Arumi?"


"Saya adiknya Gilang. suami dari Arumi dokter. apa ada hal mendesak?"


"Apa Tuan Gilang datang, saya ingin berbicara penting saat ini!"


"Katakan saja dokter. saya akan menyampaikannya. karna kakak saya terjadi kecelakaan kecil, sedang dalam perawatan di ruang itu!"


Erland menatap ruang Ugd. ia menghela nafas, baru saja Arumi membaik. tapi keadaan suaminya tak baik. "Bisa ikut keruangan saya!"


Clara dan fandi mengekor keruangan dokter. ia memberitaukan jika keadaan Arumi harus segera di operasi besok. "Apa tidak bisa menunggu ka Gilang dokter?"


"Kondisi imun Arumi sedang baik. saya dan dokter Amir akan berusaha mengangkat jaringan tumor yang masih sangat dini. terlebih kondisi mata Arumi tak akan sempurna melihat karna saat ini tidak memungkinkan. Agar jaringan tidak menyebar Fatal. saya akan mengoperasi kornea mata Arumi. apa anda bisa menandatangani berkasnya. Agar esok segera kami tangani proses operasi!"


Clara mendapati sebuah berkas, perlahan ia baca. perlahan ia menangis haru. "Apa, kenapa mata Pasein ini begitu baik mendonorkan mata untuk ka Arumi dokter?"


"Karna pasein itu adalah istri saya. esok sore kami akan memakamkannya. dia juga sama pasein dirumah sakit ini. itu adalah wasiat terakhir. Saya harap Arumi dapat sembuh seperti sediakala, agar putranya tak larut dan bersedih!"


Cla, kita harus bicara pada Oma dulu. Jangan gegabah !! Udahlah, Ka Fandi ini yang terbaik untuk ka Arumi harus segera di operasi. Saya mewakili ka Gilang dokter. tapi saya ingin satu hal. "Sembuhkan ka Arumi dengan harapan 100%!"


"Clara anda ini adik yang baik ya, kami sebagai dokter akan berusaha sebaik mungkin. itu sudah jadi tugas kami. Tapi satu hal kita harus pasrahkan pada semesta karna sudah pasti berhasilnya melalui kehendaknya juga!"


Sadiya dibalik pintu ruangan dokter Erland. ia segera bergegas dan mencari keberadaan ruangan Arumi. " ini ga boleh dibiarin. Arumi harus drop agar operasi besok gagal!"


Sadiya melangkah dan mencari kamar dimana Arumi dirawat. ia menggerutu kesal ketika mendapati kabar baik untuk kesembuhan Arumi.


Sampai di satu ruangan, Sadiya memakai alas baju dan masker biru dan penutup kepala biru itu. ia perlahan mendekati Arumi. sementara Arumi samar tak jelas ketika melihat seseorang berusaha mendekatinya.


"Honey apa itu kamu?" tanya Arumi.


........


Apa yang akan dilakukan Sadiya ya ?


Yuuks jangan bosen jejak di komentar.


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2