Dady Danzel

Dady Danzel
pemberitahuan


__ADS_3

Hai hai. Readers, bagaimana keadaan semua apa sehat?


Owh ya. Terimakasih atas dukungan kalian. Sementara mau kasih informasi sebelum bab Cerita lanjutan Suami Diatas Kertas berlanjut.


"Masih setia menunggu kan?"


Yuuks. Mampir kisah Luna lovers. Di aplikasi sebelah si kuning emas. Tinggal check in harian, terus kasih star sebagai bentuk dukungan jika menyukai.


Judul dibawah ini :


nama pena. Oktiyan


No-ve-l-me atau No-ve-la-ku.


Kisah lanjutan seorang gadis penjual ikan yang harus menggantikan sebagai pengantin wanita perfect. Dari pria rupawan yang tampan perfect juga mempunyai misteri dalam kehidupan tak sehat dan sehat.


Yuuks Lanjut. Tebing Aula pasar Malam.


"Aku tidak yakin. Tapi aku sangat ingin kembali padamu. Kita memang harus kembali bukan. Bersabarlah!"


Triistan mengecup kening Luna. Ia berlutut dan memohon agar Luna tetap pada pendirian kesepakatan awal. Hingga ia akan menunggu dan membereskan Sean untuk tidak menggangu rumah tangganya, begitu Luna kembali dalam pelukannya.


Luna tersenyum. Ia menatap seru ketika Triistan pergi dengan jemputan mobil berwarna putih. Lalu Luna lemas dan duduk di bangku taman, ia membungkuk menatap keluh dan memejamkan mata. Ia bingung dengan keadaan yang kini semakin membuatnya penat.


Maafkan aku Mas. Aku tidak tau, apa caraku ini salah. Jika aku kembali bercerai, bukankah Tuhan akan marah padaku. Jika aku kembali padamu. Uuuch... keluh Luna.


"Apa kamu akan menepatinya. Jika kamu benar akan kembali lagi mas. Apa kamu akan benar berjanji tidak akan mengkhianatiku lagi. Aku lelah dengan pernikahan yang gagal seperti ini." benak Luna.


Tak lama Luna terkejut. Karna seseorang menempelkan kedua tangannya pada matanya yang tertutup.


"Mas. Kenapa kamu kemba.. "


Luna menengok dan ternyata ia salah. Bukan Triistan yang datang. Tapi Savaro Triis yang kini menjadi suami sahnya. Hingga ia kembali senyum lebar yang terpaksa. Agar suaminya tak curiga.


"Kenapa sayang. Ada masalah... Maaf aku lama. Karna aku bertemu teman tadi. Aku melupakanmu." kecup Savaro Triis pada tangan Luna.


"Tidak apa- apa mas. Aku juga tadi sedikit mengantuk." balas Luna.


"Apa kamu menyembunyikannya. Luna aku tau apa yang ada di pikiranmu saat ini." batin Savaro Triis. Ia memeluk Luna karna meminta maaf membuatnya menunggu lama.


Padahal kenyataannya. Ia menatap gerik Triistan dan Luna istrinya sedikit jauh dengan kamera kecil.


Luna mengekor ketika suaminya menggenggam tangannya halus. Hal itu pun Luna tau, jika ia akan pulang dan ia menatap jendela meliup liup. Luna mencari jejak Triistan yang pergi ke arah gang yang ia lihat beberapa menit lalu, tapi Luna tak bisa mengejarnya.

__ADS_1


Sementara Savaro Triis masih menatap Luna yang cemas. Ia tau apa yang ada di dalam perasaan Luna saat ini. Kali ini Luna terkejut kembali ketika suaminya yang menyetir, lalu ia memegang tangannya hanya untuk menggenggam dan mencium tangannya.


"Mas.. kita terlewat. Rumah kita tiga rumah dari belakang."


Senyum tawa pecah. Luna yang tersenyum membuat hati Savaro Triis kembali senyum dengan menggigit bibirnya. Ia tak sadar menatap Luna yang telah menjadi miliknya. Hingga menyetir pun, ia tak habis pikir mengapa sudah sampai dan terlewat.


"Ya. Maafkan mas."


Luna yang mencetrekan ingin membuka pintu mobil. Tiba saja tangan nya di tarik. Lalu menatap wajah Luna hingga dekat. Memiringkan wajahnya dan saling menempel.


Luna yang hanya diam, ia tak bergairah saat itu. Sehingga suaminya yang memainkan hingga dalam dan meraba keseluruh tubuh Luna hingga bergetar. Luna yang terbawa ia pun kembali menyambut ketika Triis diam dan menatapnya. Sehingga kecupan itu kembali dan saling menikmati.


Dengan aksi Luna yang melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya. Sementara tangannya kembali bergerilya pada leher Savaro Triis. Mereka pun saling dalam menikmati hingga gairah itu memuncak panas.


Nafas Luna terengah engah. Wajahnya merah merona .. dan Sendu. Dengan enggan Triis menyudahinya. Karna jika tidak ia sudah pasti tidak tahan dan akan memainkan menjadi mobil bergoyang. Tak menutup kemungkinan ia akan cepat menggotong Luna ke rumah momy Cathrine. Ya, semenjak itulah sang momy tinggal dengan asisten setia.


Semakin dalam gairah itu.. Luna terbawa suasana dengan nafas tersenggal senggal. Lalu ia meraba dan menyentuh kepemilikan suaminya dan membuka matanya. Triis pun membuka matanya dan berhenti dengan aksi berlebih itu. Tak sadar kancing Luna telah terlepas dua bagian. Sehingga kecantikan Luna sangatlah terpancar.


Triis menyudahi dan menyentil kening Luna. Agar Luna tak memegang lebih dalam saat ini.


"Sakit ..." kening Luna di centil.


"Itu hukuman. Untuk istri yang membuat sesuatu pada milik suaminya. Kamu pikir menekan seperti itu tidak membuatku tergoda. Bagaimana bisa, kita tak mungkin melakukannya di sini bukan?"


Monster.. Dasar Monster. Kenapa dia selalu saja menyentil sih.


"Bukankah kamu yang memulai mas. Apa kenapa aku yang di salahkan... kenapa kamu tadi tiba tiba membuka kancing ...?"


"Aauuuw ...Sakit mas." kembali berteriak. Luna di sentil keningnya lagi. Triis bicara agar ia cepat pergi masuk dan bergegas membersihkan diri. Tapi Luna hanya ingin penjelasan yang sempurna.


Savaro Triis mencium ketiak kiri dan kanannya dengan indera penciuman. Lalu ia menatap Luna dengan memicik sebelah bibirnya.


"Lihatlah. Aku akan mandi lebih dulu, bukankah kamu berkeringat. Sehingga membuatku ingin kembali mandi?" usil Savaro Triis.


"Ya. Kamu memang benar, kita memang sudah seharusnya mandi bukan?" senyum Luna pada suaminya.


"Heuuumph.. cepat ganti pakaianmu dengan pakain rumahan. Aku sudah mencium keringatmu dan menempel padaku!"


Mas.. Luna begitu kesal. Sehingga membuat ia membuka pintu mobil dan berjalan lebih dulu masuk. Sementara Triis masih menatap sang istri yang terlihat kesal.


Owh ... aku begitu menyukai berdebat denganmu manis. Kamu benar benar berbeda dan perfect di mataku. Lima belas tahun aku mengacuhkan, tapi aku kembali dan karma terjadi padaku. Kapan kamu menyadari aku, dan tidak mengacuhkan aku lagi sayang?! ungkap Savaro Triis.


Luna masuk dan di sambut arah oleh asisten sang mama mertua. Kini momy Cathrine tidak sedang di mansion. Hanya saja, ia memang benar benar berdua pada suaminya.

__ADS_1


"Nyonya. Ini kuncinya, kami tidak akan masuk dan tidak di perkenankan. Nyonya besar sedang berada di belanda." jelas asisten.


"Ya. Terimakasih." ucap Luna. Yang memang ia lebih dulu tau ketika sang mama mertua mengirim pesan.


Luna membuka pintu. Lalu menatap ruangan dinding yang menjulang. Lalu ia kembali menatap seisi ruangan yang mewah. Lalu ia kembali membuka pintu yang langsung tepat pada ruangan kamar Triis. Ia meletakkan tasnya dan bergegas membuka lemari mencari handuk piyama.


Tubuhnya sangat lengket, tapi saat ia membukanya. Luna terkejut akan hiasan mewah di kamar mandi yang amat lengkap. Ia teringat hotel beberapa saat suaminya yang membawanya. Ada jacuzzi, sauna dan private message.


"Ahaaah... benar benar pria modern. Kamar mandi sebesar ini, apa dia menyewa khusus untuk datang merawatnya ketika ia membutuhkan?! Dia benar benar tidak menyukai keramaian." ucap Luna.


Benar benar sebuah pemborosan yang haqiqi. Umpat Luna. Lalu ia membalikan tubuhnya dan mengganti dengan piyama handuk.


Luna kembali membuka pintu kamar mandi. Lalu ia menatap sekeliling kamar yang megah itu. Luna menghela nafas, dan membuka pintu rak pakaian yang berjejer dengan indah dan rapih. Lalu Luna mengambil satu gantungan dress yang ia pakai. Kimono tidur berwarna biru tua yang ia pilih. Lalu memakainya, dengan cepat. Ia lalu menuangkan tetesan parfum kedalam jenjang lehernya dan memakai lipbalm agar tidak kering.


Luna kembali berdiri dan menatap ruangan besar kamar nya. Lalu melihat dan meraba dinding indah yang di lapisi emas dua puluh empat karat.


"Apa tidak kesepian pria ini. Rumah dan ruangan sebesar ini, mengapa ia menyukai ruangan besar dan benar benar penghuninya hanya ia sendiri. Mama mertua masih sering ke luar negri dan aktif dengan perusahaan yang berjalan." hela nafas Luna berat.


Mengikut instingnya Luna kembali menatap pintu. Lalu ia menuju ruangan pintu halaman ruang belakang. Dengan langkah kaki kecilnya, ia pun menatap satu pot bunga sedap malam. Yang di sampingnya adalah bunga lily biru.


Luna menciumnya. Lalu berbicara dengan sendiri dengan arti kehidupan.


Sementara Triis menapaki langkah. Ia yang telah membersihkan diri dan meletakkan ponsel setelah menerima panggilan. Lalu mencari keberadaan sang istri yang tak ia lihat beberapa saat.


Hingga di ujung pintu terbuka. Triis memeluk Luna dan melingkarkan dengan kecupan di kening, dan jenjang lehernya. Lalu saling menatap dan mengecup kilat bibir manis Luna.


"Mengapa kamu di sini sayang. Angin malam tidak bagus untukmu?"


"Mas.. Aku hanya melihat seluruh ruangan kamar ini. Aku tertuju pada ruangan ini yang indah.. Karna aku mengingat satu hal."


"Heuump.. Satu hal?" menaikan alis.


"Ya. Aku ingat bagaimana kehidupanku, yang tak pernah aku bayangkan menjadi istri dan menikah dua kali. Aku harus menjadi istri hebat, bukankah aku tidak pantas.. tapi semua ini. Aku bersyukur karna aku tidak pernah di libatkan dengan hutang sang kakak.. tanpa dia. Aku pasti tidak akan seperti ini... Lalu bagaimana kabarnya dia.. aku tidak tau mas."


Triis menatap sang istri. Ia lalu melingkar dan peluk agar Luna tidak perlu banyak khawatir.


"Aku akan mencari keberadaan Anton. Meski begitu, dia tetap bagian keluarga kita sayang."


Luna terdiam. Lalu menatap suaminya yang ia salah untuk mengerti. Bagaimana bisa ia melihat sisi kebaikan suaminya kini yang lapang dan menerima segala hal buruk sang kakak.


"Tapi Mas.. "


---bersambung---

__ADS_1


Jangan Lupa judulnya : My Perfection Triis, sudah End.


TERBARU : ISTRI UNTUK SETAHUN


__ADS_2