
🍀Tertunda🍀
Sadiya menarik paksa Arumi, tasnya berhamburan di ruangan Gilang. ia mengajaknya dan menepi di atap gedung.
Sore hari yang masih terlihat jelas panas dan cerah. Arumi terdiam menatap Sadiya yang mengeluarkan benda dari tas mewahnya. mata nya menatap nanar ketika sebuah map itu diperlihatkan.
"Apa maksudnya, mau apa kamu?" Arumi menatap, tapi sudut kedua mata sedikit ia tutupi dengan tangannya. karna silau cahaya.
"Aku tidak tau, mengapa Gilang bisa menikahimu. bukankah kontrak pinjam rahim jelas di kertas ini!"
Arumi terdiam, ia mengambil berkas kontrak perjanjian yang dibubuhi tanda tangan Retna Saksono. ia membaca perihal dimana ia hanya bisa dianggap sebagai ibu, tapi tidak memiliki Ayah biologisnya. meski terjadi kapanpun menikahi, Arumi hanya sebatas wanita yang meminjamkan rahim, tidak ada lebih yang akan diakui sebagai anggota keluarga Gilang syahzanet. tapi akan diakui sebagai wanita penolong keluarganya. Jika tidak ia akan dicoret sebagai ibu kandung asli dan tak akan pernah melihatnya, atau tuhan akan membalas ingkar janji itu!
Saksi tertulis Seiyen Anetha barack. Arumi pun terdiam membaca perihal tuntutan nominal jumlah yang tak sedikit.
ini pasti bohong kan, akal akalan mu saja! tutur Arumi membalikan tubuhnya. Tapi Sadiya membalas,"Kau tidak percaya, tanyakan langsung saja pada Gilang!" Heeeh...,ketus Sadiya tertawa jahat.
Arumi berjalan menuruti anak tangga, pantas saja Oma Seiyen membenciku. aku sudah melanggarnya dan jatuh cinta pada ayah biologis putraku. Aku sama dianggap rampok yang dibayar dan menginginkan lebih. aku tidak mengharap setengah saham perusahaan Gilang. ini murni karna hati kami yang tulus alami begitu saja, apa maksudnya dengan kata Tuhan yang membalas. Apa ini teguranku?
Gilang yang telah kembali keruangan, ia menatap tas sang istri berantakan. ia pun merapihkan dan membalikan tubuhnya ketika selesai berjongkok merapihkannya."Sayang, apa yang kamu lakukan?"
Hei, kenapa kamu menangis sembab. ada apa katakan? Gilang menutup rapat ruangan kantornya. Jendela ia tutup dengan rapat,hanya menarik tali. Sebuah penghalang tak akan terlihat apa yang dilakukan didalam, belum lagi Jika terkunci, ruangan itu akan kedap suara tak akan terdengar dari luar.
Gilang memeluk sang istri, tapi Arumi masih saja menangis. ia menutup matanya dan berbalik badan menatap Gilang."Aku malu padamu honey, aku hanyalah rampok yang dibayar menginginkan lebih."
"Sayang, ceritakanlah apa yang terjadi!"Tapi Arumi menggelengkan kepala, ia masih menangis tak bisa berkata. Lalu Gilang mengambil map tipis dan membacanya amat terkejut.
"Siapa yang memberikan ini padamu sayang?"Arumi masih terdiam, Gilang menaikan alis. ia tau siapa pelakunya. Dia masih saja membuat ulah, Gilang tetap merengkuh halus dan mencium pucuk rambut Arumi.
__ADS_1
Sayang, semua itu sudah berlalu. bahkan aku tidak berfikir jika kamu seperti itu. Meski Oma tak menyukaimu, aku yakin ada hal yang tak kita ketahui.Aku yang mendekatimu lebih dulu, aku yang jatuh cinta padamu. aku pernah mengabaikanmu. aku menitipkan benih pada rahimmu. Saat aku masih bersama Sadiya. Karna kelainan benihku tak bisa membuat wanita hamil normal dengan alami. aku minta maaf padamu sayang!
Apa kamu akan kembali pada mantan istrimu Gilang? tatapan mata Arumi membasahi seluruh pipinya."Sayang, sampai kapanpun aku hanya menginginkan, dan mencintaimu sampai maut memisahkan. aku berharap kita bisa bersama dan bertemu lebih awal ketika dilahirkan kembali."
Arumi memeluk erat dan melingkar kedua tangannya pada tubuh besar sang suami. ia tersadar, dan mengontrol agar beban dan sedih itu tidak muncul. Tapi masalah selalu saja datang membuat nya berfikir keras, ia pun meminta maaf pada sang suami telah menganggu waktunya dijam kantor.
Menjelang sore Arumi pulang bersama Gilang. ia menjemput Danzel yang sedang bermain ditaman oleh Clara. tapi begitu melangkah ia terperanjat menatap Danzel yang dihampiri Sadiya.
"Sayang mama, sini nak!"
Danzel pun menoleh dan meraih pelukan sang mama. ia pun menanyakan satu hal yang membuatnya terkejut."Mama, apa benar Aunty itu juga mama Danzel?"
Arumi menatap Sadiya. ia masih memeluk erat tubuh mungil tampan miniature Gilang yang sangat perfect." Sayang, dia tetaplah Aunty. mama Danzel hanya selalu dan akan selalu dihatimu, terukir nama jelas Mama Arumi oke!"
Danzel mengangguk, ia kembali tersenyum memeluk sang mama."Ka Arumi, maafkan aku ya. aku tidak bisa mencegah wanita ular kepala belut itu saat bicara." tutur Clara.
"Kenapa, ada apa dengan hari ini. kenapa kalian aneh sih?"
Clara melirik sudut bangku taman, kali ini ia tak melihat sadiya. Haaaah...,, aku bilang apa dia pasti menghilang jika ada Ka Gilang!
"Tidak ada apa- apa!" jawab Arumi dan Clara bersamaan. sehingga Gilang terdiam. Merekapun kembali makan bersama di resto terdekat. Danzel antusias senang, terlebih ia ditemani Aunty Clara yang memang selalu dekat, bahkan ia selalu tidur bersama di kamarnya setelah menceritakan dongeng.
..........
Menjelang malam hari, Arumi keluar mencari paket, tapi sudah dua hari tak ia temukan. ia merasa tak karuan, berkali kali sang mama menghubungi jika sudah selalu dikirim dan kali ini sang mama memberi pesan, Jika ia akan mengirim dengan kurir kepercayaan. ia akan menaruh nya dan menamainya alat makeup. Agar seluruh isi rumah menerima tak curiga!
"Kau sedang apa disini Arumi?"
__ADS_1
"Haah...bukan urusanmu Sadiya,pergilah dari hadapanku. apa kau tak punya tempat tinggal!"
Hahaaa...,, Sadiya tertawa licik, ia menepuk tangannya dan menempelkan pada bahu Arumi. lalu ditepis,"Jangan sentuh!" titah Arumi.
"Owh...,,kau lupa, aku ini siapa? lagi pula Oma Seiyen masih membutuhkanku. Gilang saja tak bisa mengusirku. karna dia masih sayang artinya,"
Arumi begitu kesal, ia pun melangkah ke dalam rumah. ia menyusuri tangga. menyumputkan kesedihannya. ia sedikit kecewa dan mengingat perkataan Sadiya ada benarnya. ia memang diakui oleh keluarga Gilang."Aku siapa, tidaklah penting?"
Dikamar, Arumi terdiam sepi. ia menatap Gilang yang telah pulas. sudah pasti karna lelah aktifitas seharian dan pergulatan beberapa jam lalu. ia menuju kamar Danzel sekedar melihat,tapi ia sadar tak ingin meninggalkan Gilang sendiri. bahkan kunci kamar Danzel dan Kamarnya sudah diganti.
Sehingga siapapun tak bisa masuk seenaknya. terutama wanita itu, meski selalu dalam bantuan Oma."Kau ingin berperang denganku!" lirih Arumi. ia mengenggam kunci dan mengepalnya, lalu menghirup nafas panjang, semoga ia sabar dan bisa melewati sikap Sadiya mantan istri suaminya itu.
Pagi hari,Gilang merengkuh sang istri yang tidur membelakanginya, ia memeluk guling.dengan sadar ia menganggu sang istri, membangunkannya dengan caranya. ia mengecup pipi, kening, hidung dan bibir manis sang istri.
"Heuuump..., honey. aku masih mengantuk.jangan ciumi aku. Aroma kita tak sedap belum gosok gigi. aku harus ke kamar kecil!"
"Apapun aku menyukainya sayang, bagaimana kita berenang. hari libur bukan?"
Arumi tersenyum, mendongakan wajahnya menatap suami tercinta. ia merangkul leher sang suami dan menciuminya memberikan tanda. Sehingga Gilang tak segan membalikan posisi tubuhnya yang teransang.
"Sayang kamu memulai nya!" Mereka pun begulat dengan manis dan manja. Tapi satu ketukan pintu kamar membuatnya terhenti.
Tooook..,,Toooook. Dady buka pintunya!
"Dady, Keluarlah. Mama ayo bangun! Danzel sudah bersiap ke kolam ya. Danzel berenang dengan Aunty Clara sudah menunggu nih!"
🌹Happy Reading🌹
__ADS_1