
🍀 Tertekan 🍀
Arumi menyelesaikan data dengan sempurna.ia segera mungkin merapihkan dan menyiapkan rapat bersama klien dengan Fandi.melihat jam masih amat pagi,ingin sekali ia cepat berlalu dan jam makan siang.ia ingin bertatap wajah dengan sang putra.meski melalui sambungan ponsel atau sekedar laptop.baginya Danzel obat penawar dan mood boster dalam segala hal masalah tekanan yang ia lalui tetap tegar.
"Arumi sudah selesai?"tanya Fandi.baiklah dua puluh menit lagi kita bergegas ke gedung sebelah untuk meeting penting!Arumi pun tersenyum dan mengiyakan.baginya ia telah terbiasa dalam tekanan bisnis.meski ia belajar otodidak dan sesekali selalu melibatkan sang sahabat.ia menatap ponsel dan status erico.wah ternyata prediksi kelahiran bayi keiiyra lebih awal."Congrulation baby girls."ia menyelipkan kata di twitter dengan caption bahagia.nama yang cantik kania,begitulah panggilannya.
"Arumi,ayo kita segera berangkat!apa wajahmu cerah sumringah karna Tuan Gilang akan kembali?"tanya Fandi.
"Haah...yang benar saja,kau tertular penyakit kronis pede tingkat dewa.sama seperti atasanmu Fandi!jangan bermimpi aku memikirkan atasanmu itu.Arumi pun melaju berjalan ke arah mobil mendahului Fandi.dengan segudang berkas map yang ia bawa dan laptopnya.tapi Fandi hanya tersenyum menatap Arumi.setidaknya ia melihat wajah wanitanya sang big boss tidak semurung dan sembab seperti malam kemarin.
jika saja aku memberi kabar jika pujaannya itu tak baik,maka aku yang sulit dan keteteran seperti menjadi babynona.tugasku semakin double hanya untuk menjaga pasangan bigboss agar selalu baik dan bahagia."Hah andai,jika aku sudah beristri mungkin akan terlibat adu tengkar karna masuk kedalam asmara bos yang tak peka!"lirih Fandi.
Terimakasih,kerja sama ini semoga lancar dan kedepannya kami berharap penuh dan percaya.
andai Tuan Gilang ada,harusnya kita rayakan dengan secangkir minum.setelah batas jam kerja selesai bukankah tidak seharusnya canggung bukan?tutur klien.
Fandi pun tersenyum halus dan banyak membalas,sementara Arumi hanya diam dan sesekali menatap jam.hingga berakhir semua klien telah pergi."Arumi makan siang dimana,apa mau sekalian pulang?"
"Tidak perlu terimakasih,aku sedang buat janji dengan seseorang.pergilah lebih dulu Fandi!"
sontag Fandi pun berlalu.hingga sepuluh menit
ia mencoba menghubungi sang Putra yang berada di paris."Kenapa tak bisa menghubungi Danzel,mama kangen nak."lirih nya.tak lama sebuah ketukan pintu dalam ruangan.
"Sudah aku bilang,duluan saja Fan..!"ingin berteriak dan menolak Fandi,arumi terkejut akan pria yang tiba saja mendekat.sehingga ia berdiri dan merunduk merapihkan berkas dan mengambil tasnya.lalu menyelimpang guna menghindar dan ingin berlalu.tujuan nya adalah menjauh dari pria ini.
__ADS_1
"Kau tidak kangen pada Dady Danzel?"bisik Gilang.
"Untuk apa,kita hanya partner dalam pekerjaan.hubungan kita tak ada yang spesial dan lebih Gilang."benarkah hubungan kita itu kedua orangtua Danzel.apa benar dihatimu tidak ada sedikitpun.. euum berfikir kedua orangtua Danzel bersama dan lengkap,sama hal seperti keinginan Danzel.satu bulan lagi.adalah hari lahir Danzel,bukankah menghadiahkan kita bersama adalah hal yang bagus?"Tidak bagus.menyingkirlah aku tidak ada waktu untuk membicarakan hal yang tidak mungkin terjadi.
Arumi melangkah melewati Gilang.namun tubuh relung pinggangnya diselipkan tangan kokoh Gilang.ia menyangga dan memeluk tubuh Arumi.sehingga posisi itu membuat arumi terkejut.ia berada membelakangi tubuh pria yang membuatnya berdebar."Jangan seperti ini Gilang,lepaskan!"Tidak aku ingin jawaban darimu.ayo bicara jika kau sama sekali tak ada perasaan sedikitpun pada pria yang bernama Putra Gilang Syahzanet.
Hooh..mana mungkin aku mempunyai hati pada pria,yang dasarnya tidak peka,tidak memahami,dan satu lagi terlalu percaya diri.
batin Arumi.
"Baiklah tatap matamu pada mataku selama tiga puluh detik,katakan kamu tidak ada perasaan sama sekali.pada dady danzel yang sesungguhnya ini!"Gleeuk...arumi hanya menahan saliva,berusaha tidak gugup jika ia tak ingin menampakan perasaan yang sesungguhnya.
Tubuh arumi dibalik sehingga mereka saling menatap,merangkul penuh erat.tak dapat dipungkiri.ia pun merasakan hal yang sama,tapi ia masih takut untuk merajut asmara.terlebih ia tak akan mendapat restu oleh oma seiyen.jika bukan karna ia takut di pisahkan karna tak bisa bertemu lagi dengan Danzel.ia akan mati rasa.bagai jiwa kehilangan raga,mati seperti hidup begitupun hidup seperti mati.
"Eeeuhmmm...lepaskan aku,kumohon Gilang!"
Tak lama,ketukan dan langkah separuh wanita baya tiba saja datang.sehingga Gilang terkejut. karna sibuk menatap Arumi akan rindunya.
"Oma sejak kapan,mengapa datang ke sini?"tanya Gilang.membuat mata wajah arumi merunduk dan semakin takut.bagaimana ini,pasti oma.seiyen salah paham padaku.
lirih Arumi.yang sudah pasti nenek sihir itu akan menyulitkan dan menekannya kembali.
Oma seiyen duduk menatap kami berdua,selama dua puluh menit mendapat ocehan dan tekanan perusahaan klien.dasar nenek tua mengapa tidak dia saja yang menjadi sekretaris dari pada aku.melihat Gilang mendapat cecaran akan perusahaan harus nomor satu.membuatku kasihan dan peduli ingin tetap bertahan diperusahaannya."Kasian kau hanya mesin perusahaan untuk keluarga,tapi cinta dan takdir kehidupanmu tetap oma yang menentukan Gilang."batin Arumi.ia merunduk dan sesekali menatap oma seiyen.
Setelah selesai Arumi pamit,Gilang ingin mengejarnya namun ditolak halus,dengan beralasan klasik Oma seiyen.sehingga ia tak mengejarku.
__ADS_1
ia pun merasa kasihan begitu takut dan tertekannya posisi Gilang."Maaf aku takut patah hati dan merajut lebih serius.Aku telah banyak gagal mempertahankan.sama hal dengan gagalnya cinta yang mudah pergi,hilang dan kembali dalam hitungan jam ke waktu,setidaknya aku pernah merasakan itu semua tapi kini.sepertinya tidak harus."ucap Arumi yang melangkah.
.
.
.
"Apa jadi ka Arumi yang akan menjadi pemeran kedua laga romance?"tanya Clara.ia tak percaya dan menduga jika akan bertemu.ketika ia telah melakukan sesi pemotretan untuk model brand parfum dan memakai salah satu artis dari Well entertaiment.
Arumi pun menjelaskan,dan mengingatkan clara untuk tidak ikut campur,dan berkata pada Gilang.ia tidak ingin pekerjaan impian nya digagalkan kembali.
Clara begitu marah,"Baiklah aku memang masih anak kecil ka Arumi,tapi satu hal ka Gilang tulus dan menaruh hati untuk memperjuang bahagiakan ka Ar...!"belum selesai menjelaskan.Clara terkejut akan seseorang yang datang,begitupun Arumi.
Kira kira siapa ya datang hingga mereka merunduk dan takut?
Jangan lupa tekan love menjadi biru.
Jangan lupa mampir karya.
"Wanita Seperti Dia." karya yang tertunda.
thanks readers.
🌹 Happy reading 🌹
__ADS_1