
🍀 Manipulasi 🍀
"Apa yang kamu lakukan Arumi, kamu menyembunyikan apa?".
Streeeth... secarik kertas itu terjatuh. Arumi menatap bulat dan menyembunyikan air mata nya. Oma Seiyen menatap dan melaju ke arah Arumi.
Oma disini ? Arumi...,, sedang mengambil vitamin seperti biasa, tidak ada yang penting.
Mendengar pernyataan Oma Seiyen, ia yang sedang berkunjung. Arumi pamit pulang lebih dulu. Oma Seiyen tak ingin pulang bersama dan masih ada urusan. ia berjalan cepat dan merobek hasil Tes lab. ia pergi dengan taxsi ke suatu tempat, ia mematikan ponsel hanya ingin merenung dan menyendiri beberapa saat.
"Anak itu, apa yang di sembunyikan. dokter yang mengecek Arumi kenapa bersikeras tak ingin memberitau dengan alasan klasik. istilah kedokteran tak boleh menyebar data pasein. tidak tau apa dia berhadapan dengan siapa?"
"Ya, wanita tua yang kepo dan selalu menindas temanku." batin Tera. ia adalah teman terbaik Arumi yang selalu mendengarkan curahannya.
selain dokter psikolog. ia meminta seorang teman terbaik yang memeriksa penyakit kelanjutan Arumi untuk tidak membocorkannya pada siapapun.
Oma Seiyen berbalik ingin melangkah pulang, ia terkejut ketika seorang dokter tiba saja dekat dengan dirinya." Apa dia tadi mendengar aku bicara apa,?" oma Seiyen pun berlalu pergi melewati sang dokter yang menatapnya.
Gilang yang telah jam makan siang, ia segera menghubungi sang istri tapi ponsel Arumi diluar jangkauan. Entah apa yang terjadi, Gilang memberi pesan pada Clara. ingin sekali ia mengatakan jika oma membuntuti ka Arumi ke rumah sakit. Tapi ia menitipkan pesan, mungkin lowbatt sehingga lupa di cas, atau tertinggal. berusaha menenangkan kepanikan kakaknya itu.
"Kenapa harus aku,, kenapa sakit gejala ini mirip adik ku Mori yang masih kecil. dengan hasil Stadium lanjut itu sudah pasti tak akan bertahan,"
Arumi menangis dengan terisak isak.
ia akan mendapat kenyataan pahit ketika penglihatannya benar - benar tak dapat melihat putra dan suami tercintanya dengan berjalan waktu yang harus ia tutupi.
__ADS_1
Gilang, Danzel tak boleh tau. Aku harus menyembunyikan nya serapat mungkin. Aku harus mencari pengganti terbaik untuk Danzel dan suamiku. Entah pikiran konyol apa yang masuk membuat Arumi memikirkan kebahagian orang yang ia cintai saat ini.
Arumi menyimpan rapat hasil pemeriksaan dengan memotretnya. dan menyimpan di file terkunci sehingga Gilang tak akan tau jika memeriksanya. ia pun meminta hasil nota kebohongan jika ia sakit karna lelah saja.
Bagaimana bisa aku mempunyai sakit seperti itu. Perlahan mata ku tak akan bisa melihat, perlahan aku akan kehilangan ingatan. dokter mengatakan jika Amnesia bisa terjadi. Aku harus pergi sebelum Gilang tau, kesehatan ku harus ku atasi sendiri. "Maafkan mama sayang, Jika mama kelak tak akan melihatmu tumbuh hingga dewasa."
Arumi berdiri dan mual ingin muntah itu kembali, rasa sakit di kepala serasa ingin pecah membuatnya tak bisa menahan. Rasa sakit yang tak tertahan, mata yang merah menahan sakit membuatnya menjambak rambut sendiri karna rasa sakit yang luar biasa. Jika aku seperti ini, apa ini hukuman kesalahan dosa ku yang tak mencari keberadaan mama.
Arumi memejamkan mata, ia terbayang memori dimana kebersamaannya bersama kedua orangtuanya. dimana ia bersama dengan Keiiyra, dimana ia bersama menikah dengan Dani dan mempunyai pertikaian bisnis pada Zack. Ketika itupun semua terpampang jelas, tubuhnya pingsan jatuh tak sadarkan diri.
Wanita paruh baya yang sedang berada di tepi pantai, ia berjalan dan terkejut mendapati seorang wanita yang pingsan. ia segera berlari dan berteriak meminta pertolongan. Lalu beberapa orang membantunya mencari taxsi.
ia yang kesulitan takut membawanya ke rumah sakit, ia putuskan untuk membawanya kerumah dan meminta dokter datang ke rumah.
Braagh..., Oma Seiyen memberi lontaran kebenciaan. ia berbicara jika Arumi bertemu seseorang bisa saja ia mengkhianatimu hingga selarut ini belum kembali.
Clara terkejut yang baru saja pulang," Oma kenapa bicara seperti itu pada ka Arumi, bukankah tadi Clara drop oma di Rumah...,,"
Oma Seiyen menatap tajam pada Clara.sehingga ia tak berani melanjutkan dan ijin pergi ke kamar. ia pun mencoba menghubungi nomor kaka iparnya itu. tapi benar tidak aktif. "Semoga ka Gilang, tidak terpengaruh pada oma yang terlalu seperti tadi."
.........
Keesokan harinya Gilang meminta orang untuk mencari keberadaan istrinya, ia semakin gelisah tak menentu dan mengerahkan beberapa orang untuk mencari tau.
Sementara Arumi yang sadar di suapkan bubur, ia tersenyum haru dan memeluk wanita paruh baya yang pernah ia temui. wanita berwajah terbakar itu memeluk Arumi dengan Erat.
__ADS_1
"Kamu harus pulang nak, suamimu dan putramu pasti khawatir."
"Arumi tidak ingin pulang, di sisa umur Arumi hanya ingin bersama Mama. maafkan Arumi yang tidak peka."
"Tapi nak, mama tidak pergi kemanapun. mama selalu memantau dimanapun kamu berada. mama bahagia kamu bahagia. bagaimanapun Gilang harus tau, tidak perlu memikirkan Seiyen nenek tua bangka itu,!"
Arumi menatap sang mama, bertanya apa ada hal besar yang ia tak tau. mengapa mama sembunyi menatap Arumi tapi mama tak menghampiri.
Mama hanya sedikit ada problem, kamu tidak perlu khawatir karna mama merasa malu padamu jika kamu tau kebenarnanya. batin sang mama.
"Kenapa mama diam?" Tidurlah nak. mama akan menjagamu selalu. Arumi pun menurut sementara mama berjanji, akan mencari tau kondisi setiap hari sang cucu dan Gilang sang menantunya itu.
Tak lama ketukan pintu, seorang asisten memberi sebuah catatan pemeriksaan yang membuat sang mama tertegun.
"Apa, mengapa hasilnya positif seperti Mori putra bungsuku?" Mama retna menatap Arumi.
ia berbicara dalam hatinya, Andai sakit itu bisa ditukar dengan nyawaku yang bersalah pada anak sulungku. Aku akan menerimanya, kenapa kebahagianmu hanya sekejap sayang.
.
.
.
Sampai disini ada yang tau, Arumi sakit ya guys. istilahnya sakit turunan atau semenjak ia selalu kecelakaan hilang ingatan dan selalu terbentur dengan bagian kepala. Berhubung Author akan menamatkan, berusaha akan happy ending kok nantinya. 😊 tenang masih puluhan bab kok. Jadi jangan tinggalin cerita Arumi ya !!
__ADS_1