
🍀Duka dan Emosi🍀
"Honey, aku siapkan air hangat untuk mandi ya?"
Braaaagh....,, sebuah telepon rumah Gilang lempar begitu saja, membuat Arumi terdiam kaku."Ada apa, apa aku membuat salah honey?"tanya Arumi.
Katakan, seharian ini kamu darimana. kenapa tidak datang kekantor? Gilang menghampiri, mengelus rambut yang jatuh menutupi mata sang istri.
Bukankah dirimu sibuk, ada tamu penting. bukankah Sadiya datang honey. mantan istrimu itu yang melukaiku dahulu, bagus saja dia tak melihatku. bagaimana jadinya jika ia tau aku kini istrimu, mengetahui kita kembali bersama. batin Arumi.
"Sayang, kenapa diam?"
"Aku, tadi ikut penyuluhan badan amal, a- aa-aku datang bersama teman ku, aku sudah hampir datang ke ka..!"
Braagh..., Gilang membalikan tubuhnya. belum Arumi selesai berkata, ia ingin menjelaskan datang ke kantor namun terhalang, tapi sudah buyar akan kemarahan sang suami. ia merasa sedih, ini pertama kalinya ia melihat suaminya semarah ini, dan tak semanis padanya.
"Aku harus tegar, melewati sakit dan diabaikan bukankah sudah makanan sehari hari ku dulu, jika aku terlihat lemah. aku tak ingin Gilang manis padaku karna penyakitku, aku tak ingin Oma semakin mudah memisahkanku. Danzel perlu orangtua yang asli dan selalu utuh, apapun yang terjadi." gumamnya.
Gilang mengeluarkan kata kata tidak pantas, baru saja Oma Seiyen menuduhnya. kini ia tak percaya jika Gilang beranggapan sama."Aku tidak mengkhianatimu honey!"
"Lalu apa, mengapa kau bisa bersama pria lain tanpa ijin!" Arumi sedikit bingung tak mencerna, apa maksudnya. ia datang karna Terra tapi ia lebih dulu kembali karna pasein penting. ia tak habis pikir, pria yang suaminya maksud siapa?
"Aku katakan, aku tidak ada rasa untuk mengkhianati pernikahan kita.aku mencintaimu honey."
Arumi berlari ke anak tangga, meninggalkan Gilang. ketika sampai dikamar, ia menutup pintu rapat, ia berlari ke arah kamar mandi, ia menguncinya dan berendam dan mengeraskan air untuk meredam emosi, untuk mengurangi tangisan yang begitu saja kencang, jika keran air besar otomatis suara tangisnya redup terhalang oleh genangan air.
Huhuuuuuuuu....,, Arumi mencengkram kedua tumitnya. sementara air masih mengguyur dengan baju yang basah. ia pernah dikhianati, tapi membalas untuk mengkhianati adalah hal tak ada dalam sejarahnya."Maafkan aku, aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya Honey."
Gilang masuk kedalam kamar, hal yang membuatnya merasa bersalah adalah. ia amat kasar, tak lama ia mengetuk pintu kamar kecil. tapi Arumi tak membukanya. Gilang mengacak rambut dan sedikit kesal, ia meninju kepalan tangannya hingga terluka dan berdarah ke dinding tembok. ia kesal, belum selesai bicara sudah ditinggal, seolah Arumi menghindar dan benar mengkhianatinya.
Beberapa jam kemudian, Arumi keluar dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai ia keluar dan tak menemukan keberadaan sang suami. ia mencari keruang kerja bermaksud meminta maaf. Namun suara bell berbunyi membuat Arumi terdiam dan ingin membukanya.
Arumi berlari kebawah anak tangga, ia membukanya dan menatap Fandi yang datang.
"Ada apa Fandi?"
"Pak Gilang, akan keluar kota beberapa hari.saya hanya memberi pesan saja agar tidak cemas!" Baiklah terimakasih Fandi.
Arumi terdiam, dan berlama lama lupa untuk makan. berkali kali ia menghubungi Danzel, tapi Clara hanya memberi pesan. Jika acara school sedikit susah jaringan.
"Aku mempunyai mereka, tapi seperti sendiri."lirih Arumi bersandar.
Arumi selalu menatap pohon beringin, sudah berapa hari ia tak menatap sang mama. hanya sebuah paket. Keberadaan yang sulit, nomor ponsel yang tak aktif. ingin sekali ia memeluk sang mama disaat seperti ini.
........
Sepekan kemudian.
"Apa..., Terra yang kau katakan apakah benar? Baiklah obat yang kau kirim tulis seperti biasa. vitamin atau make up D. seperti biasa, obat itu kau taruh di balik celah alat makeup.!"
"Baiklah, memang kau ingin pergi kemana?"
__ADS_1
"Aku akan menyusul Arumi, wanita itu selalu saja mengumpat. menyembunyikan sesuatu dariku, padahal aku menyayanginya seperti adikku Ter."
"Bukankah kau sama saja?"Ketus Terra. dan perbicanganpun terhenti.
.
.
.
Bel berbunyi, Arumi segera menuju bawah anak tangga. ia terlihat senang tak sepi menatap sang anak telah tiba.
"Mama, Danzel rindu sangat."
"Mama juga sayang, Clara terimakasih selalu menjaga Danzel."
"Kaka, kau ini memang siapa lagi jika bukan aku dan Oma?"
Arumi berdiri dan memeluk Clara."Kelak jika ada apa apa, ka Arumi titip Danzel padamu ya!"
Arumi pun mengajak sang putra ke kamar, bercerita penuh dan berseru kegiatan di sekolahnya. Danzel tak kalah bawel menceritakan, apalagi ia mempunyai banyak teman perempuan yang selalu menempel padanya.
"Hoooah, benarkah anak mama jadi tenar?"
"Yes, mom karna aku tampan." Ketus Danzel. tersenyum mengecup kedua pipi Arumi.
"Ka Arumi, bicara aneh sekali?" lirih Clara. menatap diam, dan membalikan tubuhnya pulang kesebelah rumah.
Arumi menghubungi mama Le'un. cukup lama ponselnya tersambung, tapi ketika tersambung ia menatap nanar dan membulat menatap sang putra. "Arumi turut berduka cita ma, Arumi segera kerumah sekarang!"
Arumi menyiapkan segala barang, ia mengajak Danzel pergi bersama. karna Clara dan Oma Seiyen tak ada. ia tak berani menitipkan sang putra sendirian bersama asisten rumah tangga.
ia hanya menitipkan pesan pada mereka, jika Gilang tiba di rumah.
Di taxsi ia memeluk sang putra, Danzel menyapu tangisan begitu pecah mengalir deras.
"Mam, Are you okey?" sedikit cadel.
Arumi pun mengangguk, baik baik saja sayang. ia tak menyangka jika Dani akan secepat itu pergi. ia membayangkan dirinya kelak seperti itu. Apakah Gilang akan bersedih. Tidak yang aku takutkan adalah Danzel, apa ia akan mendapat ibu yang tulus menyayanginya. pikiran itu meracau pada benak Arumi.
"Mam lepaskan, pelukanmu terlalu erat. Danzel sesak!"
"Oowh..maaf sayang, mama terlalu panik."
Mam, bicaralah. jangan membuat putramu khawatir. Apa Dady Dani pergi ke surga membuat mama bersedih? No, sayang maksud mama. tentu kita pasti bersedih karna kehilangan keluarga. Mama hanya membayangkan apakah mama bisa melihatmu tumbuh dewasa, itu saja sayang ? Tutur Arumi menatap dan mencium kedua tangan Danzel.
Beberapa jam kemudian, Arumi sampai di kediaman mama le'un. Supir taxsi menurunkan koper dan meninggalkan setelah selesai.Mama le'un menyambut Arumi dan memeluknya. tak jauh berbeda, ia terkejut menatap sang mama ada di kediaman mama le'un.
"Mama?"Lirih Arumi.
Sssst...., dari jarak lima meter. memberi isyarat untuk tenang dan diam. Arumi masih memeluk mama le'un dan menenangkan. tak lama sebuah surat kecil dari Dani untuk Arumi. ia pun mengambilnya dan menaruhnya ditas. Sehingga mereka bersama masuk kedalam rumah di kerebunan banyak orang yang datang.
__ADS_1
Danzel di gandeng oleh Mama Retna, Arumi bahagia karna ada mama di kediaman mama le'un. Entah apa yang terjadi bukankah Mama ku dan Mama le'un mempunyai skandal masalah perjodohan dengan almarhum sang papa, ia masih sulit mencerna teka teki yang membuatnya semakin pusing.
Belum lagi soal Oma dan sang mama. ia mengkesampingkan beban yang terkumpul dalam otaknya, sehingga rasa sakit itu ia tahan dan meminta segelas air putih untuk ia minum bersama dua butir obat.
.......
.......
"Kemana dia bi?"
Siaaal, istriku benar benar tidak tau aturan! kenapa dia pergi tak ijin, dan menungguku. sepenting itukah pria dimasa lalunya. belum lagi Dokter itu!
"Fandi,sudah memberi pelajaran pada Faiy itu?"
Sudah, tapi dia enggan menceritakan kenapa bisa duduk bersama. dia hanya berkata urusan nya dengan Arumi memang dekat, dan akan dekat entah sampai kapan. tapi tidak bisa menjelaskan rinci. Karna ...,,?
"Karna apa, Fandi jawab!"
"Karna..,, karna ia adalah teman dari tunangannya. ia bilang biar Nona Arumi saja yang menjelaskannya."
Gilang semakin kesal, ia berlari membersihkan tubuhnya, ia mengganti pakaian. dan pergi menuju ruangan muathai. ia meninju dan mengeluarkan banyak keringat, tapi satu hal tiba saja Oma Seiyen menghampiri bersama seseorang.
"Keluarlah Oma, dan bawa wanita itu pergi dari sini!"
"Gilang, Sadiya hanya berkunjung. lagi pula dia akan menginap di rumah Oma, kecuali jika kamu ingin..."
"Cukup Oma, Gilang tak ingin diganggu!"
Gilang meninggalkan ruangan latihan, ia beranjak menuju kolam dan berendam disana.
Beberapa saat ia menyelupkan tubuhnya berkali kali, hingga ia terkejut ditepi sisi menatap wanita dengan bikini didepan nya.
"Kau sedang apa?"
.
.
.
🍀Curcol Author🍀
Author berharap dan berterimakasih pada semua Readers dan kak Author yang mensuport "Dady Danzel."
Terutama like Reader yang selalu hadir dan coment di setiap bab. dukungan Agar selalu lebih baik lagi.
Semoga kalian menyukainya di setiap kelanjutan ceritanya. 😊
----Eps bab ini jangan kesal ya-----
__ADS_1
🌹Happy Reading🌹