
🍀Rencana Oma🍀
Oma terdiam sejenak, ia mengetahui sisi anak dari sahabatnya ini. "Oma, butuh bantuan kamu nak Fandi. setelah mendengar percakapanmu tadi. Oma jadi berfikir keras, dan Oma yakin ini pilihan Oma yang terbaik!"
Uhuuuuk...uhuuuk. Fandi terbatuk. ia berusaha mencerna, apa yang didengar Oma. terlebih ia tak tau sejak tadi, ia hanya bicara pada Clara tak ada serius." Owh tidak, perasaan ku jadi ga tenang. melihat wajah Oma Seiyen, wajahnya berubah pucat pias dan dingin seakan Oma Seiyen ingin memakannya. meski hanya ingin sebatas bicara."
Selama satu jam penuh, Fandi keluar dari ruang belajar yang tertutup rapat. Wajah pias ketidak sukaannya membuat pikirannya kacau. meski dari ruangan luar Oma meminta berbicara keras tak akan terdengar dari luar.
"Eeekh.. tunggu. ka Fandi kok keluar dari ruangan kedap suara, emang ada apa. apa Oma bicara tentang Cla lagi ya?"
"Menyingkirlah, ka Fandi tak ingin kamu tiba tiba muncul!"
Jiiieh.. aneh. ini rumah Oma, rumah Clara juga. kau yang harusnya ga muncul. udah lama tinggal juga tapi ga pulang pulang, masih aja serumah sama gadis! Clara masuk menemui Oma tapi pintunya terkunci. sementara Fandi mendengar hal perkataan Clara. ada rasa kesal dan sedikit marah, ia tau dirinya masih menumpang. tapi tak ada jalan lain selain menunggu Mama datang menjemput. karna rumah ini penuh kenangan pertama kalinya. ia ditinggal pergi dan dititipkan oleh Oma Seiyen.
Clara terdiam mematung, ada hal merasa bersalah ia mencoba mendekati Fandi. "Ka Fandi, maaf tadi Clara hanya bercanda. jangan masukin hati ya!"
Bruuugh... Clara terdiam mematung. dasar pria jelek ga peka, udah minta maaf malah nutup pintu kamar gitu aja. ga pake lirik liat ada wanita cantik ngomong, untung ga kena hidung. yang ada bisa operasi gw nanti ! Heuuuh.. dasar Fandi Fan Fan enggak Fun.kalau dia lama masih tinggal dirumah ini! ketus Clara kesal.
Fandi terdiam, ia mengirim email meminta bantuan pada Gilang untuk bicara pada oma Seiyen. "Aku harap, kau menyelamatkanku dari putri leluhur dan putri cikal bakal penerus Seiyen. karna kau cucu tertua berbakat Gil. hanya kau yang bisa menyelamatkanku. dari permohonan Oma tak masuk akal!" gerutu Fandi.
Oke.. Selesai. Fandi berhasil mengirim email dan pembicaraan pesan suara melalui laptopnya yang akan tersambung pada Gilang.
Sudah seminggu Fandi tak mendapat kabar, ia segera menghubungi Gilang dan tak lama dia mengangkatnya. "Maaf Fand, aku baru baca nih emailnya. akan aku coba ya. tapi apa kau tak tertarik pada Clara?"
"Gil, aku memintamu untuk mengagalkan. bukan mendukung, kau tau aku menunggu mama yang pergi mencari papaku yang hilang karna seseorang. ibuku bersama tunanganku!"
Gilang terdiam, ia sudah banyak tau tentang tunangannya itu. tapi tak berani menjelaskan, ia pun sudah mencari keberadaan mama dari Fandi yang hilang tanpa jejak sulit dicari.
"Aku harap Clara mendapat suami seperti mu Fandi, karna aku percaya kau pria setia dan baik!"
"Honey, apa ada masalah?"
__ADS_1
"Hanya pribadi saja, soal Clara dan Fandi sayang." Arumi pun tersenyum mengerti. tak lama Mama Retna meminta makan bersama, dan lalu Danzel memeluk kedua orangtuanya menghampiri.
Mama ayo, kita makan diruang garden halaman. Grandma udah nyiapin semua loh? segera ya biar Mama ga bosen dalam kamar kaya rumah sakit ini !!
"Owh, tentu sayang. Dady akan bantu Mama ke kursi roda. kita pergi kedepan bersama ya?" Heuump oke Dady Danzel yang perfect. tapi lebih perfect Danzel kemana mana dong.
Arumi tersenyum, ia mengusap pucuk rambut sang anak kala itu, betapa tidak lucu ia menggoda Gilang, dengan gaya tak jauh beda.
"Honey, memang buah tidak jauh dari..?"
"Sayang, jika kamu katakan menambah ledekan. aku pastikan kamu mendapat balasan yang melelahkan nanti malam!" bisiknya.
Arumi tersenyum malu, meminta maaf dan menutup mulutnya sambil menatap suami tercinta yang mengancamnya. "Dady, Mama kenapa saling tatap. Danzel marah. kenapa senyum senyum aja berdua. ga ajak Danzel?"
menyelingkup kedua tangan dan acuh memalingkan wajah.
Mama Retna mendengar langsung membujuk, sementara Gilang dan Arumi mengigit jari. ia lupa jika sang anak kini lebih sering protes dan cemburu jika Dady Gilang memuja dan tertawa pada Arumi. "Baik lah, putra handsome sejagat. ayo ikut Dady!" Maaf ya. udah jangan marah nanti tampannya ilang gimana? Danzel masih memanyunkan bibir.
"No, Dady jahat. janji ga boleh ketawa sama Mama sendirian!" sambil melajukan kelingking kecil nan imut.
"Oke, Dady Janji handsome!"
.
.
.
Diruang meeting, kantor mengadakan halal bin halal. terlihat Oma Seiyen memberi sambutan, dihadiri Clara dan Fandi. tapi satu wanita memakai baju nyentrik berwarna kuning polos sangat ketat dengan blazer hitam datang ke Arahnya.
"Haah.. mulai deh, bau bau bebauan datang lagi?" Clara berbisik masih memohon pada Oma agar wanita ular itu tidak di ijinkan bergabung dikantor.
__ADS_1
Arumi telah berada dirumah, meski kamar yang sangat intens. ruangan pribadi mirip rumah sakit, serta ada suster yang datang merawat kesehatan Arumi. Gilang kasian pada istrinya karna ia terlalu lama berada dirumah sakit, terlebih ia muak akan dokter Alien selalu merubah moodnya datang kerumah sekedar mengecek perkembangan.
"Honey, aku mau minum."
"Ya sayang, sebentar ini habis. aku Ambilkan dulu ya."
Gilang yang tadinya bersandar pada dipan kasur, dan Arumi yang memeluk disampingnya terbangun karna haus. tak lama ia segera berlalu dan berbincang.
"Apa Honeyku sedang memikirkan pendonor yang cocok?"
"Kamu ga perlu khawatir, aku pasti akan mendapatkan donor terbaik. dan proses operasi akan tetap dilakukan. tetap sabar dan istriku ini pasti akan menatap putranya tumbuh dewasa kelak!"
Semoga saja Honey. aku berharap aku masih diberi kesempatan untuk sembuh dan mengurus dua pria sempurna yang tuhan anugrahkan padaku kini. "Honey, soal Fandi ada apa. tadi aku ga sengaja mendengar pembicaraan saat kamu bicara di ponsel?"
"Oma. pacar si clara, namanya si Frans temen kuliahnya yang hits itu menghilang, kata Cla ga ada kabar. menurut pengamatan suamimu ini dia bukan yang terbaik, tapi ada yang terbaik ga jauh. kamu pasti kenal tau jawabannya." Gilang mencubit gemas hidung sang istri. lalu mengusap ngusap dengan hidung yang saling menempel.
"Honey, baiklah kamu selalu mengalihkan agar aku tidak mencari tau jawaban, bisa bisanya alibi ini membuat aku diam tak menanyakan lagi." batin Arumi.
Gilang yang menempelkan hidung, memiringkan wajah dan mencium sempurna seluruh kepemilikan wajah cantik sang istri. Arumi menyambutnya dan terdiam saling mengecup ranum hingga terasa aliran magnet gairah Gilang yang bangkit.
Gilang mulai menelusuri jenjang leher sang istri semakin turun dan....
.
.
.
Sudahlah biarkan Readers berimajinasi sesuai khayalan ya. Heeeee...
🌹Happy Reading🌹
__ADS_1