
🍀Menyakitkan🍀
Sadiya saat itu tersenyum lebar menatap seisi ruangan, perlahan ia berfikir akan menyingkirkan satu persatu. ia memikirkan bagaimana caranya agar, Clara dan Fandi dalam sekejap terhempas.
Haaahaaa... kamu pasti akan kesulitan, karna aku orang yang akan menyulitkanmu. "Betapa tidak, kantor sebesar ini. jika aku mengalah mendekati Gilang. maka aku harus merebut perusahaan ini. Blaaas.. kalian semua aku tendang.
Gilang bersiaplah, kau pasti akan memohon. dan aku akan memberi persyaratan agar mau menikahiku kembali." Sadiya dengan pede tertawa sambil menunjuk seisi ruangan dengan khayalan.
Clara masuk kedalam ruangan besar, dimana posisi ka Gilang. ia melewati ruangan Sadiya dengan tatapan aneh. "Wanita ular itu, pasti tertawa senang sedang memikirkan cara. aku harus segera mencari cara agar semuanya .."
"Maaf bu, proses meeting siang nanti. ini berkas titipan dari Pak Fandi!" ucap Sarah.
membuyarkan lamunan Clara.
Clara berterimakasih, tapi ia mencari seseorang yang tak muncul. "Sara, dimana Fandi. eeekhm maksud saya Pak Fandi?"
Clara sedikit canggung, saat dikantor ia harus membiasakan memanggil Pak. "Pak Fandi sedang menemui klien di singapure bu."
"Baiklah, terimakasih. nanti siang bantu dan temani ya!" Sara pun menunduk angguk. lalu pamit.
Clara kesal tak biasanya ka Fandi. Haaah.. pria itu selalu saja menghindar, ada apa dengan dirinya selalu sendiri tak mengajak. sudah seminggu tingkah, sikapnya aneh.
"Apa dia kesal karna aku selalu meminta tolong akan berkas tak pernah aku bereskan." Clara mendengus kesal. ia akhirnya keruangan dan bersemangat agar perusahaan ka Gilang yang telah dirintis, kini di ahlikan padanya, agar tak sia sia dan kolaps kelak.
Semangat Cla. sukses pekerjaan, dan semangat kelak kuliah skripsi berjalan dengan lancar! batin nya. tapi matanya terkejut ketika seseorang sudah ada di hadapannya.
"Cla, kau sudah siap. jika proposal meeting siang nanti gagal. tau kan konsekuensinya. Klien kecewa, dan aku bisa mengajukan pada Oma untuk ada di posisimu bocah ingusan... Hahaaaa."
Clara terdiam, menatap Sadiya berbisik dan tertawa. ia memang tidak pandai, tapi ia akan berusaha keras kali ini.
"Tidak akan pernah, ada ka Fandi yang mungkin Oma pilih!" balas bisik.
"Jiaaah.. kau pede sekali. si kacung suruhan itu mana bisa menggantikan Gilang. siap siap kau terjun dalam waktu dekat ya Cla!" Sadiya melambaikan tangan, setelah membenturkan bahu Clara.
.
__ADS_1
.
.
"Sore ini kamu pasti lelah Honey?"
Tidak sayang, aku hanya bertemu rekan saja. dan sebentar lagi Fandi akan tiba untuk menjenguk. sekaligus soal interns. "Sayang, istirahatlah. Aku akan kembali beberapa jam lagi. mmmmuaach... !"
"Ya Honey, terimakasih."
Setelah Gilang mengecup kening Arumi. ia ingin sekali meminta ijin dan menanyakan kabar Oma dan Clara. tapi ia juga bingung ada hal apa Fandi. sebenarnya masalah serius apa sih. Aku juga mau tau soal pribadi Fandi dan keluarganya. tapi aku takut suamiku itu salah sangka.
Arumi hanya menghela nafas, Gilang tipikal tak bisa diajak kompromi. ia hanya bisa menceritakan ketika dimulai, bukan memulai sudah pasti jawaban akan di alihkan ke pertanyaan lain jika ia bersikukuh menanyakan.
"Mama, Danzel hari ini lelah. aku mau cerita. apa mama mau dengelin?"
"Tentu handsome, Danzel sayang. apa sekolah barumu sudah punya banyak teman?"
"No, mama tau. Danzel tak menyukai teman yang suka menjaili wanita. tapi tubuh mereka pria sangat besar. Aku harus minum susu dan apalagi supaya bisa mengalahkannya. Mam?"
"Jika Danzel mampu melindungi. tidak perlu takut, pertama Danzel harus cari tau siapa yang benar dan siapa yang salah. kedua......ssssst,,?" bisiknya.
"Oke mam. setelah itu yang ketiga baru lapor cikgu kan Mam?" balas Danzel.
Kaka Readers pasti bingung, hayo ada yang tau yang kedua itu apa....? coret di kolom. Apa bisikan mama sama aku benar atau tidak. Heeeee.
.......
Menjelang malam, setelah semuanya istirahat. Arumi ingin sekali mengambil minum. tapi saat roda ia jalankan, tiba saja ia menatap Gilang dan Fandi. " Selarut ini, apa yang mereka bicarakan?" lirih Arumi.
Please Gil. kamu harus tau. aku telah ingin kembali menemui Mama. tapi aku bingung mengapa sulit menemukan mama. Jika kemungkinan mama merubah nama tanpa sepengatahuanku, Apa itu mungkin? tanya Fandi lalu apa alasannya.
Tenangkanlah hatimu sob. Aku paham, tapi soal Elvira, aku harap kamu harus melupakannya. terima saran Oma itu sudah lebih baik menurutku !!
"Apa maksudmu Gil, kamu tau rumah itu adalah peninggalan mama. Meski mama menjual rumah itu. Tapi aku tak sanggup pindah. karna aku merasa suatu saat mama akan datang, apa aku bisa menikah tanpa cinta, tanpa keluarga terutama mamaku Gil?" lirih Fandi. ia menganggap Clara sebagi keluarga, tak menyangka jika harus dijodohkan karna perusahaan membutuhkannya.
__ADS_1
Arumi terdiam, ia ikut terharu akan penjelasan Fandi yang menahan rindu. Rindu ditinggalkan mama tercinta dan tunangan yang masih ia harapkan.
Tapi siapa yang akan menikah, apa ... heuuump. Apa itu Clara dan Fandi?" Arumi menutup mulutnya dan kembali ke arah kamar sebelum Gilang menyadari keberadaannya.
.........
"Sudah pulang Cla?" tanya Oma.
"Udah, tapi maafkan meeting tadi membuat kecewa Klien. mereka meminta penjelasan ulang, mereka menunggu Fandi datang Oma. katanya aku tuh tak greget dan meyakinkan."
Oma Seiyen terdiam, bertambah 40 poin. ketika Clara melontarkan keluhan. "Bagus Cla, itu poin penting untuk Oma. jadi gimana kalau kamu menikah dengan Fandi?"
"What.. Apa Oma. Kupingku pasti salah denger nih, apa banyak kotoran ya. Cla ga salah dengerkan. coba Oma ulangi!"
"No, sudahlah masuk sana ke kamar. biar urusan ini Oma selesaikan. Fandi bisa diandalkan sampai Gilang kembali bukan."
Clara menutup pintu kamar, ia merenung dan memencet nama Frans agar ia bisa menemuinya untuk kembali. tapi nahas ia tak mendapat jawaban. Sehingga saat itu ponselnya di lempar ke arah tiang televisi.
"Aaaakh.. pasti Si Fandi itu pergi karna hal ini." lirihnya. lalu Cla menutup tubuhnya tak terlihat pada selimut. hal utama yang ingin ia lakukan adalah tidur yang cukup.
ia tak bisa membayangkan jika Oma bersikukuh menjodohkannya. "Pejamkan matamu Cla. semoga ada ide berlian kelak hadir esok." gemuruh suara Clara.
.
.
.
"Honey, sakit sekali. aku hanya meminum ramuan yang biasa Mama beri. apa aku salah mencampurkan dan dosis herbal?"
"Sayang. kamu tidak bersabar. harusnya tak perlu dilakukan. bersabarlah dokter segera datang!"
Mama Retna tiba datang. ia memeluk sang anak. Danzel memeluk Dady Gilang. saat menatap khawatir diwajah terlihat nampak jelas.
"Dady. ada apa. Mama pasti sembuh baik baik saja kan?" tanya Danzel.
__ADS_1
🌹 Happy Reading 🌹