
🍀 Kritis 🍀
"Sadiya, minggir !" Teriakan Gilang membuatnya terkejut. termasuk Oma Seiyen terkejut akan kepanikan wajah di mata dan bibir gugup Gilang yang bergetar. "Oma, Arumi sakit apa?"
Oma Seiyen tak menjawab. ia melepas teko kembang dan membiarkannya terjatuh. Lalu meninggalkan Sadiya dan mencoba untuk mengikuti mobil langkah Gilang dan melupakan keberadaan Sadiya saat ini.
Dengan cepat, Oma menghubungi Clara. tak lupa ia menjemput Danzel untuk ikut bersamanya, ia sedikit cemas. pertama kali ia menatap Gilang dengan kepanikan, cemas tak berujung, terutama wanita yang ia sangat benci. adakala ia tak bisa membayangkan hal terburuk terjadi begitu cepat.
"Lebih cepat, ikuti taxsi di depan ya pak!" titah Oma pada Supir.
Clara menerima kabar dari oma, setelah selesai di kampus. ia segera menjemput Danzel dan babysister untuk pulang bersamanya. ia pun kembali mengubungi Oma setelah beberapa saat.
"Oma serius, ga lagi bercanda kan? Jadi benar sekarang ka Gilang dan ka Arumi di rumah sakit. baiklah Danzel akan Clara urus, Oma jika selesai kabari cepat ya!"
Langkah terdiam, Gilang menunggu sang istri Di ruang UGD. ia menatap kepanikan. tak lama dokter Faiyus tiba, ketika suster sesha memberi kabar, pasien vvip tiba di rumah sakit. bagaimana tidak, ia adalah teman karib sang tunangan.
"Tunggulah, saya akan segera memeriksanya!" titahnya pada Gilang.
Gilang amat sedih, ia duduk pun kembali berdiri lagi, mengepal kedua tangannya, ia memukul tiang tembok putih beberapakali di sudut ruangan yang sepi. Mata yang merah dan begidik tubuhnya.
Gilang, Oma datang. ada apa yang sebenarnya terjadi ? ia menatap Oma, memeluknya. baginya sandaran di bahu wanita yang sudah tua tapi terlihat awet muda adalah sang nenek pengganti ibu. ia menangis dan bibirnya bergetar tak sanggup untuk berbicara. Ada rasa khawatir dan ketakutan yang Oma lihat, ia tau apa yang cucunya kali ini rasakan. Karna oma merawat gilang sejak bayi.
"Bersabarlah, Arumi pasti baik baik saja!"
__ADS_1
"Tidak, Gilang tak ingin Arumi secepat ini pergi. wanita yang Gilang cintai, sayangi seperti Oma. Gilang tak sanggup kehilangan Arumi."
Oma Seiyen terdiam, ia masih mencerna dan ikut merasakan betapa besar cintanya pada Arumi. ia ingin saja menanyakan sakit apa Arumi. Tak lama dokter Faiyus keluar.
"Bagaimana Dok?"
"Mohon maaf, kami harus meminta persetujuan wali. bisakan saya merujuk Arumi ke penang, kemungkinan operasi disana akan berjalan dengan lancar, dan mengalami perkembangan!"
"Katakan apa yang terjadi, saya butuh penjelasan!" nada satu oktaf.
Dokter Faiyus tak sanggup bicara, ia menarik nafas dan menatap Gilang serta wanita tua disampingnya yang pasti Oma. Di sudut Clara, Fandi dan Danzel tiba tanpa Oma, Gilang tau. sehingga mereka mendengarkan apa yang dikatakan dokter.
Tumor Nyonya Arumi sudah semakin tidak baik , saya harus mengoperasi. Agar tidak menyebar luas, tapi meski seluruh rambut Nyonya Arumi kami pangkas agar berjalannya operasi. itu tak akan membuat lebih baik. Mengingat kondisi pasein yang kini Kritis dan imun semakin menurun.
"Apa.. haaah benarkah?" Clara membulatkan rasa kegetnya. Oma Seiyen pun duduk melemas. Sementara Gilang berusaha masuk melihat keadaan Arumi kedalam sebelum dokter Faiyus selesai bicara.
Oma Seiyen keluar dari ruangan dokter, ia menjadi bersalah, sikapnya pada Arumi. ia terkejut akan hal wanita yang ia benci tanpa sengaja, karna mengingatkan masa kelamnya. begitu rapat ia menyembunyikan, dan setelah urgent kritis, ia bodoh menjadi orangtua baru menyadari tak memerhatikan.
"Maafkan Oma, Arumi cepatlah sembuh dan siuman. Oma akan menyetujui dan mengurus menjagamu hingga sembuh!"
Aunty, gimana keadaan Mama? Danzel ga akan kehilangan mama cepat kan. tanya anak berusia enam tahun, Clara menatap Fandi. ia memeluk Danzel dan mencoba menenangkan.
ada hal tak mungkin jika Ka Arumi sembuh, dengan stadium lanjut dan sulit untuk mendapat donor apalagi kondisi kritis sakit yang semakin parah.
__ADS_1
"Fandi, apa Ka Arumi bisa sembuh?"
"Berdoa lah, tidak ada yang tidak mungkin Cla!"
Fandi pun mengajak Clara, menggendong Danzel untuk bersama sama ke mesjid terdekat. ia meminta Danzel untuk berdoa kesembuhan sang Mama. "Maafin Uncle ya, tapi janji Tuhan pasti akan didengar oleh anak Sholeh, tampan, baik seperti Danzel!"
"Oke, Uncle. Danzel akan berdoa sepanjang malam, sedetikpun tak akan melewati doa harapan Danzel untuk mama sembuh!"
Didalam ruangan, Gilang menatap sang istri yang banyak selang infus. ia membelai tangan sang istri dengan penuh harapan. "Sayang, bangunlah. beri aku waktu untuk menjadi suami sempurnamu, Aku tidak pantas mengemis. bahkan aku tidak bisa berfikir bagaimana aku sanggup kehilanganmu. Danzel membutuhkanmu sayang!" lirih Gilang. menetes air mata yang tak sanggup menatap sang istri, dengan tubuh lemah dan semakin kurusnya, mengapa ia baru menyadari setelah lama. Andai ia lebih peka, lebih tau dari awal sakitnya.
.
.
.
"Apa, Oma yakin kalau Arumi kangker otak stadium 3?"
Oma Seiyen duduk disofa, ia merenung dan lemah menjawab. ada rasa bersalah, kasihan dan menjadi takut. ia takut Gilang akan frustasi, terlebih ia takut akan perusahaan tak bisa tertangani."Bagaimanapun jika jiwa Gilang terganggu, stress. huuuft bagaimana semuanya bisa aman?" batin Oma.
Baguslah, aku tidak perlu susah payah melawan Arumi, perlahan Gilang pasti akan melirik dan menerima ku kembali, dengan kondisi istri yang penyakitan itu!! Hahaaa.. Sadiya tersenyum, tertawa jahat dalam hatinya.
.......
__ADS_1
*Hadeuuuh.. andai model Sadiya ada, ingin kalian apakan ?
🌹 Happy Reading Ya 🌹*