
🍀Kenyataan 🍀
"Sayang, beristirahatlah jika tak enak badan. aku akan menghubungi dokter kerumah.!"
"Ya honey, tak apa ini tak serius. hanya tidur sebentar mungkin hilang. aku hanya kelelahan!"
"Sayang, love you. aku akan cepat pulang!"
"Love u to honey," senyum Arumi. tangan kokoh Gilang menyentuh pipinya.
Gilang pun pergi, sementara ia melambaikan tangan hingga suami dan putranya tak terlihat. Ia mendrop Danzel dan babysister di sekolah.dan melanjutkan aktifitas seperti biasanya.
Satu jam berlalu, Arumi telah mengejapkan untuk bersandar. merasa sangat lebih baik, ia mengambil tas dan melaju dengan taxsi pergi ke rumah sakit. ia takut mendapati hasil kenyataan pahit, sehingga ia tak menginginkan Gilang tau dan khawatir.
Sekian jam Arumi menunggu pemeriksaan. Gejala yang Arumi alami membuatnya harus kembali tiga hari kemudian untuk hasil tes lab. ia pun di beri vitamin oleh dokter agar menurunkan gejala lemas pusingnya. Sehingga Arumi berinisiatif menukar vitamin dan resep obat dokter dengan botol suplement yang biasa ia minum agar Gilang tak curiga. Tak lupa ia membuang secarik kertas resep dokter dan nota dari rumah sakit ke tempat sampah di area parkir.
Begitu sampai di rumah, ia menatap wajahnya semakin pucat. ia memoles wajahnya agar terlihat fresh dan berusaha tegar kuat menahan rasa sakit, meski vitamin dari dokter mampu menyangga ia tak merasakan sakit. tapi dosisnya mampu membuatnya bertahan terlihat sehat. ia membuang jauh pikiran yang tak di inginkan, Danzel yang telah berganti pakaian menghampiri dan duduk bersandar pada tubuh sang mama di dipan kasur.
Arumi memeluk sang putra, menciumi jemari jentik tangan kokoh sang putra yang semakin besar. menatapnya dan memberi ucapan manis serta mencurahkan kasih sayangnya.
"Mam, Danzel ingin mama sehat telus!"
"Sayang, mama akan selalu sehat dan melihatmu tumbuh besar sayang,!"
__ADS_1
"No, mama bisa bohong pada Dady. Tapi Danzel tau mama sedang Cembunyikannya, aku malah pada mama. Ceritalah mam..aku janji tak akan bicara dan rahasia kita,!"
Dengan sedikit Cadel sang putra, ia berkata marah dan berjanji rahasia. membuatnya teringat padanya ketika kecil pada sang mama yang menyembunyikan sakit pada Papa. Sehingga rasa rindu pada seorang papa dan keluarganya ia tak bisa menahan.
"Sayang, ya mama sakit. tapi mama hanya kelelahan karna kemarin mama mendampingi Dady. mama janji sebentar lagi sehat kok."
Oce.. Danzel akan di sini menemani mama sampai Dady pulang. aku akan menjaga mama sampai Danzel tak bernafas, tak boleh ada yang cakitin mama. Arumi hanya memeluk senyum menatap sang putra yang berceloteh. Sehingga membuatnya bahagia sempurna dan bersyukur.
Sesampainya Gilang pulang, ia tak mendapati sang istri dan anaknya menyambut. Ia beranjak ke kamar dan mendapati sang istri dan anaknya tidur saling bersandar terlelap. Seolah tak berani membangunkan. ia pun segera bergegas membersihkan diri, sampai ia lupa untuk makan malam, meski ia pulang larut ia tak berselera makan tanpa sang istri. Gilang pun ikut tidur memeluk sang istri dan putra dalam satu ranjang.
"Honey, kenapa tidak membangunkan. maaf aku semalam terlalu pulas sehingga tidak sadar,"
Gilang memeluk sang istri, ia berkata tak ingin jika sang istri terbangun. terlebih putranya ikut terganggu dan menjadi sulit tidur, Aku pun lelah sehingga tak berselera makan sayang. Jadi ku putuskan untuk memeluk kalian dan ikut tidur.
"Dady, bisakah aku tidur bersama mam tiap malam?"
"Dady, kenapa diam?" Arumi tertawa dan menyuap makanan kedalam mulutnya. ia tak tahan melihat expresi Gilang.
"Tentu Handsome, tapi ada waktu nya kau yang sudah besar harus sendiri tidur di kamar nak!"
Dady Jahat, Mama tak keberatan mengapa dady seperti itu? Oma Seiyen menatap Arumi sedikit bingung. ia pernah memergoki Arumi dari rumah sakit, dan membuang nota rumah sakit. ia yang ingin berkata di meja makan. Tak ingin merusak suasana indah di pagi hari. ia pun kembali makan dan akan menanyakannya kelak pada Arumi langsung.
"Sebenarnya aku kesal pada dirimu Arumi, kau mengingatkan ku pada mama mu. mengapa aku membencimu padahal kesalahan pada mamamu,!" batin Oma.
__ADS_1
Arumi terdiam dan menatap oma Seiyen dengan tatapan berbeda. sehingga ia meminum air putih amat banyak. Tak berapa lama ia mengantar Gilang dan Putranya ke tepi halaman gerbang rumah.
........
Beberapa jam kemudian, hari berganti Arumi mengambil tas dengan diam. ia tak menitipkan pesan akan pergi kemana pada orang di rumah.ia segera melaju dengan Taxsi menuju rumah sakit. Sementara oma Seiyen yang bingung. ia segera meminta Clara untuk mendrop mengikuti kemana Arumi pergi.
"Oma mungkin berlebihan, mana mungkin ka Arumi menyembunyikan sesuatu?"
"Ikutin saja yang oma perintah Clara!"
Clara memutar mata, ia mendrop oma dan langsung pamit untuk segera pergi kuliah. ia sedang melanjutkan skripsi yang amat penting.Clara pamit mencium tangan Oma.
"Oma, kalau ada apa apa kabari Clara, atau akan aku hubungi ka Gilang ya?"
"Heiih, bocah satu ini sebentar bentar kau sangkut pautkan Gilang. tidak perlu biar oma saja. ingat tadi apa yang oma cakap Clara!"
Baiklah... ,,, ketus Clara dan melaju mobilnya. mendapat suara terseram oma yang naik, membuatnya menurut.
"Oma, hati hati ya,!" teriak manja Clara. ia khawatir sebenarnya jika meninggalkan seorang diri tak menemani oma.Tapi kuliah yang penting ia tak berani bolos.
"Apa yang kamu lakukan Arumi, kamu menyembunyikan apa?".
Streeeth... secarik kertas itu terjatuh. Arumi menatap bulat dan menyembunyikan air mata nya. Oma Seiyen menatap dan melaju ke arah Arumi.
__ADS_1
----bersambung---
🌹 Happy Reading 🌹