
🍀Saingan🍀
Gilang mendongakan wajah sang istri, beberapa saat ia mencium lembut. Tapi tiba saja seseorang turun dari atas tangga.
membuat mata Arumi dan Gilang terkejut kaget.
"Kau sedang Apa disini!"
"Rumahmu, aku berhak tidur dikamarmu kan Gil?"
Arumi terdiam tak percaya, ia pikir saat itu akan bertemu dikantor, dan sudah tak akan pernah bertemu lagi beberapa saat lalu.
ia mendengarkan perdebatan Gilang dan Sadiya."Jangan marah seperti itu, owh ya... Arumi senang bertemu denganmu. Beberapa hari lalu,sebelum menjemputmu. Aku pakai bikini menemani Gilang berendam dikolam loh, tak apakan?"
"Heii...,, hentikan omong kosongmu!"
Arumi menatap sang suami,ia tak menyangka hal yang tak diinginkan terjadi. ia pusing dan lelah, tubuhnya tak bisa mengontrol. ia pergi menabrak pundak Sadiya ke kamar dan menutup pintu dengan rapat. Hal yang ingin Arumi lakukan adalah berendam air dengan menyalakan keran untuk memendam kekesalannya.
Gilang menarik paksa Sadiya,"Keluar, jangan pernah kau membuat kekacauan. jika tidak aku akan membuatmu menyesal!"
Sadiya tak patah arang, ia bersembunyi dipunggung Oma Seiyen yang tiba saja datang. ia menceritakan dan membuat alibi jika Arumi membuatnya kesal, sehingga Gilang memarahinya."Stop menjelakan istriku Sadiya!"
Sadiya tersenyum jahat, selama ada dirinya. ia tak ingin dan rela Gilang bersanding bahagia dengan wanita lain."Aku harus ada di posisi itu!" lirih Sadiya.
Sementara Oma mengusap punggungnya dan mengajaknya masuk. tak lama Clara keluar dan Fandi ikut serta menatap dari balik jendela."Aduuh, andai aku punya kuasa seperti Oma. sudah aku usir itu ular keket kepala belut!"
"Haaah, keseut dan licin dong?"ketus Fandi menyambar.
Astaga, asisten menakutkan ini. Kau ini apa tidak ada hal lain, Jangan pernah muncul mengagetkan! Kau saja yang terpesona,mengintip urusan orang dewasa di balik jendela, bukankah tak sopan?balas Fandi.
Clara memutar lidah, mengerakkan ke bagian bibir. menatap Fandi amat kesal, Sudahlah ya. aku malas berdebat dengan Pria Omesh dan Usil sepertimu! Clara pun melangkah meninggalkan Fandi sendiri. tapi ia masih menatap mantan istri Gilang dan Oma itu.
.........
Beberapa jam kemudian, Arumi telah bersandar di dipan kasur, ia melingkap kedua tangan dan menarik selimut. Sementara Gilang merapihkan koper barang dan menyingkarkan milik Sadiya yang lancang ke kamarnya.
Setelah selesai ia memeluk punggung sang istri,"Sayang..., yang dikatakan Sadiya itu semua tak seperti yang kamu bayangkan!"
"Honey, aku lelah.... beristirahatlah!"Alhasil Gilang pun menatap dan memeluk sang istri tidur, ia tak ingin Arumi berfikir jauh. ia tau wajah sembab sang istri saat ini sedih dan menangis, namun ia tutupi untuk menyangkal.
...........
__ADS_1
Pagi hari seperti biasa, Arumi merapihkan Dasi dan Gilang mengecup kebiasaan di pagi hari, Gilang sangat menginginkan lebih sehingga ia memeluk erat sang istri dan membuatnya yang sudah cantik terlihat polos dan mengacak mesra. Arumi hanya bisa menyambutnya, baginya apapun hal yang akan ia hadapi, adalah bertahan dengan apa yang ia miliki selagi ia masih diberikan untuk bernafas.
Beberapa jam kemudian, Arumi mengantar Gilang berangkat untuk ke kantor, sementara Danzel menyumput dibalik punggung sang Mama dan mengenggam tangannya. Terlihat Oma Seiyen menghampiri bersama Sadiya.
Arumi hanya menarik nafas, ketika Gilang telah berangkat pergi bersama Fandi.
"Haaah, apa yang terlihat istimewa pada wanita ini Oma?" Sadiya menyambar menatap Arumi.
"Entahlah, Oma tak tau. sudahlah Oma ingin menyiram tanaman dulu!"
"Mama, dia siapa ?"tanya Danzel. Arumi terdiam untuk mengatakan, nama hal apa yang bagus untuk Sadiya. Apa harus memperkenalkan jika ia pernah jadi istri Dady, owh tidak mungkin kan.
Tak lama Clara datang, menjauhkan Danzel dari Wanita ular berkepala belut. Ka Arumi, jangan mau kalah sama dia ya! bisiknya. ia pun tersenyum akan lontaran Clara yang sama tak menyukai Sadiya. ia pikir akan mendukung.
Arumi masuk kedalam rumah, Tapi kakinya disengkat oleh Sadiya."Hahaaa...,, wanita seperti mu memang harusnya berada dibawah tanah bukan?"
Arumi terdiam, ia terjatuh dan mengelus lututnya yang sakit. ia menatap Sadiya dengan kesal, ia bangun dan bangkit mengabaikan wanita yang pernah ada di hidup suaminya.
"Hah, wanita ular yang berlindung pada Oma!"
"Apa kau bilang, Heii.. sebaiknya kau tinggalkan Gilang. itu perintah!"
Arumi berbalik arah, ia menatap dan mendekat ke wajah Sadiya."Aku tidak takut ancaman, benalu masa lalu yang sudah tak dianggap. kau tidak bisa memerintahku!"
Aku tidak takut kehilangan Gilang, yang aku takut adalah Danzel mempunyai mama sambung sepertimu. Kamu tidaklah penting bagi hati dan Jiwa gilang. pernikahan itu terjadi terpaksa, dan Gilang tak pernah mencintaimu kan. ia hanya patuh rasa baktinya pada Oma.bukankah begitu Sadiya yang cantik jelita?
"Tapi dia pernah mencintaiku!"
"Ya benar, saat perusahaan berkembang. skandal istri adalah yang utama mempengaruhi Klien besar bukan, bukankan berpengaruh perusahaan Gilang gulung tikar jika tidak membungkam skandal anda Nona?"balas Arumi senyum.
Sadiya terdiam tak percaya, ia menatap Arumi tidak seperti dulu yang selalu mengalah dan menangis. Sial wanita ini, hasil didikan siapa. kenapa dia bisa mengancam balikku? lirih Sadiya.
...........
Jam makan siang, Gilang masih belum mendapatkan kabar dari orang suruhan. ia meminta detail mengapa Arumi bisa dekat dengan dokter Faiyus. ia terkenal di beberapa televisi, ia pun mencari berita dari ponselnya.
Tidak mungkin, aku pasti salah menerka. kedekatan Arumi jika bukan ada hubungan spesial. bukan berarti ada hubungan antara pasein dan dokter."Aaaargh.....,, istriku pasti sehat. ia tak mungkin mempunyai penyakit serius."
Gilang berdiri dan menarik jasnya, ada rasa khawatir dan ingin sekali pulang sebentar menemui sang istri. ia segera bergegas dan meminta Fandi menghandle pekerjaan meeting.
"Aduuh, setiap bos selalu seperti itu. seenaknya membatalkan dan meminta handle. Apa yang harus ku lakukan pada Klien?" lirih Fandi.
__ADS_1
Arumi yang telah sampai di kantor sang suami, ia segera mengambil obat didalam tasnya. ia pun meminum air mineral dengan sebotol kecil tumbler yang ia bawa."Aaaarkh..., aku ga boleh lemah. aku harus terlihat sehat!"
Arumi masuk kedalam lift, ia segera memencet tombol lantai dimana ruangan sang suami berada. Tapi dibalik itu, bersimpangan dengan Gilang yang sudah berada dalam parkiran dan menjalankan mobilnya untuk pulang menemui sang istri.
Sampai di sudut ruangan, Arumi hanya mendapati Fandi."Lho, pak Gilang sudah pulang kerumah!" Heuuump..., begitu ya Fandi. baiklah tak apa, biarkan saja. aku menunggu di ruangannya. ia pasti kembali kan?
Fandi pun menghubungi Gilang, tapi sulit untuk tersambung. sehingga ia berinisiatif memberi pesan jika nyonya bos ada di ruangannya kini!
Arumi duduk dikursi kebesaran Gilang, ia memijit keningnya. ia merasakan mual dan sedikit lelah, sehingga ia bersikap tetap elegant bagai orang yang sehat seperti biasanya. Fandi menghampiri dan berkata,"Apa aku bisa membantumu, wajah anda pucat!"
"Tidak apa, aku hanya kurang tidur. aku akan menunggu Gilang disini!" senyum Arumi.Tak berselang lama, sekitar dua puluh menit. Gilang datang, ia menghampiri dan memeluk sang istri.
"Sayang, apa yang kamu ĺakukan. aku baru saja ingin makan siang dan menjemputmu."
"Honey, aku sudah membawakan makanan. tapi aku hanya sedikit lelah, bisakah aku pinjam bahumu sebentar?"
Gilang pun memeluk sang istri, ia meminta Fandi untuk tidak ada yang datang keruangannya. ia meminta Fandi menghandle sisa meeting sore ini."Sayang, bisakah kamu jujur apa yang terjadi. agar aku tak berprasangka buruk padamu?"
"Honey, apapun yang aku lakukan adalah. menjadi ibu dan istri sempurna dimatamu. tapi aku tak apa, aku hanya sedikit lelah. vitamin itu membuat aku selalu mengantuk."
Gilang terdiam, ia mengecek didalam tas sang istri, ia hanya mendapati vitamin yang memang biasanya istri minum."Hanya ada ini, tapi kenapa kamu bisa lelah mengantuk sayang?"
Gilang menaruh kembali obat itu, lalu ia merangkul peluk sang istri dengan kehangatan tubuhnya. Sehingga Gilang pun mengunci ruangannya. ia ikut bersandar dan berpeluk.
Beberapa jam kemudian, Arumi terbangun ia menoleh kearah sudut wajah sang suami yang ikut tertidur, ia meraba wajah sang suami dan mengecupnya. Sehingga membangunkan sang suami. "Maaf, aku merepotkanmu honey!"
Gilang yang ikut bangun sedikit segar, ia bercengkrama dan cerita. tak lama.ia pergi ke toilet untuk sekedar mencuci muka,meninggalkan Arumi yang masih di ruangannya.
"Hei, kamu ikut aku sebentar!"
"Eeekh...,, apa apaan sih. kau ini tak perlu menarik saya seperti ini Sadiya!"
Sadiya menarik paksa Arumi, tasnya berhamburan di ruangan Gilang. ia mengajaknya dan menepi di atap gedung. sore hari yang masih terlihat jelas panas dan cerah.Arumi terdiam menatap Sadiya yang mengeluarkan benda.
"Mau apa kamu?" Arumi menatap, tapi sudut kedua mata sedikit ia tutupi dengan tangannya.
........
Curcol dikit, Kisah bab Arumi yang akan berakhir. akankah Author buatkan kisah anaknya. Danzel dan Kaico. tapi masih di bab ini juga!!
__ADS_1
Bolehkah Author minta dukungan para Readers votenya. 😁atau sedikit tinggalkan jejak.
🌹 **Happy Reading 🌹**