
🍀Tragedi ulang🍀
"Honey, sakit sekali. aku hanya meminum ramuan yang biasa Mama beri. apa aku salah mencampurkan dan dosis herbal?"
"Sayang. kamu tidak bersabar. harusnya tak perlu dilakukan. bersabarlah dokter segera datang!"
Mama Retna tiba datang. ia memeluk sang anak. Danzel memeluk Dady Gilang. saat ia menatap khawatir di wajah terlihat nampak jelas.
"Dady. ada apa. Mama pasti sembuh baik baik saja kan?" tanya Danzel.
"Danzel sayang. Dady akan memastikan Mama akan baik baik saja, tenanglah bersama Oma Retna ya!" Heuumph...,, Danzel memeluk sang nenek kala itu.
Gilang yang telah mendorong sang istri keruang UGD. terlihat dokter Amir dan Dokter Erland yang telah malam menangani saat itu.Gilang masih memikirkan perasaan yang tidak pasti. ia hanya berharap sang istri akan baik baik saja. Satu jam tak ada pergerakan ia berlari menuju surau dan mengambil air suci. setelah selesai ia meminta pada semesta.
"Aku berharap sakitnya di hilangkan,sembuhkan semestinya ia menjadi wanita yang sempurna dan utuh kembali untuk hidupku kelak."
Arumi jika kamu sembuh, aku tak akan pernah menyiakan, mengabaikan dan berpaling sedetikpun. Sungguh aku amat sakit melihat mu seperti ini. Dalam hitungan bulan saja aku menemanimu. rasa sakitmu yang tak tertahan membuat dadaku amat sesak.
"Apa yang harus aku lakukan, andai sakitmu dapat berpindah padaku, apa mungkin aku bisa merasakan kehangatan dan hidup lebih lama bersamamu sayang?"
Gilang duduk termenung, mata yang sembab merah. Pria yang tak bisa menahan rasa sedih meski ia sembunyikan. ia menutup kedua matanya dengan jari kokohnya dan menyilangkan kaki menunduk dan bersandar pada tembok putih.
"Maafkan Dady Danzel. Dady akan pasrah dan berusaha ikhlas jika terjadi sesuatu yang buruk. hanya keajaiban yang bisa mengubah kehidupan kita kedepannya."
Dokter Erland menatap Dokter Amir. ia menggelengkan kepala dan memintanya keluar. terjadi perdebatan tindakan selanjutnya pada Dokter Amir. tapi dokter Erland meminta hal yang tersulit di masa kritis. "Saya mohon. ini ketentuan medis. bicaralah pada keluarga pasein. Kami sudah melakukan terbaik untuk membantu pasein!"
"Maksud anda Dok. Nyonya Arumi telah..." Dokter Amir mengangguk. dan melepas segala ikatan sarung tangan dan meletakkan alat medis lainnya. lalu perlahan keluar dan di ikuti para suster. Sementara dokter Erland harus berhenti dan lemas menuju keluarga pasein.
"Tidak mungkin. Anda pasti berbohong kan dok. istri saya tidak mungkin telah tiada!"
KATAKAN SEKALI LAGI ARUMI MASIH BISA DI SELAMATKAN KAN ?
DOKTER.... KATAKAN JANGAN DIAM !!
saya mohon. selamatkan istri saya. nada Gilang naik satu oktaf berteriak dan kembali turun lemas. Air mata tumpah begitu saja dan ia berteriak keras di depan pintu ruang UGD.
__ADS_1
Aaaaaaakh.. tidaaaaaak !!!
Bruuuugh.. pintu diterobos, ia menatap ruangan itu. Lalu menatap tubuh sang istri telah di tutupi kain putih.
Gilang memeluk dan menggoyangkan tubuh Arumi. ia tak bisa menahan rasa kecewa dan kesedihan tak tertahan.
"Tidaaaaak...!" teriakan Gilang. ia terkejut dengan deru nafas yang tak beraturan. ia menatap seisi ruangan ternyata. ia tertidur dan bermimpi di ruang surau sendirian.
Astaga ini sudah hampir pagi, bagaimana mungkin aku tertidur ? Gilang segera berlari kecil menuju ruangan di mana sang istri di rawat. tapi satu titik ia menatap ruangan yang nyata mirip akan keberadaan di mimpi. bagai dejavu hal itu nyata, kisah mimpinya beberapa saat kini terlihat di hadapannya.
"Tidak, ini pasti tidak mungkinkan?" lirih Gilang. ia berjalan cepat menuju suatu ruangan. terlihat dokter Erland yang berbicara serius pada Mama Mertuanya kala itu.
...........
Oma Seiyen, Clara dan Fandi dalam perjalanan ke penang. ia terkejut akan kabar kondisi Arumi. didalam pesawat tanpa di duga Sadiya memang pergi ke penang juga ingin bertemu seseorang. ia melirik bangku pesawat dan terkejut akan hal yang tak bisa dipungkiri untuk mencari alasan.
"Oma Seiyen, loh Clara dan si Kacu.. "Mmmh hampir aja kelepasan. batin Sadiya. untung saja suaranya kecil sehingga Oma tak mendengar.
Lho Sadiya. kamu di pesawat ini juga? Clara melirik sebal. "Why.. astaga wanita sihir ini. kenapa selalu ada. sudah penat ia lelah akan perihal di kantor. kini bisa bisanya ia muncul kembali.
Oma Seiyen pun mengangguk. ia terkejut akan berita Arumi kini. ia memikirkan nasib Danzel dan hancur sedihnya hati Gilang kini. Selama ini ia bersalah dan banyak bersalah akan sikapnya pada Arumi. serta selalu menekan Gilang selalu dengan kemauannya.
"Apa yang harus Oma lakukan Arumi. andai sakit itu pada Oma. mungkin aku ikhlas akan umurku yang tak lagi muda." batin Seiyen.
"Hiih, nenek tua ini. kenapa jadi seribu kali cepat amat baik. sikapnya pada Arumi sangat khawatir. andai saja anda masih mendukung saya untuk merebut Gilang. Aaakh.. nenek tua kau akan menyesal telah memihak Arumi. sama seperti bocah ingusan dan si Kacung itu!"Lirik sebal Sadiya.
.
.
.
"Apa dokter, jadi sudah ada pendonor yang cocok. operasi akan berjalan?"
Gilang terkejut. akan mimpinya yang berbalik. meski ada kemungkinan sembuh bagi sang istri tetap saja ia khawatir jika Operasi gagal dan Arumi akan dinyatakan Tiada.
__ADS_1
"Ya. Tuan Gilang mohon tandatangani. meski operasi berjalan lancar. masih banyak proses yang akan dilanjuti. berdoa lah agar sang istri diberi keajaiban, kesembuhan sempurna. kami selaku dokter hanya bisa memberikan dan menyelamatkan sebaik mungkin, semampu kami. tentu saja semua tergantung campur tangan ilahi." tutur dokter Amir.
Gilang tersenyum, ia segera membereskan berkas untuk sang istri beberapa hari menjalani operasi. ia meminta Mama Retna dan Danzel pulang. ia mengantarnya lalu kembali kerumah sakit menemani sang istri yang masih dalam kritis dan belum stabil.
"Dady. kabari Danzel ya, besok Danzel boleh jenguk mama lagi kan?"
"Tentu sayang. Dady janji!"
Danzel memeluk sang mama, ia mencium pipi sang mama dan erat memeluk kembali. "Mama sembuhlah, berjuanglah untuk Danzel dan Dady. kami semua menunggu mama sembuh seperti sebelumnya!"
Tak terasa Gilang ikut memeluk sang anak, dan mencium jemari sang istri. "Arumi, aku menunggumu. jika kau tak kembali apa aku harus menyusulmu. tapi akan ada yang terluka dan membekas di hati putra kita!" lirih Gilang.
Seperginya Gilang, Danzel dan Mama Retna keluar dari ruangan privasi yang tak sembarang masuk kedalam ruangan. tak terasa tangan Arumi bergerak dan meneteskan airmata.sementara Mama Retna hanya bisa menatap dari jendela saat Danzel dan Gilang masuk menemui Arumi yang terbaring diranjang rumah sakit vvip dan ketat itu. sehingga Mama Retna tak menyadari jika Arumi memulai tanda siuman. Dengan menggerakan jarinya dan meneteskan air mata.
"Danzel, peluk Dady. tidurlah sayang. jangan nakal!" Danzel mengangguk dan menggandeng sang nenek masuk kedalam rumah.
Sementara Gilang melaju cepat menuju rumah sakit. ia menempelkan earphone dan melaju dengan kecepatan amat tinggi. tak terasa ia ingin segera sampai dan melihat apa yang terjadi pada sang istri. Ketika menerima panggilan dari pihak rumah sakit agar cepat datang.
Striiith... sebuah cahaya. Gilang segera membelok dan menerobos palang pintu pabrik. ia terhenti di satu titik dan tak sadarkan diri.
Bruuuugh... Asap pun mulai berhembus. sebuah Asap putih melekat pada sebuah mobil Gilang. di hari dan waktu tak banyak orang yang sadar dan kondisi yang amat sepi.
"Erland. aku ingin bicara padamu. bisa sebentar kita mengobrol!"
Apa yang terjadi pada Gilang. dan Apa yang terjadi pada Sadiya ..?
Terimakasih sudah mengikuti kisah jalan Arumi.
Author berterimakasih akan antusias kalian yang mengikuti. sudah di bab akhir penghujung tetap setia Ya.
Endingnya apa akan Sad atau Happy. tunggu terus Ya !!
🌹Happy Reading 🌹
__ADS_1