Dady Danzel

Dady Danzel
Bonchap 2


__ADS_3

🍀Pengobatan sempurna 🍀


Nak, jangan berlari sayang. "Bibi, cepat kejar Danzel!" titah Arumi di ikuti Gilang. sementara Arumi terdiam ia lemah tak bisa mengejar.


"Sayang, jangan paksa mengejar Danzel. aku akan menggendongmu. Putra kita akan baik baik saja!" Arumi menurut karna lemah.


Maaf pak Tahyo. kami permisi tak bisa berlama, jika ada hal urusan lain. kita pasti bisa berjumpa dilain waktu!"


Tapi Gil, aku sudah datang. kamu mau kemana?" tambah Sadiya mencoba mengejar langkah Gilang.


Pak Tahyo pun membatasi putrinya,"Cukup. jangan kejar Gilang. apa kau sudah puas bermain dia sudah bukan milikmu. kenapa masih bersikeras tak mau papa jodohkan dengan Erland!"


Erland, tapi disaat Arumi tak berdaya aku mungkin bisa memanfaatkannya. Lalu aku bisa membujuk Oma. batin Sadiya. Pak Tahyo segera membawa putrinya untuk pulang. ia lelah akan tingkah kekanak kanakan Sadiya.


Jika dipikir setelah lama, putrinya ditinggalkan sang mama. ia selalu mencari perhatian dan kemauan yang sudah ia suka tak bisa untuk dipisahkan dan rela begitu saja dibiarkan.


"No, Mama. aku tak mau bertemu Aunty sihir lagi!"


Danzel sayang, mama tidak mengajarkanmu seperti itu nak, memang Aunty Sadiya pernah berbuat sesuatu nak? Danzel terdiam, ia hanya memikrikan perkataan Aunty itu saat ia ingin masuk ke kamar setelah meminum susu di dapur. ia bicara pada Aunty Clara dan memberi telunjuk. itu aku tak suka!


"Danzel, kenapa kok diam?" tanya Mama.


"No, hanya tidak suka. Danzel mau tidur bolehkan?" Arumi mengangguk dan membelai kepala sang anak dipangkuannya. Sementara Gilang menyetir dan menatap penuh keanehan di raut wajah sang anak.


"Cla, sepagi ini kamu sudah bersiap?" tanya Oma.


"Haah.. ya Oma. tak apa, Cla bisa sendiri kok. tenang kuliah dan kantor Clara pasti bisa bereskan meski Cla hanya wanita bukan?"


Fandi menatap aneh. Apa dunia sudah berbalik. tidak seperti biasanya, Wanita ceroboh ini sepagi ini sudah bersemangat. Jangan bilang dikantor ia harus memberikan tumpukan kertas dan berkas keruanganku. Huuuuft.. Fandi menarik nafas. Karna kebiasaan Clara tidak fokus bersungguh sungguh, bagaimana bisa aku harus report, laporan jika itu bukan Gilang. Apa aku tetap bisa mengembangkan tanpa keberadaan Gilang? batin Fandi mendengus nafas.


Gilang yang sedang berdiri dibalik jendela kamar. ia langsung menutup ponsel lipatnya. Lalu berfikir yang terbaik untuk kesembuhan sang istri.


"Sayang, aku akan ke kantor pagi ini. tunggu sampai aku dirumah. ingat butuh apapun hubungi aku!" Honey.. ada bibi dan bibi inah jaga aku, Danzel putra kita juga selalu siaga sepertimu. balas Arumi.


.......

__ADS_1


Jadi benarkah dugaaan Clara ka, kalau ka Sadiya mau memanfaatkan perusahaan ka Gilang. Sekarang ini ka Sadiya sedang berada diresto sama Oma.


"Jadi apa yang harus kaka lakukan Cla?" tanya Gilang.


"Kaka ini, bisa tidak kaka urus selanjutnya. Cla sudah bantu sebelum wanita licik itu berulah lebih jauh. Satu hal pasti dia lakukan karna belum move on dari kebahagian ka Gilang kini."


Fandi terdiam, ia bingung untuk berpihak dimana. Bahkan ia tidak bisa memahami isi perasaan wanita terlebih menyangkut Sadiya adalah mantan istri dari Gilang sang pewaris tertua.


"Fandi, menurutmu langkah apa yang harus dilakukan. ini tugasmu dan Cla kelak!"


"Apa.. aku Gil, tunggu!" Fandi menatap Clara.Clara hanya menggeretag senyum kebingungan menatap Fandi dan berkata.


"Ka Fandi jangan marah, mungkin ka Gilang pikirannya sedang bercabang. dia tidak mungkin seperti itu, pasti memikirkan Ka Arumi penerbangan nanti malam ke penang, ia kan?"


Seperginya Clara pamit. Fandi menutupi wajahnya dengan map. ia bingung harus berbuat apa melawan Sadiya, Cla tunggu ka Fandi, kamu juga harus bantu bicara sama Oma! Heii.. wanita manja, ceroboh.Tunggu..!!


.....


"Begitulah, Oma harap kamu tidak perlu bersusah merebut hati Gilang. Oma lelah, dia sudah banyak berkorban dari sejak belia meneruskan perusahaan ini. tapi Oma tak ingin membuat Gilang membenci Oma, hentikanlah !"


Oma Seiyen berdiri pamit. ia tak bisa lagi mencampuri soal hati, yang perlu dipikirkan bagaimana Clara harus fokus pada perusahaan agar Klien tak kecewa. apa dia harus menikah dengan pacarnya itu, untuk membantu mengelola. bagaimanapun pria lebih efisien untuk mengelola, Clara si manja ini tak bisa di andalkan.


"Oma, gimana bisakah?" tanya kembali Sadiya.


"Pulanglah, Oma akan pikirkan kembali agar kamu bisa membantu perusahaan selama Gilang tak ada. tapi untuk hati Oma rasa kamu harus berhenti Sadiya!"


Sadiya tersenyum paksa, ia kesal akan nenek tua ini sudah tak mendukungnya. Dasar jalang kau Arumi, kau beri obat apa, semua menyukaimu. Oma yang dulu membencimu kenapa sekarang 90º berubah drastis baik. apa kau mencuri hati oma karna penyakitmu, tunggu aku Arumi akan aku balas. aku pastikan kamu mati dalam kesedihan dan kekecewaan melihat Gilang kelak bersamaku lagi nanti!


Sore itu Arumi pamit, selama seminggu lebih Gilang mempersiapkan pengurusan rujukan rumah sakit ke penang. ia harus segera menyiapkan segala hal kediaman dan kebutuhan selama tinggal. ia memboyong Danzel dan dua babysister untuk menjaga putra dan istrinya ikut bersamanya.


"Oma, Arumi minta maaf segala hal. maaf tak bisa menjadi menantu yang Oma harapkan!"


"Arumi sayang, semua salah Oma. semangatlah agar sembuh. meski 40% itu hanya istilah medis. Oma yakin kamu pasti sembuh sayang."


Arumi, Gilang dan Danzel pamit. memeluk saling menyentuh penuh haru. Clara memeluk Danzel yang sudah selalu seperti lem dan kertas. "Bagaimana bisa Aunty harus berjauhan dengan pangeran Aunty. huhuuu?" Danzel mengusap dan memeluk Clara. Oma yang berat ditinggalkan. lalu menguatkan agar mereka tetap jaga kesehatan.

__ADS_1


"Danzel akan selalu kabarkan Oma dan Aunty setiap detik. Danzel mau beri Mama semangat. Uncle Fandi jaga Oma dan Aunty ya!"


"Ooowh.. Siap Bos besar!" senyum Fandi.


.


.


.


Beberapa hari kemudian, Arumi telah berada dikursi roda. Danzel berada disampingnya memegang erat sang Mama. Sementara Gilang sedang mempersiapkan pengobatan dan operasi untuk Arumi.


"Honey, kita menunggu siapa lagi?"


"Sayang, kejutan sebentar lagi. lihatlah siapa yang datang?"


Arumi menatap arah gerbang, ia tersenyum dan memeluk erat tangan sang suami. menciuminya dan berterimakasih. Honey terimakasih sudah membawa mamaku.


"Sayang, kehadiran Mama Retna, adalah mama mertuaku. sama seperti mamaku juga. Ada baiknya kita tinggal bersama hidup baru disini, kamu fokus pada pengobatan dan semangat. aku bisa membuka cabang baru disini, selagi perusahaan masih bisa report online.


"Tapi Honey?" tanya Arumi.


"Sayang, sambut mama. suamimu ini tidak keluar dari perusahaan. suamimu ini akan tetap bekerja sambil merawat istri tersayang!" Gilamg mencubit manja pipi sang istri, yang kala itu merona seperti tomat.


Arumi tersenyum haru, ia memeluk Mama Retna. "Mama, terimakasih sudah datang. Mii rindu sekali."


"Mama, tidak akan pergi meninggalkanmu. Mama bersyukur suamimu memanggil dan menghadirkan, memberi kesempatan untuk menemani putri semata wayang mama, dan Cucu mama yang handsome ini!" Terlebih Seiyen telah memaafkan masalah lalu. kini kami telah berdamai. batin mama Retna.


Tinggalkan disini aja Ma, biar bibi bawa kopernya. Kita langsung kerumah sakit ya!! titah Gilang. setelah menyapa dan sungkem pada mama mertua.


.......


Masih pada semangat menunggu kan, maafkan update yang mencla mencle ga tiap hari. tetap tunggu kelanjutannya ya. senangnya udah bisa kejar tulis bab lagi, kemarin tuh udah mau up tapi Aku masih sering ketiduran efek obat hahaaa.. untung belum ke kirim. kalau enggak bisa banyak Typo 😁.


🌹Happy Reading 🌹

__ADS_1


__ADS_2