
Sky menatap putrinya yang masih betah memejamkan kedua matanya. Padahal siapa tadi yang paling bersemangat mengajak ke pantai, tapi lihat lah. Sekarang putri nya bahkan masih tertidur nyenyak tanpa sedikitpun terusik.
"Princess, hei... Ayo bangun, kita kemari untuk bermain di pantai bukan untuk menjadikan mu putri tidur." Sky menggelitik pelan perut putri nya hingga Lizzie mulai terganggu dan bangun.
"Paman... aku masih ngantuk.." celotehan sambil menguap lebar.
"Kau sama persis seperti ibumu, jika sudah tidur, akan sangat susah bangun " Sky menciumi wajah Lizzie dengan gemas.
"Geli daddyyy. hihihi... aku gelii.." Sky menghentikan aktivitas nya lalu menatap Lizzie penuh selidik. Membuat gadis itu salah tingkah.
"Aku akan mandi, paman" namun tangan kekar Sky menahannya.
"Katakan sekali lagi, Lizzie Velasquez. Tadi kurang jelas" Sky trus menatap wajah sang anak yang menunduk takut.
"Dengar sweetie, tidak ada yang akan memarahi mu. Katakan jika kau mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui?" Sky mulai bertanya dengan wajah serius, dia berharap Lizzie nya tidak mewarisi apa yang paling dia takut kan.
Gadis kecil itu menatap Sky dengan seksama, seolah memindai wajah Sky dengan caranya.
"Kenapa daddy membiarkan orang-orang jahat itu mengubah wajah daddy?"
Degh!
Jantung Sky hampir saja melompat keluar dari dadanya, apa yang dia takutkan telah menjadi kenyataan. Matanya memindai pintu penghubung lalu bergegas menutup nya.
"Katakan berapa banyak yang kau ketahui, Lizzie?" wajah Sky terlihat pucat dan ketakutan.
"Semuanya, daddy" ujar gadis itu sepelan mungkin. Sky menarik nafasnya berkali-kali, pikiran nya kacau.
"Sebanyak apa? katakan pada daddy" tuntut Sky menatap dalam manik putri nya.
"Saat aku berusia satu tahun, aku bisa melihat segalanya hanya dengan sebuah sentuhan. Sampai sekarang, dan saat daddy menyentuh ku. Aku melihat segala hal yang daddy alami, aku tau kau daddy ku. Untuk itu aku ingin dekat denganmu, dad. Mom sangat menderita selama ini, dia selalu menangis diam-diam jika merindukan mu. Jangan pergi lagi, mereka akan memisahkan kita lagi nanti, lagi pula mom akan memberikan aku 2 orang adik setelah ini. Laki-laki dan perempuan." Lizzie berujar panjang lebar membuat Sky terperangah. Lalu menatap putri meminta penjelasan.
"Mommy akan punya dua bayi, dad. Tunggu saja, dan lihat. Mom akan menjadi sangat galak pada kit nanti," jelas Lizzie cekikikan.
Hati Sky menghangat, benar kah mereka akan punya anak lagi. Kembar? mungkin kah Lizzie bisa merasakan, jika orang tua nya baru saja habis bersatu melepas kerinduan. Sky mencium pucuk kepala putrinya bertubi-tubi.
__ADS_1
"Maaf, daddy tidak ada saat kalian membutuhkan" sesal Sky merasa bersalah.
"Jangan katakan apapun pada mom, apa yang bisa kau lihat. Jangan membuat nya hidup dalam ketakutan, kau bisa menjanjikan itu pada daddy, sweetie?" Lizzie menautkan jari kelingking nya pada sang ayah.
"Lizzie janji, dad" Sky tersenyum senang. 3 tahun adalah usia yang labil untuk anak seusia itu. Namun putri nya sungguh berbeda, dia bersyukur namun juga takut dalam waktu bersamaan.
Klek
"Apa yang sedang kalian bahas" ujar Cloey menatap jari keduanya yang masih bertaut, buru-buru Sky dan Lizzie melepaskan nya.
"Tidak ada mom, aku janji untuk tidak nakal dan tidak bermain terlalu jauh dari tepi pantai." Sky mengerling matanya memuji pikiran tanggap anaknya.
"Kemarilah sayang, aku sudah mengatakan nya pada Lizzie. Dan lihat, putri kita ini sangat cerdas. Dia menerima ku tanpa drama." Sky terkekeh kecil.
"Ayo mommy mandikan" ajak Cloey namun anak itu menolak.
"Aku mandi sama daddy saja, daddy kan belum mandi" Sky dan Cloey saling menatap lalau tersenyum geli.
"Baiklah princess, ayo kita mandi" Sky menggendong putri nya menuju kamar mandi, sementara Cloey menyiapkan pakaian keduanya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Kau yakin, jika wanita itu masih hidup?"
"Yakin tuan, orang suruhan ku melihat nya beberapa Minggu lalu berada di kota ini."
"Lenyap kan, hingga tak berbekas. Jangan ulangi keteledoran yang sama, atau keluarga mu yang jadi taruhan nya."
"Baik tuan, kali ini orang-orang ku tidak akan mengulangi kesalahan lagi."
"Pergilah, bayaran mu akan di urus oleh Andrew."
"Baik, permisi tuan"
Setelah kepergian pria tadi, Greg berdiri di hadapan jendela kaca besar di ruangan nya. Tatapan nya kosong, sesekali asap rokok mengepul disekitar wajahnya.
__ADS_1
Pikiran nya berkelana jauh, beban di pundak nya yang dia sangka akan sedikit berkurang dengan kesembuhan putranya. Kini hanya lah harapan kosong semata. Nyatanya, tanggung jawab nya tetap lah sama beratnya. Bahkan bisa jadi lebih berat dari sebelumnya.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Greg menghela nafas panjang melihat siapa yang menghubungi nya. Sungguh waktu yang tidak tepat.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Ash... ayo cepat lah... jam pelajaran akan di mulai kurang dari 10 menit lagi" Aslan mendesak Ashley dengan tidak sabar. Keduanya sedang berada di parkiran sekolah, tepatnya di dalam mobil Aslan.
"Jika kau tidak sabar, maka suruh kobramu itu menunduk diam." Ashley sangat tidak suka di desak, wanita itu menarik ce*la*na dal*am nya hinggga keluar dari satu kakinya.
Aslan yang melihat itu segera menarik Ashley ke atas pangkuan nya, dengan sigap pria mengarah kobranya ke liang lembab Ashley.
Pergulatan panas pun terjadi di dalam mobil tersebut, Aslan adalah pria hyper. Dan Ashley selalu bisa mengimbangi nya. Mereka memulai hubungan sejak kelas 2 menengah atas. Dan mulai menggeluti se*ks pra nikah sejak naik kelas 3. Meski begitu, Aslan bukanlah pria brengsek, dia begitu mencintai Ashley meski dia tau caranya salah.
Sejak mulai SMA, Aslan bisa merasakan bagaimana tersiksa dia menahan gejolak hasrat, saat ada pemicunya.
Pria itu mulai melakukan mas*tur*basi sejak saat itu, walau sudah setahun pacaran dengan Ashley, Aslan selalu menahan diri. Hingga akhirnya Ashley tau kebiasaan buruk nya , Aslan malu dan mulai menjauhi Ashley walau hati nya tak rela.
Ashley tak terima, Aslan mendapatkan beberapa pukulan keras dari wanita yang jago beladiri itu. Dan atas permintaan Ashley pula, Aslan berani menyentuh anak gadis keluarga Belluwig itu. Meski dia tau, nyawanya juga keluarga nya adalah taruhannya. Namun sifat keras Ashley mampu mengalahkan rasa takut Aslan, hingga hubungan mereka sampai sejauh ini.
"Ouchh babyy... yaa seperti itu..aku.. menyukai nya.." Aslan memejamkan matanya menikmati goyangan sang kekasih.
"I'm coming.. Uuuhh yeaahh.. **** you... hah hah hahh.." nafas Ashley tak beraturan dadanya naik turun, Aslan menyeringai, setelah memberi jeda pada kekasih nya. Aslan menyuruh pindah ke kursi belakang, dalam posisi membelakangi Aslan mulai memasuki Ashley.
Hentakan Aslan semakin kuat, pria itu meremat dada Ashley dengan kuat lalu tak lama tubuhnya menegang. Aslan kembali menumpahkan cairan nya di dalam rahim kekasihnya. Dia sengaja, selama satu Minggu ini mereka bercinta, dia tidak menggunakan pengaman. Dia menginginkan seorang bayi, dia tidak ingin kehilangan Ashley. Dengan adanya anak, dia berharap, Edgar Belluwig akan merestui hubungan mereka.
"Lagi? kau melakukan nya lagi, apa kau gila!" Ashley bukanlah tipe wanita baperan, bahkan saat sedang bercinta saja, wanita itu bisa mengumpat Aslan. Itulah yang membuat Aslan sangat mencintai nya.
Aslan hanya terkekeh lalu menarik Ashley dalam pelukannya, keduanya masih dalam keadaan naked.
"Aku ingin punya bayi, kita sebentar lagi lulus. Aku sudah menabung banyak uang dan berinvestasi selama 2 tahun ini. Jika ayahmu masih tak merestui kita, mau kah kau kawin lari denganku. Aku tidak akan membiarkan mu bekerja keras dan kesusahan saat bersama ku. Aku akan menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk mu dan anak-anak kita kelak." Aslan menatap Ashley dengan penuh harapan.
"Kita lihat saja nanti, kita masih satu bulan lagi lulus. Nanti saja kita bahas, sekarang bersihkan milikku, aku lelah, kita harus kembali ke kelas sekarang." Jawaban ambigu Ashley tidak membuat Aslan tenang, namun benar masih satu bulan lagi. Dia harus bersabar. Aslan mengambil tisu dan mulai membersihkan area basah milik Ashley dengan telaten, selalu seperti itu. Dia yang akan membersihkan nya jika mereka selesai bermain, dia tidak keberatan sama sekali.
__ADS_1
Bagi nya, menjadi pria bertanggung jawab, bisa di mulai dari hal kecil. Salah satu contoh, seperti yang dia lakukan sekarang. Dia tidak merasa terhina, kehormatan seorang laki-laki terletak bagaiamana seorang pria bisa memperlakukan wanita nya seperti ratu. Bahkan disaat mereka hanya punya segenggam beras untuk di masak, dan sepotong kecil lauk untuk di bagi bersama.