
Ale menyelinap masuk ke dalam kamar Lizzie melalui pintu penghubung rahasia di balik lemari. Seringai licik dia tampil kan saat melihat Lizzie tengah tertidur pulas sambil memeluk guling.
Ale berjalan perlahan menuju ranjang, hal pertama yang akan dia lakukan adalah membuat gadis itu takut dan tunduk padanya. Tentu saja dengan sedikit ancaman dari seorang pria dewasa, kepada seorang wanita.
Saat Ale mulai merangkak naik ke atas ranjang menuju tubuh Lizzie, gerakan nya menimbulkan gelombang gerakan di kasur. Sejenak Ale bertahan dalam posisi nya, belum saat nya gadis itu terbangun. Lenguhan Lizzie membuat hal lain di diri nya bangun tanpa di minta. Ale merutuki milik nya yang sangat mudah tergoda, gadis itu pasti akan mentertawai nya jika tau.
Ale kembali melanjutkan gerakan nya, kini posisi tubuhnya tengah berada tepat di atas tubuh Lizzie. Ale menatap wajah yang tengah tertidur lelap, cantik. Satu kata yang selalu menggangu pikiran nya selama dua Minggu ini.
Namun gadis itu juga sangat menyebal kan, dan dia harus memberikan nya sedikit pelajaran berharga.
Wajah Ale semakin mendekat, tujuan utama nya adalah bibir berbisa milik Lizzie. Sepersekian detik kemudian.
Klik
Mata Ale hampir melompat keluar, saat melihat selongsong mengarah tepat ke kening nya. Susah payah pria otak mesum itu menelan ludah nya.
"Bisa kah kau tidak bermain -main dengan benda mengerikan ini? kau itu perempuan, jadi bersikap lah seperti seorang wanita. Kenapa jadi seperti preman jalanan " sungut Ale berusaha menetralkan ketakutan nya. Perlahan Ale menjauh kan tubuh nya dari atas tubuh Lizzie. Setelah berguling ke samping, Ale menghirup udara sebanyak banyaknya. Mendadak susana kamar Lizzie terasa seperti neraka untuk nya. Panas dan mencekam.
Lizzie mendudukkan tubuh lalu bersandar, ekor mata nya melirik ke arah Ale yang terlihat susah payah mengatur jalan nafas nya.
"Kalau kau ingin menggerayangi tubuh ku, kau harus punya banyak stok nyawa, tuan Alessandro yang terhormat." Lizzie kemudian beranjak menuju kamar mandi. Tak dapat di pungkiri, sentuhan lembut telapak tangan Ale mempengaruhi kinerja jantung nya. Dia wanita dewasa, jelas hasrat murni nya yang belum pernah tersentuh, mudah terpancing.
Setelah membasuh wajah nya, Lizzie menatap pantulan wajah nya di cermin. Benar, diri nya memang cantik, itu karena dia adalah putri ibu nya yang sangat cantik dan baik hati.
Ale menatap gelisah pintu kamar mandi yang tidak kunjung terbuka. Hati nya kesal namun juga khawatir. Niat hati ingin mengerjai gadis bar-bar itu, malah terjebak oleh akhlak mines nya sendiri.
Klek
Ale melempar kan tatapan maut nya, namun saat melihat wajah datar Lizzie yang tak berekspresi apa pun. Niat nya berubah, tadi nya dia akan berusaha memberikan pembelaan atas tindakan kurang akhlak nya. Namun wajah tak bersahabat Lizzie, membuat nya bungkam.
"Ku pikir kau sudah keluar dari kamar ku." Sarkas Lizzie tanpa menatap lawan bicara nya. "Apa aku begitu menarik perhatian mu, tuan muda Alessandro ?" lanjut Lizzie melirik melalui kaca nakas nya.
__ADS_1
"Cih! kau terlalu percaya diri nona!" Decih Ale menyangkal. Apa lagi yang bisa dia lakukan untuk menyelamat kan harga diri nya, sebelum di buat terkapar tak berdaya oleh mulut pedas gadis bar-bar itu.
Lizzie tersenyum miring, sangkalan yang menyedih kan, "ku pikir kau tertarik dengan ukuran dada ku yang mengganggu penglihatan mu" ujar Lizzie tersenyum puas, saat melihat raut pias di wajah Ale.
Ale merasa kan hawa-hawa akan terintimidasi oleh keadaan, berusaha terlihat tenang dengan gaya nya yang di buat se cool mungkin.
"Ck! kau ini terlalu berlebihan nona, aku sudah pernah melihat juga menikmati yang jauh lebih menantang dari ukuran mu itu. Lagi pula aku tidak tertarik dengan mu" ujar Ale kesal, kesal karena tuduhan asal Lizzie tepat sasaran.
"Kalau begitu keluar lah, aku masih mengantuk. aku khawatir kau khilaf melihat dada kecil ku, bisa saja kau memperkosa ku nanti." Ujar Lizzie sarkastis.
Ale melotot jengkel, dasar wanita ini. Mulut nya sama sekali tidak bisa di kondisi kan. Tak ingin otak mesum nya berkelana jauh, Ale memilih keluar dari sarang maut tersebut. Bisa-bisa besok pagi diri nya masuk berita pagi, karena benar-benar memperkosa gadis bar-bar itu.
Lizzie tersenyum puas saat mendengar suara dentuman keras pintu kamar nya. Sangat suka saat melihat wajah kesal pria menyebalkan itu. Dia akan membuat pria minim akhlak itu semakin terjerat oleh pesona nya, berikut nya akan mudah memuncul kan keraguan di hati Ale, bila saat sudah tiba.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Baby? apa kau yakin dengan keputusan mu? mengirim Alex dan Morgan?" Pertanyaan berulang tersebut membuat telinga Ashley gatal.
"Aku kan hanya memastikan, kenapa selalu mengancam ku begitu." Gerutu Aslan kembali mengunyah sarapan nya dengan kasar.
Alex dan Morgan melirik sang ayah dengan tatapan iba. Sementara si bungsu Leegan, hanya fokus pada sarapan nya sendiri tanpa peduli pada nasib malang sang ayah.
Ashley duduk di samping sang suami dengan membawa satu gelas susu untuk putra bungsunya.
"Mom, aku sudah SMP. Bisa kah aku tidak meminum susu bayi lagi?" keluh Leegan memelas. Namun tatapan tak ingin di bantah sang ibu membuat nyalinya lenyap seketika.
"Apa semua perbekalan kalian sudah siap?" pertanyaan tanpa basa basi Ashley di jawab segera oleh si sulung, Alex.
"Sudah mom. Sudah ku persiap kan semua sejak beberapa hari yang lalu, juga pesanan mu." Tukas Alex terus mengunyah makanan nya. Tidak ada manner di larang berbicara saat makan, satu-satunya aturan di rumah itu adalah, jangan pernah menyia-nyiakan makanan mu. Artinya, ambil makanan secukupnya, karena tidak ada toleransi jika menyisa makanan.
"Baiklah, Morgan turuti apa perkataan kakak mu. Berhati-hatilah pada...."
__ADS_1
"Para wanita, karena mereka bisa sangat berbisa. Aku paham mom, aku ingat semuanya." Potong Morgan cepat. Entah dari mana bibit playboy yang di warisi oleh Morgan. Pria itu selalu tebar pesona di mana pun dirinya berada. Berbeda dengan si kulkas lima pintu, Alex. Pria dingin dan jutek seperti perempuan itu selalu bersikap menyebalkan pada para wanita yang mendekati nya.
"Kau semakin cerdas" puji sang ibu dengan wajah datar. Morgan memutar bola matanya, ibu nya ini tidak bisakah memuji dengan sedikit saja senyuman. Untung sayang, kalau tidak sudah dia tenggelam kan di kolam ikan sang ayah.
"Habis kan susu mu Leegan, kau butuh nutrisi untuk tumbuh sempurna. Lagi pula susu tidak datang sendiri ke dapur mom tanpa di beli terlebih dahulu." Titah Ashley penuh peringatan. Untung anak-anak itu sudah kebal akan sikap dingin nya, sehingga tidak satu pun pernah protes akan hal itu.
"Baik mom, aku akan mencicil nya sedikit-sedikit." Ucap Leegan memamerkan gigi putih nya. Benar saja, Leegan meminum susunya seperti sedang meminum racun serangga. Satu gelas penuh, bahkan belum ada seperempat nya dia minum.
"Ck! seperti mencicil hutang saja, lagi pula hanya susu, kenapa susah sekali di habis kan." Oceh Aslan tanpa tau, apa saja bahan racikan yang terkandung dalam susu anak-anak nya selama ini. Alex dan Morgan saling melempar pandangan, keduanya sudah lulus uji nyali tersebut. Dan kini si bungsu yang masih melanjutkan penderitaan berat hingga usia 17 tahun, dan itu masih 1 tahun lagi.
"Habis kan sarapan mu, dad. Bukankah kau ada janji temu dengan seorang klien ?" tukas Ashley mengingat kan sang suami, yang memiliki penyakit pelupa yang cukup akut.
"Ah, kau benar baby. Bagaimana bisa aku melupakan janji temu ku hari ini" Aslan menyudahi sarapan nya yang memang sudah selesai. Lalu berpamitan pada istri dan anak-anaknya. Setelah memberikan sedikit petuah bijak untuk kedua putranya yang akan melakukan perjalanan panjang, Aslan segera berangkat.
"Kalian ingat pesan mom?" tanya Ashley memastikan.
"Ingat mom, tembak tepat di kepala nya, jangan berikan celah untuk di kelabui apalagi di kalahkan." Jawab Morgan asal. Meski tidak sepenuhnya asal, hanya saja bukan itu jawaban dari maksud pertanyaan sang ibu.
Alex berdecak sebal pada adik kembarnya "jika mulut mu tak bisa mengatakan hal berguna, sebaik nya diam saja." Omel Alex mendelik tajam pada sang adik, namun yang di omeli acuh tak acuh merapikan tas ranselnya.
"Aku ingat semua mom. Aku akan menjaga kedua kakak ku dengan baik, percayalah pada putra mu ini. Aku dapat di andalkan" Pungkas Alex menjawab pertanyaan sang ibu dengan benar.
"Jadi maksud mu aku tidak dapat di andalkan, begitu ?" ujar Morgan sewot.
"Sudah, berhenti berdebat! Perhatikan apa saja yang mungkin belum kalian siapkan" titah Ashley sekaligus menyudahi perdebatan kedua putranya.
"Sudah semua mom, kami berangkat dulu. Jaga diri mom baik-baik, aku akan membawa kembali paman pada bibi dan sepupu ku. Jangan sedih lagi" mata Ashley berkaca-kaca, Alex meskipun irit bicara namun perhatian nya selalu penuh untuk keluarga. Dia tau jika sang ibu diam-diam sering menangis, saat memikirkan nasib paman juga bibi nya. Untuk itulah dirinya juga saudara -saudaranya di persiapkan sedemikian rupa, bukan tanpa alasan. Karena begitu lah takdir mereka, menjadi kesatria pelindung bagi para saudara sepupu nya. Pewaris dengan darah murni, Lizzie dan Leah juga Leon. Sangat jarang klan Belluwig melahirkan anak laki-laki dengan garis keturunan murni, Leon pengecualian, karena keajaiban nya berasal dari tetasan darah murni Leah saat mereka di lahir kan.
"Kami pamit, jangan memikirkan apapun lagi. Berjanji lah" tukas Alex menatap netra sang ibu.
"Mom berjanji, berhati-hati lah di perjalanan. Titip adik mu, jangan kasar padanya, nasehati dia dengan sabar." Nasihat Ashley pada putra sulung nya.
__ADS_1
"Baik mom, i love you" Alex memeluk erat ibunya juga menghirup aroma shampoo yang akan selalu dia rindukan nanti.