Darkest Dream

Darkest Dream
None 2


__ADS_3

Klek


Dengan wajah datar dan langkah malas, Berea masuk ke dalam ruang kepala sekolah.


"Ah, B..duduk lah, ada sedikit hal yang harus kita lurus kan." Ujar sang kepala sekolah dengan nada ramah. Tidak lupa senyum seorang penjilat tercetak jelas di wajah nya yang penuh tumpukan minyak. Berea menatap jengah ke arah kepala sekolah tersebut, juga pada dua orang yang tengah duduk di sofa tak jauh dari meja.


"Langsung saja pada inti nya pak, aku masih harus mengikuti pelajaran lain yang tentunya lebih bermanfaat, dari pada sekedar duduk di ruangan anda dan mendengar kan serentetan aduan anak TK." Sarkas Berea lugas, membuat Dom melebar mata nya mendengar kalimat menohok Berea.


Kepala sekolah tersebut terlihat menghela nafas panjang, berusaha menimbang apa yang akan dia sampai kan pada Berea. Rasa nya seperti melangkah ke medan perang. Batin nya meringis namun tak ingin membuat putri nya kecewa.


"Begini, B..Dom mengatakan kau memukul nya di kantin sekolah juga mempermalukan nya dengan kata-kata vulgar. Aku hanya ingin mengkonfirmasi kebenaran nya sa..."


"Dad!" seru Marcia penuh peringatan. Marcus terdiam menatap putri nya, posisi nya serba salah. Di satu sisi dia ingin memihak Marcia dan kekasih nya, namun mengingat siapa Berea. Nyali nya ciut seketika.


"Marcia, tolong hargai posisi daddy di sekolah. Kau tau itu, bukan ?" tekan Marcus tegas, walau hati nya tak tega namun dia harus terlihat bijak dan berwibawa di hadapan anak pemilik sekolah tersebut.


Raut wajah Marcia terlihat di tekuk sempurna, dia kesal pada sang ayah yang berani menyentak nya di depan orang lain terutama Berea.


"Jadi bisa kau jelas kan kronologi nya, B.." lanjut Marcus beralih menatap Berea dengan tatapan dan senyum ramah.


Berea menatap sang kepala sekolah dengan tatapan kasihan, rupa nya pria paruh baya di hadapan nya itu adalah tipe ayah yang takut pada putri nya. Arti nya pria itu berada di bawah kendali istri juga anak nya. Sungguh Berea merasa sangat iba.


"Apa anda sudah menanyakan kebenaran nya pada pria menyedihkan itu, pak Marcus yang terhormat..." Marcus gelabakan, tentu saja dia hanya berperan sebagai pendengar saja saat Dom dan Marcia mengadukan perbuatan Berea.

__ADS_1


"Ituu..sudah ku tanya kan, untuk itu aku butuh konfirmasi dari mu sebagai seorang...." Marcus terlihat gugup akan menyampaikan maksud kalimat nya.


"Seorang pelaku, begitu maksud anda?" sambung Berea menatap dalam sang kepala sekolah yang semakin terlihat memucat.


"Tentu saja kau pelaku nya!" seru Marcia dari arah sofa, jari telunjuk nya mengarah pada Berea dengan wajah marah.


"Marcia..! turunkan telunjuk mu, bersikap lah sopan!" tegur Marcus semakin salah tingkah, putri nya malah menambah beban pikiran nya saja.


"Seperti nya kehadiran ku di sini di waktu yang tidak tepat, pak kepala sekolah. Urus putri mu dan juga kekasih nya, karena seperti nya mereka yang lebih membutuhkan bimbingan konseling dari anda." Berea beranjak dari kursi nya hendak meninggalkan ruangan tersebut.


Saat mencapai daun pintu, Berea kembali berbalik. "Ah ya, aku memang menghajar nya tadi. Itu benar. Hanya saja aku tidak suka ada orang yang menantang ku terlebih dahulu, mengusik ketenangan ku dan membuat mood ku memburuk. Dan kekasih putri mu ini telah berani melakukan itu semua dengan tanpa persiapan apa pun. Jadi bukan salah ku jika dia babak belur. Dan untuk kata-kata ku yang di anggap terlalu vulgar, bagaimana dengan Helen yang sering mereka jadikan bahan Bullyan dengan perbuatan dan kata-kata kotor. Itu belum sebanding." Setelah menyelesaikan kalimat panjang untuk pertama kali nya, sekaligus menyentil hati kecil Dom. Berea keluar dari ruangan kepala sekolah. Tak lupa suara dentuman keras pintu yang hampir saja membuat jantung Marcus melompat keluar.


Dengan gusar Marcus meraup wajah nya frustasi, harus nya dia tidak menuruti kehendak sang putri.


"Dad! ini tidak adil, apa daddy tidak lihat bagaimana Dom di buat terkilir. Lihat juga hidung nya sampai patah seperti ini.." ujar Marcia kesal pada sang ayah, namun Dom yang sadar situasi tak berpihak pada mereka. Segera menarik tangan kekasihnya keluar. Walau hati nya pun sama kesal nya dengan Marcia, namun dia pun tak bisa berbuat apa-apa sekarang.


"Ck! pantas saja kau babak belur begini. Lihat lah nyali mu langsung ciut hanya karena di usir oleh ayah ku." Tukas Marcia meremehkan kekasih nya tanpa tau alasan di balik sikap penurut Dom. Pria itu baru tersadar dari mimpi buruk nya, saat tanpa sengaja melihat foto seorang pria yang beberapa waktu lalu pernah dia lihat tengah makan malam bersama Berea. Dan gadis itu memanggil nya dengan sebutan daddy. Dom mulai gelisah, jika pria itu adalah ayah dari Berea. Maka dia telah salah mencari musuh. Foto itu adalah foto sang pemilik yayasan tersebut, selesai lah sudah nasib nya. Dom nampak semakin resah.


flashback end


Di sebuah mansion mewah terlihat perdebatan dua orang remaja entah tengah memperebutkan apa.


"Bisa kah kalian menyudahi perdebatan tak perfaedah kalian ini.." tukas seorang wanita dengan nada tak ada sedikit pun keramahan. Kedua nya seketika terdiam.

__ADS_1


"Lanjut kan sarapan kalian, dan pastikan hari ini tidak membuat masalah di sekolah baru. Cobalah menjadi anak-anak normal seperti yang lain nya, atau kalian akan ibu kirim ke Afghanistan." Lanjut nya tanpa menoleh. Kedua anak kreatif tersebut menelan ludah susah payah, kemudian menatap sang ayah juga paman mereka yang masih tak beraksi di tempat duduk masing-masing. Pupus sudah harapan untuk mendapatkan pembelaan.


"Apa kau sudah yakin dengan keputusan? kau bisa melanjutkan karir mu saja, tanpa harus selalu menjadi pengasuh anak-anak ku."


"Mom! kami bukan balita..!" seru si sulung tak terima. Sang paman memilih menjadi seorang guru atas kehendak nya sendiri, bukan karena mereka yang meminta.


"Aku sudah yakin kak. Lagi pula hati ku terpanggil untuk menjadi seorang pengajar, ketimbang melanjutkan karir seorang penegak hukum. Mungkin menjadi guru olahraga, itu tidak terlalu jauh dari profesi awal ku. Sedikit latihan fisik dengan anak-anak ku rasa bisa membuat jiwa ku semakin muda." Seloroh nya mengerling ke arah sang kakak. Namun malah mendapat kan cebikan seperti biasa nya.


"Honey, aku mungkin tidak pulang makan siang. Tidak apa-apa, kan? ini hari pertama ku, mungkin akan ada sedikit penyambutan di kantor. Aku ingin memberikan kesan yang baik." Tukas Yugo menatap manik istri nya.


"Hmmm...jadi aku tidak perlu membuat kan bekal makan siang?" tanya sang istri memastikan. Yugo mengangguk sambil terus mengunyah sarapan nya.


"Ini milik mu, dan ini milik mu. Habis kan bekal kalian, mom tidak ingin melihat ada sisa di dalam kotak ini ketika kalian kembali. Dan ya, jangan pernah berpikir untuk menyingkirkan nya ke tempat sampah, kalian tau apa konsekuensinya, bukan?." Pesan sang ibu dengan nada penuh peringatan. Kedua nya hanya mengangguk saja, itu lebih baik.


"Mom..apa isi kotak bekal ku? ku harap bukan roti lapis lagi, aku sedikit bosan." tanya si bungsu memamerkan wajah merengut protes.


"Nanti kau akan tau saat makan siang tiba. Dan ingat, harus di habis kan." titah sang ibu tak ingin di bantah. Si kecil Brandon hanya bisa mendesah pasrah, apalagi melihat raut wajah datar sang Ibunda tercinta.


"Sudah siap? ayo bergegas, ini hari pertama kita paman tak ingin membuat kesan buruk di sekolah baru. Ku dengan sekolah tersebut adalah sekolah elit di kota ini, juga sekolah terbaik kedua se California." Sela sang paman menimpali situasi ibu dan anak yang mulai tak kondusif. Diri nya memang di takdir kan sebagai juru selamat bagi para keponakan nya. Dan dia dengan senang hati menjalani peran tambahan tersebut.


Note : mohon maaf jika alur nya masih belum cukup memuaskan, othor masih belum bisa fokus pada karya. Fokus othor masih seputar si bungsu. Sekali lagi mohon doa nya🙏🙏


Terimakasih sebelumnya, atas atensi kalian semua. Othor sayang kalian🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2