Darkest Dream

Darkest Dream
Bab 25


__ADS_3

Sky terlihat tengah memikirkan sesuatu, tiba-tiba pintu ruangan nya di buka oleh seseorang tanpa aba-aba.


"Bisakah kau menggunakan tanganmu untuk mengetuk pintu terlebih dahulu? ini bukan kamar hotel yang bisa kau masuki sesuka hati mu!" Sarkas Sky membuat raut wajah Mora memerah karena malu.


"Aku hanya ingin mengunjungi kantor suamiku? apakah salah?" Ucap Mora dengan suara bergetar.


Sky mengusap wajahnya kasar, dia tidak suka melihat wanita itu selalu saja menangis. Empati nya sama sekali tidak ada barang sedikit pun, melihat air mata istri nya tersebut.


"Apa yang kau inginkan? aku sibuk!" tukas Sky to the point. Seperti biasanya, dia tidak pernah meladeni sang istri jika berkunjung ke kantor nya.


"Ayo makan siang. Aku ingin kita terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya. Bersikap lah baik padaku hari ini, Sky. Aku sedang berulang tahun hari ini" ujar Mora mengiba belas kasihan suaminya.


Sky menatap netra sang istri tanpa berkomentar apapun. Lalu meraih ganggang interkom.


"Masuklah!" satu kata dan mampu membuat seseorang yang mendengar nya di seberang sama terbirit-birit.


Klek


"Maaf, tuan. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Meggy sedikit menunduk hormat pada Sky juga istri nya.


"Kau temani istri ku makan siang, beli kan dia kue ulang tahun sesuai selera dan keinginan nya. Tugasmu biar di handle oleh Louis." Titah mutlak itu lah yang di serap cepat oleh otak cerdas Meggy. Namun melihat wajah tak suka sang nyonya, membuat nyalinya sedikit di pertaruhkan.


"Sky?" Mora sedikit meninggi kan suaranya "apa kau tidak bisa sedikit saja menghargai ku, hah?!" teriak Mora dengan amarah yang menggebu-gebu.


Sky menghela nafas berat, kemudian menatap istrinya dengan tatapan tak terbaca.


"kau Ingin ku hargai berapa, Mora?" bola mata Mora melotot sempurna mendengar kalimat nyelekit suaminya. "Bukankah hidup mu sudah ku bayar lunas tanpa meninggalkan hutang sedikit pun. Lalu harga mana yang kau maksud kan? harga dirimu? masihkah kau memiliki nya?" Lagi-lagi kalimat menyakitkan keluar dari mulut tajam Sky. Mata Mora sudah berkaca-kaca, hinaan demi hinaan terus terlontar dari mulut pria di hadapannya itu. Dan bodohnya dia, masih tetap bertahan dalam luka yang sudah jelas melukai nya sangat dalam dan parah.

__ADS_1


"Kau akan menyesali ini, Sky. Kau pikir dengan terus menyakiti hatiku, dan membuat ku tertekan dengan pernikahan menyakitkan ini, akan membuat ku pergi meninggalkan mu? kau salah besar! Semakin kau bertindak kasar padaku, maka semakin keras pula aku bertahan di sisimu. Ingatlah, Sky! putriku adalah pewaris tunggal keluarga Belluwig, jadi apa yang kau nikmati saat ini, adalah milik putriku, Zora! Kelak kau akan mengemis padaku, camkan itu!" Hardik Mora berbalik dan menatap tajam pada Meggy, seolah mengatakan berhati-hati lah padaku.


Namun tidak membuat seorang Meggy gentar, hidup nya sudah kenyang dengan segala bentuk ancaman. Jika bertambah satu ancaman lagi, tidak masalah baginya.


Sky menatap kepergian istri nya dengan perasaan biasa-biasa saja. Tidak ada raut ketakutan atau sekedar kekhawatiran tercetak di sana. Wajahnya masih sama datar dan dingin.


"Apa saya boleh keluar tuan?" tanya Meggy membuat atensi Sky teralihkan pada sekretaris nya.


"Keluarlah! dan ya, jangan biarkan siapapun lagi masuk ruangan ku setelah ini, tanpa persetujuan ku terlebih dahulu." Meggy hanya mengangguk kemudian keluar tanpa berkata apapun lagi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Kau sudah mendapatkan apa yang aku minta, Jeff?" Pertanyaan tanpa ekspresi terlontar mulus dari bibir mungil seorang gadis.


"Ini. Kau bisa melihat semuanya di sana." Jeff menatap nanar gadis yang selama 17 tahun ini dia kenal. Banyak pertanyaan yang masih belum terjawab dalam benaknya, namun untuk bertanya? Jeff masih waras jika nyawanya hanya satu.


Jeff terdiam dengan banyak harapan terlintas di kepala nya.


"Bisakah aku tukar segala informasi ku, dengan satu pertanyaan?" ujar Jeff ragu-ragu. Tatapan nya tak lepas dari wajah tak berekspresi di depannya.


"Satu pertanyaan, artinya satu jawaban?" Lizzie menatap Jeff dengan tatapan dingin nya.


Jeff hanya bisa menghela nafas pasrah, satu pernyataan yang akan dia berikan dengan banyak pertanyaan lainnya. Namun sayang, gadis ini jauh lebih cerdik darinya.


"Yeah! jika kau tidak keberatan, aku juga masih punya banyak pertanyaan lainnya. Dan akan aku simpan untuk ku tukar dengan informasi lain nya nanti." Ucap Jeff terkekeh pelan. Entah bagaimana cara menghadapi gadis itu, yang bisa dia lakukan adalah tetap menjaga kerahasiaan tentang Cloey dan anak-anak nya. Maka hidup nya pun, damai sejahtera.


"Katakanlah!"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tau banyak hal yang akan terjadi di masa depan, termasuk apa yang kau alami sepanjang 17 tahun ini?" Jeff menjeda ucapannya lalu menatap Lizzie yang masih tak bergeming "beri pria tua ini sedikit pencerahan.." Jeff Kembali terkekeh untuk menetralkan degub jantung nya. Entah kenapa dia merasa, jika dirinya telah mengajukan pertanyaan yang salah.


Lizzie ikut terkekeh kecil, "kau menjebak ku, Jeff. Kau memberikan dua pertanyaan sekaligus, dalam satu kalimat tanya yang panjang untuk mengecohku." Jeff terkesiap, kini dia merasa sudah bertindak konyol dan bodoh. Bermain-main dengan malaikat maut yang nyata-nyata, tepat berada di hadapannya.


Namun demi wibawa nya sebagai seorang mantan mafia, Jeff berusaha sebisa mungkin menetralkan ekspresi wajah nya.


"Maaf, jika pertanyaan ku membuat mu kurang nyaman. Kau boleh menjawab salah satu dari pertanyaan ku tadi, dan menyimpan satu pertanyaan ku untuk kau jawab nanti saja. Setelah aku membawa kan informasi baru untuk mu. Ku harap itu cukup adil, bukan?" Jeff menawarkan negosiasi guna menyelamatkan diri nya yang mulai ketar ketir.


Lizzie semakin terkekeh renyah mendengar ucapan Jeff, sungguh dia tidak lah marah. Jeff sudah begitu banyak membantu nya selama belasan tahun ini.


"Aku akan menjawab semua pertanyaan mu tadi Jeff, tidak perlu setegang ini padaku." Lizzie menatap ombak yang tengah beradu di hadapan mereka. Pandangan yang penuh rasa sakit, Jeff dapat melihat nya dengan jelas. Jika gadis tegar itu, tengah menyimpan banyak perkara dalam benaknya.


"Saat aku berusia satu tahun, hidup tenangku mulai berubah total. Kau tau bagaimana rasa nya menjadi batita lucu dan menggemaskan, tentu saja banyak orang akan menatap gemas padamu? bahkan ada yang berebut untuk menggendong mu. Namun bukannya rasa senang karena di sanjung dan di puji, melainkan ketakutan." Lizzie menghempas kan nafas kasar.


"Aku harus melihat masa depan setiap orang yang menyentuh ku, baik itu kebahagiaan mereka maupun hal buruk yang akan mereka alami. Ingatan-ingatan itu terbawa hingga ke alam mimpi. Dan itu sungguh mengganggu. Tahun terlewati, dan aku mulai bisa mengatasinya. Lizzie balita tumbuh menjadi anak yang berbeda. Hingga saat ibu mengajak ku pindah ke California, aku sudah tau. Akan ada banyak hal yang sudah menanti kami di sana. Termasuk pertemuan dengan ayahku." Lizzie menatap Jeff yang juga tengah menatap nya penuh rasa penasaran. Gadis itu tersenyum samar, melihat reaksi tegang di wajah pria yang menjadi informan nya itu.


"Kehidupan tenang kami mulai berubah sejak kami bertemu dengan ayahku. Juga keajaiban yang aku miliki. Aku bahkan mampu melihat masa depan tanpa harus menyentuh objek, juga aku tau tentang mu, bahkan saat aku belum bertemu dengan mu. Setiap hari sebelum kejadian di Catalina, aku mendapat kan penglihatan tentang kejadian itu. Namun usia kecilku, membuat ku berusaha mengelak nya agar semua baik-baik saja. Bahkan saat kau akan kembali ke kota, aku tau kau tidak akan mengajak Sofi. Untuk itu aku memprovokasi pikiran mu tentang bibi Lila. Kau butuh seorang yang bisa merawat nya. Aku lah yang mengatur nya, aku mencuri pinjam posel satelit mu. Lalu menghubungi Luna, aku memberi nya sedikit ancaman, bermodal apa yang aku lihat melalui potongan ingatan nya." Lizzie Kembali terkekeh, sementara Jeff tertegun mendengar penuturan Lizzie. Bagaimana balita 4 tahun, mampu membuat wanita dewasa seperti Luna, tunduk takluk padanya.


"Hingga akhirnya Luna menghubungi mu, mengatakan jika dia akan pergi dari basecamp rahasia karena ada masalah keluarga yang mendesak. Dan Luna butuh seseorang yang bisa menggantikan nya di sana selama dia pergi. Dan Sofilah pilihan mu. Aku tidak bisa menyelamatkan semua orang jika Sofi tidak pergi saat itu, hidup nya akan berakhir di ujung selongsong para pembunuh bayaran itu. Dan Mina, tidak akan ikut pergi bersama kami karena tidak ingin meninggalkan tubuh keponakan nya, lalu nasibnya pun. Bumm!! rata dengan bangunan." Di ujung kalimat nya Lizzie menyeka air matanya, sudah sejak lama dirinya tidak pernah menangis, dia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya bersedih.


Jeff tertegun dan berusaha mencerna setiap kalimat Lizzie, kini dia mengerti, betapa banyak beban yang gadis itu tanggung seorang diri tanpa ada tempat untuk berbagai. Dan dia senang, menjadi orang pertama yang terpilih sebagai pendengar yang baik dari semua kisah pedih gadis dihadapannya itu.


"Mulai sekarang, belajar lah untuk berbagai pada seseorang. Kau tidak bisa selama nya menanggung keajaiban ini sendirian. Aku tidak ingin menjanjikan apapun padamu, karena aku yakin, kau sudah tau segalanya. Namun cobalah untuk mempercayai satu atau dua orang, yang kau yakin tidak akan mengkhianati mu kelak. Aku bisa menjadi salah satunya, jika kau tidak keberatan." Lizzie menganggukkan kepalanya pelan, entah apa maksudnya.


"Kau akan menjadi salah satu dari orang itu, Jeff. Tapi rasanya aku tidak akan tega untuk melakukan nya. Kau punya keluarga, cukup jagalah mereka dengan baik. Dan ya," Lizzie menatap lurus netra Jeff tanpa berkedip. "Aku harap ini yang terakhir kalinya, kita bertemu" kalimat itu sontak membuat Jeff terkesiap.


"Kenapa? apa ada hal buruk yang akan terjadi ke depan nya nanti? katakan padaku, Lizzie! Kau sudah mengenal ku selama bertahun-tahun ini, tidakkah kau percaya padaku?" tatapan penuh permohonan Jeff tidak di gubris oleh Lizzie, gadis itu kembali memakai kacamata hitam miliknya, juga jaket denim dan sebuah topi lalu bersiap untuk pergi.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik Jeff, kelak kita akan bertemu lagi. Meski dalam situasi yang berbeda, di sanalah aku akan menilaimu. Apakah kau layak menjadi salah satu orang yang bisa ku percayai. Aku pergi, titip bibi juga para sepupuku." Lizzie pergi tanpa menoleh lagi. Jeff menatap punggung kecil Lizzie dengan perasaan tak menentu. Pikiran nya melayang entah kemana, memikirkan apa yang baru saja Lizzie ucap kan. Membuat nya ketar ketir tak karuan, dia harap dimasa depan. Saat dirinya dipertemukan kembali dengan gadis itu, bukanlah sebagai seorang penghianat.


__ADS_2