
"Walau apa kak? jangan membuat ku penasaran.." desak Morgan terlihat was-was.
"Walau nanti wajah tampan mu ini akan mengalami sedikit lebam dan mungkin saja ada sedikit luka. Bertahan lah, anak laki-laki itu jika belum pernah merasakan sakit nya di pukul. Bukan laki-laki namanya." Kekeh Lizzie membuat Morgan mencebik kesal. Enak saja, wajah nya meski beberapa waktu belakangan ini sedikit kurang perawatan, namun dia tidak rela jika di buat babak belur tanpa perlawanan.
"Kenapa kakak bisa tau tentang keajaiban ku? kak leah saja hanya menebak kasar tanpa tau detailnya. Mom pun tidak tau, kenapa kau mampu menembus batas yang berusaha aku jaga sedemikian rupa." Pertanyaan Morgan membuat Lizzie hampir meledak kan tawa nya. Namun urung saat melihat wajah serius sang adik.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan pada mu, adik kecil ku. Tapi aku tau banyak hal tentang apa yang para manusia pikirkan, walau hanya dengan sekali menatap nya. Dan bahkan, ****** ***** warna apa yang sedang kau pakai saat ini, aku tau. Kau sebaik nya memilih yang bergambar Kenzo saja, jangan Barbie." Lizzie menepuk bahu sang adik kemudian berlalu pergi tanpa peduli wajah bodoh Morgan.
"Kak kau..?!" namun Lizzie sudah tidak ada di hadapan nya, seperti angin kakak nya menghilang tanpa jejak.
"Isshhh... awas saja kau kak!" Desis Morgan merasa malu sendiri, meski sang kakak sudah tidak ada di hadapan nya. ****** ***** yang dia pakai berwarna ungu tua dengan gambar Barbie, entah kenapa sejak kecil Morgan suka sekali dengan warna tersebut. Diam-diam dia membeli sendiri kebutuhan dala*man nya tanpa sepengetahuan keluarga nya. Soal mencuci? Morgan rela mencuci sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga.
flashback end
Bug bug bug!!
"Kau bajingan kecil menyebal kan, berani nya kau lebih memihak kakak, saat dia bahkan mungkin saja sudah mati di luar sana!" teriak Leah melampiaskan rasa kesal nya dengan menghajar sang adik hingga babak belur. Alex beranjak dari kap mobil untuk melerai perkelahian sepihak tersebut.
__ADS_1
"Hentikan kak! kau membunuh nya pun tidak akan merubah keadaan. Hanya Morgan yang bisa membawa kita keluar dari jalur ini. Jika dia mati, selama nya kita akan terjebak bersama para makhluk astral di belantara ini." Tegur Alex memeluk sang kakak dari belakang. Tubuh Leah bergetar hebat, tangis nya pecah seperti seorang anak yang di tinggal pergi oleh ibu nya.
Alex memutar tubuh sang kakak lalu memeluk nya kembali. Morgan terlihat tak berdaya di tanah, namun sebisa mungkin pria itu bangun perlahan. Di tatapnya punggung kecil sang kakak, lalu menghampiri nya kemudian ikut memeluk Leah dengan kasih sayang. Tidak ada dendam di hati nya meski sudah di hajar hingga babak belur. Leah hanya sedang melampias kan kekecewaan nya saja, sebagai seorang adik tentu hati nya sakit. Mengingat nasib kakak nya yang entah bagaimana kabar berita nya di luar sana.
"Maaf kan aku kak...kau boleh membunuh ku jika itu membuat hati mu tenang." Ucap Morgan lirih, setengah berbisik di telinga sang kakak. Air matanya mengalir deras mendengar Leah meraung memanggil nama Lizzie. Terdengar begitu pilu dan menyayat hati.
"Kau bodoh!" umpat Lizzie serak.
"Ya aku bodoh kak..." sahut Morgan membenarkan tak menyangkal.
"Karena takdir kakak adalah memenuhi takdir kita semua, aku tidak bisa mencegah nya meski aku sangat ingin melakukan nya. Pahamilah situasi ku kak.." ratap Morgan memohon pengampunan juga pengertian sang kakak.
"Morgan benar, sekeras apapun kita berusaha mencegah takdir. Kak Lizzie memang harus menyelesaikan perang nya seorang diri, tidak peduli bagaimana pun hasil akhir nya." Sambung Alex yang lebih banyak diam dan menyimak. Dia tak ingin terkesan membela siapapun, mental Leah sedang sangat terguncang, tugasnya adalah membuat sang kakak kembali tenang.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Sementara di sebuah markas besar milik Brian, terjadi kegegeran. Serum darah Sofi hanya membantu Lizzie bertahan sesaat. Lizzie kembali kehilangan detak jantung nya. Para ilmuwan dan tim dokter mulai frustasi dan tertekan. Ujung pistol sudah mengarah ke kepala mereka, dari setiap sudut ruangan di mana Lizzie tengah di tangani.
__ADS_1
Bern mengusap wajah berkali-kali, kaki nya lemas saat mendengar suara mesin EKG melengking kuat tanda detak jantung Lizzie telah berhenti total. Ingin sekali dia menerobos masuk, namun melihat bagaimana pintu besar itu di jaga begitu ketat oleh orang-orang Brian. Bern lenih memilih menunggu di luar meski hati nya ketar ketir tak karuan.
"Aku mohon bertahan lah..." ratap Bern dengan suara lirih. Air mata nya sudah menetes tak terbendung lagi.
"Tuan...?"
"Jika kau hanya ingin mengatakan semua usaha kalian gagal, maka katakan bagian mana dari tubuh mu yang harus ku tembak lebih dulu." Ramos menelan ludah nya terasa pahit tak terkira. 13 orang tim gabungan para ilmuan dan dokter di dalam ruangan itu mulai ketakutan luar biasa. Bayangan maut sudah ada di depan mata, berkali-kali mereka menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaan yang mulai tak tenang.
"Kami membutuhkan serum dari darah pewaris murni, serum dari darah nona Sofi hanya mampu menangkal penyebaran kerusakan jaringan saraf bukan menyembuhkan. Luka dalam nona muda sudah sangat parah, seharusnya segera mendapatkan pertolongan setelah mendapat luka dalam separah itu." Ucap Ramos memberanikan diri, nyawa teman-teman nya berada di ujung lidah nya. Dia harap perkataan nya mampu mengetuk sisi nurani sang tuan, agar memberi kan mereka kesempatan lain untuk memulihkan serum baru.
Brian tertawa hambar namun terdengar menakutkan.
"Jadi kau menyalah kan ku atas keterlambatan ini, Ramos. Berapa lama kau bekerja di markas ku, ah bukan bekerja... berapa lama kau menjadi tahanan ku?" dengan cepat Brian meralat ucapan nya dengan kekehan yang tidak terdengar lucu sama sekali.
"Kurang lebih dua tahun tuan.." entah keberanian dari mana yang tiba-tiba merasuki otak ramos. Rekan sejawat nya melotot kan mata tak percaya, sekarang mereka benar-benar yakin jika kematian memang sudah saat nya menjemput mereka.
"Bagus! aku suka keberanian mu.." puji Brian mulai mendekat ke arah Ramos. "Dan tentu nya kau punya ingatan yang bagus pula, coba lihat ke sana sebentar.." lanjut Brian menunjuk ke arah seorang pria yang tengah memegang tablet di tangannya. Tak lama mata Ramos hampir meloncat keluar, jantung nya seakan berhenti berdetak. Saat melihat video sang adik di berbagai tempat, terputar di dalam bentuk potongan video yang di sambung menjadi seperti sebuah film dokumenter.
__ADS_1