
Perjalanan panjang nya kini, telah mengantar kan Lizzie ke sebuah kota yang akan menjadi pusat Petualangan nya.
"Kau yakin akan mencari apartemen sendiri? aku punya kenalan, dia biasa mencarikan apartemen bagi para imigran gelap. Selama ini cukup aman, aku tidak mungkin merekomendasikan mu pada masalah." Tawar sopir tersebut untuk ke sekian kalinya. Melihat Lizzie yang belum memutuskan untuk menginap di mana, membuat hatinya tersentuh untuk membantu.
Lizzie tersenyum melihat kekhawatiran sopir baik hati itu, sebenarnya uang yang Lizzie bawa tidaklah pas-pasan sama sekali. Hanya saja dia harus ekstra berhemat selama belum mendapatkan pekerjaan di sana.
"Aku akan baik-baik saja, Lex. Terimakasih, kembalilah dalam keadaan selamat. Keluarga mu sudah menanti mu dengan bayi mungil yang sangat tampan." Ucapan Lizzie sontak membuat pria bernama Lex tersebut ternganga. Bagaimana bisa Lizzie tau jika istri nya sudah melahirkan, dan anaknya laki-laki. Sepanjang perjalanan, tidak sekalipun dia membahas soal istri nya.
Seketika bulu kuduk nya meremang, mata tajam Lizzie menyiratkan banyak makna.
"Pulanglah lah, ah ya. Ini, semoga cukup untuk membantu membiayai pengobatan mertua mu." Lizzie menyelipkan beberapa lembar uang dari balik kaca mobil. Dia tau pria itu pasti akan menolak jika dia memberikan langsung.
"Nona, itu tidak perlu. Maaf jika menyinggung perasaan mu. Tapi kau juga membutuhkan nya, ini kota yang butuh banyak lembar dollar." Ujarnya tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Lex. Kelak kau akan membalasku dengan cara lain. Aku pergi dulu, kalau bisa pergilah sekarang. Jangan menunda perjalanan mu." Titah Lizzie penuh arti, walau Lex tidak bisa menangkap maksud dari perkataan tersebut. Pria itu tetap menuruti nya.
Keduanya berpisah, Lizzie berjalan sembari menatap beberapa toko yang terlihat ramai. Matanya tertuju ke sebuah gang, sesuatu menarik nya masuk ke sana.
"Serahkan semua atau kau akan ku habisi!" Samar-samar Lizzie mendengar suara kasar seorang pria. Perlahan kakinya melangkah menuju ke arah tersebut.
"Jangan tuan, hanya ini yang ku punya. Ini kenangan terindah dari mendiang suamiku.." Ratapan penuh permohonan itu terlontar dari seorang wanita tua. Sementara pria bertato itu terus berusaha, untuk merebut sesuatu yang sedang di genggam, dan tengah dipeluk erat oleh wanita itu.
"Ck ck ck! apa kau tidak malu, menodongkan senjata mainanmu itu pada wanita tua. Astagaa! kota ini pasti akan malu memiliki warga negara seperti mu!" Ejek Lizzie berdecak meremehkan.
Pistol mainan? Lizzie tidak sebodoh itu, dia tau itu pistol asli. Semua jenis senjata api dia kuasai di luar kepala dan sangat familiar dengan benda-benda tersebut. Hanya saja, dia sengaja menyulut emosi pria itu agar teralihkan dari si nenek.
__ADS_1
"Apa kau bilang? dasar gadis sok tau, kau ingin tau bagaimana rasanya peluru ku bersarang di dada besarmu itu." Si pria menyeringai mesum, menatap dada Lizzie yang membuat jiwa liarnya bergejolak.
Lizzie maju tanpa rasa takut, ketika sudah berada tepat di depan si pria. Lizzie menatap sekilas pada si nenek yang berjongkok ketakutan.
"Lepas kan dia, aku akan bermain panas dengan mu. Kau tidak akan rugi bermain dengan ku," seringai licik tercetak di wajah Lizzie, namun pria yang sudah berkabut gairah itu tidak memperhatikan nya. Mata mesumnya terarah lurus ke dada Lizzie yang menantang jiwa kelakian nya.
"Baiklah!" ujarnya cepat. "pergilah nenek tua, kau selamat kali ini. Aku mendapat kan buruan yang jauh lebih empuk" ujar nya tersenyum puas, kata empuk di tujukan pada dada Lizzie.
"Nak, kau tidak apa-apa?" ujar si nenek khawatir.
"Hei! pergilah, atau kau mau membantu ku merekam adegan ku dengan nya, hah?!" si pria tertawa puas melihat wajah ketakutan si nenek semakin bertambah.
"Aku baik-baik saja nek, pergilah." Si nenek pergi walau berat meninggalkan gadis malang yang rela menukar harga dirinya demi menyelamatkan nya.
"Ayo bermain, bit*ch!" dengan percaya diri, si pria menurunkan celananya hingga melorot ke mata kaki, memperlihatkan kejantanan nya yang tidak seberapa.
"Jangan banyak bicara!" seru nya kesal lalu menarik Lizzie hingga berbalik dan mendorong keras tubuh mungil Lizzie ke tembok. Sesaat akan menyentuh kancing celana jeans Lizzie. Pria itu mengerang kesakitan.
Rupanya, hantaman tumit sepatu Lizzie lebih dulu berkenalan dengan barang rongsokan tersebut. Dalam posisi berbalik, Lizzie mengayunkan kakinya ke arah belakang dengan sekuat tenaga.
Si pria terjatuh di atas jalanan sambil memegang benda miliknya, wajah kesakitan itu membuat Lizzie tertawa puas. Lizzie berjongkok lalu memencet kedua pipi pria malang itu.
"Kau salah mencari korban, brengsek! Aku bisa saja mengirim mu ke neraka lebih cepat, sayangnya, kau akan berguna untuk ku kelak." Lizzie Kembali berdiri, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ambillah! Lalu pulang, bawa putra mu berobat sebelum kau menyesal. Dia akan menjadi benih terakhir mu yang berhasil tumbuh dengan baik. Minuman dan obat-obatan laknat itu, telah merusak kesehatan benihmu hingga tak terselamatkan. Pulang, dan tatap wajah malang putra mu. Dia malang karena memiliki ayah seperti mu. Dia malang, karena di kemudian hari, akan di repotkan untuk merawat mu yang tidak berdaya. Jadi, sekali saja dalam hidup mu. Jadilah orang yang berguna untuk anakmu!" setelah menyampaikan nasehat dan petuah pada pria jaha*nam itu, Lizzie bergegas pergi.
__ADS_1
Sementara si pria, di sisa rasa sakit nya, dia tercenung merenungi kalimat panjang penuh makna tersebut, dengan mata berkaca-kaca.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Nak? kau baik-baik saja" Lizzie menoleh, dia tidak terkejut. Ditatapnya wajah keriput itu dengan senyum samar.
"Aku baik-baik saja, pria itu terlalu lemah untuk menggagahi ku, nek." Ucap Lizzie terkekeh pelan.
Si nenek menatap Lizzie dengan tatapan berbeda, "ya, aku percaya. Pria tukang mabuk itu jelas tidak akan mampu membuat wanita manapun terpuaskan." Lalu keduanya tertawa renyah.
"Kau baru di kota ini, nak?" si nenek menatap tas punggung Lizzie dan menilik penampilan nya.
"Benar, nek. Aku baru tiba dan akan mencari tempat tinggal sementara, saat melewati jalan tadi." Terang Lizzie asal.
"Oh, bagaimana jika kau tinggal bersama ku saja. Aku tinggal seorang diri semenjak suamiku meninggal 3 tahun yang lalu. Aku akan sangat senang jika kau mau tinggal bersama wanita tua ini." Tawarnya merendah dengan nada memohon.
Lizzie terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan, "baiklah, nek. Aku akan tinggal sementara dengan mu selama aku belum memiliki pekerjaan tetap di kota ini." Putus Lizzie akhirnya.
"Jangankan sementara, selamanya pun aku tidak keberatan. Ayo, kita ke rumah ku yang sederhana." Keduanya berjalan beriringan sambil sedikit bercerita tentang keluarga masing-masing. Setelah melewati beberapa blok, sampai lah mereka ke sebuah rumah dua lantai yang cukup besar.
"Ini rumah ku, nak. Anak-anak ku sudah menikah semua dan aku punya 5 orang cucu. Terkadang mereka akan mengunjungi dua Minggu atau satu bulan sekali. Kesibukan membuat waktu kami sedikit terkendala." Ujar penuh pengertian dan pembelaan. Sungguh orang tua yang baik dan berjiwa besar.
"Terimakasih nek, kamar ini luas sekali. Aku tidak apa-apa jika menempati kamar tamu saja." Ujar Lizzie tidak enak. Dia menempati kamar di lantai atas di samping kamar utama.
"Tidak. Kau akan menempati kamar ini, kau bisa mengatur perabot nya sesuka hati mu. Ini milikmu sekarang, oh ya. Ini kamar cucuku, diantara para cucu ku. Sandro yang paling dekat dengan ku. Sejak kecil ku asuh semenjak orang tuanya meninggal, dia sedang dalam perjalanan kemari. Hanya saja, entah dia sangkut dimana sekarang, anak nakal itu tidak ada lelahnya bermain dengan oara ja*la*ng." Umpat nya kesal.
__ADS_1
Lizzie tersenyum penuh arti, namun tidak menanggapi apapun.
"Istirahat lah, nak. Nenek akan turun untuk menyiapkan makan malam, kau tamu istimewa ku, jadi buat lah dirimu nyaman." Setelah si nenek pamit turun, Lizzie membongkar isi tasnya. Hanya beberapa lembar pakaian dan tentu saja perlengkapan wajib tempur nya. Setelah menyimpan beberapa hal penting, Lizzie bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.