
Sofi dan Mina tengah membuat kan makan malam, setelah beristirahat selama 3 jam kedua nya merasa lebih rileks.
"Sofi, coba kau cek daging panggang nya. Jika sudah langsung tata di meja didekat kolam renang. Nyonya ingin menikmati makan malam diluar" titah Mina pada keponakan, sementara dirinya masih membuat beberapa makanan penutup mulut.
"Baik bibi," Sofi berjalan menuju belakang dimana alat pemanggang berada.
Cloey menatap suaminya yang terlihat mengecek sesuatu di internet, tanpa bertanya apapun, Cloey memeluk leher sang suami dari belakang. Sky tersentak kaget dan segera menutup laptopnya, kemudian berbalik dan mendudukkan sang istri di atas pangkuan nya.
Tangannya membelai perut Cloey yang terlihat bergerak-gerak.
"Apa mereka sedang bermain lompat tali di dalam sana?" ujar Sky terkekeh kecil, dia selalu suka saat melihat perut istri nya bergerak seperti itu. Ada perasaan haru menyeruak di dalam hatinya, perasaan yang tak dapat Sky urai dengan kata-kata.
"Mereka sedang berdiskusi, siapa yang lebih dulu lahir. Namun tidak mendapatkan hasil yang sesuai, dan akhirnya mereka berdebat kecil di dalam sana." Jelas Cloey berargumen asal.
Sky tergelak mendengar ucapan sang istri, "baiklah, kalau begitu biarkan mereka terus berdebat sampai mereka lelah dan tertidur." Balas Sky menimpali argumen istri nya.
Tok tok tok
Keduanya sontak menatap ke arah pintu kamar yang di ketuk seseorang dari luar.
__ADS_1
"Biar aku saja, sweet heart." Sky menurunkan Cloey dari pangkuan nya kemudian berjalan ke arah pintu. Setelah pintu terbuka, terlihat Sofi berdiri disana sambil menggendong Lizzie.
"Makan malam sudah siap, tuan. Sesuai permintaan nyonya, di meja makan di dekat kolam renang." Jelas Sofi tanpa di minta. Sky hanya mengangguk pelan dan menyuruh Sofi duluan membawa Lizzie.
Sky berbalik setelah menutup pintu "Kau ingin makan di luar, sweet heart?" tanya Sky yang memang tidak tau menahu akan hal itu.
"Ya, tidak masalah bukan? aku hanya ingin menikmati makanan sambil menatap gelombang laut di kejauhan. Aku merindukan tempat ini, besok malam aku akan mengundang keluarga paman Greg kemari. Kau tidak masalah, kan dad?" Ujar Cloey menjelaskan sekaligus meminta persetujuan sang suami perihal rencana nya.
"Tidak masalah, honey. aku juga ingin berkenalan dengan keluarga baik hati yang sudah menolong anak dan istri ku. Ayo keluar, pakai cardigan mu dulu, di luar sangat dingin." Setelah selesai membantu sang istri memasang cardigan, mereka keluar menuju area kolam renang yang mengarah persis ke bibir pantai.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Selama ini, anak-anak nya tau bahwa kedua orang tuanya adalah pasangan paling harmonis, yang pernah mereka lihat. Nyatanya, keduanya sama sekali bertolak belakang.
"Sekarang katakan apa yang kau inginkan, Samara? aku lelah, di usia ku yang sudah tak muda lagi. Aku sudah tidak punya banyak tenaga untuk selalu berdebat dengan mu." Suara putus asa Edgar terdengar sangat lirih. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah, di usia yang sudah lebih dari setengah abad itu, kini terlihat begitu rapuh dan emosional.
"Mari kita bersepakat, Ed. Aku ingin kau menggugat cerai diriku, dan jadilah yang bersalah di sini. Maka aku akan membebaskan Ashley" sudah Edgar duga, istri liciknya ini tidak akan semudah itu di ajak berkompromi.
Edgar tertawa renyah, rasanya sungguh miris. Ashley bahkan satu-satunya anak perempuan setelah hampir 10 generasi. Harusnya Samara menyayangi Ashley, sebagaimana seharusnya seorang ibu menyayangi anak perempuan nya. Sayang sekali, hati wanita itu di penuhi ambisi gila, yang membunuh habis nuraninya.
__ADS_1
"Kau ingin merusak citra ku dengan syarat konyol itu? Astaga! Samara, lihatlah dirimu! Kau itu hanya sampah yang ku pungut, lalu ku daur ulang hingga menjadi indah dan sedap dipandang." Edgar Kembali tergeletak, seolah apa yang dia katakan, begitu lucu untuk di tertawa kan.
Samara mengepal kedua tangannya erat-erat, hingga buku jari nya memutih. Samara merasa terhina, direndahkan juga dipermalukan untuk kesekian kalinya oleh pria dihadapannya itu.
"Sudah puas mentertawai ku, Ed? tertawa lah selagi kau bisa, karena aku akan selalu setia menjadi ancaman untuk mu. Kini dan di masa yang akan datang." Kecam Samara dengan wajah memerah menahan amarah, namun sebisa mungkin dia tahan. Ada hal yang jauh lebih besar, yang harus dia lakukan sekarang selain meladeni pria menyebal ini.
"Tidak akan pernah ada puasnya, jika mentertawai sepah yang mengira dirinya permata." Mata Edgar sampai mengeluarkan air mata, antara Terlalu banyak tertawa juga air mata kesesakan jiwanya yang rikuh.
"Cukup Edgar! cukup! berhentilah mentertawakan ku! Kau akan menyesali penghinaan mu ini kelak, akan ku buat kau bahkan lebih hina dari sampah manapun!" Teriak Samara yang mulai kehilangan kendali diri. Edgar sangat pandai mempermainkan emosi nya, tidak pernah sekalipun Edgar membalas perkataan kasar Samara dengan kata yang sama. Edgar terkesan santai dan terlalu tenang, untuk dihadapi dengan amarah sebesar apapun.
"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, Samara" Edgar berusaha mengatur nafasnya, Terlalu banyak tertawa membuat deru nafas nya tidak teratur. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk mentertawai mu. Menghina mu? ku rasa tidak! kau memang sudah sangat hina, lalu apa lagi yang bisa ku katakan. Merendahkan mu? juga tidak! kau sudah begitu rendah di mataku. Mempermalukan mu? itu juga tidak! kaulah yang membuat dirimu malu, lihat perbuatan mu, dan lihat hasilnya? sudah berapa banyak keluarga kau hancur kan demi ambisi gila mu? Sudah berapa banyak penderitaan yang kau sebab kan untuk anak-anak mu? Lalu aku bisa apa lagi, selain mengapresiasi hasil karya mu yang luar biasa itu." Edgar benar-benar menguliti Samara habis-habisan. Pria itu begitu tenang, bahkan saat mengatakan semua hal, yang harusnya membentur dinding emosional nya yang paling dalam.
Namun lagi-lagi Edgar selalu mampu mengolah emosi nya dengan baik. Tidak ada teriakan, tidak ada bentakan, kalimatnya begitu teratur dan rapi. Edgar bahkan masih bisa tertawa pelan, saat menyelesaikan kalimat-kalimat yang menelanjangi harga diri seorang Samara.
"Kau akan sungguh menyesal telah melakukan ini padaku, Ed. Kita lihat nanti, apa yang bisa aku lakukan." Seru Samara di ujung kemarahan nya yang semakin menggebu. Sementara Edgar tidak bereaksi apapun, wajahnya kembali datar dan dingin.
Seperginya Samara dari ruangan itu, Edgar menghubungi seseorang.
"Ikuti kemana pun istri ku pergi, cegah apapun yang dia lakukan. Bagaimana pun caranya!" Setelah mematikan sambungan telponnya, Edgar meraup wajahnya. Di ujung kelelahan batinnya, Edgar menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan dengan kasar.
__ADS_1
"Wanita memang makhluk yang paling mengerikan, aku menyesal pernah begitu meratui nya di dalam hidup ku selama ini." gumam Edgar, terkekeh dalam keputus asaan nya.