
"Son..hari ini hadir lah di rapat pemegang saham. Kau punya saham mayoritas di perusahaan selain Daddy dan paman mu, Joss. Jadi suara mu sangat penting untuk di pertimbangkan oleh para pemegang saham." Ucap Edgar menyarankan di sela sarapan nya. Ekor mata nya melirik ke arah di mana istri nya duduk. Dia tau wanita itu tidak suka dengan keputusan nya, namun dia pun tidak perduli. Sudah saat nya memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak keturunan keluarga nya.
"Apa tidak sebaik nya Zora saja, dia yang akan mengambil alih tangkup kepemimpinan perusahaan kelak." Sela Mora sedikit cemas akan posisi putri nya.
"Berapa banyak saham yang putri mu miliki di Belluwig Company?" Skak! Mora terdiam, lidah nya seketika mati rasa. Di tatap nya sang ibu mertua berharap sebuah pertolongan.
Samara menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyudahi sarapan nya.
"Kau tau Ed, aku sudah tak ingin lagi berdebat soal apa pun dengan mu. Tidak bisa kah kau melihat Zora sebagai cucu tunggal, harapan terakhir yang keluarga ini miliki. Sky anak tunggal kita, begitu juga Zora. Kau sering bertanya soal hati nurani padaku ? lihatlah diri mu sendiri ? apa kau tidak sempat berkaca pagi ini?" Sky menggenggam sendok di kedua tangan nya dengan kuat. Putra tunggal ? cucu satu-satunya ? cihh! ibu nya benar-benar sudah gila dan tak tertolong lagi.
Mengabaikan ocehan ibu nya, Sky menimpali apa yang ayah nya sampai kan.
"Aku akan menghadiri nya dad. Bukan kah aku ini putra tunggal, dan jatah seorang pewaris adalah ketika si pemilik warisan sudah tiada. Atau minimal karena kemurahan hati sang pemberi warisan itu sendiri. Dan aku masih hidup, aku akan mengelola perusahaan keluarga kita semampu ku." Tegas Sky menatap sang ayah dengan tatapan penuh arti. Edgar tersenyum lebar, putra nya telah kembali. Itu yang hati nya rasa kan.
"Sky sayang, kenapa kau berubah pikiran seperti itu. Bukan kah kita sudah sepakat untuk memberi dukungan penuh pada Zora dalam RUPS nanti. Apa kau lupa, Zora putri mu satu-satunya. Biar kan Zora belajar memimpin perusahaan sejak dini, agar dia belajar menguasai manajemen perusahaan dengan baik." Tegur Samara mengingat kan putra nya. Tatapan teduh penuh permohonan layak nya seorang ibu yang tertindas, adalah senjata yang selalu mampu meluluhkan hati keras Sky.
__ADS_1
Sky menatap ibu nya dengan tatapan yang entah lah, benar kah wanita ini adalah ibu nya. Kenapa dia tidak bisa menemukan celah terbaik dari diri wanita itu, selain sudah bersedia mengandung dan melahirkan diri nya ke dunia ini.
"Aku hanya akan melakukan sesuai tupoksi ku mom, Zora akan mendapatkan bagian nya nanti. Tentu saja sesuai dengan apa yang seharusnya dia dapat kan." Tegas Sky menatap sang ibu dengan tatapan berani. Selama ini Sky selalu menatap wanita itu dengan tatapan ramah dan penurut. Kali ini dia menatap sang ibu seolah menantang wanita itu, bahwa dirinya bukan Sky yang lemah seperti kemarin.
"Tapi Sky ibu ha..."
"Biar kan putraku memutuskan apa yang seharusnya dia putuskan. Sky sudah terlalu dewasa untuk kau setir sesuai keinginan mu. Jangan buat putra ku seolah tak mampu mengatasi apapun dengan usaha nya sendiri." Sergah Edgar menatap tajam netra istri nya. Samara mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, mulut nya mengatup menahan gejolak amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Aku sudah selesai, lanjut kan sarapan penuh kasih sayang ini dengan damai." Ucap Sky menyindir telak semua orang yang sedang menikmati sarapan, juga saling melontarkan tatapan membunuh satu sama lain.
"Aku lihat di garasi berhamburan mobil berbagai merk yang tak murah. Jika kau masih merasa kurang, beli lah lagi. Atau jika kau sudah merasa bosan, suruh paman Arsene menyumbang nya ke yayasan amal. Kau akan menikmati banyak berkat Tuhan atas kemurahan hati mu itu." Tukas Sky tanpa perasaan. Mata Zora berkaca-kaca mendengar penuturan lugas sang ayah, yang tanpa memikirkan perasaan nya.
"Zora hanya ingin menumpang mobil mu saja Sky, dia merindukan kasih sayang mu. Tidak bisa kah kau merasa kan kerinduan putri mu. Apa salah nya, hingga kau begitu acuh dan membenci nya. Kenapa kau jahat sekali pada kami?" Mora terisak pelan sambil meremat sendok di tangan nya. Zora mengelus pelan bahu sang ibu, mata nya berkaca-kaca.
"Daddy pergi lah duluan. Aku akan pergi sendiri saja, tidak apa-apa. Maaf jika membuat Daddy merasa tidak nyaman atas permintaan ku yang tidak tau diri." Ujar Zora dengan suara bergetar menahan tangis. Tangan kirinya dia kepal kan sekuat mungkin, untuk meredam kemarahan juga rasa sesak di dada nya.
__ADS_1
Sky nampak tak tersentuh dengan adegan drama menyentuh hati yang tengah berlangsung di hadapan nya.
"Baik lah, itu memang lebih baik. Aku tidak suka seseorang menumpang pada ku seperti parasit." Sarkas Sky kemudian berlalu pergi begitu saja. Edgar mengelap bibirnya menyudahi sarapan penuh drama tersebut.
"Aku juga akan berangkat, apa tidak ada yang ingin mengatakan sesuatu pada ku? mungkin seperti, hati-hati lah suami ku sayang. Atau, berhati-hati lah di perjalanan ayah mertuaku yang murah hati." Edgar tersenyum miring setelah menyelesaikan kalimat penuh nada ejekan tersebut.
"Berhati-hati lah suamiku sayang, aku khawatir kau tidak sempat menyaksikan bagaimana putra mahkota menduduki tahta nya, dan memakai mahkota dengan tujuh permata dari tujuh negeri dan tujuh benua." Ucap Samara dengan seringai jahat tercetak jelas di bibir nya. Edgar tertawa pelan, seakan sedang mendengarkan cerita lucu yang menggelitik hati nya.
"Dongeng mu sangat lucu Samara, aku ragu musuh mu akan ketakutan jika menyaksikan kelucuan mu ini. Aku saja sampai ingin tertawa hingga mengeluarkan air mata darah saat mendengar nya. Astaga..simpan leluncon mu untuk menghibur menantu dan cucu kesayangan mu itu. Aku pergi dulu, rekening mu tidak akan terisi sendiri jika aku bermalas-malasan di rumah." Edgar kembali tertawa renyah sambil memutar tubuh nya meninggal kan sang istri yang terlihat sedang menahan amarah.
Mora dan Zora saling menatap, kata putra mahkota yang mereka dengar, tampak nya mulai mengusik ketentraman hati kedua nya.
"Mom, aku berangkat ke kantor dulu. Pergilah berbelanja, mommy butuh hiburan. Nek, aku berangkat..." Samara mengangguk pelan sambil tersenyum samar. Zora mengernyit saat tanpa sengaja mata nya menangkap penglihatan tak biasa dari jari-jari lentik sang nenek. Jari yang selalu terlihat indah dan terawat dengan berbagai perawatan dan warna cat kuku terbaik. Kini terlihat menghitam dan kulit di sekitar nya mengerut sedikit keriput.
"Apa nenek alergi dengan salah satu produk perawatan kuku atau semacam nya?" tanya Zora penasaran.
__ADS_1
Samara terlihat gugup, namun segera dapat menguasai keadaan.