
Berea berdiri di depan papan mading dengan tatapan tak terbaca. Raut datar nya sudah terbiasa di lihat oleh semua penghuni sekolah. Hanya saja di saat bersejarah seperti ini, akan terasa aneh, jika seorang siswa menatap papan pengumuman kelulusan dengan tatapan yang tak biasa.
"Dor! Kena kau!"
Zion mengerut dahi nya hingga berlipat ganda. Lalu di lirik nya kemana arah pandangan sang sahabat. Pandangan nya memang mengarah pada selembaran yang di tempel di papan pengumuman, namun itu hanya lah tatapan kosong tak terarah.
"Be? jangan bilang kau tidak lulus..?" tanya Zion mulai was-was. Jika Berea yang secerdas Einstein saja tidak lulus, apa kabar diri nya yang memiliki IQ selemot siput lumpur.
Berea menoleh pada sahabat nya yang kini nampak seperti sepotong daging panggang yang lezat. Gigi nya gemeletuk siap menggigit pria itu dengan senang hati.
"Apa aku terlihat seperti siswa yang bodoh?" Sarkas Berea tenang, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada papan mading. Zion mengikuti arah pandangan Berea dengan dada berdebar kencang.
Tertera Nama Berea di urutan kelima, sesuai abjad nama. Dan di ujung nama nya terlihat sebuah bagan yang menjelaskan, jika Berea lulus dengan nilai terbaik.
"Wuuaah.! kau memang selalu sepintar ini, aku bangga menjadi sahabat mu Be." Ucap Zion menepuk-nepuk halus punggung Berea. Sesaat kemudian pria itu sadar, baru saja membangun macam dari tidur nya. Dengan senyum cengengesan yang menyebal kan, Zion segera merangkul bahu sahabat nya.
"Di mana kau akan melanjutkan pendidikan setelah ini? kota ini cukup bagus ku rasa, jadi tidak perlu merantau jauh dari keluarga. Itu pendapat ku, karena aku terlalu takut menghadapi dunia luar yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Jadi aku memilih untuk melanjutkan pendidikan ke akademi militer saja. Kelak aku bisa berguna untuk mu, jika kau membutuhkan sahabat tampan mu ini." Celoteh Zion mengungkap kan rancangan masa depan nya dengan gamblang. Alis mata nya turun naik menggoda sahabat nya yang masih terlihat datar seperti biasa.
Berea menarik sudut bibir nya samar, sehingga hampir tak ada yang tau. Jika gadis datar itu tengah tersenyum.
"Itu pilihan yang bagus. Kau harus mulai membenahi kepribadian mu, memasuki jenjang akademi militer. Butuh pria tulen sejati, sehat rohani maupun jasmani." Zion melotot lalu berdecak kesal. Ending percakapan mereka selalu berbelok arah.
__ADS_1
"Terimakasih atas pujian mu, Be. Aku sangat tersanjung." Ketus Zion dengan nada sewot.
"Sama-sama Zion, aku memang tidak ada dua nya." Balas Berea dengan nada pongah.
"Hai Be, Zion...!" Kalian sudah melihat hasil pengumuman? aku deg-degan dengan hasil akhir nya.." ucap Helen menyapa kedua sahabat nya. Gadis itu tak datang sendirian, Grend selalu menempel pada nya sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Dan itu berhasil membuat Rosa and the genk murka. Namun keteguhan cinta Grend, benar-benar membuktikan bahwa hati nya tulus pada Helen. Sehingga tak ada yang berani sekedar menyindir sang kekasih, karena Grend selalu menempel seperti lintah pada gadis cupu itu.
"Kalau nilai mu anjlok, itu tidak lagi menjadi sesuatu yang mengherankan. Apa kau sadar kau lebih banyak waktu untuk mengurus bayi besar mu ini ketimbang belajar. Perpustakaan sudah sering kali meratapi ketidak hadiran mu di sana. Apa kau masih ingat susunan anatomi reproduksi? ah, aku lupa..kau kan sudah belajar langsung dari si maniak ini." Grend menonjok bahu Zion dengan sepenuh hati. Membuat Zion meringis lalu hendak membalas, namun pria itu segera berlindung di punggung sang kekasih sambil memeluk nya dari arah belakang.
"Wleee.." sungguh Zion ingin menarik lidah Grend hingga putus.
"Grend, lepas kan..ini area sekolah." Ucap Helen mengingat kan.
"Ralat kata-kata mu honey, panggil aku dengan benar.." balas Grend kesal karena Helen selalu memanggil nya dengan sebutan nama jika sedang bersama dengan sahabat nya.
"Apakah kalian tidak bisa tidak berdebat sekali saja setiap kali bertemu? kita mungkin akan sangat sulit bertemu ke depan nya nanti. Jadi kan momen ini sebagai momentum terbaik sepanjang masa remaja. Kita tidak akan mengulangi masa ini dua tahun ke depan." Sela Berea di tengah aksi saling adu kesengitan di hadapan nya.
"Kata-kata mu sungguh bijak kali ini. Entah mengapa aku merasa cemas. Apa kau berniat untuk meninggalkan kota tercinta kita ini,Be..?" tanya Zion penuh rasa ingin tahu. Ada sesuatu yang tengah Berea pikir kan, terlihat berkali-kali gadis itu menghela nafas panjang yang terdengar begitu berat.
"Bisa jadi. Aku sedikit bosan bertemu dengan mu setiap hari. Pergi ke California atau las Vegas seperti nya pilihan yang menarik. Mungkin aku bisa menjadi ratu judi di kota pilihan ke dua. Kau tau kota itu di juluki, "kota yang tak pernah tidur". Aku penasaran akan kebenaran nya. Lagi pula kekayaan orang tuaku sudah terlalu menumpuk, jika ku habis satu brankas uang ayah ku di meja judi. Itu bisa sedikit meringankan beban keamanan Bank." Ujar Berea dengan gaya angkuh. Senyum miring nya terlihat jelas saat melihat ekspresi dua pria di hadapannya itu berdecih kesal.
"Apa kau mau ikut bersama ku Helen? ku dengar pria di las Vegas tampan dan seksi..mungkin kau bisa mendapatkan satu untuk mu. Atau kita bisa berbagi jika sudah bosan." Mata Grend terbelalak lebar, menarik pinggang Helen hingga tak berjarak barang sesenti pun.
__ADS_1
"Jika kau berani mengajak nya pergi, tak peduli siapa ayah mu, berapa besar kekuasaan orang tua mu. Akan ku lubangi kepala mu di detik itu juga." Ancam Grend mengetetkan rahang nya. Pria itu menelan bulat-bulat kalimat candaan Berea yang memang terdengar tidak seperti candaan. Wajah serius, dingin dan datar nya selalu membuat orang salah paham.
Zion mencibir reaksi Grend yang menurut nya sangat berlebihan.
"Apa kau tidak bisa membedakan mana kalimat candaan mana kalimat yang serius.. Kebodohan mu semakin bertambah belakangan ini. Lihat urutan prestasi mu, kau anjlok ke urutan ke tiga. Sungguh kasihan..." Zion berdecak iba.
"Masih mending diri ku, lihatlah urutan prestasi mu...kau berada di urutan ke lima. Eh? Siapa Claus? Kenapa aku baru mendengar nama ini, apa kalian mengenal nya?" Grend terkesiap saat mengeja nama asing di papan pengumuman.
"Kau ini pergi sekolah untuk apa, hah? selain menempeli Helen seperti cicak. Dia anak baru di kelas mu, bagaimana bisa kau tidak mengenal nya!" Seru Zion kesal. Anak baru itu telah mengambil posisi nya di urutan yang biasa nya terisi nama nya.
"O.." bibir membulat Grend terlihat mengejek di mata Zion yang sedang kesal.
"Kenapa aku bisa tidak tau ya...apa nama nya tidak pernah di sebut saat sedang di absen?" Grend nampak terheran heran, apa hanya dia yang tidak menyadari kehadiran makhluk hidup tersebut di kelas nya.
"Bagaimana bisa kau tau, kalau setiap detik hanya nama Helen yang kau dengar. Dasar tidak waras!"
"Hei! kenapa kau terlihat marah?!" jawab Grend tak terima dengan nada tinggi temannya. "Apa Claus ini wanita? apa dia menolak cinta mu? kenapa kau nampak sangat kesal pada nya..?" Grend mulai terpancing. Zion semakin ketus pada nya perihal membahas anak baru tersebut.
"Dia banci! sudah tidak usah di bahas, aku sedang lelah batin sekarang! Be, mari kita ke rumah pantai mu. Aku akan mentraktir mu hari ini, daging kalkun jantan yang super lezat dan besar." Mata Berea berbinar cerah, sungguh kontras ketika dia melihat hasil pengumuman nya tadi. Zion tersenyum simpul, dia tau Berea suka sesuatu yang gratis. Namun bukan itu intinya. Sahabat nya terlihat tengah memikul beban pikiran yang tidak ringan, peran nya sangat penting. Bersikap konyol jika itu bisa membuat sudut bibir gadis itu mekar meski hanya sesenti. Itu cukup baik dari pada melihat mendung menguasai manik bening sahabat kesayangan nya.
"Let's go, epribadeeehhh..!!" Seru Berea bersemangat, Zion melebar kan bibir nya dengan hati yang sedikit lega. Senyum itu bermakna bagi nya, tidak sia-sia pengorbanan nya selama tiga tahun ini meninggal kan keluarga nya. Hanya demi memastikan senyum itu tetap terlihat dan terjaga dengan baik.
__ADS_1
∆Promosi Novel Baru! Yang berkenan, mampir yaah! Jangan lupa dukungan nya, Like+Favorit, vote+hadiah juga boleh🙏🙏🤗🤗🥰🥰