Darkest Dream

Darkest Dream
Kebocoran Informasi


__ADS_3

Bern mengangkat kepalanya, dia melihat Turner tengah mendorong sebuah boks besar ke arah pintu dengan susah payah.


"Jika kau membutuhkan nya, bantulah pria tua ini mendorong nya." Tukas Turner menatap jengah kondisi lusuh tetangga nya.


"Ah, maaf. Mari aku bantu" keduanya mengangkat boks tersebut menuju rumah Bern. Namun saat Turner akan ikut naik ke lantai atas, Bern menghentikan nya. Teringat pesan Lizzie, jangan meminta bantuan siapapun.


"Kau sampai di sini saja tuan Turner, sisa nya aku kerjakan sendiri. Terimakasih banyak atas bantuan dan es batu mu. Aku akan menggantikan berapa kerugian mu nanti." Ucap Bern sedikit gugup, Turner menyipitkan matanya melihat gelagat aneh Bern.


"Kau tidak sedang menyimpan mayat seseorang dengan meminta banyak es batu padaku, kan Bern ?" tanya Turner penuh selidik. Bern semakin gugup, melihat tatapan penuh intimidasi mengarah pada nya.


"Tentu saja tidak tuan Turner, anda lupa apa pekerjaan ku. Yang benar saja" sanggah Bern cepat, dia tak tau lagi harus berkata apa.


"Biar kan aku ikut membantu mu mengangkat boks itu sampai ke depan pintu kamar mu, kau akan kesulitan membawa nya seorang diri." Bujuk Turner menawarkan bantuan nya, Bern terlihat menimbang. Namun akhirnya mengangguk, benar juga, boks itu sangat berat dia tidak akan sanggup jika mengangkat nya seorang diri.


Keduanya naik ke lantai atas, saat mencapai pintu kamar, Bern yang akan mengucapkan terimakasih terkejut, saat melihat Turner sudah mendorong pinta kamar nya dan melangkah masuk.


"Tuan Turner! kenapa anda lancang sekali" seru Bern tidak terima akan sikap lancang Turner.


Turner terdiam sejenak menatap wajah lebam Lizzie, "dimana kau menemukan nya, Bern ? apa yang terjadi padanya? bagaimana bisa kau bersamanya ?" banyak pertanyaan yang diajukan pada Bern membuat kepala pria itu mendadak pusing.

__ADS_1


"Cerita nya panjang, aku akan menceritakan nanti saja. Gadis itu butuh pertolongan segera, tolong rahasia kan apa yang kau lihat ini.Dia tidak ingin siapapun melihat nya, dan kau pengecualian yang terpaksa karena keadaan." Pungkas Bern mengangkat satu persatu balok es menuju kamar mandi.


Turner mendekati ranjang lalu berhenti sejenak, menatap wajah Lizzie dengan tatapan tak biasa.


"Kenapa kau baru tiba sekarang, nona muda. Waktu mu tidak akan cukup jika kau memilih melakukan nya seorang diri. Kami sudah terlalu tua untuk melakukan peperangan ini, dan kau masih terlalu muda untuk berkorban dalam pertempuran penuh tetesan darah ini." Turner mengusap sudut matanya, entah air mata untuk apa. Sedih karena baru mengetahui, jika si pematah segala jenis takdir buruk, ternyata adalah seorang wanita muda. Bahagia, karena akhirnya bisa dipertemukan dengan pewaris darah murni generasi pertama, yang hidup kembali dalam wujud seorang gadis muda.


Bern yang tak sengaja menguping perkataan panjang Turner menghentikan langkahnya, siapa gadis itu? Kenapa tuan Turner memanggil nya dengan sebutan nona muda. Turner dan istri adalah tetangga terlama yang tinggal di kompleks perumahan tersebut sejak perumahan itu baru di bangun. Tak banyak yang dia ketahui selain kedua tidak memiliki satu pun keturunan, hanya ada beberapa anak dari panti asuhan yang sering mengunjungi keduanya.


Bern masuk hendak membawa Lizzie ke kamar mandi, "bukalah jaketnya terlebih dahulu, beri sedikit tetesan lilin di dalam air es tadi lalu tinggal kan dia hingga dia terbangun sendiri. Aku permisi dulu, jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan nya pada siapapun." Tukas Turner meyakinkan lalu melangkah keluar kamar Bern dengan langkah sedikit tergesa.


Bern membuka jaket Lizzie, tanpa sengaja kaos Lizzie ikut tersingkap. Kulit mulus Lizzie yang sedikit lebam tak sengaja terlihat oleh mata kesepian nya. Bern merutuki pikiran kotor nya, yang muncul di saat yang tidak tepat.


Setelah merapikan kembali kaos Lizzie, Bern mengangkat tubuh Lizzie kekamar mandi. Sejenak Bern menatap tubuh Lizzie yang terendam di dalam bathtub hingga batas dada. Bern menyandar kepala Lizzie dalam posisi yang nyaman di sandaran bathtub.


Setelah merebahkan tubuhnya sejenak, Bern memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi di luar. Meski pikiran nya masih memikirkan setiap makna dari kalimat panjang yang di ucapkan oleh Turner pada gadis yang baru saja mengacaukan sistem kerja otak nya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di sebuah apartemen mewah, seorang pria tengah mengamuk dengan melampiaskan rasa kesal dan marah nya pada anak buahnya yang tersisa. Pukulan dan tendangan dia layangkan tanpa peduli pada nyawa kedua manusia malang tersebut.

__ADS_1


"Aarrgggghhhhh!!!" teriaknya meluapkan rasa marah. "Kenapa kalian bodoh sekali, hah!" Ini bukan tugas pertama, kenapa bisa gagal. Apa kalian tau berapa kerugian yang harus aku tanggung sekarang! Dasar bodoh! Tidak berguna!" Bugh bugh dua pukulan terakhir dia layangkan hingga salah satu pria di hadapannya terkulai lemah di lantai.


"Kau! bereskan anjing tak berguna ini, dan kau, ini peringatan untuk mu! Jika tidak ingin nasibmu berakhir di ujung kepalan tangan ku, bekerja lah menggunakan otak ku juga. Aku tidak ingin menanggung banyak kerugian atas kebodohan kalian!" Teriaknya penuh peringatan.


"Katakan kau sudah menemukan penyebab kebocoran informasi tersebut " Ucapnya pada salah seorang pria yang kini tengah berdiri di samping meja kebesaran nya.


"Seorang telah melaporkan informasi jika adanya penyeludupan senjata menuju Meksiko, tuan. Menurut laporan seorang informan kami yang bekerja di dalam kepolisian, informasi itu berasal dari seorang wanita." Ucapnya takut-takut.


"Jadi kita di kalah kan oleh seorang wanita rupanya. Aku jadi penasaran, wanita gila mana yang merelakan hidup nya berakhir di ujung pelatuk ku." Seringai licik terbit dibibir nya terlihat sangat menakutkan.


"Kau sudah mendapatkan rekaman di TKP ?"


"Sudah tuan, ini." pria tadi kenyerahkan sebuah flashdisk unik ke atas meja tuannya.


Setelah terhubung ke laptop, matanya mengerut dalam. Tidak mungkin, ini pasti salah. Bagaimana bisa? otaknya mulai terasa panas dingin. Wanita membuat hari-hari nya kacau balau belakangan ini, adalah wanita yang membuat nya terlibat kekacauan dengan pihak berwajib. Astaga! takdir macam apa ini, wanita yang terlihat biasa-biasa saja, ternyata mampu meluluh lantakkan organisasi gelap miliknya.


Ale meraup wajahnya kasar, kepala nya berdenyut hebat "dasar ja*l*ang kecil jaha*nam!" makinya marah. "Kau mengacaukan hati dan pikiran ku, dan lihatlah. Kau juga mengacaukan bisnis ku dengan begitu mudah." Ale tertawa miris, suara tawa nya menggelegar dalam ruangan tersebut. Masing-masing anak buah nya tak ada yang berani bersuara.


"Aku akan menemukan mu, akan ku buat kau menyesali perbuatan mu padaku, Lizzie!" Gumamnya dengan wajah mengeras, Ale mengepal kuat tangannya hingga buku jari nya memutih. Amarahnya semakin berlipat saat melihat bagaimana Lizzie di papah begitu intim, oleh polisi pria direkaman tadi.

__ADS_1


"Cari gadis itu, dan bawa dia kehadapan ku! aku ingin melihat, bagaimana reaksinya setelah bertemu dengan ku. Apa kah dia masih sama angkuhnya seperti yang sudah-sudah" titah Ale pada anak buahnya. Dan segera di laksanakan saat itu juga, mereka membubarkan diri dengan perasaan lega, lega karena bisa keluar dari sarang maut itu dalam keadaan hidup. Meski tugas lain kembali mereka emban, tidak lah masalah.


"Arrrggghhhh!! Kau harus membayar sebesar apa yang telah kau perbuat padaku, Lizzie!" Suara teriakan Ale kembali bergema, pria itu menembakkan peluru nya hingga habis, pada poto Lizzie yang tertempel indah di dalam pigura di dinding ruangan Ale. Begitu besar amarah yang pria itu simpan untuk Lizzie, hingga melihat potret nya pun, Ale tak sudi.


__ADS_2