Darkest Dream

Darkest Dream
Pertemuan Singkat


__ADS_3

"Auuww..!" Seorang wanita terjungkal hingga terduduk di lantai dalam posisi yang tak nyaman.


"Hei! pergunakan mata mu dengan benar jika tak ingin aku tembak kedua mata sialan mu itu!!" teriak nya marah, jari telunjuk nya masih mengacung di udara. Namun mulut nya ternganga melihat siapa yang tengah dia teriaki dengan kasar.


Senyum licik Lizzie membuat nya semakin kesal dan marah.


"Kau!" ucap nya menggantung. Seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Kau bajingan! terkutuk kau kak, aku membencimu. Sangat! kemarilah, akan ku tembak kepala mu hingga otak cerdas mu berhamburan keluar!" teriak nya menjadi-jadi, namun Lizzie begeming. Sementara tubuh leah di peluk oleh Morgan dari belakang. Hingga membuat Leah kesal dan berusaha memberontak.


"Lepaskan brengsek! aku ingin mencakar wajah nya hingga tak berbentuk!" seru nya pada sang adik. Namun Morgan masih setia memeluk erat sang kakak yang tengah mengamuk seperti banteng.


"Hai kak, apa kabarmu? kau semakin cantik.." puji Morgan membuat Bern langsung pasang badan waspada.


"Dia adik ku dad. Jangan bilang kau cemburu juga.." ujar Lizzie memperingatkan sang suami.


"Kau? jangan bilang kau mengetahui tentang nya selama ini? katakan bajingan kecil, atau kau juga akan aku cincang saat ini juga!" Leah merasa di permainan kan oleh saudara-saudaranya.


"Maaf kak, aku hanya menuruti perintah sang ratu" ucapnya santai. Leah semakin beringas hingga tak lama suara melengking Alex dari arah belakang menghentikan gerakannya.


"Kakak, kau? Astaga!.." Alex menjatuhkan barang belanjaan hingga mengenaskan dilantai. Pria itu menyongsong tubuh sang kakak setelah menggeser paksa tubuh Bern.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mu, kak. Kenapa lama sekali baru terlihat, aku sudah melihat keponakan cantik ku. Dia persis seperti mu, terlihat lebih menyebalkan dan sayang nya aku menyangi nya juga." Alex mengurai pelukan nya lalu menangkup wajah tirus kakaknya, ciuman penuh kasih sayang dia darat kan dikening Lizzie begitu dalam.


"Mommy ada di kota ini, begitu juga yang lain...mereka pasti akan senang jika berjumpa dengan mu, terutama Daddy. Dia terus menyimpan rasa bersalah atas kepergian kakak. Pria tua itu masih sering menangis diam-diam kala sedang sendirian." Cerita Alex membuat hati Lizzie berdenyut nyeri.


"Apa hanya kau adik nya, menyingkir lah kau menghalangi langkah ku!" ketus Leah mendorong tubuh Alex sedikit keras. Alex bergumam tak jelas karena kesal.


"Kau jahat sekali kak, kenapa hanya mereka yang mengetahui tentang mu...apa kau tidak menyayangi ku?" Leah terisak di hadapan Lizzie, Lizzie segera meraih tubuh sang adik ke dalam pelukannya.


"Shuutttt..sejak kapan kau menjadi cengang begini hmmm?" ujar Lizzie menenangkan sang adik.


"Aku menangis karena mu kak, kau yang membuat ku menjadi lemah seperti ini." Sergah Leah terisak kesal. Lizzie tertawa pelan mendengar alasan klasik sang adik.


"Baiklah, maafkan kakak mu ini. Berhenti lah menangis, aku masih punya satu adik yang belum ku peluk." Ujar Lizzie terkekeh kecil. Leah mendengus tak rela melepaskan pelukannya pada sang kakak.


Setelah Leah menguasai emosi nya, Morgan kini maju lalu memeluk erat sang kakak penuh kerinduan.


"Kau berhutang banyak pada ku, kak. Kau tak pernah menggubris telepati ku selama ini. Ku pikir aku sudah benar-benar kehilangan mu. Kau lupa aku lah si penjaga rahasia terpilih, semua aman bersama ku." Omel Morgan kesal pada sang kakak yang tiba-tiba tak bisa dia jangkau lagi melalui telepati nya.


"Sungguh? kenapa aku ragu? lalu kenapa Alex dan bibi bisa mengetahui tentang ku, hmm?" skak! Morgan menggaruk tengkuknya, pria itu terlihat salah tingkah. Sementara Lizzie terkekeh geli melihat kegugupan sang adik.


"Jadi kau tau soal itu juga? kau memanfaatkan telepati ku, kak. Itu tak adil. Kau bisa melihat apa yang aku lihat dan dengar, lalu kenapa aku tak bisa...?" Sergah Morgan tak terima.

__ADS_1


"Kau lupa, aku adalah separuh dewa...dan lihat lah, kau masih belum merubah warna favorit mu." Tawa Lizzie meledak kuat di susul oleh Alex dan Leah. Kini Leah punya bahan balasan untuk menekan sang adik, demi membalas dendam atas kebohongan Morgan selama ini. Sementara Bern hanya mematung menyaksikan bagaimana para bersaudara itu sedang membully adik mereka.


"Honey.. berhenti lah tertawa, lihat pada pengunjung pria seperti nya sudah mulai bosan memiliki penglihatan yang bagus dan sehat." Ujar Bern penuh peringatan, intonasi suara nya sedikit meninggi. Sehingga para pria yang tanpa sengaja terus menatap Lizzie melipir pergi saking takut nya. Siapa yang tak tau sikap posesif Bern pada istri nya. Kota itu sudah seperti milik mereka. Bern selalu bersikap waspada jika mereka sedang menghadiri sebuah acara, tak ada pria yang berani menatap sang istri lebih dari tiga detik. Kecuali Brian, pria itu begitu menyayangi istri nya layaknya putri kecilnya.


Sehingga saat tau di mana Lizzie menetap setelah beberapa kali menghilang dari jangkauan nya, Brian memboyong anak dan istri nya untuk menyusul. Tak peduli apa yang sudah mereka korbankan untuk bisa tetap berada di jangkauan anak angkat kesayangan mereka itu.


Bersama Brian, Bern membangun kota itu sedemikian rupa hingga sekarang.


"Dengar adik-adik, suami ku seperti nya harus segera ku jinak kan. Datang lah ke rumah nanti malam, aku akan menjamu kalian dengan penuh suka cita. Anak-anak ku pasti akan senang bertemu dengan keluarga besar mereka. Sekedar informasi, aku punya putri yang mulut nya setajam belati. Jadi berhati-hatilah dalam bertutur kata pada nya. Atau dia akan membayar lunas dengan harga yang tiga kali lipat lebih tinggi." Alex tersenyum penuh makna.


Leah mencebik, memang nya siapa yang mampu mengalahkan nya dalam hal beradu argumen selain sang bibi kesayangan.


Tanpa leah ketahui, jika sang keponakan memiliki bisa mematikan di bibir nya. Yang setiap kalimat terlontar dari mulut nya, akan membuat mulut lawan nya langsung berbusa.


Alex tersenyum penuh arti, dia sudah mengenal sang keponakan dengan baik. Selama mengajar di sekolah baru tersebut, dia tau bagaimana Berea begitu di takuti oleh hampir seisi sekolah. Bahkan termasuk guru-guru yang ada di sana.


Gadis kecil yang mulai menjadi kesayangan nya itu, memiliki kepribadian yang teguh. Tak suka di tindas dan melihat penindasan. Bisa di katakan, Berea adalah pahlawan bagi kaum lemah di sekolah nya. Meski caranya bisa begitu ekstrim dalam memberikan sebuah pembelaan.


Mereka berpisah meski ketiga adik nya sedikit tak rela, namun mengingat nanti malam mereka akan bertemu kembali. Sedikit mengurangi rasa kesal di hati masing-masing.


Pertemuan singkat itu berhasil membuka aura negatif dari tubuh Leah. Tanpa di sadari, pelukan sang kakak, telah melepaskan sebuah mantra dalam diri sang adik.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2