
Lizzie menumpang dalam bak sebuah truk kecil yang kebetulan berhenti di pinggir jalan, saat sang sopir mendapatkan panggilan alam. Diam-diam Lizzie menaiki bak truk yang tertutup semacam kain atau sejenisnya.
Didalam nya banyak sekali jenis sayuran, bisa di pastikan, jika pemilik mobil bak tersebut akan menuju ke pasar.
Lizzie tertidur beberapa jam, hingga suara decitan ban mobil berhenti, membuat nya terbangun. Luka tembak di perut nya belum sembuh sempurna, namun dia tidak bisa menunggu lagi. Purnama bulan biru akan tiba dalam 10 hari ke depan, adik nya harus mendapat kan mahkota saat itu tiba.
Lizzie segera turun dari bak agar tidak ketahuan, benar dugaan nya. Pasar nampak sangat ramai, mata nya tertuju pada sebuah kedai barang antik tak jauh dari tempat nya berdiri. Entah kenapa dia sangat tertarik untuk mendatangi tempat itu, langkah nya tertuju ke sana. Seorang anak kecil tak sengaja menabrak kaki nya hingga terjatuh. Lizzie segera menolong nya untuk bangun.
"Kau tidak apa-apa? apa ada yang sakit, hmm?" tanya Lizzie lembut, lalu mengusap pelan lutut gadis kecil itu. Mata biru terang nya mencuri perhatian Lizzie. Sangat indah.
"Aku baik, kakak lah yang tidak baik-baik saja. Beberapa orang jahat akan menangkap mu, dan menukar jiwa mu dengan seorang pria muda. Pewaris mahkota. Kau akan kehilangan semua nya, orang-orang yang kau sayangi, juga keajaiban mu. Jika saja kau tidak berhasil menaklukkan jantung sang ratu iblis dalam beberapa hari ke depan." Lizzie terkesiap, tidak sedikit pun penglihatan tentang gadis itu saat dia menyentuh nya. Siapa gadis kecil itu, kenapa dia mengetahui segala nya.
"Ayo bangun, aku akan mengantarmu pada orang tua mu" ajak Lizzie membantu menarik pelan pergelangan tangan gadis kecil itu.
"Seorang pria akan menemukan mu, merusak masa depan mu dan menghancurkan seluruh hidup mu. Lizzie!" Kata nya lagi, mata biru nya menatap Lizzie tak berkedip. Lizzie tersentak saat seseorang menepuk bahu nya.
"Kenapa kau terus berdiri di sini, nona. Kau menghalangi orang-orang yang akan melewati jalan ini." Tegur seorang pria paruh baya, Lizzie mengernyit heran. Bukan kah di sana dia sedang bersama seorang gadis. Namun saat mata nya kembali menoleh ke arah depan, gadis itu sudah lenyap entah kemana. Tangan nya menggantung, tangan yang tadi dia gunakan untuk menggenggam tangan mungil gadis itu.
Lizzie kembali menoleh pada pria tadi dan meminta maaf, setelah nya dia pergi dari sana menuju toko barang antik tujuan nya.
Pikiran nya masih menerawang pada kejadian tadi, siapa gadis kecil itu. Kenapa dia tidak bisa menembus batas penglihatan pada gadis itu. Berbagai pertanyaan bergelayut dalam pikiran nya. Pria yang menghancurkan hidup nya? dia sudah tau itu, dia pun masih mencari cara, agar takdir nya yang satu itu, akan menjadi pengecualian.
"Tuan, apa belati ini bisa kau kurangi lagi harga nya? aku sangat menyukainya, namun uang ku tidak cukup banyak sesuai nominal yang kau tawar kan." Ucap seorang wanita tua pada pemilik toko barang antik tersebut.
"Maaf, nyonya. Itu harga paling murah yang bisa ku berikan. Belati ini punya nilai sejarah nya tersendiri, milik sebuah keluarga kerajaan di masa lalu. Ku dengar dari seorang teman ku yang menjual nya pada ku, belati ini pernah menembus jantung raja iblis paling kejam pada masa nya. Harga ini tidak lah sebanding, hanya saja, belati ini yang paling susah laku. Bentuk nya yang kurang menarik membuat banyak orang meminta diskon yang menggorok leher ku. Termasuk anda nyonya. Aku ini pedagang, cobalah mengerti, aku juga mencari untung." Ujar nya kesal. Si wanita menunduk lesu kemudian pergi dari sana, namun saat melintas di depan Lizzie. Mata nya menatap tajam seolah Lizzie memiliki masalah dengan nya.
__ADS_1
"Nona? kau ingin membeli sesuatu ? ada yang bisa kau carikan untuk mu? Banyak barang baru dari mesir juga Yunani, kau pasti akan tertarik." Ucap nya mempromosikan dagangannya, Lizzie tersenyum simpul.
"Aku tertarik dengan belati yang tidak jadi dibeli oleh wanita tua tadi. Apa kau masih menjual nya? aku khawatir kau akan menempa nya lagi agar terlihat menarik pengunjung." Seloroh Lizzie berhasil membuat tawa si pria menggelegar dalam toko itu.
"Kau sungguh berminat? bentuk nya sederhana, ini, lihatlah sendiri." Lizzie menerima belati itu, sekelebat bayangan masa lalu melintas dalam pikiran nya. Juga bayangan kejadian yang akan datang.
"Nona? kau baik-baik saja, hidung mu berdarah." Ujar si pemilik toko terlihat panik, Lizzie segera mengelap hidungnya. Gadis itu kemudian tersenyum miris, bahkan saat maut sudah di ujung kaki nya. Kenapa harus repot memberi nya tanda, tidak cukup kah penglihatan menakutkan nya selama ini.
"Nona?"
"Ah ya, maaf. Aku baik-baik saja, kurang tidur membuat ku bisa seperti ini. Penyakit bawaan " jelas Lizzie terkekeh pelan. Pria itu mengangguk kecil mendengar penjelasan Lizzie.
"Aku akan membeli belati ini, aku tidak ingin menawar, sungguh. Tapi aku sekarang hanya mempunyai benda ini, apa kita bisa barter ?" tanya Lizzie menatap si pemilik toko yang terlihat menganga, melihat koin emas yang ada di telapak tangan nya.
"Kau yakin nona? koin ini harga nya sangat mahal. Tidak sebanding dengan harga belati jelek ini" namun begitu, tangan nya sudah gatal ingin segera meraih koin emas tersebut dari tangan Lizzie.
"Tidak, maksud ku. Ya, kita bersepakat. Aku terima koin mu, ambillah belati itu. Sudah lama sekali benda itu memenuhi tempat di toko ku ini." Balas nya secepat kilat menyambar koin emas di tangan Lizzie, kemudian meraih belati itu dan membungkus nya dengan rapi. Seolah belati tersebut adalah hadiah spesial untuk seseorang.
"Ini, semoga kau tidak menyesal sudah membeli nya. Karena aku tidak akan mengembalikan koin mu ini" ucap nya mengingat kan, Lizzie tertawa pelan.
"Tidak, aku yang khawatir kau akan menyesal karena telah menjual nya Begitu murah." balas Lizzie kemudian bergegas pergi. Sesampai nya diluar, mata nya menatap sebuah mobil yang tak asing, bibir nya melengkungkan senyum.
"Kita bertemu lagi, Lex" ucap nya pelan.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Lex yang tengah menelpon istri nya sedikit terganggu, kemudian membuka kaca mobil nya dan mengeluarkan uang tanpa menoleh.
"Pergilah, aku sedang sibuk" ketus nya sedikit marah. Dia sangat merindukan anak dan istri nya, ada saja yang mengganggu pikirnya jengkel.
"Kau baik sekali, Lex. Terimakasih, tapi aku tidak butuh uangmu sekarang." Lex terkesiap, suara yang tidak asing itu berhasil mencuri perhatian nya dari ponsel. Pria itu menoleh, dan hal pertama yang dia lihat adalah senyum teduh Lizzie yang beberapa waktu lalu terakhir kali dia melihat nya.
"Nona? anda? Astaga! malu nya aku" ujar nya lalu membuka pintu mobil nya dengan segera. "Maafkan sikap kurang sopan ku nona, aku malu sekali." Ucap nya menunduk sopan sekaligus meminta maaf. Suaranya terdengar sampai ke telinga istri nya diseberang telepon.
"Tidak apa-apa, Lex. Aku senang kita bertemu kembali. Lanjut kan saja dulu, istri mu sedang menunggu diseberang sana. Boleh aku menumpang untuk beristirahat di dalam mobil mu? aku kehabisan ongkos, jadi kali ini aku ingin menumpang gratis pada mu" pinta Lizzie sopan sambil tertawa pelan.
Lex lagi-lagi di buat takjub, bagaimana bisa perkataan gadis itu benar. Ajaib sekali batin nya kagum.
"Silahkan nona, masuk lah. Duduk lah yang nyaman, aku akan ke sana sebentar." Ucap nya mempersilahkan Lizzie beristirahat di dalam mobilnya. Dalam keyakinan nya, Lizzie pasti kehabisan uang nya. Dilihat dari penampilan gadis itu yang sedikit berantakan, pasti sulit mencari pekerjaan di kota besar ini. Begitu lah pikiran sederhana nya.
Tanpa dia tau, Lizzie tengah bersembunyi dari orang-orang yang tengah mencari nya di dalam pasar tersebut.
klek
Lex masuk dengan bungkus makanan di tangan nya, juga segelas kopi moka panas.
"Maaf nona, ini ada roti isi daging dan kopi moka. Aku hanya mengingat apa yang pernah anda pesan dulu, ketika kita beristirahat di rest area." Ujar nya menyerah kan makanan tersebut pada Lizzie. Lizzie menerima nya dan mengucapkan terima kasih. Dirinya memang tengah lapar, bekal yang dia bawa tidak seberapa. Karena saat akan memgambil stok bekal di dapur, dia melihat adik nakal nya di sana, sedang berusaha merayu seorang servidor. Sehingga Lizzie memutuskan untuk membuat sedikit kenakalan yang tidak baik dicontoh, dengan mencuri makanan Arfin di pos jaga.
Pria tambun itu ternyata menimbun banyak makanan di pos nya, dasar badak rakus batin Lizzie tertawa laknat.
"Kita akan kemana nona? aku akan mengantarmu hari ini, aku belum akan kembali karena sedang menunggu seseorang. Dia bilang akan menggunakan jasa ku besok subuh, membawa barang masuk ke Meksiko. Bayaran nya lumayan, aku sudah mendapatkan setengahnya, jadi aku bisa mentraktir mu makan siang juga makan malam hari ini." Cerita nya penuh semangat, Lizzie menatap miris sopir baik hati itu. Tidak tau saja dia, jika diri nya kini tengah di jebak seorang teman nya sesama sopir gelap.
__ADS_1
Namun Lizzie belum akan mengatakan nya sekarang, Lex pasti akan langsung menyanggah nya. Biarlah dia ikuti alur nya dulu, sekaligus ingin berkenalan dengan beberapa orang licik tersebut.