
"Berhenti lah menciumi punggung tangan ku, Bern." Ucap Lizzie memperingatkan. Sudah hampir setengah jam Bern terus melakukan hal yang sama berulang-ulang.
"Aku merindukan mu, salah mu telah membuat duda kesepian ini jatuh cinta." Bern menatap netra Lizzie penuh cinta. Mata nya masih sedikit memerah akibat kurang tidur juga menangis.
"Ck! bukan kah aku bukan tipe mu. Lalu bagaimana bisa kau jatuh cinta pada ku.." ledek Lizzie tersenyum miring. Wajah Bern memerah, dia jadi malu sendiri.
"Itu kan sudah lama, kenapa masih mengingat nya." Decak Bern kesal. "Aku sudah merindukan mu bahkan saat kereta mu baru saja berangkat. Aku tersiksa, baju mu sampai kumal aku peluk setiap malam. Kau harus bertanggung jawab pada jiwa labil ku selama beberapa waktu belakangan ini. Aku tidak fokus bekerja, dan sekarang aku resmi menjadi seorang pengangguran." Cerocos Bern dengan segala tuntutan nya. Lizzie mencebik mendengar celotehan pria di hadapannya itu.
Bern terkekeh kemudian beranjak dari kursi dan mendekap tubuh Lizzie dengan penuh kerinduan.
"Aku mencintaimu, jadi ayo kita menikah. Tidak peduli siapa menjadi yang pertama, tapi aku ingin kau menjadikan ku yang terakhir. Kita akan mulai hidup yang baru di kota yang jauh dari peradaban. Hanya kau dan anak-anak kita saja." Lanjut Bern meruntut masa depan nya bersama Lizzie. Diri nya sudah tau kisah yang di alami oleh wanita nya, dan dia sama sekali tidak lah masalah. Bahkan jika harus membesar anak dari pria bajingan itu, Bern akan menanggung konsekuensi nya dengan sepenuh hati.
"Aku tidak sempurna Bern...."
"Lalu apa beda nya dengan ku? kenapa hanya wanita saja yang di tuntut sempurna sementara banyak pria yang menikahi wanita nya dalam keadaan yang sudah tidak perjaka. Jangan membandingkan diri mu dengan wanita lain, kau sempurna. Itu yang aku tau, aku mencintaimu dengan segala hal yang ada pada mu. Jadi, jangan tolak aku.." sela Bern memotong kalimat Lizzie dengan nada tak terima.
Lizzie mengurai pelukan mereka lalu menatap pria keras kepala di hadapan nya itu. Terlihat binar ketulusan di wajah sang duda kesepian.
"Baiklah. Lalu bagaimana dengan keluarga mu? pekerjaan mu? akan kau beri makan apa aku dan anak-anak kita nanti?" ujar Lizzie menimpali dengan sedikit candaan. Bern tersenyum kikuk.
"Aku akan bekerja apa saja. Kau tidak akan kelaparan nanti, lihat saja. Aku pria yang bertanggungjawab." Sahut Bern penuh keyakinan. Lizzie tersenyum samar, dia tau Bern tidak akan membiarkan nya kelaparan dan hidup susah. Pria itu bahkan rela meninggalkan kehidupan nyaman nya demi bisa bersama dengan nya.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Brian memeluk Lizzie cukup lama, rasa nya masih tak rela. Berkali-kali pria itu menyeka sudut mata nya.
"Paman kenapa lebih cengeng dari bibi Sofi?" ledek Lizzie berusaha mencair kan suasana sedih diantara mereka.
Brian melerai pelukannya "Berhati-hati lah, selalu kabari kami di manapun kau berada. Jangan lupakan pria tua ini, juga wanita cantik yang menyayangi mu melebihi rasa sayang nya pada ku." Ujar Brian terkekeh pelan.
"Ck! Lizzie putri ku, jelas aku lebih menyayangi nya." Sergah sang istri.
"Ya ya, aku kalah saing kalau begitu." Sahut Brian mengaku kalah.
"Berhati-hati lah sayang, kau tau bibi sangat menyayangi mu. Terimakasih sudah memberikan bibi kesempatan kedua." Ucap Sofi penuh makna. (Baca bab 25)
"Pergilah, dan aku harap putri mu kelak akan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Saat itu tiba, aku akan menyaksikan dari Eter dengan banyak untaian doa dan senyum bangga. Aku harap keturunan ku akan melanjutkan apa yang sudah kami persiapkan dengan baik." Setelah berpamitan, Lizzie dan Bern pergi dengan mengendarai mobil milik Brian. Mobil itu di lengkapi dengan GPS yang sengaja Brian pasang, meski dia sudah tau jika Lizzie akan mengetahui nya dengan mudah.. Paling tidak dia akan berusaha agar tetap terhubung dengan putri angkat nya itu.
Perjalanan menuju masa depan telah membawanya banyak kisah, air mata juga rasa sakit. Lizzie menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Sejenak wanita itu memejamkan kedua matanya untuk sekedar membayangkan wajah orang-orang yang dia kasihi. Bayangan wajah teduh sang ibu membayangi pelupuk mata nya. Gurat lelah tercetak jelas di wajah lembut ibu nya. Penderitaan yang kelak akan dia alami, berpisah dengan putri nya demi menyelesaikan sisa takdir yang tidak bisa diri nya tuntas kan. Beda nya, dia selalu di dampingi oleh sang suami tercinta. Bern, ya.. Pria keras kepala itu rela menarik dirinya dari segala kemudahan duniawi, demi rasa cinta yang membawa nya pada banyak cerita-cerita yang meski sulit di terima nalar. Namun membuat kehidupan nya terasa sempurna, baik sebagai seorang pria, suami dan seorang ayah.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Sky terpaku menatap wanita yang sudah sejak lama dia rindukan. Terlihat kerutan di wajah lelah sang istri. Tubuhnya terlihat kurus. Dengan langkah lebar Sky menyongsong tubuh mungil istri nya. Air matanya tak lagi dapat dia bendung. Tubuh Sky bergetar hebat dalam dekapan Cloey.
__ADS_1
Begitu pedih cara takdir menguji ketulusan cinta mereka. Sampai membuat istri nya sangat menderita.
"Maaf kan aku..." lirih Sky di telinga Cloey.
"Bukan salah mu, dad. Aku baik-baik saja.." balas Cloey setengah berbisik. Suaranya nyaris hilang karena di tahan, agar air matanya tak ikut luruh.
"Dad?" suara seorang gadis membuat atensi Sky teralih. Di tatapnya wajah oval yang membuat nya langsung tau, jika itu adalah Leah putri nya.
"Daddy.." suara Leah bergetar menahan tangis, dada nya sesak. Demi kebahagiaan orang tua nya, demi kebaikan umat manusia dan demi keselamatan mereka semua. Kini dia harus kehilangan sang kakak untuk selamanya.
"Kenapa daddy tidak berusaha melawan takdir? apa Daddy tau, aku kehilangan kakak ku karena mu! aku kehilangan panutan ku karena keserakahan manusia! aku kehilangan sadaran ku, saat aku rapuh dan tak berdaya...." Leah terisak keras sambil memukul tubuh sang ayah dengan brutal. Sky hanya diam sambil terus memeluk erat putri nya. Hati nya pun sama sakit nya. Membayangkan pengorbanan putri sulung nya, hati Sky berdenyut nyeri. Dia bahkan tidak sempat menyaksikan bagaimana putri nya itu tumbuh dewasa. Kini untuk melihat nya saja, dia sudah tidak bisa.
"Daddy salah, maafkan daddy sayang. Marah lah, pukul dad jika itu membuat mu sedikit lega. Daddy payah, kau benar. Maafkan pria lemah ini sayang, hukum daddy sesukamu..." Lirih Sky menenangkan hati pilu sang anak.
Alex membuang pandangannya ke arah lain, begitu juga Morgan dan yang lain nya. Hati mereka ikut sakit mengetahui fakta, jika Lizzie telah tiada.
"Sayang..maaf kan mom juga, andai air mata ini tidak selalu menetes diam-diam. Kakak mu mungkin masih ada di sini bersama kita." Cloey mengelus punggung sang anak yang masih tergugu dalam dekapan suami nya.
"Alex, bawa kakak mu masuk ke dalam kamar nya." Suara Ashley membuat Alex menoleh pada sang ibu. Yang benar saja, apa dia tidak akan di banting oleh singa betina itu jika menyela momen haru tersebut.
Tatapan penuh permohonan sang anak tidak di gubris oleh Ashley, seperti biasa, wajah datar lebih mendominasi daripada tampang keibuan nya. Alex mendesah pasrah, lalu menghampiri sang kakak.
__ADS_1
"Biar aku bawa ke kamar saja paman, beristirahat lah di kamar bibi." Alex mengambil alih Leah yang terlihat lemah, lalu menggendong nya menuju lantai atas. Di tatapnya wajah sang kakak yang di liputi banyak kesedihan. Siapa yang tidak sedih jika kehilangan saudara nya.
"Istirahat lah kak, aku akan menemanimu setelah membersihkan diri. Jangan terlalu larut dalam duka mu seorang diri, aku dan yang lain pun merasakan kehilangan yang sama." Ujar Alex mencium lembut kening sang kakak sebelum keluar dari kamar tersebut. Saat keluar, Alex berpapasan dengan Morgan di ujung tangga.