
Ale menatap Lizzie di seberang meja nya dengan tatapan penuh permusuhan. Gadis bar-bar itu bisa-bisa nya mematikan jalur air menuju kamar nya, disaat tubuh nya sudah penuh dengan busa sabun. Bukan kah itu keterlaluan.
"Sandro, makan makanan mu. Menatap Lizzie tidak akan membuat mu kenyang" tegur sang nenek semakin membuat kedongkolan nya berlipat ganda.
"Ck! nenek, mana ada aku menatap nya." Sanggah Ale tak terima, bisa semakin besar kepala gadis itu pikir nya.
"Ya sudah, kalau begitu habis kan sarapan mu. Hari ini nenek akan ikut ke perusahaan, ada beberapa hal yang harus nenek kerjakan di sana dan tidak bisa kau atau siapa pun wakilkan." Ale menatap nenek nya dengan tatapan bertanya.
"Hanya masalah internal, bukan hal besar. Nenek bisa mengatasi sendiri, kau fokus saja pada pekerjaan mu. Berhenti bermain-main dengan sekretaris bahan silikon mu itu. Hari ini Gratia akan nenek ajak mendampingi nenek. Agar otak mesum mu bisa sedikit terkendali tanpa melihat dada wanita itu." Ujar sang nenek panjang lebar, Ale lagi-lagi mendengus kesal.
"Nenek ini apa-apaan, mana mungkin aku begitu. Gratia itu hanya teman ku, nenek sembarangan saja." Elak Ale menatap penuh permohonan agar sang nenek berhenti memojokkan nya di hadapan Lizzie. Habis sudah harga diri nya di banting tanpa perasaan oleh nenek nya sendiri.
"Ya dia memang teman mu, teman bermain di sofa, meja dan tempat lain nya." Tukas sang nenek tak bisa lagi di sanggah. Ale memejamkan kedua mata nya, menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan. Sungguh nenek nya ini, untung dia sangat menyayangi wanita tua itu.
Lizzie diam-diam menarik sudut bibir nya tersenyum puas, melihat wajah pias Ale yang tak lagi bisa berkutik. Mata Ale semakin melebar melihat senyum licik di bibir Lizzie.
Tatapan Ale seolah mengatakan 'awas saja, akan ku balas kau!'
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Apa benar ini rumah nya? Kenapa nampak seperti gudang?" pertanyaan Morgan membuat Alex kesal, sejak tadi adiknya itu terus-menerus mengoceh tanpa jeda. Ada saja yang dia komentari, rumah itu berdebu lah, banyak sarang laba-laba dan sebagainya.
"Bisa kah kau diam! lama-lama mulut mu kujahit baru tau rasa!" kesal Alex terus menyorot setiap sudut ruangan dalam rumah itu.
"Ck!.kau ini kejam sekali, kalau mom tau dia pasti akan menghukum mu. kau lupa mom sudah berpesan, bersikap baik lah padaku." Ujar Morgan nyolot.
"Kalau mom tau, dia akan berterimakasih padaku. Karena membantu menyingkirkan mu, karena dia tidak tega." Balas Alex tanpa perasaan.
"Ishhh... apa benar kita ini kembar, dari segi wajah saja kita sudah berbeda. Jangan-jangan kau itu mom pungut di pinggir jalan." Ketus Morgan asal, mulut saudara nya itu selalu saja berbicara pedas.
Alex memutar bola matanya jengah, sesaat kemudian dia menangkap siluet seseorang di kejauhan tengah bersembunyi. Bibir nya tersenyum miring, dia tau itu siapa. Ada guna nya juga dia memiliki sedikit kelebihan pikir nya.
"Keluar lah, kami tidak bermaksud jahat padamu. Saat ini kami sedikit kelelahan, perjalanan kemari tidaklah dekat, di tambah aku harus membawa tambahan bayi besar yang merepotkan. Aku benar-benar tidak punya tenaga jika beradu otot dengan mu, kak!" Seru Alex menatap ke ujung lorong yang sedikit gelap.
Sementara Morgan mendelik mendengar ucapan tak ada akhlak kakak nya. Eh siapa yang kakak nya panggil kak? apa Kakak sedang berbincang dengan setan? apa seputus asa itu kakaknya karena belum berhasil menemukan sepupu mereka.
"Kak? kau masih sehat kan? kenapa berbicara sendiri ? jangan membuat ku takut." Morgan bergidik ngeri membayangkan hal tidak-tidak.
Krek
__ADS_1
Suara patahan sesuatu yang terinjak semakin membuat nyali kerupuk Morgan terusik.
"Kak? sebaiknya kita pergi saja. Mom pasti akan mengerti jika kita belum bisa menemukan saudara kita." Saat akan berbalik, suara seorang gadis membuat langkah Morgan terhenti.
"Ck! ternyata gen paman Aslan lebih mendominasi di tubuh mu." Ujar nya meremehkan.
Morgan berbalik lalu menyipitkan matanya untuk melihat, siapa yang berani mengatai nya.
"Kak? kau? bagaimana bisa kau muncul dari sana. Seperti siluman saja" sungut Morgan kesal. Mereka memang tidak pernah bertemu, namun ikatan murni membuat mereka bagai sudah bertemu sejak lama.
"Dasar penakut" ejek Leah menatap adik sepupu nya.
"Siapa bilang, enak saja. Aku hanya berpikir jika saja Alex sedikit gila karena berbicara sendiri, jadi aku berniat untuk mencari pertolongan untuk nya" Kilah Morgan tak mau kalah.
Leah meninju pelan bahu adik nakalnya itu lalu merangkul nya dengan sayang.
"Kalian sudah berapa lama berkeliaran di kota ini?" pertanyaan Leah membuat Alex mencebik.
"Ini semua karena kami mencari kalian" namun begitu, kedua tangannya tetap terulur pada Leah. Keduanya berpelukan, ada getaran hebat mengalir di setiap aliran darah keduanya. Seolah sedang mentransfer sejumlah energi ke tubuh masing-masing. Mata polos Morgan hanya menangkap nya dengan biasa.
"Terimakasih sudah pergi sejauh ini untuk ku dan kakak. Ayo kita ke atas" ajak Leah menggandeng adik nakal nya.
"Benar begitu, baiklah" Leah melepaskan gandengan nya, sepersekian detik kemudian, Morgan di buat berteriak histeris. Bagaimana bisa kakak dan kakak sepupu nya menghilang dari pandangan nya begitu saja.
"Hei! jangan bermain-main dengan ku kak, aku akan mengadukan kalian pada mom. Lihat saja nanti!" ancam Morgan panik. Usapan lembut di bahunya membuat nya segera menoleh.
"Kakak? berhenti menggunakan sihir, aku ini bukan keturunan murni. Dan kau kak, akan ku bongkar rahasia mu pada mom." Ucapnya kembali mengancam. Alex mengangkat bola matanya malas.
"Lihatlah, siapa yang anak kecil sekarang." Balas Alex mengejek. Morgan mendengus jengkel, karena merasa dikerjai oleh kedua saudara nya.
"Ayo kita naik, di sini tidak ada tangga, jadi jangan menolak kebaikan kakak mu yang cantik ini" Leah mengerling kan matanya. Meski gengsi, namun apa daya, dia pun kesal kenapa bukan dia saja yang terpilih.
Hanya seperempat detik, mereka sudah tiba di lantai dua rumah tersebut. Dia lantai itu sangat berbeda. Di mana semua perabotan juga setiap sudut ruangan tampak rapi dan bersih.
"Kau tinggal di sini selama ini ? " tanya Alex melepaskan tas ransel nya.
"Ya, hanya inilah rumah yang mau menampung ku secara gratis." kekeh Leah menyodorkan gelas pada kedua adik nya.
"Dia siapa?" tunjuk Alex pada pria bertato yang sedang memotong bahan untuk membuat sup untuk makan malam mereka.
__ADS_1
"Kau tau jawaban dari pertanyaan mu, dik." Balas Leah melirik Murdock yang masih sibuk dengan pekerjaan nya lalu menoleh kembali ke arah Alex.
"Sejak kapan?" pertanyaan Leah membuat Alex menghentikan aktivitas.
"Sejak sekolah menengah atas, tahun pertama. Tanpa sengaja, aku berusaha menyelamatkan adik nakal kita ini dari reruntuhan bangunan gedung olahraga. Itu adalah penglihatan pertama ku, namun aku abaikan. Hampir saja membuat ku kehilangan nya, meski dia menyebalkan. Namun membiarkan mati konyol juga akan lebih menyedihkan." Terang Alex sarkastis.
Morgan pura-pura tak dengar, tangan nya sibuk menggulir ponsel yang ada di meja.
"Apa ini milik mu kak? apa kau tau, ada beberapa dokumen rahasia yang masih tersimpan rapi belum kau sentuh." Ujar Morgan mengangkat ponsel ditangannya.
"Sungguh ? kau bisa mengoperasikan nya? coba kau retas, aku kesulitan. Semua menggunakan kode-kode rumit yang kurang bisa ku pahami." Leah duduk disamping adiknya dengan wajah cerah. Dia sudah berusaha membuka kode dokumen rahasia tersebut, selalu saja gagal. Hampir saja ponsel itu berakhir di dalam penggorengan sangking kesalnya. Untung Murdock gesit menangkap nya, meski merelakan sedikit ujung jari nya tercelup dalam minyak panas.
"Akan aku coba. Tapi sepertinya sedikit sulit, apa di sini ada sambungan telpon?" tanya Morgan memastikan, karena dia bisa sedikit bereksperimen dengan itu jika ada.
"Ada, tapi sudah tidak berfungsi lagi." Ujar Leah memamerkan gigi putih nya. Morgan mendelik kesal.
"Gunakan kelebihan mu kak, apa guna nya. Jika saja itu aku, bahkan hanya untuk membersihkan bokong ku, akan aku gunakan." Uajrnya enteng.
Pletakk
Sentilan di kening nya membuat Morgan memekik kaget juga kesakitan.
"Kak, kau ini suka sekali menganiaya adikmu." sungut Morgan mengusap keningnya yang sedikit benjol.
"Kau benar, sayang nya. Hanya kak Lizzie yang mampu mengendalikan apa saja sesuai keinginan nya. Kelebihan kami hanya sebatas menjahili mu saja." Ucap Leah menaik turun kan alisnya sambil tersenyum jahil.
"Nona, makan malam nya sudah siap. Apa ini saudara yang kau maksud ?" tanya Murdock menatap kedua pria yang diceritakan oleh Leah beberapa hari yang lalu. Dia heran, gadis itu mengatakan, bahwa mereka bahkan tidak pernah saling bertemu atau bertukar kabar, namun bagaimana bisa dia tau jika kedua akan datang hari ini. Keluarga yang menakjubkan batinnya kagum.
"Ya, mereka adalah adik-adik ku. Dan ya, mereka juga kembar, hanya saja tidak identik. Jadi kamu bisa dengan mudah membedakan nya. Gunung es ini anak pertama bibi ku, namanya Alex. Dan yang wajahnya terlihat jelas tukang pembuat onar ini, anak kedua nya, namanya Morgan." Jelas Leah memperkenalkan kedua adiknya dengan cara yang cukup unik.
"Tidak bisakah kau mengenal kan ku dengan sedikit kelebihan ku, kak. Kenapa kalian suka sekali mengurai kekurangan ku" rajuk Morgan merenggut kesal.
Leah terkekeh lalu merangkul bahu adik nya. "kau itu punya kelebihan sendiri, percayalah pada ku." Mata Morgan berbinar senang.
"Benarkah? apa itu, kapan aku akan mendapatkan keajaiban ku?" tuntut Morgan tak sabar.
"Kelebihan mu adalah merayu para gadis, itu saja" sahut Alex duduk di meja makan tanpa peduli tatapan jengkel adiknya.
"Ada, nanti ada saat nya. Dan pastikan kau menggunakan nya untuk kebaikan. Jika tidak, aku akan memotong kedua tanganmu dan mencongkel kedua mata mu dari tempat nya. Sekarang ayo makan, kita butuh energi untuk memulai petualangan yang hebat." Ajak Leah Tanpa rasa bersalah telah membuat adik nya bergidik ketakutan akan ancaman nya.
__ADS_1
"Kenapa kau memberikan aku kakak-kakak yang begitu kejam, ya Tuhan." Ratap Morgan berjalan gontai menuju meja makan.