
Tiga bulan semenjak mereka tinggal di pulau Catalina, kehidupan Sky dan keluarga kecilnya nampak semakin bahagia. Bagaimana tidak, kehadiran dua malaikat kecil mereka, menjadi penambah warna dalam kehidupan Sky dan Cloey.
"Honey, aku akan membawakan mereka untuk berjemur di belakang." Seru Sky dari arah luar pintu kamar mandi.
"Baiklah! jangan lupa pakai kan penutup mata!" Balas Cloey dari dalam kamar mandi.
"oke, mom!" Sky mendorong stroller kedua bayinya menuju area kolam renang dibelakang rumah. Bayi 2 minggu 3 hari itu menggeliat saat merasakan hawa hangat menerpa kulit tipis mereka.
"Baiklah, kiddos. Kita akan berjemur sebentar, matahari pagi baik untuk kesehatan. Biarkan kulit mulus kalian, menyerap sinar matahari pagi agar menghasilkan vitamin D untuk tulang kecil ini." Kekeh Sky sambil memegang kaki mungil kedua bayinya. Hatinya menghangat setiap kali menatap keajaiban didepan nya itu. Dia bersyukur dapat menyaksikan langsung kedua buah hatinya terlahir ke dunia.
"Daddy?" suara kecil Lizzie membuat Sky menoleh ke arah putri nya.
"Yes, sweetie? kau sudah mandi? coba duduk sini, lihat adik-adik mu. Mereka menggemaskan, bukan?" Sky menarik pelan tangan putri nya agar semakin mendekat ke arah nya.
Setelah Lizzie duduk.di pangkuan nya, Sky mengulurkan tangan sang anak agar menyentuh tangan mungil adik nya.
"Look? mereka lucu, bukan?" ulang Sky menatap putrinya yang tengah menggenggam jari mungil Lila.
"Hmm.. Mereka lucu... juga sangat.. ajaib.." Sky mengernyit heran mendengar celotehan putri nya.
"Kenapa, ajaib? kenapa tidak, cantik atau lucu seperti boneka." Tanya Sky memancing.
"Karena dia menjaga saudara nya dengan cara yang hebat. Dia ajaib, bukan?" kening Sky semakin berkerut dalam. Siapa yang menjaga siapa, hatinya kian penasaran akan maksud ambigu sang anak.
__ADS_1
"Darimana kau tau, jika Leah menjaga Leon? apa yang di lakukan Leah untuk adik kecil kalian ini, hmm?" Sky semakin di buat penasaran akan apa yang dia dengar. Penasaran juga cemas menggulung perasaan nya hingga tak berbentuk.
"Karena harusnya, Leon tidak ada di sini hari ini." Sky membulat kan kedua matanya, mendengar ucapan lugas putri kecilnya. Dengan suara bergetar, Sky membalik tubuh putrinya agar menghadap ke arahnya.
"Katakan apa yang kau ketahui, sweetie? apa yang sudah terjadi dan tidak daddy ketahui?" Sungguh Sky tidak sadar, jika dirinya telah tanpa sengaja menekan mental putri nya, Lizzie.
Lizzie menatap heran pad sang ayah, "apa yang daddy katakan?" ujar gadis kecil itu polos, lalu berbalik kembali memainkan kaki mungil Leon.
Sky menghela nafas frustasi, ini bukan pertama kalinya, Lizzie bersikap aneh. Kadang berbicara melantur lalu lupa begitu saja dengan apa yang dia katakan.
"Dad?" Cloey datang dengan membawa cemilan di piring yang ada di tangannya.
Sky menoleh pada istri nya dengan senyum sejuta pesona. Semenjak melahirkan, istri nya terlihat semakin cantik. Dan membuat Sky merasa perlu selalu terlihat menawan di hadapan sang istri. Mengingat begitu banyak pria yang pernah jatuh hati pada istri nya itu, Sky harus bisa tampil lebih maksimal di setiap saat.
"Duduk di sini, honey. Apa yang kau bawa? cake?" Cloey mengangguk malu-malu, semenjak melahirkan, selera makan semakin meningkat.
"Hanya ini? kau tidak ingin membaginya pada suami tampan mu ini, sweet heart?" ujar Sky dengan wajah cemberut. Cloey tertawa lucu.
"Kau tidak cocok memperlihatkan wajah seperti itu, dad." Kekeh Cloey sambil menyuapi satu slice kecil cake ke mulut sang suami.
"Ini enak. Apa Mina yang membuat nya?" puji Sky terus mengunyah cake di dalam mulutnya.
"Yes, Mina yang membuat nya, dan Sofi yang membuat layer nya dengan selai yang aku inginkan." Jelas Cloey sambil menyuapi dirinya sendiri. "Aku sangat suka ngemil belakang ini," keluh Cloey muram. "Look at me, now! aku sudah seperti gajah Afrika" cibir Cloey bersungut pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kau masih dalam fase menyusui, honey. Tidak masalah jika makan mu banyak. Akan jadi masalah jika kau tidak selera makan. Lihat lah kedua malaikat kecil kita ini, mereka semakin montok berkat ASI mu yang melimpah ruah." Sky mengelus pipi Leah, terbayang kalimat janggal putri nya tadi. Namun Sky berusaha menepis pikiran-pikiran buruknya.
"Jadi, tidak masalah jika aku makan lebih banyak lagi?" Suara sumringah sang istri mengalihkan perhatian Sky dari putri kecilnya.
Sky tersenyum simpul kemudian mengangguk mantap. "Tidak masalah, honey. Makanlah sebanyak yang kau mau, aku mencintaimu tanpa melihat covernya. Jadi tidak perlu mencemaskan apapun" seloroh Sky mencubit gemas pipi bulat istri nya.
"Ishh.. aku serius, dad." Ucap Cloey kesal. Namun mulutnya tak mau berhenti mengunyah, Sky mencium kilas bibir mungil istri nya yang sibuk mengunyah cake di dalam sana.
"Aku serius, kau cantik apa adanya. Dan aku selalu suka dirimu dalam versi apa saja. Mau kau kurus, gemuk bahkan sangat gemuk sekalipun, aku tetap mencintaimu, sweet heart. Jangan ragukan perasaan ku, aku yang seharusnya mencemaskan nasibku, honey." Cloey mengerut dahinya bingung. "Kau lihat para pria yang dulu kau tolak? mereka bahkan masih menatap mu penuh harap. Tanpa peduli padaku yang berdiri tegak disamping mu, dan aku sangat marah melihat nya." Ujar Sky jujur. Istri nya selalu cantik dalam setiap tampilan nya, dan para pria selalu menatap lapar pada wanita nya. Sungguh Sky tidak suka, ingin sekali dia melubangi otak mesum para pria tersebut, andai saja itu di legalkan.
Cloey tersipu mendengar pengakuan Sky, bukan sekali dua kali. Hanya saja, setiap kali mendengar kalimat Sky tentang perasaan nya. Itu selalu seperti hal baru ditelinga Cloey, dan dia semakin jatuh cinta pada suami nya tersebut.
"Thank you, dad. I love you" ucap Cloey dengan wajah merona lalu mengecup bibir tebal suaminya.
Sky tersenyum mendengar pengakuan langka tersebut "I love you more, sweet heart." Sky mengecup kening sang istri dengan perasaan yang semakin dalam dan besar.
"What about me, daddy?" rupanya si kecil Lizzie pun tak ingin di lupakan.
Cloey dan Sky bertukar pandang, kemudian tersenyum lalu meraih tubuh mungil Lizzie ke dalam dekapan. Gadis kecil itu mendapat ciuman yang banyak dari kedua orangtuanya.
"Kami juga mencintai mu, sweetie. Kau dan kedua adikmu, kalian adalah pusat kehidupan kami. Jadi, sayangilah adik-adik mu tanpa kecuali. Kau mengerti, sweetie?" Lizzie menatap kedua adiknya bergantian, kemudian kembali menatap sang ayah lalu mengangguk mantap.
"Aku akan menyayangi keduanya, mereka adik-adik ku, bukan? tentu akan aku sayangi, aku akan menjaga mereka dari orang-orangnya jahat. Aku akan mengajari mereka memanah, menembak dan berlatih bela diri yang baik dan merakit bom. Kelak jika aku sudah besar" Lizzie merendahkan suaranya di akhir kalimat. Sinar matanya redup, gadis kecil itu menelusup didada bidang sang ayah. Kedua tangan mungil nya memeluk erat leher Sky, seolah sang ayah akan meninggalkan mereka sewaktu-waktu.
__ADS_1
"Kenapa harus mengajari berkelahi, kenapa tidak bermain boneka atau mobil-mobilan saja. Jangan bermain tembak-tembakan, kecuali tembakan air, itu tidak masalah." Oh, rupa nya Cloey begitu serius menanggapi celotehan sang anak. Pikiran nya bertumpu seputaran permainan anak-anak, meski sejatinya, bukanlah itu maksud perkataan putrinya.
Sky memeluk erat putrinya, helaan nafas panjang menandakan dirinya sedang memikirkan hal yang berat. Di tatapnya wajah polos sang istri, sungguh tak tega rasanya, membiarkan wanita itu tidak mengetahui apapun tentang putri nya sendiri. Namun Sky memilih bungkam, Cloey tidak harus terlibat dalam keajaiban sang anak, atau lebih tepat nya, kedua putri mereka.