
"Apakah kau akan meninggal ku nanti setelah kau mendapatkan apa yang kau ingin kan?" tanya Helen terlihat ragu, dia ingin meyakinkan diri nya agar tak salah mengambil keputusan.
"Aku tidak akan meninggalkan mu honey, jika kau ingin, kita bisa langsung menikah setelah kita lulus nanti. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya, aku mencintaimu. aku tau ini salah, tapi aku takut kau berpaling dari ku. Mulai besok tetap lah berpenampilan seperti biasa, kau terlalu cantik aku takut banyak pria yang mengejar mu nanti. Jangan rubah apapun yang ada pada dirimu, aku tidak suka. Aku suka kau yang apa ada nya seperti Helen yang ku kenal polos dan kutu buku. Bukan helen dengan baju seksi dan dandanan berlebihan." Ungkap Grend jujur dan tulus.
"Terimakasih sudah mencintai ku, aku juga mencintaimu sejak kita baru masuk sekolah di tahun pertama." Ungkap Helen malu-malu. Grend tercengang mendengar pengakuan Helen. Pantas saja Helen selalu menuruti apa yang dia inginkan selama ini, rupa nya gadis itu menaruh hati padanya. Dan perubahan nya belakang ini adalah bentuk kesadaran diri, untuk tidak lagi mau di tindas oleh nya dan teman-teman nya.
"Maaf kan aku honey, aku sangat menyesal telah menjadi pria brengsek selama ini. Tidurlah, besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Grend merapikan baju Helen yang sudah dia buka tadi, hampir saja dia melakukan kesalahan lagi pada kekasih nya.
"Aku belum mengantuk," ujar Helen mendongak, Grend mencium kening kekasih nya dengan perasaan penuh.
"Pejamkan saja matamu, aku akan bercerita tentang seorang pangeran kesepian yang bertemu cinta sejati nya setelah banyak rintangan." Helen memejamkan kedua matanya, sayup-sayup suara Grend mulai menghilang. Helen mulai terlelap dan terbuai mimpi indah, mimpi yang selama ini hanya bisa dia rengkuh di alam mimpi nya. Mimpi tertidur dalam pelukan seorang pangeran pemilik hatinya.
Grend menatap netra tertutup milik Helen, hatinya berdebar hebat. Perasaan membuncah menguasai seluruh relung hati nya. Kini dia benar-benar yakin akan pilihan hatinya, Helen adalah jawaban atas kenakalan masa remaja nya yang labil. Gadis itu mampu merubah pandangan nya, meruntuhkan ego nya dan membuat nya sadar akan perasaan nya.
Perlahan matanya mulai meredup, kemudian menyusul sang kekasih ke alam mimpi. Dia berharap ini bukanlah mimpi, gadis itu benar-benar sudah menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Diam-diam ada sepasang mata yang terus menatap ke arah tenda redup tersebut. Ramalan nya tidak pernah salah, kini sang pangeran kesepian telah menemukan tuan putri yang mengisi kekosongan hati nya.
Dengan senyum lebar dan langkah pasti, dia meninggal kan tempat itu. Menghilang di balik gelap malam jauh ke dalam hutan lebat di ujung jalan. Angin berembus kencang menanda kan kehadiran telah berhasil membuka semua pintu keajaiban bagi Helen dan Grend.
"Kenapa lama sekali, apa kau baru berkenalan dengan raja rimba?" dengus Zion menatap jengkel pada sahabat nya. Dia sudah sangat ketakutan di tinggal sendirian di dalam mobil lebih setengah jam lamanya. Bayangan di lahap binatang buas membuat nya paranoid.
"Maaf Zion sayang, aku pikir hanya akan buang air kecil, ternyata air besar pun tak ingin kalah. Dan air yang lebih besar, besar, dan be...."
"Diam lah! bersikaplah seperti seorang gadis. kau menyebalkan..!" Zion mulai mengemudi kan mobil nya menuju ke rumah Berea. Dia akan menginap di sana seperti biasanya. Kebiasaan yang mereka lakukan sejak di bangku taman kanak-kanak.
Dibalik sikap datar dan angkuh nya, Berea menyimpan banyak perkara hati seorang diri. Di balik sunyi nya malam datang, dia sering tergugu meratapi apa yang kini tengah bersemayam abadi dalam setiap aliran darah nya. "Aku benci apa yang aku miliki!" Rutuk Berea bergumam pelan, mata nya terpejam sempurna. Zion menoleh ke arah sahabat nya, bukan sekali dua kali dia mendengar kan kalimat singkat tersebut. Namun dia pikir Berea tengah mengigau seperti biasa nya. Sahabat nya itu seperti menyimpan tumpukan beban yang tak bisa di tembus mata tel*lanjang. Zion kembali fokus mengemudi, banyak hal terjadi, gadis kesayangan nya terlalu pandai dalam segala hal, terutama menyimpan sebuah konflik batin.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Kembali kan ke tempat nya, Momo!" seru Leah mengacung kan pisau di tangan nya. Sungguh suatu pemandangan pagi yang tak biasa dan terkesan menyeramkan untuk di saksikan oleh mata. Namun bagi keluarga itu, bukan lah apa-apa.
__ADS_1
"Aku hanya mengambil nya satu kak, kenapa kau pelit sekali.." Cetus Morgan kesal. Kakak nya masih kesal pada nya. Morgan ingat bagaimana kakak ipar nya yang putus asa karena hati keras sang kakak. Kota itu adalah pilihan nya. Dengan dalih kota kecil yang nyaman dan belum tersentuh banyak tekhnologi. Rupa nya kota rekomendasi Morgan berbuntut panjang, kakak nya merasa di tipu mentah-mentah.
"Satu dua atau tiga, semua makanan ini milik ku. Ini rumah ku. Jadi bersikaplah seperti seorang tamu. Duduk di kursi mu, apa kau ingin aku mendudukkan mu di kursi bayi putraku?" ketus Leah tak bersahabat. Rupa wanita itu masih menyimpan kedongkolan terhadap sang adik. Dan itu terlihat jelas dari bagaimana Leah memperlakukan sang adik sungguh seperti keluarga tiri, yang menumpang padanya seperti benalu.
"Kenapa Sayang, kenapa kau nampak begitu marah pada adik mu?" suara lembut Cloey membuat kedua bersaudara itu serempak menoleh. seperti biasa Morgan akan langsung mengadu pada bibi rasa ibu kandung nya tersebut.
"Mommy, apa mommy tau kakak mengacung kan pisau padaku. Bukan kah itu sangat jahat." Rajuk Morgan mengadu.
"Berhenti lah terus mengadu apa pun pada mommy mu Morgan. Kau? kenapa tidak langsung saja menggorok leher nya tadi." Oceh Ashley tanpa perasaan. Morgan sampai memegang lehernya saking kaget mendengar kalimat tak manusiawi sang ibu. Kedua wanita beda generasi memiliki sifat dasar yang sama. Sama-sama bermulut tajam namun terselip kasih sayang yang tulus dan dalam.
"Aku baru saja akan menusuk jantung nya, jika saja dia tidak langsung merengek seperti bayi." Balas Leah acuh. Tangan mya sibuk menuangkan susu dan jus ke dalam gelas masing-masing untuk anggota keluarga nya sesuai selera dan permintaan.
Cloey hanya menggeleng pelan melihat tingkah putri dan ipar nya tersebut. Selalu saja keponakan nya yang menjadi korban empuk.
"Pagi sweetie.." sapa Sky yang baru ikut bergabung untuk sarapan bersama, di susul oleh Aslan yang juga langsung menyapa istri tercinta nya.
__ADS_1
Cloey hanya tersenyum membalas sapaan sang suami. Apalagi saat merasakan sentuhan bibir tebal sang suami di kening nya.