
Sebulan sejak liburan singkat di pantai la Jolla cove, hubungan Sky dan anak istrinya semakin tak terpisahkan.
"Sweet heart? kenapa kau lama sekali di dalam sana?" Sky mulai gelisah, sang istri di dalam kamar mandi lebih dari 20 menit.
Klek
Cloey keluar dengan raut wajah tak terbaca, Sky semakin cemas. "Sweet heart? apa yang terjadi padamu, Kenapa kau sering sekali mendiamkan ku belakang ini. Katakan jika ada yang mengganjal di hati mu, aku siap menjadi pendengar yang baik." Sky menuntun sang istri menuju sofa.
Cloey menatap Sky dengan tatapan yang, entahlah.
"Ini" Cloey menunjukkan sebuah benda pipih pada Sky, pria itu mengernyit, lalu meraih nya. Sejenak Sky terdiam, lalu di detik berikutnya, Sky mengangkat tubuh sang istri dan menciumi seluruh wajah Cloey.
"Terimakasih sweet heart, terimakasih!" Sky menunduk lalu mencium perut datar istri nya. "Hai boy n girl! ini daddy, tumbuhlah sekuat ibu kalian, sehat-sehat di dalam sana hingga terlahir ke dunia. Daddy, mommy dan kakak kalian, Lizzie. Akan menanti kan hari itu tiba dengan sabar" kemudian kembali mencium perut istri nya dengan perasaan bahagia.
"Dengar sweet heart, kau tidak boleh lelah, biar kan Mina yang mengerjakan urusan dapur. Kau hanya perlu duduk manis dan menjaga mereka berdua tetap sehat." Cloey mengerut dahinya heran. Bagaimana Sky bisa menyimpulkan jika dia sedang mengandung anak kembar.
"Kenapa kau menyebutnya, mereka berdua? apa kau sudah mendapatkan bisikan dari dalam sana, hmm?" Cloey membelai rambut tebal suami nya dengan sayang.
"Ya, aku mendapat kan bisikan semalam saat kita sedang bercinta"
Plak
"Hey mom.. Sakit, lihat mommy kalian. Mom sedang menyiksa daddy" adu Sky pada kedua janin diperut sang istri.
"Bicara lah yang baik, nanti bayiku mendengar nya. Mereka akan malu punya daddy yang seorang maniak" Sky terkekeh mendengar penuturan sang istri.
"Aku hanya maniak padamu sweet heart, tidak ada wanita lain dalam hidup ku. Kau wanita pertama dan terakhir ku, hanya kau." Ujar Sky meyakinkan.
"Baiklah, sekarang ayo bekerja, kau akan punya banyak anak jika benar aku akan mengandung bayi kembar." Titah Cloey menggandeng lengan kekar suaminya keluar dari kamar.
"Daddy akan pergi bekerja?" Lizzie yang sudah duduk di kursi nya menunggu kedua orang tuanya untuk sarapan bersama.
"Yes, sweetie." Sky mencium kening Lizzie sayang. "Apa kau masih merindukan daddy, hmm?" tanya Sky menatap manik putri nya seksama.
Sky baru saja kembali dari Colorado, selama 5 hari di sana tentu saja putri nya merindukan sang ayah. Begitu pun dengan Sky, pria itu bahkan melakukan panggilan video setiap 1 jam sekali.
"Apa daddy akan tidur di sini malam ini?" Lizzie memilih tak menjawab pertanyaan sang ayah, karena ayahnya pasti sudah tau jawabannya.
__ADS_1
"Hmmm... seperti nya..." Sky nampak sedang berpikir lalu melirik istri nya yang tengah sibuk mengoleskan selai pada roti nya.
"Daddyyy..." Rengek Lizzie tidak sabar.
Sky tertawa kecil, "baiklah sweetie, daddy kalah, maka daddy akan menginap di sini. Sekarang habiskan sarapan mu" ujar Sky setelah berhasil menjahili sang anak.
"Sweet heart, ingat. Jangan melakukan sesuatu yang berat, istrahat saja di kamar atau di gazebo belakang." Tak henti-hentinya Sky mengingat kan sang istri.
"Ya aku akan istrahat yang cukup hari ini, sekarang pergilah bekerja. Apa kau yakin akan pulang kesini nanti malam? aku khawatir Lizzie akan merajuk lagi seperti kemarin." Wajah Cloey nampak cemas.
"Aku akan pulang kemari sweet heart, memang nya aku mau pulang kemana lagi, hmmm?" Sky merapikan rambut Cloey yang diterbangkan angin.
"Baiklah, sekarang berangkat sana" usir Cloey mendorong pelan lengan suami nya.
"Kau kejam sweet heart, hay kiddos, daddy berangkat kerja dulu. jaga mommy dan kakak Lizzie, oke" Sky menciumi perut istri nya penuh syukur. Akhirnya, dia akan menjadi ayah kembali.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Kau yakin? lalu kemana mereka pindah? aku harap Sky belum mengetahui apapun tentang wanita itu." Edgar mengetuk-ngetuk permukaan mejanya, pria itu tengah berpikir keras. Terlihat dari urat dipelipis nya yang menonjol keluar.
Ashley yang tidak sengaja, mendengar perkataan sang ayah dari balik pintu yang sedikit terbuka hanya bisa menahan nafasnya.
"Masuk!"
"Ash? kenapa kau tidak berangkat ke sekolah?" Edgar memicing kan matanya tajam.
"Aku hanya ingin bilang, jika isi kartuku habis, kemarin aku menjadi salah satu pendonasi, untuk salah satu yayasan, program yang dilaksanakan oleh pihak sekolah." Balas Ashley dengan wajah datar.
Edgar menarik nafas panjang mendengar penuturan sang anak. "Akan ayah transfer ke rekening mu, sekalian untuk bulan depan. Belajar lah mengatur keuangan mu Asha, daddy tidak selalu bisa menjadi sandaran mu selamanya." Tegas Edgar menasehati.
"Aku pikir kita adalah orang terkaya di dunia. Ternyata orang kaya pelit juga pada anak-anak nya. Tidak heran kenapa orang kaya bisa semakin kaya, hasil merampas kebahagiaan anak-anak mereka." sarkas Ashley enteng lalu beranjak keluar.
Edgar mengusap wajahnya kasar, dia selalu tak bisa mengalah kan argumen putri nya. Setiap kali anak itu melontarkan kata-kata tajamnya, Edgar akan terdiam tanpa Suara.
"Kau lihat putri ku, Jeff?"
"Ya tuan, saya melihat nya" jawaban Jeff membuat Edgar terkekeh, hal yang langka dia lakukan bahkan didepan keluarga nya.
__ADS_1
"Maksud ku, apa kau dengar apa yang dia katakan? putri ku itu berbeda, Jeff. Aku bahkan takut padanya" jelas Edgar ambigu. Jeff mengerut kan dahinya tanda tidak paham, akan arah pembicaraan tuannya.
"Kau pasti bingung, bukan? bagaimana seorang Edgar bisa begitu takut pada anaknya sendiri, terlebih Ash adalah anak perempuan." Edgar menjeda kalimat nya, helaan nafas berat menjelaskan perasaan nya saat itu.
"Dia berbeda, itulah yang membuat ku selalu ketakutan setiap Ash mengeluarkan kata-katanya. Dia putri terpilih, keturunan murni, dan the first one keluarga kami, yang bergender Wanita." Edgar memutar kursi nya lalu menatap Jeff yang terlihat memucat.
"Jadi kau paham arti berbeda yang ku maksud Jeff? jika aku jadi kau, aku akan mulai berhati-hati pada gadis kecil itu." Edgar menyeringai melihat reaksi ketakutan diwajah Jeff.
"Kau boleh pergi," Jeff melangkah kan kakinya selebar mungkin, namun saat akan menghilang dibalik pintu, Suara tuannya kembali menguar.
"Aku sarankan padamu, perhatikan saja keselamatan dirimu sendiri. Kau tidak akan tau, kapan terakhir kau bisa berkumpul bersama orang-orang terkasih mu" Edgar menekan tombol otomatis untuk menutup pintu ruang kerjanya.
Sementara Jeff mematung, mendengar nasihat singkat yang penuh kengerian diperdengarkannya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Baby? kau baru saja mentransfer uang dalam jumlah banyak ke rekening ku. Apa kau tidak salah kirim?" Aslan kebingungan dengan laporan notifikasi M-banking di ponselnya.
"Tidak!" jawab Ashley singkat.
"Tapi untuk apa kau mengirim uang sebanyak ini padaku? kau saja selalu menolak aku kirim kan uang. Apa kau berniat meninggalkan ku baby?" Aslan beranjak dari sofa dan menghampiri Ashley, yang sedang membuat makan siang untuk mereka.
"Jawab aku baby?" Aslan memutar tubuh Ashley pelan. "Kau tidak berniat untuk meninggalkan ku, bukan?" Aslan mengulangi pertanyaannya dengan perasaan was-was.
Ashley menatap datar pada pria bodoh didepan nya, lalu melanjutkan aktivitas memasak nya.
"Baby?" Aslan merendahkan suaranya.
"Jika kau bertanya sekali lagi, maka aku akan benar-benar meninggalkan mu?" Ashley menjawab deengan acuh.
Aslan memilih duduk kembali, dia tidak ingin membuat mood kekasih nya buruk akan prasangka nya.
Beberapa menit berlalu, Aslan masih dilanda kecemasan. Berkali-kali pria itu membuka aplikasi pesan yang menampilkan notifikasi M-banking. Jumlah yang luar biasa, dia saja tidak pernah di berikan uang sebanyak itu meski dirapel untuk 3 bulan.
"Ayo makan, biar otak bo*dohmu kembali bekerja dengan baik" cetus Ashley menaruh piring spaghetti di atas meja didepan Aslan.
"Makan spaghetti tiap hari juga bisa bikin bodoh dan cacingan." Gerutu Aslan tak terima dikatai bodoh.
__ADS_1
"Bersuara sekali lagi, kau akan ku cincang halus untuk ku jadikan makanan Greeny." Gluk, Aslan menelan ludahnya susah payah. Membayangkan Greeny ******* daging tubuhnya, Aslan tiba-tiba mual.
Dengan segenap jiwa raga, Aslan melahap spaghetti bolognese itu dengan sekali kunyah lalu menelannya bulat-bulat. Kerongkongan nya perih, dasar cabai sialan batinnya merutuk.