
"Yang benar saja..." Leah menatap tak percaya pada pria yang sudah berani menyerobot kursi nya. Mood sedang sangat buruk, jangan kan secara sengaja di ganggu, tanpa sengaja tersenggol saja ubun-ubun nya bisa langsung berasap.
"Maaf nona, siapa cepat dia dapat. Ku rasa kita berasal dari peradaban yang sama, jadi pahami lah konteks yang ku maksud." Ujar nya tersenyum miring penuh kemenangan. Makanan yang bahkan belum Leah sentuh karena harus memenuhi panggilan alam, kini di lahap tanpa terkecuali.
"Pergilah nona, kau merusak pemandangan." Sambung gadis yang berpenampilan gotik lalu menggeser tas ransel Leah hingga terjatuh ke lantai. Alex bergegas menghampiri kakak nya, sebelum kepalan tangan gadis pemarah itu mendarat di wajah kedua manusia menyebalkan tersebut.
"Kak, biar kan saja. Masih ada kursi kosong di sana, kita pindah saja." Ujar Alex membujuk.
"Dan aku harus mengalah pada kedua hama ini? enak saja..! Bangun dari kursi ku dan ganti makanan ku, jika kau tidak melakukan nya segera... akan ku patah tulang rusuk mu..!" Desis Leah menekan kalimat nya.
Bukan nya takut, kedua orang tersebut malah tertawa mendengar ucapan Leah.
"Lihat dia baby, dia kira dia siapa berani memerintah ku..." kedua nya kembali tertawa, Leah mengepalkan tangannya dengan sempurna. Sepersekian detik kemudian, suara tawa itu berubah menjadi seperti suara patahan ranting kayu.
Krek
Dengan mata melotot dan makanan yang terlihat keluar dari mulut nya, si pria terkulai lemas di kursinya hingga melorot ke lantai.
Si wanita mulai panik juga ketakutan, teriakan histeris nya tidak membuat orang-orang menolong mereka. Mengingat bagaimana kedua nya sering memeras restoran tersebut, membuat empati para pengunjung tak tergerak sedikit pun.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan!! dasar wanita gila, akan ku balas kau..!" Seru nya marah, secepat kilat belati yang entah dari mana di sabet kan ke arah Leah. Dengan sekali sentakan, belati itu terlempar hingga hampir mengenai kaki Morgan.
"Kak kau...." delikan tajam Alex membujuk mulut nya kembali bungkam.
Sementara si gadis terus meringis sesekali mengerang menahan sakit. Leah memelintir tangan nya ke belakang membuat tangan nya seperti di paksa patah.
"Aku tidak suka berhadapan dengan sampah seperti kalian, harus nya jangan memandang Lawan mu sebelah mata. Lihat lah akibat nya, aku bisa saja mengirim kekasih mu ke alam baka. Tapi mengotori tanganku? seperti nya tidaklah sebanding. Pergilah, bawa pria sok jagoan ini ke UGD sebelum aku mengantar nya ke kamar mayat." Bisik Leah di telinga si wanita. Tubuh gadis itu bergetar hebat, ketakutan juga rasa sakit bercampur menjadi satu.
Leah memperbaiki posisi jaket nya yang hanya bergeser sedikit dari tempat nya. Dengan gaya khas nya, Leah mulai memandang satu persatu orang yang masih terus menatap nya.
Deheman nya sebagai pembuka kata "maaf jika kejadian ini sedikit membuat kalian tidak nyaman. Tidak perlu mengucapkan terimakasih, aku melakukan nya dengan sepenuh hati dan ikhlas. Lanjut kan makan kalian, anggap apa yang kalian saksikan sebagai intermezzo. Kami permisi, maaf sudah membuat kekacauan." Leah menatap kedua adik nya agar mengikutinya keluar.
"Nona? nona? Tungga sebentar, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak pada mu. Pria yang baru saja kau beri pelajaran tadi, sering membuat keamanan dan kenyamanan pelanggan restoran ku terganggu. Aku harap apa yang kau lakukan bisa memberikan efek jera pada kedua nya juga yang lain." Ucap seorang pria paruh baya menatap Leah dengan tatapan senang dan penuh syukur.
Alex memutar bola matanya saat melihat tingkah sang adik. "Terimakasih tuan, atas kemurahan hati anda. Makanan nya kami terima dengan senang hati, semoga tidak ada lagi hama dan sejenisnya yang akan menggangu kenyamanan warga kota ini. Kami permisi melanjutkan perjalanan." Pungkas Alex dan di balas anggukan kepala sang pemilik restoran.
"Kau sungguh memalukan, apa kau kekurangan makan sampai terlihat seperti pengembara yang kelaparan saat melihat sekantung makanan." Omel Alex menoleh sekilas kaca spion tengah.
"Hei kak, apa kau lupa ? kita ini memang pengembara yang sering kelaparan. Lihat badan ku ini, entah sudah menyusut beberapa kilogram." Bantah Morgan membela diri.
__ADS_1
"Ya kau sangat kurus sekarang, aku sedih melihat mu adik ku. Semoga saja makanan itu bisa membuat berat badan mu kembali ke ukuran semula." Timpal Leah tertawa geli di jok depan, Morgan mendelik ke arah kakak perempuan nya. Dia tau Leah pasti tengah menyindir nya sekarang.
"Kenapa? aku benar kan, bukan kah kau sendiri yang bilang jika tubuh mu menyusut." Lanjut Leah dengan tawa renyah. Alex tersenyum miring mendengar ucapan kakak nya. Morgan selalu mengeluh lapar, itulah kenapa stok makanan mereka selalu kurang.
"Kau benar kak, adik kita yang satu ini terlihat lebih langsing sekarang. Aku kasihan pada ukuran pakaian nya, terlihat lebih kecil dari biasa nya." Ledek Alex menimpali, kemudian kedua nya tertawa laknat saat melihat wajah di tekuk Morgan dari balik kaca.
"Bisa tidak jangan meledek ku terus!" ketus Morgan kesal.
"Ya ya, maaf kan aku baby. Tidur lah, perjalanan kita masih panjang." Titah Leah menyudahi tawa nya begitu pula Alex. Morgan mengambil bantal kecil lalu merebahkan tubuh nya dengan nyaman. Tak lama, bayi besar mereka nampak mendengkur halus. Leah tersenyum melihat kepolosan sang adik, petualangan itu tidak membuat adik nya dewasa secara sikap. Namun dia tidak masalah, Morgan punya takdir lain yang dia emban di otak polos nya. Hanya saja adik nya itu masih belum menyadari nya hingga kini.
"Aku yakin paman Jeff sudah seperti orang gila sekarang, tak menemukan keberadaan kita, pasti membuat nya kalang kabut. Apa tidak sebaik nya kita beri tanda saja pada pria tua itu kak?" ucap Alex memberikan sedikit saran. Leah bergeming, alasan kenapa dia menghindari Jeff karena dia tau. Jika menunggu Jeff di perbatasan seperti perintah pria itu, dia tak yakin akan segera menemukan kakak nya. Belum lagi batas pikiran sopir taksi itu yang tidak mampu dia tembus. Padahal dia yakin, jika sang kakak terakhir kali bersama sopir tersebut. Aroma mawar kesukaan sang kakak bahkan masih menempel di jok belakang mobil itu. Arti nya kakak nya berada di mobil itu untuk waktu yang tidak sebentar.
"Tidak Lex, biar kan saja paman Jeff menemukan kita dengan cara nya. Pria itu syarat akan pengalaman dalam hal berburu, dan aku yakin keberadaan kita sekarang, sudah sangat dekat dengan pencapaian nya. Pikirkan saja seberapa banyak kau berhasil mencuri amunisi dari gudang itu." Tukas Leah menyandarkan kepalanya di jok mobil, kedua matanya terpejam sempurna. Kepalanya berat karena terlalu leleh untuk di gunakan mencari jejak sang kakak. Kini dia semakin yakin, jika takdir kakak nya memang harus berakhir di tangan sang nenek. Dan itu membuat hati nya berontak tak rela, andai membunuh ratu iblis itu bisa dengan sembarang senjata dan waktu. Maka akan dengan senang hati dia lakukan. Sayangnya, mengenyahkan wanita itu haruslah di waktu dan dengan senjata yang tepat. Dan hanya kakak nya yang bisa melakukan itu.
Sementara Alex nampak pias, bagaimana bisa kakak nya tau jika dirinya telah mencuri beberapa senjata juga amunisi di gudang. Alex menoleh kearah kakaknya yang terlihat memikirkan beban berat, pikiran nya pun ikut kacau.
"Aku harap kau baik-baik saja kak, jika sesuatu terjadi padamu, hidup aman dan senyum cerah kami kelak. Akan menjadi beban seumur hidup. Tolong bertahan lah di manapun kau berada, biar kan adik-adik mu ini sedikit berguna. Karena untuk itulah kami di lahir kan, jangan egois pada takdir mu. Kehilangan mu akan membuat hidup kami berbeda, kebahagiaan yang kau perjuangkan mati-matian akan menjadi duka mendalam sepanjang hidup kami. Dan akan selalu tersimpan rapi, sebagai kenangan yang tak akan mungkin bisa kami singkirkan sampai kapan pun." Setitik bening meluncur di pipi Alex tanpa permisi. Dia harap waktu 3 hari ke depan, masih bisa dia dan para saudara nya gapai walau hanya di ujung peperangan.
Sekali lagi Alex menoleh ke samping, kakak nya terlihat lebih kurus dari saat pertama mereka bertemu. Rupa nya beban pikiran dan keajaiban itu telah menggerogoti tubuh kecil sang kakak. Hati nya miris, sakit tentu saja.
__ADS_1
"Kak Leon, aku harap kau sudah menemukan cara untuk memulai jalan takdir mu. Bantu kakak perempuan kita, gadis keras kepala itu telah berburu di sarang iblis seorang diri. Kita bisa kehilangan nya jika kau lambat menyadari keajaiban mu." Gumam Alex lirih, di usap nya air mata yang terus mengalir dengan sedikit kasar. Dia kesal pada takdir dan lebih kesal lagi, karena keajaiban nya bahkan tidak mampu meski sekedar menerawang keberadaan sang kakak, apa lagi membantu.
"Kenapa kau tidak menurunkan semua keajaiban mu pada ku, mom. Seharusnya sebagai anak pria aku bisa menjadi pelindung saudari perempuan ku. Kau menyebalkan, tapi aku menyayangimu." Gumam Alex terus menggerutu, dia jadi kesal sendiri.