Darkest Dream

Darkest Dream
Pesona Murahan


__ADS_3

Cloey beranjak duduk setelah tangisnya mereda, kemudian meraih kertas yang dilipat dan sedikit kusut. Air mata Cloey kembali mengucur deras, kata-kata sederhana sang anak mampu meruntuhkan pertahanan jiwanya. Bahu Cloey berguncang hebat, kini dia harus bersiap untuk menyambut putrinya Kembali pulang, meski hanya sekedar nama. Sepotong sisa malam gelap menuju lagi, Cloey habiskan dengan menangisi sang anak.


Bukannya dia kejam dengan sengaja membiarkan sang anak pergi menantang maut, hanya saja, takdir Lizzie akan membuat nya tetap bisa melihat anak-anak nya yang lain hidup. Termasuk suaminya. Dan akhirnya, Lizzie pun akan pergi dengan caranya sendiri, cepat atau lambat. Cloey akan menjadi satu-satunya yang bertahan di dunia ini, dalam rasa sakit dan kehilangan yang tak pernah berujung. Takdir kadang bisa sekejam ini, Cloey sering berpikir, siapakah dirinya di masa lalu, sehingga harus menanggung beban hidup sedemikian berat ini tanpa bisa dia tolak.


Di sisi lain, seorang gadis terlihat sangat kelelahan. Sudah hampir dua jam dirinya berjalan kaki, namun belum ada satupun kendaraan yang lewat untuk dia tumpangi.


"Astaga! apakah para manusia ini tidak ada yang memiliki kesibukan untuk di urus, bahkan tidak satu pun ada mobil yang melintas di jalan ini. Huuffzz!" keluh Lizzie mulai merasa sangat lelah, dia hanya membawa satu botol sedang air minum. Dan sekarang, dia sedang menghemat perbekalan seadanya agar bisa bertahan sampai di kota. Berbekal satu buah pistol dan pisau lipat dibalik pinggang nya, Lizzie berani menempuh perjalanan sejauh itu seorang diri. Bermodal keahlian nya dalam hal bela diri yang cukup mumpuni, juga keajaiban yang dia miliki, Lizzie menatap lurus ke depan tanpa merasa sedikit pun ketakutan.


Sebuah cahaya samar dari kejauhan membuat senyum Lizzie terbit, secerah mentari yang mulai menampakkan diri nya malu-malu dari balik perbukitan.


Dengan penuh semangat, Lizzie melambaikan kedua tangannya, berharap mobil tersebut mau memungut nya.


Namun sialnya, mobil itu justru membuat nya basah kuyup terkena genangan air disisi jalan. Emosi Lizzie memuncak tak karuan, rasa lelah menguasai habis dirinya. Dengan kekuatan penuh, Lizzie menatap mobil yang melaju tanpa rasa bersalah dihadapannya. Tak lama terdengar suara dentuman hebat, Lizzie tersenyum devil. Jika cara manusiawi tidak bisa membuat manusia laknat itu bersikap baik padanya, jangan salahkan dia, jika harus bersikap curang seperti ini.


Lizzie berlari kecil menuju ke arah mobil yang seperti nya ringsek parah di balik tikungan. Saat sampai, Lizzie tersenyum mengejek saat melihat seorang pria susah payah berusaha untuk keluar dari balik kemudi mobilnya. Tatapan penuh permohonan terlihat jelas diwajah pria tersebut, namun gaya nya yang masih terlihat angkuh membuat Lizzie pun ikut terdiam.

__ADS_1


"Ternyata se asyik ini menyaksikan penderitaan orang lain, lain kali aku akan melakukan hal yang lebih dari ini, lalu ku tonton habis-habisan sambil memakan popcorn dan sebotol besar soda." Gumam Lizzie tanpa sedikitpun berniat membantu pria malang tersebut.


"Hei! gadis bodoh! apa kau tidak lihat aku butuh pertolongan,? jika kau bisu paling tidak matamu masih berfungsi dengan baik, aku begini juga gara-gara kau tadi mencoba menghentikan mobilku!" Sentak si pria tak tau malu.


"Benarkah? bukankah kau tadi hanya melewati ku saja tanpa berniat untuk berhenti? jadi, keluar lah sendiri. Kau seperti nya tidak butuh bantuan siapapun. Lihat saja mobil mu ini, kau pasti orang kaya." Lizzie mengetuk permukaan mobil tersebut menggunakan batu kecil sambil menyeringai puas.


"Hei! apa kau sudah gila! jangan iseng merusak mobilku, nona. Atau kau akan tau akibatnya sudah bermain-main denganku!" teriak si pria kesal, kakinya terjepit namun gadis sialan itu malah mengerjai mobilnya.


"Astaga, maaf" Lizzie menutup mulutnya pura-pura syok "lihat ini, mobilmu tergores. Tidak apa-apa, kau kan orang kaya. Lagipula mobilmu juga sudah penyok begini, di tambah sedikit tidak masalah, bukan?" Lizzie melempar batu yang lebih besar ke kaca depan mobil mewah tersebut. Membuat mata pria itu hampir melompat keluar, matanya menatap miris kaca mobilnya yang hancur berkeping keping. Untung saja dia sigap menunduk, untuk menyelamatkan wajah tampan nya dari pecahan kaca.


"Haaaa... Segarnya, kau mau? padahal masih pagi, tapi cuacanya sudah mulai terasa panas. Ini, kubagi untuk mu, aku baik, kan?" Lizzie melempar botol yang sudah kosong tersebut hingga mengenai kening si pria. Dia sengaja, agar otak picik pria itu bisa sedikit berkurang.


"Dasar wanita bar-bar gila! kau benar-benar mengujiku rupanya, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mu jika kau berhasil keluar dari mobil sialan ini!" teriak nya marah, dada pria itu naik turun menahan amarah nya pada Lizzie. Bisa-bisa nya wanita itu memperlakukan seburuk itu, selama ini tidak ada satupun orang yang berani menentang nya apalagi menyakiti fisik nya. Dan wanita gila ini, sudah berani melukai kening mulus nya yang sudah susah payah dai rawat dengan perawatan paling mahal.


Lizzie duduk diatas kap mobil tanpa terpengaruh sedikit pun pada ancaman-ancaman si pria malang itu.

__ADS_1


"Kau tau? matahari pagi baik untuk kesehatan. Bisa memperbaiki tulang rapuhmu juga gigi tuamu." Celoteh Lizzie enteng, sesekali melirik ke arah pria yang secara tak langsung dia sebut tua itu.


Sekali lagi, mata pria itu melotot sempurna. Dia tidak setua itu, enak saja.


"Aku belum tua! membuat mu mendesah kan namaku berkali kali hingga pagi pun, aku masih sanggup. Lihat saja, akan ku buktikan nanti. Kau akan mengerang nikmat sepanjang malam tanpa henti, dan meminta ku memacu intimu seperti seorang ja*la*ng!" Umpat nya kesal, marah dan entah lah. Wanita itu benar-benar menguliti harga dirinya sedemikian rupa, belum pernah ada wanita yang berani memperlakukan nya dengan buruk. Semua wanita bahkan akan berlomba-lomba untuk menaiki ranjang nya dengan suka rela. Namun gadis ini justru bersikap sebaliknya.


"Jangan berbicara kasar pada wanita, apa lagi padaku. Kelak saat kau jatuh cinta pada pesona ku, saat itu kau akan menangis darah untuk bisa meraihku ke dalam hidupmu yang menyedihkan itu." Ucap Lizzie sarkastis.


"Jangan terlalu pede nona! kau sama sekali bukan tipeku. Aku bisa mendapatkan yang jauh lebih darimu berkali kali lipat, lebih segala nya. Ribuan wanita rela mengantri untuk bisa menikmati kejantanan ku, kau akan menjadi salah satunya nanti." Balasnya tak terima, sekaligus membanggakan pesona nya di mata para wanita.


Lizzie berdecih meremehkan, "itu karena pesona mu terlalu murahan, tuan. Harusnya kau malu, para wanita rendahan itu rela kau tunggangi demi mendapatkan pundi-pundi juga ketenaran. Bukan murni karena kau seorang pria sejati yang berkarisma juga di segani." Skak! Si pria tak lagi berkicau. Kata-kata Lizzie memukul telak harga dirinya sebagai seorang pria.


Tak lama terdengar suara deru mobil dari kejauhan, karena ada tikungan di sana jadi sulit untuk memastikan apakah itu mobil biasa atau truk.


Lizzie meloncat turun dari kap mobil lalu menyebrang jalan, agar dirinya mudah terlihat. Terlihat gadis itu melompat-lompat kegirangan, rupanya truk tersebut menyalakan lampu sein pertanda jika dia akan berhenti.

__ADS_1


__ADS_2