
"Aakhhh... teriak seorang pria saat merasakan sakit luar biasa di dada kiri nya. Dia yakin, jika rusuk nya pasti lah patah sekarang.
"Kau tau harga yang harus kau bayar jika berani mengkhianati ku? sekarang katakan, di mana nona muda berada!" Desis Jeff mencengkeram erat leher baju pria yang sudah dia buat babak belur itu.
"No... na..mu..muda.. ting..gal.. ber..sa.ma. Ketua klan Servidor.. Sandora Del Piero." Ucap nya terputus-putus, bagaimana bisa lancar jika cengkraman kuat tangan Jeff terasa hampir mematah kan leher nya.
"Dan kau tidak mengatakan sejak awal, bagaimana jika para iblis itu yang menemukan nya terlebih dahulu, hah!" Balas Jeff semakin kesal, sejak terakhir pertemuan nya dengan Lizzie, Jeff tak pernah berhenti memikirkan gadis itu. Ketakutan nya semakin besar saat tau, jika Leah pun ikut menyusul sang kakak. Lalu salah satu anak buah nya yang dia tugas kan untuk menjaga keluarga itu dari jauh, kini berbalik mengkhianati nya. Bagaimana dia tidak murka.
"Katakan pada siapa kau sudah mengatakan soal keberadaan nona muda, Harlem?"
"Nona muda, Zora " ucap nya jujur, apa lagi yang bisa dia lakukan saat maut sudah di ujung kerongkongan nya.
"Jadi dia sekarang nona muda mu, ya?" Jeff tertawa menakutkan, membuat Harlem semakin ketakutan. "Mengabdi lah pada nya, dan kita lihat, seberapa murah hati nya nona muda mu itu, saat tau, kau telah mengatakan semua informasi pada ku " Jeff menyeringai iblis, lalu menghempaskan tubuh Harlem ke tembok.
"Kau salah memilih kepada siapa kau menjatuh kan kesetiaan mu, Harlem. Nona muda yang seharusnya kau lindungi dengan seluruh jiwa raga mu, adalah garis keturunan murni, nona Lizzie dan para saudaranya. Sekarang mereka ada di kota ini, aku harap kau tidak bertemu dengan nona muda kedua. Aku khawatir nona muda akan mengirim mu ke akhirat lebih awal." Wajah Harlem memucat, dia tau desas desus tentang kekuatan yang nona muda nya miliki. Namun jika semua bersaudara itu memiliki nya, maka tamat lah riwayat nya.
Jeff keluar dari gudang tua itu menuju mobil nya, sebelum pergi, dia meminta salah seorang kepercayaan nya menghapus jejak para pewaris darah murni agar tak terlacak. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang, hutang nya terlalu banyak pada gadis muda itu. Seumur hidup pun, dia tidak akan sanggup untuk melunasi nya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Ale mondar mandir tak karuan, sejak pagi dia belum melihat Lizzie, hingga malam tiba, gadis itu masih belum terlihat batang hidung nya.
"Ck! memang kau itu punya pekerjaan penting apa sehingga harus pergi sampai lupa pulang seperti ini." Omel Ale berbicara seorang diri, Sandora menatap cucu nya datar.
"Bukan kah kau seharus nya senang, saat Lizzie tidak di rumah ? kau bilang Lizzie suka membuat mu kesal, bukan?" Ucap sang nenek tiba-tiba, hampir saja Ale melempar nenek nya menggunakan ponsel yang sedang dia pegang.
__ADS_1
"Astaga! Nenek! kenapa muncul tiba-tiba seperti siluman begitu " kesal Ale berbalik menuju ruang tengah, di ikuti Sandora dari belakang membawa lepek berisi gelas teh.
"Kau kenapa sampai segelisah itu ? Lizzie sudah besar, dia tau kapan harus pulang dan kapan harus pergi." Tukas Sandora penuh makna. Ale berdecak kesal, kenapa nenek nya bisa sesantai itu saat orang yang menginap di rumah nya tak kunjung pulang.
"Aku hanya khawatir, jika gadis menyebalkan itu membuat masalah di luar sana. Aku tidak ingin terlibat apa pun, begitu pula dengan nenek. Aku tidak mau sampai nenek terlibat dengan urusan nya yang tak jelas " Ujar Ale berkilah. Padahal hati nya sedang mengkhawatirkan gadis itu dalam versi yang sesungguhnya. Dia takut terjadi sesuatu pada Lizzie.
Sandora tersenyum samar mendengar pembelaan sang cucu laknat nya.
"Tidak akan, Lizzie tidak pernah membuat masalah selama tinggal di sini. Jika itu kau, mungkin nenek akan khawatir, kau kan biang pembuat masalah." Ujar sang nenek santai, Ale melotot mendengar penuturan sang nenek yang terdengar menyebalkan di telinga nya.
"Nenek ini, siapa sih cucu nenek yang sebenarnya." Omel Ale kesal, gelas teh sang nenek pun tak luput jadi pelampiasan nya. Teh hangat itu habis hanya dua kali teguk saja. Sandora menggeleng pelan melihat tingkah kekanakan cucu nya. Untuk pertama kalinya, cucu an moral nya itu mengkhawatirkan seorang wanita, dan dia senang, cucu nya menjatuhkan hati pada cucu buyut sahabat nya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Apa kita akan terus mengintai saja? aku lelah, di sini banyak nyamuk." Ingin sekali Alex menyumpal mulut sang adik dengan potongan kain kafan. Jika saja tak mengingat pesan mutlak sang ibu suri, Ashley.
"Lihat ini kak" Alex menyerah kan teropong pada Leah, Leah meraih nya lalu melihat apa yang adik nya lihat. Seringai nya kembali mengembang.
" Gotcha!" ucap nya pelan.
"Apa kak? apa yang kalian lihat? Berikan padaku" ujar Morgan heboh, Leah memutar bola mata malas.
"Ini, lihat lah dan beri kesimpulan tentang apa yang kau lihat." Leah menyerah kan teropong tersebut pada adik nya yang super berisik itu. Morga dengan gaya angkuh menerima teropong itu lalu mulai mengintai. Hampir saja wajah garang Alex terkena lemparan teropong tersebut, saat Morgan reflek melempar nya. Rupa nya apa yang dia lihat, membuat nya ketakutan setengah mati. Wajah pucat Morgan membuat Leah hampir meledak kan tawa nya.
"Kau harus terbiasa adikku, ke depan nya, kau akan sering melihat hal semacam itu sebagai makanan harian mu. Jadi pasti kan kau punya jantung yang sehat dan kuat." Leah menepuk pelan bahu adik nya, lalu mengeluarkan senjata dari balik jaket nya.
__ADS_1
"Kau di sinilah, aku khawatir jika kau ikut, saat kita kembali, adik kita ini sudah tinggal nama." Kekeh Leah memeriksa kembali pistol dan bawaan nya.
"Kau yakin akan melakukan nya sendiri, kak?" ucap Alex terlihat khawatir, "aku heran kenapa mom mengikut sertakan si pembuat rusuh ini " lanjut nya menatap kesal pada sang adik. Morgan tak ingin meladeni ucapan sang kakak memilih fokus pada apa yang baru saja dia lihat.
"kak, ada dua truk kontainer masuk." ujar nya memberi tau sang kakak. Leah meraih teropong dari tangan adik nya.
"Jika aku tak kembali dalam waktu 20 menit sesaat setelah aku melewati pagar besi itu. Kalian pergilah ke alamat ini" Leah menyerahkan secarik kertas yang berisi tulisan tangan nya pada Alex. Alex menerima kertas tersebut dengan perasaan berkecamuk, kenapa dia harus menunggu, bukan kah dia datang untuk membantu. Leah mengerti isi pikiran adiknya kemudian tersenyum.
"Kau datang untuk membantu ku bukan ? maka lakukan lah perintah ku ini. Kakak mu yang cantik ini sedang butuh bantuan sekarang, dan ya, jaga balita kita ini dengan baik." Ujar Leah terkekeh pelan.
"Kak? berhenti lah mengatakan aku bayi" protes Morgan jengkel.
"Ya kau bukan bayi lagi, maka turuti lah apa kata Alex nanti, jangan membantah dan jangan banyak bertanya apalagi mengeluh. Kau paham?"
"Baik kak" ujar Morgan menurut.
"Oke adik-adik ku, Peperangan kecil akan di mulai, letusan pertama kali, dimenit kedua setelah aku masuk, arti nya aku masuk ke jalur aman. Kalian harus berpindah posisi ke bagian barat. Dari sana kau bisa merekam pertarungan sengit kakak mu ini dengan jelas" Nasihat Leah tersenyum jahil pada Morgan, dia tau adik nakal nya itu sedang menyiapkan satu kamera untuk merekam segala aktivitas nya di dalam sana.
Morgan kikuk dan tersenyum malu, dia ketahuan lagi. Susah sekali mengelabui kedua kakak nya itu.
"Boleh ya?" tanya nya bodoh.
"Tentu saja, dan pastikan kau merekam dengan jelas nanti, aku akan memberikan mu kompensasi yang setimpal." Balas Leah tersenyum penuh arti.
"Baiklah kak, aku akan merekamnya nanti. Letusan pertama di menit kedua, bagian barat. Aku benar, bukan?" ujar nya bangga. Leah mengangguk mantap, lalu mulai berjalan meninggalkan kedua adik nya.
__ADS_1
Alex menatap punggung kecil kakak sepupu nya, dia tau apa yang akan terjadi di dalam sana. Sepupu nya tidak akan keluar dengan keadaan baik-baik saja seperti saat diri nya masuk.