Darkest Dream

Darkest Dream
Putranya yang malang S2


__ADS_3

Mata Deren hampir melompat keluar, saat melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan tersebut. Begitu pula dengan Gerald, pria itu bahkan hampir tak tau cara nya mengatur nafas nya yang tersengal.


"Tu tuan?" Deren seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Pasien yang sudah 21 tahun koma, kini sedang duduk santai sambil merangkul mesra bahu istri nya. Umur nya bahkan baru 10 tahun saat ayah nya di bawa pergi dari rumah nya saat tengah malam buta. Yang baru dia ketahui keberadaan nya setelah 12 tahun kemudian. Saat dirinya memutuskan menjadi seorang dokter spesialis saraf, dan menerima tawaran bekerja di markas rahasia tersebut. Barulah dia mengetahui segala nya dari sang ayah.


"Di mana gadis itu, Dokter?" bukan menjawab rasa penasaran dan keterkejutan keduanya. Zig malah menanyakan pertanyaan lain.


"Ada di ruangan ujung lorong ini, tuan." Gerald yang sudah mampu mengendalikan situasi hati nya, menjawab mewakili rekan nya yang masih belum dalam kesadaran penuh.


"Antar kami ke sana, dan ya, pastikan tidak ada satupun orang yang mengetahui keberadaan nya." Titah Zig menatap kedua dokter tersebut dengan wajah serius. Wajah tirus Zig mengisyaratkan banyak makna dan peringatan mutlak.


"Tidak ada mengetahui keberadaan gadis itu tuan, mari saya antar. Kursi roda nya kurang satu, apa nyonya tetap di sini saja?" Ucap Gerald sedikit ragu-ragu juga takut pastinya.


"Aku ikut" sela Miu tegas. Gerald mau tak mau keluar untuk mengambil satu lagi kursi roda. Sementara Deren mulai membantu Zig untuk duduk di kursi roda. Terlalu lama berbaring membuat otot-otot nya sedikit melemah, seharusnya masih belum berfungsi dengan baik sekarang. Namun mengingat mereka bukanlah manusia biasa, Deren tidak heran.


Gerald masuk dengan kursi roda di dorongan tangan nya.


"Mari nyonya, maaf ini sedikit tidak sopan." Miu mengangguk paham. Gerald mengangkat tubuh Miu ke atas kursi roda, lalu keempat orang itu mulai menyusuri lorong di mana Lizzie berada.


"Nona muda di sana tuan-nyonya" ucap Gerald menunjuk ke arah brankar. Lizzie masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Tolong dorong aku lebih dekat lagi" titah Miu dengan suara sedikit bergetar.


"Terimakasih, tolong menjauh lah sedikit." Ucapnya lagi, Gerald segera menyingkir ke sudut ruangan begitu pun Deren. Setelah kedua nya berapa di samping ranjang Lizzie, sesaat Zig menatap wajah kurus istri nya. Tatapan yang sulit di jabar kan.


"Kenapa kau melampaui takdir mu, nona muda. Seharusnya kau tidak perlu melakukan peperangan ini, jika saja kau mau menukarkan jiwa saudara mu untuk sang ratu. Hanya setetes darah, dan semua nya akan membaik." Ujar Miu mengurangi sedikit kekecewaan nya. Lizzie begitu banyak berkorban, begitu lah penglihatan yang mereka lihat melalui energi yang Lizzie berikan pada mereka berdua.


"Aku tidak memberikan separuh nyawaku untuk mendapatkan protes, nyonya." Miu tersentak kaget begitu juga Zig. Perlahan Lizzie bangun, Lalau menatap keduanya bergantian.


"Kalian tidak banyak berubah, terkecuali bentuk tubuh yang terlihat sedikit tidak manusiawi." Ucap Lizzie sarkastik. Kedua tertawa pelan, berbeda dengan Deren dan Gerald. Hampir saja kedua nya tersedak ludah masing-masing, saat mendengar kalimat hinaan yang meluncur sehalus sutra dari bibir mungil Lizzie.


"Kami terlalu banyak makan cairan ketimbang karbohidrat, nona muda. Mungkin setelah ini, kedua dokter tampan itu akan memberikan kami makanan yang padat selain air kimiawi." Seloroh Zig menoleh sekilas ke arah Deren dan Gerald yang terpaku mendengar candaan tak biasa, dari ketiga orang di hadapan mereka tersebut.


"Tentu saja, nona muda." Deren segera menyiapkan satu buah abocath, jarum suntik dan sebotol ampul. Setelah selesai memasukkan obat melalui abocath, Deren segera melepas nya kembali dan menutup bekas suntikan jarum tersebut, menggunakan kapas alkohol dan hypafix.


"Sudah selesai nona muda. Apa lagi yang anda butuhkan?" tanya Deren sedikit menunduk hormat, Gerald ingin sekali tertawa keras. Saat mengingat bagaimana angkuh nya sahabat nya itu berkata soal bercinta pada nona muda mereka.


"Tidak ada, dokter Deren. Hanya saja kalau bisa, tolong bungkam otak sahabat mu itu agar tidak terus menyuarakan dosa-dosa mu pada ku." Gerald benar-benar tersedak kali ini. Hidung nya bahkan sampai terasa perih.


Deren menoleh sekilas pada sahabat nya dengan tatapan membunuh, bisa-bisa nya pria bodoh itu lupa, dengan siapa mereka berhadapan. Walau selama ini hanya mendengar kisah dari sang ayah dan ayah nya sahabat nya itu, meski terdengar mustahil, tetap saja mereka harus selalu waspada. Menjaga lidah juga pikiran.

__ADS_1


"Maafkan kesilapan saya nona muda. Saya tidak bermaksud, sungguh." Deren mati kutu akibat ulah sahabat laknat nya tersebut.


"Tidak masalah, dokter Deren. Hubungi profesor Claine, aku butuh sedikit bantuan nya sekarang." Titah Lizzie menatap teduh ke arah Deren, Deren segera mengangguk lalu kembali menunduk hormat.


"Ayah ku akan kemari, nona muda. Kami akan mengaman lorong utama, ayah ku akan meminta beberapa orang berjaga di pintu masuk. Anda aman bersama kami, kami permisi tuan-nyonya." Setelah berucap pamit, Deren dan Gerald segera keluar dari ruangan Lizzie.


Bugh!


"Auuwww!" pekik Gerald mengusap kepala nya yang terasa berputar akibat penganiayaan yang dilakukan oleh sahabat nya.


"Kau gila ya! bagaimana jika aku amnesia, siapa yang mau menjadi partner kerja mu, hah!?" Ucap Gerald marah.


"Makanya otak mu jangan suka memikirkan hal-hal yang aneh jika sedang berada dalam satu ruang dengan nona muda. Kau lupa apa kisah ayah ku juga ayah mu? klan para pewaris dapat membaca pikiran mu hingga sesuatu yang paling kau rahasia kan. Bisa-bisa nya kau malah berpikir tentang perkataan asal ku tadi. Bosan hidup atau bagaimana?" Balas Deren tak kalah sengit.


"Mana aku tau kalau kisah itu benar ada nya. Ku pikir hanya untuk menakut-nakuti kita saja." Gerutu Gerald tak terima.


"Kalian berdua kenapa? berhenti lah bermain-main, ingat usia kalian bukan waktu nya lagi untuk berkelakuan seperti balita.. Dewasa lah!" Deren mendelik tak suka pada ayah nya. Memang nya kapan dia sempat berkelakuan seperti anak-anak, jika separuh hidupnya hanya untuk belajar dan mengurus ibu dan adiknya selama ayah nya dinyatakan diculik. Dengusan Deren membuat Claine menghela nafas panjang.


Putranya itu masih saja mendendam akan kisah lalu, sungguh dia tak habis pikir.

__ADS_1


"Kalian keluarlah ke pintu utama, bersikap seperti biasanya. Kebetulan wajah kalian sedang mendukung, maka pertahanan sampai melewati pintu depan. Mereka akan berpikir tuan Zig dan nyonya Miu masih belum membaik. Karena melihat wajah kusut kalian yang begitu meyakinkan." Ucap Claine panjang lebar. Nada suaranya terdengar jelas jika dirinya sedang meledek keduanya. Hurby hanya bisa menggelengkan kepalanya, si ayah dengan tingkah konyol nya, punya anak seperti tembok es dan sedikit galak. Tidak jarang putranya yang malang sering menjadi sasaran kemarahan putra sahabat nya itu. Sungguh malang batin nya meringis miris.


__ADS_2