Darkest Dream

Darkest Dream
Misi baru dan pergulatan hati para Servidor


__ADS_3

"Kau lihat kak? pesona ku ternyata jauh lebih menarik di bandingkan dengan mu." Ujar Morgan bangga. Mereka baru tiba di California, saat baru sampai, kedua nya sedikit kelimpungan. Karena ulah cerdas Morgan, satu-satunya harapan yang akan membawa mereka menemukan kedua sepupu nya. Musnah tak bersisa.


Playboy minim pengalaman itu membakar peta yang mereka bawa, karena mata liar nya terus terusan melirik setiap gadis yang lewat di hadapan mereka. Padahal di sana tertulis apa yang harus mereka lakukan ketika sudah tiba, untung saja otak cerdas Alex mampu mengingat nya dengan baik.


"Andai otak tak bermoral mu itu tidak kau gunakan untuk terus memikirkan wanita, kita tidak akan berakhir seperti orang bodoh." Dengus Alex kesal. "Seperti aku harus mengatakan pada mom, jika ramuan yang selama ini kau minum, beluk cukup untuk memenuhi nutrisi otak minimalis mu itu."Lanjut Alex masih dengan nada ketus dan marah.


Morgan mendelik mendengar kalimat mengerikan sang kakak. Dia akan lebih memilih lari maraton ratusan mil dari pada kembali meminum ramuan laknat tersebut.


"Kau ini, pengadu sekali. Seperti nya jiwa mu tertukar dengan anak perempuan saja, lihat lah, kau bahkan tidak tertarik pada wanita manapun. Mencurigakan." Balas Morgan tak mau kalah.


Mata elang Alex menatap sengit pada adik laknatnya. "Lain kali jika kau masih bersikap labil saat melihat dada minimalis, dan paha kurus wanita. Kau akan ku pulang kan saat itu juga." Ketus Alex melanjut kan langkah nya. Ini akan menjadi hari yang panjang untuk mereka berdua, meraba sesuatu yang bahkan tidak pernah sekalipun mereka telusuri sebelum nya. Kota ini sangat asing bagi nya, gambaran yang selalu sang ibu sampai kan sedikit berbeda dengan kenyataan yang ada.


Diam-diam Alex menyimpan sebuah rahasia besar dari keluarga nya, rahasia yang suatu saat akan berguna untuk menyelamat kan salah satu dari kakak sepupu nya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Mom?" Leon mengusap lembut bahu sang ibu yang tengah melamun di teras rumah, sambil menatap anak-anak yang tengah bermain di taman kecil di seberang jalan rumah mereka.


"Heh? ah hai sayang, duduk lah. Lihat anak-anak itu mengingat kan mom pada kalian waktu kecil. Kau dan Leah suka sekali bermain perosotan di sana. Paman Duke selalu merawat dan memperbaiki area bermain itu dengan baik." Ujar Cloey terkekeh kecil, tawa yang menutupi luka batin yang semakin melebar.


Bagaimana tidak? kedua putrinya kini entah bagaimana kabar nya. Leon menatap netra redup ibu nya yang sebisa mungkin di sembunyikan oleh Cloey.


"Maaf kan anak tidak berguna mu ini, mom" Isak Leon bersimpuh di pangkuan sang ibu, Cloey terkejut melihat reaksi sang anak.


"Leon? jangan berbicara seperti itu, kau hadir di dunia ini sebagai hadiah terbaik dari Tuhan untuk mom dan dad. Kau keajaiban lain yang sangat kami syukuri, jangan memandang diri mu berbeda. Kau mengerti, hmmm?" Ujar Cloey lembut, putra nya itu memang berbeda. Hati nya selembut sutra, sangat perasa juga penyayang.


"Tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantu membawa dad kembali padamu, mom. Bukan kah aku sangat tidak berguna? yang kulakukan hanya menunggu saudari ku kembali yang entah sampai kapan. Aku ini payah, aku kesal, aku marah pada takdir. Kenapa bukan aku saja yang di beban kan dengan tanggung jawab keajaiban-keajaiban itu. Kenapa mom? apa aku tidak pantas ?" Leon tergugu, bahunya bergetar hebat menahan sesak di dadanya.


Cloey tak lagi dapat menahan air mata nya, begitu pula dengan Mina. Diam-diam wanita itu menguping pembicaraan ibu dan anak itu dari balik pintu. Hati nya pun sama sakitnya, di tatapnya tanda merah di telapak tangan nya. Semakin melebar, arti nya waktu nya sudah tidak akan lama lagi. Harus kah dia pergi sekarang di saat Cloey dan putra nya sedang di rundung kesedihan? Ingin marah pada takdir ? Tapi begitu lah mereka tercipta, Diri nya, Sofi dan yang lain nya. Hanyalah seorang servidor bagi keluarga-keluarga istimewa seperti keluarga Cloey.

__ADS_1


20 tahun masa pengabdian, mereka akan di tarik kembali, lalu di ganti kan dengan servidor-servidor yang baru. Sungguh hati Mina masih belum rela. Andai saja tuan nya sudah kembali, maka tenanglah jiwa nya jika harus kembali.


"Tuhan tau yang terbaik, kau putra mom satu-satunya. Untuk itulah takdir mu tetap bersama mom, menjaga wanita paruh baya ini di sisa usia yang entah kapan." Jelas Cloey menenangkan hati lembut sang anak.


Leon mendongak, tangan nya tanpa sengaja menyentuh perut kurus sang ibu.


"Aku bukan putramu satu-satunya mom, aku akan punya dua adik laki-laki yang sangat menyebalkan nanti." Sejenak Leon terdiam, begitu pun Cloey. Kedua bertatapan penuh makna, namun jauh dalam hati Cloey. Goresan luka itu kembali menyayat jiwa nya tanpa ampun. Ketakutan nya kini bertubi-tubi mengoyak batin tikuhnya, kenapa harus putra nya pun memiliki keajaiban yang sangat dia takut kan itu.


"Mom? aku.. aku.." ucap Leon terbata dengan wajah berbinar senang, namun gelayut mendung menyelimuti wajah teduh ibu nya. Leon merasa bersalah.


"Maaf" cicit nya penuh sesal.


"Tidak, bukan salah mu. Rahasia kan apa pun yang bisa kau ketahui. Kau berjanji akan melakukan nya?" pinta Cloey sendu, Leon mengangguk mantap. Apa lagi yang bisa dia lakukan selain menyenangkan hati bidadari nya itu.


"Aku berjanji mom," Leon memeluk erat tubuh kurus ibu nya, hati nya meringis perih. Wanita yang selalu menahan lapar, agar anak-anak nya bisa mengeyangkan perut mereka. Tanpa peduli seberapa perih lambung nya menahan rasa lapar, yang selalu di ganjal dengan sisa makanan anak-anak nya juga air putih.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Mau sampai kapan kau menyembunyikan hal yang kau tau tidak akan bisa kau sembunyikan dari ku, Merry." Suara sang majikan membuat Merry tersentak kaget, ponsel di tangan nya terjun bebas mencium lantai. Wajah panik nya menjelaskan betapa besar ketakutan nya sekarang.


"Maaf nyonya, saya han..."


Ashley mengangkat satu tangan nya "aku tau, Merry. Bahkan sejak pertama kau masuk dalam keluarga ku sebagai seorang pelayan. Aku tau siapa diri mu. Sulit untuk tetap diam meski aku ingin. Katakan siapa yang kau hubungi, kekuatan ku tidak bisa menembus batas hingga ke seberang lautan." Tukas Ashley menyipitkan kedua matanya menanti jawaban.


Susah payah Merry mengatur helaan nafas nya, kata-kata nya seperti tersangkut di kerongkongan. Namun tatapan mata tajam sang nyonya membuat nyalinya tak bisa berkumpul dengan baik.


"Itu.. nyonya...itu .. Mina.. Servidor lain selain diriku.." Aku Merry akhirnya memberanikan diri untuk jujur. Susah payah dirinya menyembunyikan identitas nya selama ini, dengan bertameng lewat jiwa Merry yang asli. Sayang nya dia lupa, jika diri nya tengah masuk ke sarang pewaris murni lainnya.


"Maaf kan saya nyonya, ijin kan saya terus mengabdi hingga masa saya habis." Mohon Merry dengan wajah mengiba.

__ADS_1


Ashley menatap datar kepala pelayan nya, tidak ada yang salah dari tindakan sang Servidor tersebut. Dia hanya ingin memastikan, jika Servidor yang bersama nya, adalah klan yang bisa di percaya.


"Baiklah. Lanjutkan pekerjaan mu, pembicaraan ini tidak pernah terjadi." Ashley berbalik menuju ruang tengah, dimana suaminya tengah menonton televisi dengan wajah tegang.


Ashley mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami, Aslan menoleh sekilas lalu kembali fokus pada tontonan nya.


"Apa film mu jauh lebih menarik dari ku, dad?" tanya Ashley dengan suara manja, telinga Aslan langsung merinding geli tak karuan.


"Bisakah kau tidak menggodaku di saat yang tidak tepat, baby? tontonan ku sangat menarik kali ini, pemeran wanita nya pun sangat seksi." Ujar Aslan menahan tawa gelinya melihat raut wajah cemberut istri nya.


"Apa dia lebih cantik dariku?" tanya Ashley memancing.


"Tentu saja, lebih muda, segar dan.. tentu saja masih sangat mulus di setiap inci tubuhnya. Tidak ada garis halus yang mengganggu pemandangan, juga lemak-lemak yang tidak enak di lihat." Balas Aslan memancing masalah.


"Kau seperti nya butuh privasi mulai malam ini dad, tidur lah di kamar Morgan atau Alex. Di sana kau bisa sepuasnya menonton dada, perut dan paha mulus pemeran wanita yang kau bilang masih muda dan segar itu." Ujar Ashley terpancing emosi kemudian beranjak, namun tangan kekar memeluk pinggang nya. Siapa lagi jika bukan si pembuat onar, Aslan suami sialan nya.


"Aku bercanda baby, kau sempurna untuk ku. Lihatlah, seberapa kuat aku meneriakkan namamu disetiap kita bertempur hebat di ranjang." Aslan mendongak menatap wajah marah istri nya yang terlihat semakin menggemaskan.


"Kau cantik dalam versi sendiri, tidak peduli seberapa mulus nya wanita muda di luar sana kau tetap yang paling sempurna." Aslan menarik Ashley hingga duduk di pangkuan nya.


"Lihatlah dia baby, sentuhan mu selalu membuat nya terbangun tak tau waktu. Aku jadi berpikir untuk membuat bayi lagi, pasti akan lucu. Leegan memiliki adik, dia pasti suka. Karena tidak lagi menjadi anak bungsu." Usul Aslan tiba-tiba sambil merapikan rambut sang istri.


"Aku tidak mau punya adik, dan ya, bermesraan lah di kamar. Mata perjaka ku mulai ternodai oleh kelakuan mesum kalian." Sungut Leegan kesal sembari berlalu menaiki anak tangga menuju kamar nya. Usianya sudah 16 tahun, namun masih stak di kelas 3 Sekolah menengah pertama. Bukan karena dia bodoh, namun karena dia sekolah lebih lambat dari usia yang seharusnya. Leegan sangat lengket dengan ibunya, sehingga sulit bagi Ashley membagi waktu nya untuk selalu menemani putra nya di sekolah sepanjang kelas belum berakhir.


Jadilah Leegan masuk SD saat usianya sudah 8 tahun. Namun tidak ada penyesalan bagi remaja tersebut, meski sudah tidak lagi menempel pada ibunya seperti anak cicak. Namun tetap saja dia tidak ingin punya adik, punya adik berarti punya saingan. Begitu lah pikirnya.


"Lihat lah putramu" sungut Aslan.


"Dia juga putra mu, dad" bela Ashley tak mau kalah.

__ADS_1


__ADS_2