
Zion terus menatap wajah gadis yang baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi kekasih nya. Hati nya menghangat menatap manik tertutup rapat tersebut.
Meski sempat mendapat penolakan, Zion tak menyerah. Memohon untuk menjadikan nya seorang kekasih meski dengan cara yang konyol.
Akhir nya wanita es itu mencair, dia menyimpan perasaan yang sama sejak mengenal pria itu.
Berea menggeliat kemudian membuka mata nya perlahan. Menatap pria yang kini telah berubah status menjadi kekasih nya.
"Selamat pagi putri tidur...apa tidur nya lelap di pelukan ku?" Berea menghadiahi ucapan selamat pagi tersebut dengan cubitan maut.
"Auwww honey, kau kasar sekali. Aku kekasih mu sekarang, jadi bersikap lah seperti seorang kekasih." Dengus Zion meski dia sebenar nya tidak lah marah.
"Kau harus di hukum... kemari lah..." Zion meraih kepala Berea lalu menahan nya. Ciuman hangat kembali terjadi seperti semalaman. Hingga akhirnya Berea mendorong pelan kekasih nya itu.
"Kau membuat ku tak bisa bernafas.." protes nya dengan wajah memerah. Zion terkekeh lalu menyapu bibi mungil yang sedikit membengkak itu menggunakan ibu jari nya.
"Maaf...ayo mandi lah duluan, aku akan membuat kan kita sarapan." Zion mengecup singkat bibir Berea kemudian beranjak keluar kamar. Berea menatap pintu terbuka itu dengan berbagai perasaan.
"Aku harap keputusan ku tak salah telah membawa mu masuk dalam hidup ku yang rumit." Gadis itu beranjak menuju kamar mandi, dia ingin menyegarkan pikiran nya yang sedikit kacau sejak semalam.
π·π·π·π·π·π·π·
Bern terlihat merenung di balkon kamar nya. Di temani segelas kopi panas yang menemani nya sejak terbangun tadi pagi. Bern bermimpi sangat indah, namun mimpi tersebut justru membuat nya tak tenang. Putri nya terlihat begitu bahagia, tersenyum lebar yang selama ini tak pernah di lakukan oleh putri nya itu. Namun kemudian Berea berjalan menuju sebuah cahaya merah, lalu kembali tersenyum pada nya, senyum yang sangat manis. Setelah nya, gadis kesayangan nya itu menghilang di balik cahaya yang mulai meredup tanpa terlihat lagi oleh nya.
"Dad? kenapa kau malah meminum kopi? ayo kita sarapan..." Tegur Lizzie menatap heran pada suami nya.
__ADS_1
"Maaf honey, aku terbangun lebih awal. Jadi aku berpikir untuk menghabiskan waktu untuk menikmati udara pagi dengan segelas kopi." Bern mengusap lembut pipi sang istri penuh cinta.
"Apa kau sedang memikirkan anak nakal itu lagi?" Satu tangan Bern yang menggantung, terlihat mengepal sempurna. Namun seulas senyum di bibir nya mampu menyamar kan rasa marah di hati nya saat ini.
"Tidak juga, aku sedikit merindukan putri ku itu. Kau tau, beberapa hari ini terasa aneh tanpa nya. Tak ada wajah datar yang bisa ku lihat selain wajah mu." Lizzie mencebik tak suka.
"Ayo sarapan..ingat, kau punya dua orang anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian mu. Sekarang fokus kan saja semua itu untuk kedua anak kita yang kini tengah menunggu di bawah untuk sarapan bersama." Lagi-lagi Bern hanya bisa menekan sesak di dada nya, dengan memperlihatkan senyum manis di wajah nya.
Dia bersyukur karena sang istri tak mampu menembus batas pikiran dan isi hati nya.
"Kenapa lama sekali? alu bisa terlambat ke sekolah karena Daddy." Protes Josy kesal.
"Maaf sweetie, Daddy terlalu banyak minum kafein pagi ini. Jadi sedikit lemot..." Kekeh Bern mencium puncak kepala sang anak dengan sayang.
π·π·π·π·π·π·π·
Sepasang mata menatap tak suka pemandangan tersebut.
"Zion..ku pikir kau tidak masuk kampus hari ini. Bukan kah kau masih menjalani kuliah online ?" Seorang gadis menghadang langkah mereka dengan mengajukan pertanyaan basa basi.
"Aku memutuskan untuk kembali kuliah. Kekasih ku sudah lulus SMA, dan kuliah di sini bersama ku. Jadi aku tak punya alasan untuk mangkir lagi." Jelas Zion mengecup singkat kening Berea di depan gadis tersebut.
"Dia? kekasih mu?" tatapan meremehkan terlihat jelas di wajah gadis itu kala menatap Berea daei atas hingga bawah.
"Ya. Cantik bukan? karena gadis ini juga, aku rela mengulang masa SMA ku selama dua tahun. Lihat bagaimana cinta nya aku pada gadis cantik ini." Kekeh Zion bangga. Berea membuang pandangannya ke sembarang arah. Wajah nya memerah.
__ADS_1
"Ku rasa biasa saja.." ketus si gadis kemudian berlalu begitu saja. Zion tersenyum puas, dia harap sekembali nya ke kampus bersama Berea akan membuat para gadis menjauhi nya.
"Apa dia teman kencan mu dulu?"
"Ck! kau ini, kami satu SMA dulu sebelum akhirnya aku pindah ke sekolah mu. Saat itu aku pindah ketika selesai ujian kenaikan kelas. Kau baru masuk kelas satu SMA. Jadi aku memilih untuk mengulang masa SMA ku di mulai dari kelas yang sama dengan mu. Namun di sekolah lama, status ke siswaan ku tetap berjalan. Aku kuliah di kampus ini dua tahun yang lalu, melalui jalur daring agar tetap berjalan lancar." Cerita Zion.
Berea tercengang, sebegitu besar pengorbanan Zion untuk nya. Dan dia selalu memperlakukan pria itu dengan buruk selama ini.
"Hei? kenapa diam? apa aku membuat kesalahan, hmmm ?" sungguh Zion was-was jika melihat Berea mulai tak bereaksi apa-apa.
"Tidak apa-apa, ayo masuk ke kelas mu. Aku mau ke kelas ku dulu.." Elak Berea memaling kan wajah nya.
"Lihat aku.." Zion mengarah tatapan Berea pada nya, kedua tangan nya menangkup wajah cantik itu.
"Apa pun yang kau dengar tentang ku, bertanya lah pada ku sebelum akhir nya kau menilai. Aku mencintaimu terlepas dari janji yang ibu mu katakan pada ayah ku. Aku merasa kau milik ku bahkan baru mendengar kisah dari ayah. Jadi jangan meragu kan ketulusan ku, mengerti ?" Berea mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Zion memberi pengaruh buruk pada nya. Bersama pria itu, diri nya menjadi mudah sekali mengeluar kan air mata.
"Ayo aku antar ke kelas mu, setelah itu aku akan ke kelas ku. Jangan hirau kan para hama yang menggangu mu, oke? aku tak mau melihat mu memutari lapangan di tengah terik matahari." Kekeh Zion menjawil hidung mancung sang kekasih.
"Jadi kau melihat nya? kenapa kau tidak menghampiri dan memberiku sekedar air minum? dasar mau jahat sekali..." Berea melewati tubuh Zion dengan wajah kesal.
"Hei sayang, bukan seperti itu. Ayolah, maaf kan aku. Lain kali jika kau di hukum, kita akan melakukan nya bersama." Zion memeluk tubuh mungil berea dari belakang.
"Awas saja jika kau berbohong, ku ubah kau menjadi wanita penurut." Ancam Berea masih sedikit kesal.
"Aku berjanji.." pria itu mencium kilas pipi Berea kemudian kedua nya berjalan kembali menuju kelas gadis pemarah itu.
__ADS_1