Darkest Dream

Darkest Dream
Isakan pertama


__ADS_3

Bern baru saja selesai membersihkan diri, pria itu sampai harus berjinjit saat melewati pecahan kaca di lantai kamar mereka. Sementara Lizzie tengah berkutat di dapur untuk membuat kan bibi tercinta nya lima gelas limun dingin. Tak lupa steak daging terbaik untuk menurunkan sedikit kemarahan yang masih bersarang di hati sang bibi.


"Kakak!" seruan dari arah tangga membuat Lizzie menarik nafas dalam-dalam. Satu masalah lagi yang harus dia hadapi. Tak ingin membuat hasil karya nya hancur berantakan, Lizzie lebih memilih untuk meninggalkan sejenak pekerjaan nya.


"Kenapa kau berteriak adik ku sayang? apa kamar mu kurang nyaman, hmmm?" Leah sangat ingin mencabik-cabik mulut manis sang kakak. Lihat lah wanita itu terlihat begitu santai melontarkan kalimat seolah tak melakukannya kesalahan apa pun.


"Kamar nya sangat nyaman, saking nyaman nya aku sampai ingin mengucapkan rasa terimakasih ku dengan melubangi kepala mu, kak!" ucap Leah menahan marah. Lizzie tersenyum simpul, semanis karamel.


"Ayo duduklah di sini, kakak sedang membuat kan mu limun dingin juga daging panggang." Lizzie berbalik tanpa peduli ekspresi wajah sang adik. Hingga satu hantaman di punggung nya terasa sedikit memanas. Akhirnya Lizzie berhenti, kemudian mengangkat satu tangan nya membuat sang adik terangkat ke udara dan akhirnya terduduk di sofa ruang keluarga.


"Duduk lah dengan tenang, sofa ku sangat mahal. Aku yakin kau akan langsung terlelap nanti, jadi usahakan kau tidak tertidur saat ku tinggal ke dapur." Tangan nya kembali terangkat, satu jentikan, televisi raksasa itu pun menyala. Terpampang film kartun di dalam nya, Leah mencebik kesal. Niat hati ingin membalas perbuatan laknat sang kakak, malah terjebak oleh film makhluk tak berdarah di hadapan nya.


Pergerakan Leah sedikit terbatas, rupa nya Lizzie sengaja mengunci pergerakan sang adik agar tak menganggu nya.


"Kau? kupikir kau sudah melubangi kepala kakak mu, kenapa kau malah menonton makhluk-makhluk ini.." pertanyaan menyebalkan dari sang bibi membuat Leah semakin kesal.


"Bisakah bibi diam jika tak bisa membantu ku..aku sedang sangat kesal sekarang, jadi jangan memancing emosi ku lebih jauh." Ashley menatap posisi sang keponakan yang terlihat tak nyaman, baru lah dia sadar jika ini pasti ulah Lizzie.


"Kau beruntung karena tidak di buat hampir mati membeku di dalam kamar VVIP penuh tipu muslihat." Ashley duduk di samping sang keponakan lalu menyambar toples. Wanita itu terlihat lebih segar, barang kali sehabis mandi air hangat.


"Kau mau?" tawar Ashley menunjuk toples di pangkuan nya.


"Tidak! seharusnya bibi juga tidak memakannya. Usia bibi tidak baik jika memakan makanan seperti itu." Tolak Leah sekaligus memberikan nasihat menyebalkan di telinga Ashley.

__ADS_1


"Ck! aku tau kadar kesehatan ku. Kau pikir bibi mu ini penyakitan..!" sewot Ashley kesal. Dia tak pernah merasa tua, jadi wanita itu sedikit sensitif jika menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan usia.


Leah mengangkat bahu acuh, "terserah bibi saja, awas saja jika kolesterol mu menanjak naik. Alamat bibi tidak akan di ajak besok.." bibir Ashley menggerutu jengkel lalu menaruh kembali toples cemilan di atas permukaan meja dengan kasar.


"Woww..! para wanita, berhati-hati lah terhadap meja mahal ku. Kalian bisa membuat nya pecah nanti." Lizzie yang baru saja selesai membuat kan pesanan dua wanita kesayangan nya itu, sedikit tersentak saat mendengar suara kletak toples beradu dengan kaca meja nya.


"Aku bahkan baru saja berniat untuk membuang nya keluar. Meja ini terlalu pelit, tidak sesuai dengan ukuran sofa yang mengelilingi nya. Apa uang mu tidak cukup saat kau membeli sepaket sofa yang katanya mahal ini?" Ejek Ashley tak mau kalah. Lizzie kembali tersenyum samar, meletak kan makanan di meja yang di katakan tak sesuai oleh sang bibi. Lizzie menekan tombol di bawah meja tersebut hingga membuat ukuran nya melebar sesuai keinginan. Mata kedua wanita itu melotot sempurna. Namun buru-buru menormalkan ekspresi terkejut di wajah masing-masing.


Lizzie tau kedua wanita itu sedang berusaha menutupi rasa kagum terhadap meja ajaib nya.


"Aku yakin kalian baru melihat yang seperti ini? ini sangat mahal, suami ku harus mengeluarkan budget tak sedikit untuk memesan nya khusus untuk istri tercinta nya ini." Pamer Lizzie dengan gaya angkuh dan bangga.


Ashley dan Leah mencebik mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Lizzie. Dasar tukang pamer, batin keduanya menjerit berontak.


"Taarraaa..!" Lizzie datang dengan seloyang penuh daging iga bakar ukuran besar. Leah dan Ashley sampai meneguk ludah susah payah. Tengah malam begini mereka di suguhkan dengan daging panggang sejumbo itu. Apa kabar kolesterol juga tekanan darah tinggi di tubuh masing-masing.


"Kau ini ingin membuat kami langsung terkapar masuk ICU apa bagaimana?" Ashley mendengus melihat bagaimana menggoda nya daging panggang tersebut, dengan lelehan madu juga aroma khas nya.


"Aku hanya ingin menjamu tamu ku dengan baik. Ayo cicipi lah, ini harus di habis kan. Apa kalian tau harga daging ini yang paling mahal. Aku mengeluarkan uang tak sedikit untuk membeli nya kemarin. Langsung ke tempat pemotongan nya, jadi di jamin masih fresh." Seringai licik tercetak di wajah sang tuan rumah. Leah mencibir ucapan sang kakak dengan meneguk segelas limun sekali minum. Tandas. Bukan hanya karena haus, namun berusaha untuk melegalkan tenggorokan nya yang tiba-tiba terasa penuh lemak.


Lizzie menepuk bahu sang adik sehingga kini Leah bisa bergerak bebas.


"Ayo kita habis kan ini. Karena setelah ini aku tak yakin kalian bisa makan hingga benar-benar kenyang sempurna." Kalimat penuh makna Lizzie membuat kedua wanita itu terdiam. Saling bertatapan penuh maksud terpendam. Namun beberapa detik setelah nya mereka mulai melahap makanan tersebut seolah memang tengah di landa lapar yang luar biasa.

__ADS_1


Leah mengeluarkan suara khas orang kekenyangan, begitu juga Ashley. Hilang sudah image anggun kedua wanita itu. Sementara Lizzie masih tenang menghabiskan sepotong daging di piring nya. Dia sudah terlalu kenyang akan situasi-situasi genting, sehingga makan dalam kondisi apapun bagi nya tetap lah mengenyangkan. Berbeda dengan sang adik juga bibi tercinta nya.


Mereka terbiasa menghadapi situasi sulit di tengah keluarga. Akan sangat asing jika harus menghadapi takdir mengejutkan dalam kondisi sendirian.


"Katakan!" tuntut Ashley tak sabar. Wanita itu menghentakkan gelas kosong nya dengan kasar di atas meja.


"Apa bibi tidak melihat aku sedang makan, bersantai lah dahulu. Lihat film nya sangat lucu, bukan? tertawalah sebelum tertawa itu terlarang." Lagi-lagi kalimat Lizzie membuat kedua nya di buru rasa penasaran yang besar.


"Cepat habis kan makanan mu kak!" desak Leah sudah tak sabar lagi. Tatapan matanya menyorot dalam penuh sederet tuntutan atas rasa penasaran nya.


Lizzie meneguk limun hangat nya dengan santai, dia tak ingin terburu-buru menyampaikan berita tak menyenangkan ini. Ada yang masih mengganjal di hati nya namun harus tetap dia sampai kan.


"Aku sudah kenyang. Astaga! kenapa aku malah mengantuk, ck! makan jam segini ternyata membuat ku menjadi seorang pemalas." Gerutu Lizzie entah pada siapa. Ashley menatap sang keponakan dengan tatapan tak terbaca. Seperti sebuah pertanda namun berusaha keras dia sangkal. Tak ada yang boleh pergi lagi, tidak setelah butuh waktu belasan tahun untuk bisa bertemu kembali.


"Suami ku pasti kesulitan tidur sekarang, pria malang itu tidak bisa tidur tanpa meraba dada bulat ku ini. Apa kita membahas nya lain kali saja, bagaimana?" wajah polos yang di perlihatkan oleh Lizzie, membuat emosi kedua wanita itu kembali bersiap untuk di ledakan.


Lizzie terkekeh kecil melihat reaksi dua wanita penuh emosional tersebut.


"Apa kalian tau, aku merasa menjadi wanita paling tenang setelah mommy. Dan menjadi yang pertama di garis keturunan kita. Rasanya seperti sedang menimba air dari dalam sumur yang sudah hampir kering. Aku harus memupuk banyak kesabaran agar tempayan ku penuh." Hening. Tak ada suara yang berusaha untuk menyela.


"Setiap hari selama hidup ku, aku berusaha menjadi orang yang egois dan emosional. Sayang nya, takdir ku tidak pernah mengijinkan. Para dewa terlalu banyak menuntut ku hingga aku benar-benar berubah menjadi Lizzie yang tak tersentuh. Sekian purnama setelah anak pertama ku terlahir ke dunia ini. Aku harus menyimpan banyak perkara batin yang tidak ringan. Putri kecil ku di takdir kan untuk menyelesaikan apa yang telah di mulai oleh para leluhur nya. Rasanya aku ingin berontak, menolak dan berusaha abai pada takdir yang menggores jelas di telapak tangan Putri ku. Namun aku sadar, Berea ku sudah membalut takdir nya sedemikian rupa. Hingga untuk sekedar menyentuh nya saja, aku sudah tak bisa." Isakan kecil Lizzie membuat kedua wanita angkuh itu terkesiap.


Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, wanita hebat itu menetes kan air matanya. Tidak tau saja, jika sudah milyaran tetesan yang sudah Lizzie tumpah kan dalam kesendirian nya.

__ADS_1


__ADS_2